Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

“Suatu tempat di sekitar sini,” Harry bergumam sendiri, ”suatu tempat….suatu tempat…”

Dia masuk semakin jauh ke dalam labirin, mencari benda yang dikenalnya dari perjalanan pertamanya masuk ke ruang itu. Nafasnya terdengar keras di telinga, dan dirinya terasa menggigil. Dan itu dia, tepat di depannya, lemari besar melepu, tempat dia menyimpan buku Ramuan tuanya, dan diatasnya, patung batu penyihir tua jelek yang sudah gompal memakai wig tua berdebu dan sesuatu yang tampak seperti tiara kuno tak berwarna.

Dia baru saja menjulurkan tangan, walaupun tinggal beberapa langkah, ketika suara di belakangnya berkata, “Tahan, Potter.”

Dia berhenti dan berputar. Crabbe dan Goyle berdiri di belakangnya, berdampingan, tongkat mengacung pada Harry. Melalui celah diantara kedua wajah mencemooh itu dia melihat Draco Malfoy.

“Itu tongkatku yang kau pegang, Potter,” kata Malfoy, mengacungkan tongkatnya sendiri melalui celah diantara Crabbe dan Goyle.

“Bukan lagi,” kata Harry terengah-engah, mempererat pegangannya di tongkat Hawthorn. “Pemenang, pemegang, Malfoy.” “Siapa yang meminjamimu tongkat?”

“Ibuku,” jawab Draco.

Harry tertawa, walaupun tak ada yang lucu. Dia tidak bisa mendengar Ron dan Hermione lagi. Telinga mereka mungkin kehilangan kepekaan, sibuk mencari diadem.

“Jadi kenapa kalian bertiga tidak bersama Voldemort?” tanya Harry.

“Kami akan mendapat penghargaan,” ucap Crabbe. Diluar dugaan, suaranya sangat lembut untuk orang sebesar dia: Harry belum pernah mendengar dia bicara sebelumnya. Crabbe bicara seperti seorang anak kecil yang dijanjikan sekantung besar permen.

“Kami kembali, Potter. Kami memutuskan tidak pergi. Memutuskan untuk membawamu kepadanya.”

“Rencana yang bagus,” kata Harry pura-pura kagum. Rasanya tidak percaya sudah sedekat ini, dan dihalangi oleh Malfoy, Crabbe dan Goyle. Dia mulai menepi, perlahan mundur ke belakang menuju tempat Horcrux berada, yang miring diatas patung dada. Jika dia bisa mengambilnya sebelum keributan pecah….

“Jadi bagaimana kalian bisa masuk kesini?” dia bertaya, mencoba mengalihkan perhatian.

“Aku berada di Ruang Benda Tersembunyi sepanjang tahun lalu,” kata Malfoy, suaranya lemah. “Aku tahu bagaimana masuk kesini.”

“Kami bersembunyi di koridor luar,” gerutu Goyle. “Kami bisa melakukan Mantra Menghilang sekarang! Dan lalu, “ wajahnya menyeringai,” kau berputar tepat di depan kami dan berkata kau mencari sebuah die-dum! Apa itu diedum?”

“Harry?” suara Ron tiba-tiba bergema dari dinding di sisi kanan Harry. “Apa kau bicara dengan seseorang?”

Dalam gerakan cepat, Crabbe mengarahkan tongkatnya pada gunung 50 kaki yang terdiri dari mebel tua, kopor rusak, buku lama dan jubah serta bermacam sampah tak jelas, dan berteriak, “Descendo!”

Dinding mulai bergetar, lalu tiga tingkat teratas mulai ambruk ke gang di dekat Ron berdiri.

“Ron!” Harry berteriak, ketika dari suatu tempat yang tak kelihatan terdengar teriakan Hermione, dan Harry mendengar begitu banyak benda jatuh ke lantai di sisi lain dinding yang rapuh: Dia mengarahkan tongkatnya ke benteng itu, berteriak, “Finite!” dan akhirnya dinding tegak kembali.

“Jangan!” teriak Malfoy, memegangi lengan Crabbe untuk mencegahnya mengulangi mantra, “jika kau menghancurkan ruangan kau mungkin mengubur diadem itu!”

“Lalu kenapa?” kata Crabbe,melepaskan diri. ”Potter-lah yang diinginkan Pangeran Kegelapan, siapa peduli tentang die-dum?”

“Potter masuk kesini untuk mendapatkannya,” kata Malfoy, jengkel dan tidak sabar pada pikiran lambat rekannya, “jadi itu artinya—“

“’Itu artinya’?” Crabbe menghadap Malfoy dengan kemarahan tak tertahan. “Siapa peduli apa yang kau pikir? Aku tidak menerima perintahmu lagi, Draco. Kau dan ayahmu sudah berakhir.”

