Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

Harry menangkap kilau sosok seputih mutiara melayang melewati pintu masuk aula dan berteriak sekeras mungkin di tengah keramaian.

“Nick! NICK! Aku harus bicara denganmu!”

Dia menerobos kerumunan siswa, hingga sampai di dasar tangga, dimana Nick si Kepala-Nyaris-Putus, hantu Gryffidor, berdiri menunggunya.

“Harry! Anakku!”

Nick berusaha meraih tangan Harry; membuat Harry merasa seperti masuk ke dalam air es.

“Nick, kau harus membantuku. Siapa hantu menara Ravenclaw?” Nick si Kepala-Nyaris-Putus kelihatan terkejut dan sedikit tersinggung. “Grey Lady, tentu saja; tapi jika layanan hantu yang kau perlukan—“ “Itu pasti dia—kau tahu dimana dia?” “Coba kulihat…”

Kepala Nick bergoyang diatas rimpelnya ketika ia berputar kesana kemari, mengintip dari

balik kepala siswa-siswa yang berkerumun.“Itu dia disana, Harry. Wanita muda yang berambut panjang.”Harry melihat kearah yang ditunjuk jari Nick yang transparan, dan menemukan hantu

tinggi yang menyadari bahwa Harry sedang memandangnya, ia mengangkat alis, dan

melayang melalui dinding yang padat.

“Hei—tunggu—kembali!” Ia mau berhenti, melayang beberapa inci dari lantai. Menurut Harry ia cantik, dengan rambut panjang sepinggang dan jubah panjang menyentuh lantai, tapi ia juga terlihat angkuh dan berbangga diri. Semakin dekat, Harry segera mengenalinya sebagai hantu yang sering berpapasan dengannya di koridor, tapi ia tak pernah bicara dengannya.

“Kau Grey Lady?”

Ia mengangguk tapi tak bicara.

“Hantu menara Ravenclaw?”

“Itu benar.”

Nadanya tak meyakinkan.

“Tolonglah, aku butuh bantuan. Tolong katakan padaku semua yang kau ketahui tentang

diadem yang hilang.” Senyum dingin terbentuk di bibirnya. “Sayangnya,” ujarnya, berputar menjauh, “aku tidak bisa membantumu.” “TUNGGU!” Dia tidak bermaksud berteriak, tapi kepanikan dan kemarahan menguasainya. Harry

melirik jamnya sekilas ketika Grey Lady melayang di depannya. Seperempat jam lagi

tengah malam. “Ini penting,” ia berkata keras. “Jika diadem itu di Hogwarts, kita harus segera menemukannya.”

“Kau bukan siswa pertama yang mendambakan diadem itu,” katanya menghina.

“Bergenerasi siswa telah mendesakku—“ “Ini bukan tentang mendapatkan nama baik!” Harry berteriak padanya, “ini tentang Voldemort –mengalahkan Voldemort—atau kau tidak tertarik?”

Bukannya merona, pipinya yang transparan berubah menjadi buram dan suaranya memanas ketika ia menjawab, “Tentu saja aku—betapa beraninya kau mengatakan—“ “Kalau begitu, bantulah aku!” Dia mulai tidak tenang. “Itu—itu bukan pertanyaan yang—“ dia menjawab gagap, “diadem ibuku—“ “Ibumu?” Dia kelihatan marah pada dirinya sendiri. “Ketika aku masih hidup,” katanya kaku, “aku Helena Ravenclaw.”

“Kau putrinya? Tapi, kau pasti mengetahui apa yang terjadi pada diadem itu.”“Diadem itu melimpahkan kearifan,” katanya berusaha menguasai diri, “aku ragu benda itu bisa memerbesar kesempatanmu mengalahkan penyihir yang menamai dirinya sendiri Lord—“

“Sudah kubilang aku tidak tertarik memakainya!” kata Harry bersikeras; “Tak ada waktu untuk menjelaskan—tapi kalau kau peduli dengan Hogwarts, kalau kau ingin melihat Voldemort berakhir, kau harus memberitahuku semua yang kau tahu tentang diadem itu!”

Dia masih membisu, melayang di udara, memandang Harry dan rasa putus asa melanda Harry. Tentu saja, jika ia tahu sesuatu, ia tentu sudah mengatakannya pada Flitwick atau Dumbledore, yang pasti sudah pernah menanyakan hal yang sama. Dia menggelengkan kepala dan berpaling ketika berbicara dengan suara pelan.

“Aku mencuri diadem itu dari

ibuku.” “Kau—kau apa?”

“Aku mencuri diadem itu,” ulang Helena Ravenclaw dalam bisikan. “Aku mencoba membuat diriku lebih pintar, lebih penting daripada ibuku. Aku kabur dengan diadem itu.”

