Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

Dan kemudian dunia terbagi menjadi rasa sakit dan kegelapan. Harry separuh terkubur dalam reruntuhan koridor yang diserang dengan brutal. Udara dingin menandakan bahwa sisi kastil telah hancur dan rasa panas di pipinya menunjukkan dia banyak mengeluarkan darah. Lalu dia mendengar tangisan yang mengiris hatinya, ekspresi penderitaan yang tidak mungkin disebabkan oleh api maupun kutukan, dan dia berdiri, sempoyongan, lebih takut daripada yang telah dirasakannya hari itu, lebih takut, mungkin daripada yang pernah dirasakan seumur hidupnya….

Dan Hermione berusaha berdiri di reruntuhan, dan tiga lelaki berambut merah berkumpul di tanah dimana dinding hancur berkeping-keping. Harry meraih tangan Hermione ketika mereka berjalan terhuyung-huyung dan tersandung batu serta kayu.

“Tidak—tidak—tidak!“ seseorang menjerit. “Tidak—Fred—tidak!”

Dan Percy mengguncang-guncang tubuh saudaranya, Ron berlutut disampingnya, dan mata Fred terbuka dengan hampa, bayangan tawa terakhir masih terukir di wajahnya.

[1] chimaera = monster berkepala singa, bertubuh kambing dan berekor ular yang dapat menghembuskan api (legenda Yunani) Editor’s note: -Mengikuti bab sebelumnya yang menggunakan istilah diadem, bukannya mahkota, jadi saya mengganti tiap kata mahkota di bab ini.

-Grey Lady, diterjemahkan secara harfiah jadi Wanita Kelabu. Kedengerannya aneh, jadi tetep dalam English.. Lagipula Lady disini maksudnya gelar.

-Er~ ada yang tau Stunning Spell di buku jadi apa? Saya lupa nih…

-Credit to Aretha Luthien yang sudah membenarkan Kecerdasan Yang Luar Biasa Adalah Harta Karun Terbesar Manusia menjadi Kepintaran Tak Terhingga Adalah Harta Manusia Yang Paling Berharga yang telah dilihat berdasarkan buku kelima

 

Bab 32 Tongkat Leluhur (Tua-tua)

Dunia sudah berakhir, jadi kenapa pertempuran tidak berhenti, kastil jadi terdiam dalam kengerian, dan para pejuang meletakkan senjatanya? Benak Harry terjun bebas, berputar tanpa kendali, tak mampu menangkap hal yang tak mungkin, karena Fred Weasley tak mungkin mati, bukti-bukti yang diberikan oleh semua indranya pasti berbohong-Lalu sesosok tubuh jatuh melewati lubang ledakan di sisi sekolah, dan kutukankutukan berhamburan menuju mereka dari kegelapan, mengenai dinding di belakang kepala-kepala mereka.

“Tiarap!” seru Harry, saat makin lama kutukan semakin banyak menghujani mereka melewati malam: ia dan Ron menangkap Hermione lalu menariknya bertiarap di lantai, tapi Percy berbaring menutupi Fred, melindunginya dari bahaya, dan saat Harry berteriak, ”Percy, ayo, kita harus bergerak!” ia malah menggelengkan kepala. “Percy!” Harry melihat bekas airmata membelah debu yang menutupi wajah Ron saat ia meraih bahu kakak laki-lakinya, dan menariknya, tapi Percy bergeming. “Percy, kau tidak dapat melakukan apapun untuknya. Kita akan—“ Hermione berteriak, dan Harry menoleh, tak perlu bertanya kenapa. Laba-laba yang besar sekali seukuran mobil kecil mencoba memanjat lubang besar di dinding: salah satu keturunan Aragog telah bergabung dalam pertempuran.

Ron dan Harry berseru bersamaan: mantra mereka bertabrakan dan monster itu dihajar mundur, kaki-kakinya menyentak-nyentak mengerikan dan menghilang dalam kegelapan.

“Dia membawa teman!” Harry memberitahu yang lain, memandang sepintas tepi kastil melalui lubang di dinding yang diledakkan oleh kutukan-kutukan: lebih banyak laba-laba raksasa memanjat sisi bangunan, lepas dari Hutan Terlarang ke mana para Pelahap Maut pasti telah meranjah. Harry menembakkan Mantra Pembius pada mereka, monster pemimpinnya jatuh terguling menimpa rekannya. Jadi mereka merangkak menuruni bangunan kembali dan lenyap. Lalu lebih banyak kutukan bertebaran di atas kepala Harry, sangat dekat ia rasakan kekuatan mereka meniup rambutnya.