“Harry?” teriak Ron lagi, dari sisi lain tumpukan sampah. “Ada apa?”

“Harry?” Crabbe menirukan. “Ada apa—tidak, Potter! Crucio!”

Harry menyerbu tiara; kutukan Crabbe luput tapi mengenai patung batu, yang terlempar ke udara; diadem membumbung tinggi ke atas dan jatuh hilang dari pandangan di tumpukan benda-benda dimana patung dada itu terjatuh.

“BERHENTI!” Malfoy berteriak pada Crabbe, suaranya bergema di ruang besar itu. “Pangeran Kegelapan menginginkannya hidup-hidup—“

“Jadi? Aku tidak membunuhnya, kan?” teriak Crabbe, melepaskan diri dari lengan Malfoy yang menahannya. “Tapi jika aku bisa, pasti aku bisa, Pangeran Kegelapan akan membunuhnya juga kan, apa beda–?”

Kilatan cahaya merah tua melewati Harry beberapa inci: Hermione lari lewat pojok di belakang Harry dan menembakkan Mantra Pemingsan kearah kepala Crabbe. Mantra itu luput hanya karena Malfoy mendorongnya menjauh.

“Itu si Darah-Lumpur! Avada Kedavra!”

Harry melihat Hermione menukik kesamping, dan kemarahannya karena Crabbe berniat membunuh telah membuat pikirannya yang lain tersapu. Dia menembakkan Mantra Pemingsan pada Crabbe, yang segera berpindah, menyebabkan tongkat Malfoy terlepas; tongkat itu berputar hilang dari pandangan diantara gunung mebel rusak dan tulang belulang.

“Jangan bunuh dia! JANGAN BUNUH DIA!!” Malfoy berteriak pada Crabbe dan Goyle, yang keduanya menyerang Harry: Sedetik keraguan merekalah yang dibutuhkan Harry.

“Expelliarmus!”

Tongkat Goyle terlempar dari tangannya dan menghilang di tumpukan benda disampingnya; Goyle dengan bodoh melompat kesana, mencoba meraihnya; Malfoy melompat menjauh dari jangkauan Mantra Pemingsan Hermione, dan Ron, muncul tibatiba di ujung dinding, menembakkan Kutukan-Ikat-Tubuh-Sempurna kepada Crabbe, yang nyaris kena.

Crabbe berputar dan menjerit, ”Avada Kedavra!” lagi. Ron melompat kesamping untuk menghindari kilatan cahaya hijau. Malfoy yang tanpa-tongkat berlindung dibalik lemari tiga kaki ketika Hermione menyerang mereka, muncul sambil menembak Goyle dengan Mantra Pemingsan.

“Disini di suatu tempat!” Harry berteriak padanya, menunjukk tumpukan sampah dimana tiara tua itu jatuh. “Coba cari sementara aku pergi dan membantu R—“

“HARRY!” dia menjerit.

Suara ribut yang membahana dan bergelombang di belakangnya membuatnya waspada. Dia menoleh dan melihat Ron dan Crabbe berlari secepat mungkin menuju gang di depan mereka.

“Suka panas, kan?” gerung Crabbe sambil berlari.

Tapi tampakya ia kehilangan kendali . Kobaran api dengan ukuran yang tidak normal mengejar mereka, menjilat sisi tumpukan sampah, yang langsung ambruk berjelaga.

“Aguamenti!” jerit Harry, tapi tembakan air yang keluar dari ujung tongkatnya menguap di udara.

“LARI!”

Malfoy menyambar Goyle yang pingsan dan menariknya; Crabbe mendahului mereka semua, sekarang terlihat ketakutan; Harry, Ron dan Hermione mengejar di belakangnya, dan api juga mengejar mereka. Itu bukan api yang normal; Crabbe telah menggunakan kutukan yang Harry belum pernah tahu. Ketika mereka berbelok di pojok, api mengejar mereka seolah-olah hidup, mempunyai perasaan, berusaha membunuh mereka. Sekarang api bertambah besar, membentuk makhluk buruk rupa raksasa yang panas: ular, chimaera[1], dan naga berkobar, mereda dan berkobar lagi, dan benda-benda simpanan berabad-abad yang menjadi makanan mereka, terlempar ke udara dan masuk ke mulut bertaring, yang menjulang tinggi ditopang kaki bercakar, sebelum menjadi santapan api neraka itu.

Malfoy, Crabbed dan Goyle telah menghilang dari pandangan: Harry, Ron dan Hermione diam terpaku; monster api itu melingkupi mereka, dekat dan semakin dekat, cakar, tanduk dan ekornya mengibas-ngibas dan panasnya terasa padat seperti dinding di sekitar mereka.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.