Harry tidak tahu bagaimana dia berhasil mendapatkan kepercayaannya dan tidak bertanya, ia hanya mendengarkan, baik-baik, ketika Helena melanjutkan.

“Ibuku, mereka bilang, tak pernah mengakui bahwa diademnya hilang, melainkan berpura-pura masih memilikinya. Beliau menyembunyikan kenyataan tentang hilangnya diadem itu, juga pengkhianatanku yang menyakitkan, bahkan dari para pendiri Hogwarts yang lain.”

“Kemudian ibuku sakit—sakit parah. Walaupun aku berkhianat, beliau matimatian berusaha menemuiku sekali lagi. Beliau mengirim orang yang sangat mencintaiku, walaupun aku menolak rayuannya, untuk menemukanku. Beliau tahu bahwa laki-laki itu tidak akan berhenti hingga berhasil.”

Harry menunggu. Wanita itu menghela nafas dan menoleh kebelakang.

“Dia melacakku hingga ke hutan tempatku bersembunyi. Ketika aku menolak untuk pulang bersamanya, ia menjadi kejam. Baron memang selalu gampang naik darah. Berang karena penolakanku, cemburu pada kebebasanku, ia lalu menusukku.”

“Baron? Maksudmu—“

“Baron Berdarah,ya,” ujar Grey Lady, dan dia menyibakkan jubahnya untuk memperlihatkan satu luka gelap di dada putihnya. “Ketika dia menyadari apa yang telah dilakukannya, dia sangat menyesal. Dia mengambil senjata yang telah membunuhku, dan menggunakannya untuk bunuh diri. Selama berabad-abad kemudian ia mengenakan rantainya sebagai bukti penyesalannya…. jika dia bisa,” ia menambahkan dengan sengit.

“Dan—dan diademnya?”

“Masih berada di tempat aku menyembunyikannya ketika kudengar Baron memasuki hutan mendekatiku. Tersimpan di dalam lubang pohon.”

“Lubang pohon?” ulang Harry. “Pohon apa? Dimana tempatnya?”

“Hutan di Albania. Tempat sunyi yang menurutku cukup jauh dari jangkauan ibuku.”

“Albania,” ulang Harry. Secara menakjubkan, kebingungan berubah menjadi pengertian, dan sekarang ia memahami kenapa wanita itu berterus terang padanya tentang hal yang tak mau ia jelaskan pada Dumbledore dan Flitwick. “Kau pernah menceritakan hal ini pada seseorang, ya kan? Siswa lain?”

Ia memejamkan mata dan mengangguk.

“Aku… tak tahu… ia menyanjungku. Tampaknya ia… memahami… bersimpati.”

Ya, pikir Harry. Tom Riddle pasti memahami keinginan Helena Ravenclaw untuk memiliki benda luar biasa yang sebenarnya bukan haknya.

“Well, kau bukan orang pertama yang terpedaya oleh Riddle,” Harry bergumam. “Dia bisa sangat menarik jika dia mau.”

Jadi Voldemort telah berhasil memancing informasi tentang lokasi diadem yang hilang dari Grey Lady. Ia telah berkelana ke hutan yang jauh dan mengambil diadem kembali dari tempat persembunyiannya, mungkin segera setelah ia meninggalkan Hogwarts, bahkan sebelum ia mulai bekerja di Borgin and Burkes.

Dan bukankah hutan terpencil Albania itu tampaknya merupakan tempat berlindung yang bagus ketika, lama sesudahnya, Voldemort memerlukan tempat untuk menyembunyikan diri, tidak terganggu, selama 10 tahun?

Tapi diadem itu, setelah menjadi Horcruxnya yang berharga, tidak ditinggalkan di pohon rendah itu… Tidak, diadem itu telah dikembalikan secara diam-diam, ke rumah yang sebenarnya, dan Voldemort pasti telah meletakkannya disana—

“—malam dia melamar pekerjaan!” kata Harry, menghentikan penalarannya.

“Maaf?”

“Dia menyembunyikan diadem di kastil, di malam ia melamar pekerjaan sebagai guru kepada Dumbledore!” ujar Harry. Berteriak membuatnya lebih memahami semuanya. “Dia pasti telah menyembunyikan diadem itu dalam perjalanannya menuju, atau setelah dari, kantor Dumbledore! Lumayan juga usahanya melamar pekerjaan—jadi dia juga punya kesempatan mengecek pedang Gryffindor—terima kasih banyak!”

Harry meninggalkannya melayang di udara, tampak benar-benar bingung. Sambil berbelok di ujung kembali ke aula depan, ia mengecek jam. Lima menit sebelum tengah malam, dan walaupun ia tahu apa Horcrux terakhir, ia masih belum menemukan dimana tempatnya…

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.