”Ayo bergerak, SEKARANG!”

Mendorong Hermione maju bersama Ron, Harry membungkuk meraih jenazah Fred dari ketiaknya. Percy, menyadari apa yang sedang Harry coba lakukan, tak lagi menempel pada jenazah, dan membantu; bersama, membungkuk rendah menghindari kutukan melayang-layang dari tanah, mereka menyeret jenazah Fred.

“Di sini,” sahut Harry, dan mereka menempatkannya di sebuah ceruk yang tadinya tempat seperangkat baju besi. Harry tak mampu memandang jenazah Fred lebih lama lagi, dan setelah yakin bahwa jenazahnya disembunyikan dengan baik, ia mengejar Ron dan Hermione. Malfoy dan Goyle sudah menghilang, tapi di ujung koridor, yang sekarang penuh debu dan puing-puing, kaca sudah lenyap dari jendela, ia banyak melihat banyak orang berlari ke sana ke mari, kawan atau lawan ia tak tahu. Membelok di sudut, Percy meraung bagai banteng, ”ROOKWOOD!” dan berlari secepat ia bisa ke arah seorang jangkung yang sedang mengejar sepasang siswa.

”Harry, sini!” Hermione berteriak.

Hermione sedang menarik Ron di belakang sebuah hiasan gantung. Mereka kelihatan seperti orang yang sedang bergulat, dan untuk sedetik yang gila, Harry mengira mereka berpelukan lagi; lalu dia melihat bahwa Hermione mencoba menahan Ron, menghentikannya berlari mengikuti Percy.

“Dengarkan aku—DENGAR, RON!”

“Aku ingin menolong—aku ingin membunuh para Pelahap Maut—“

Wajahnya berubah, coreng-moreng debu dan asap, dan ia terguncang oleh kemarahan dan kedukaan.

“Ron, hanya kita yang bisa menghentikan semua ini. Tolong—Ron—kita harus mencari ular itu, kita harus membunuh ular itu!” sahut Hermione.

Tapi Harry tahu apa yang dirasakan Ron; mencari Horcrux tidak memenuhi hasrat untuk membalas dendam; ia juga ingin bertempur, ingin menghukum mereka, orang-orang yang membunuh Fred, dan dia ingin mencari anggota keluarga Weasley yang lain, dan di atas segalanya, ingin yakin bahwa Ginny tidak—tapi dia tidak mengijinkan gagasan itu terbentuk di benaknya.

“Kita akan bertempur,” sahut Hermione. “Kita harus mencapai ular itu! Tapi kita tidak boleh kehilangan pandangan, akan apa yang harus kita l-lakukan! Hanya kita yang bisa menghentikan ini!”

Hermione sedang menangis juga, ia mengusap wajahnya dengan lengan bajunya yang sobek dan hangus, sambil bicara, menarik napas panjang untuk menenangkan diri, masih memegang Ron erat-erat, dia menoleh pada Harry.

”Kau perlu menemukan di mana Voldemort, karena ularnya ada bersamanya, kan?

Lakukan, Harry—lihat dia!”

Mengapa hal itu tadinya begitu mudah? Karena bekas lukanya membara berjam-jam, ingin memperlihatkan padanya pikiran-pikiran Voldemort? Ia menutup matanya atas perintah Hermione, dan seketika itu juga jeritanjeritan dan ledakan-ledakan dan suarasuara peperangan terdengar sangat jauh, ia berdiri jauh, jauh sekali dari mereka …

Ia berdiri di tengah ruangan yang sunyi tapi anehnya ia merasa kenal, dengan kertas dinding yang mengelupas, semua jendela menutup kecuali satu. Suarasuara penyerangan di kastil terdengar sayup-sayup dan jauh. Satu-satunya jendela yang terbuka memperlihatkan cahaya kejauhan di mana kastil itu berdiri, tapi di dalam ruangan gelap kecuali sebuah lampu minyak.

Ia memutar-mutar tongkatnya di antara jemarinya, mengamatinya, pikirannya ada pada ruangan di dalam kastil, ruang rahasia yang hanya dia saja yang mengetahuinya, ruangan –seperti Kamar Rahasia— yang memerlukan kecerdasan, kecerdikan dan rasa ingin tahu untuk bisa menemukannya…dia yakin anak itu tidak dapat menemukan diadem tersebut. walau boneka Dumbledore itu sudah berjalan lebih jauh dari apa yang ia perkirakan … terlalu jauh.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.