Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

Banyak diantara siswa yang terlihat ketakutan. Tiba-tiba, ketika Harry menyusuri dinding, mencari Ron dan Hermione di meja Gryffindor, ErnieMcMillan berdiri diatas meja Hufflepuff dan berteriak; “Bagaimana jika kami ingin tinggal dan bertarung?”

Terdengar gemuruh tepuk tangan.

“Jika usiamu cukup, kau boleh tinggal,” ucap Prof. McGonagall.

“Bagaimana dengan barang-barang kami?” tanya seorang gadis di meja Ravenclaw. “Kopor dan burung hantu kami?”

“Kita tidak punya waktu untuk untuk mengumpulkan barang-barang,” kata Prof. McGonagall.

“Yang terpenting adalah mengeluarkan kalian dari sini dengan selamat.”

“Dimana Prof. Snape?” teriak seorang gadis di meja Slytherin.

“Dia sedang -menggunakan bahasa umum- bersembunyi di kolong tempat tidur,” jawab Prof. McGonagall yang disambut sorak-sorai dari anggota asrama Gryffindor, Hufflepuff dan Ravenclaw.

Harry bergerak di aula sepanjang meja Gryffidor, masih mencari Ron dan Hermione. Ketika dia lewat, wajah-wajah menoleh memandangnya, dan suara bisik-bisik memecah perhatiannya.

“Kami telah membuat perlindungan di sekitar kastil,” Prof. McGonagall berkata, ”tapi sepertinya tidak bisa bertahan lama kecuali kita memperkuatnya. Oleh karena itu, aku meminta kalian, untuk bergerak cepat dan tenang, dan lakukan seperti prefek kalian—“ Tetapi kata terakhirnya tenggelam ketika suara lain bergema di seluruh aula. Suara yang tinggi, dingin dan jelas. Tak diketahui darimana asalnya. Tampaknya keluar dari dinding itu sendiri. Seperti monster yang pernah dikuasainya, suara itu mungkin telah berada disana selama berabad-abad.

“Aku tahu kalian bersiap untuk bertempur.” Terdengar jeritan diantara siswa-siswa, beberapa diantaranya saling mencengkeram, mencari-cari sumber suara dalam kengerian. “Usaha kalian sia-sia, kalian tidak bisa melawanku. Aku tidak ingin membunuh kalian. Aku sangat menghormati guru-guru Hogwarts. Aku tidak ingin menumpahkan darah sihir.”

Aula sunyi senyap sekarang, kesunyian yang menantang gendang telinga, yang terlalu berat untuk disangga oleh dinding.

“Berikan Harry Potter padaku,” kata suara Voldemort, “dan mereka tak akan disakiti. Berikan Harry Potter padaku, dan aku akan meninggalkan sekolah tanpa menyentuhnya. Berikan Harry Potter padaku dan kalian akan diberi penghargaan.”

“Kalian mempunyai waktu hingga tengah malam.”

Kesunyian kembali menelan mereka. Setiap kepala menoleh, setiap mata tampaknya berusaha mencari Harry, membuat Harry membeku dalam ribuan tatapan mata. Lalu sesosok tubuh bangkit dari meja Slytherin dan Harry mengenali Pansy Parkinson ketika ia mengangkat tangannya yang gemetar dan menjerit, “Tapi ia disini! Potter disini! Tangkap dia!”

Sebelum Harry bisa berkata-kata, tampak terbentuk gerakan besar-besaran. Anak –anak Gryffindor di depannya berdiri dan menghadang, bukan Harry, tetapi anak-anak Slytherin. Kemudian anak-anak Hufflepuff berdiri, dan hampir bersamaan, anak-anak Ravenclaw, mereka semua membelakangi Harry, semuanya malah menghadap Pansy, dan Harry, yang terpesona dan gembira, melihat tongkat muncul dimana-mana, ditarik dari dalam jubah dan lengan baju.

“Terima kasih, Nona Parkinson,” kata Prof. McGonagall dengan suara tercekat.

“Kau boleh meninggalkan aula duluan bersama Mr. Filch, jika anggota asramamu sanggup mengikuti.”

Harry mendengar derit suara bangku-bangku dan mendengar suara anak-anak Slyhterin di sisi lain aula mulai berjalan keluar.

“Ravenclaw, selanjutnya!” perintah Prof. McGonagall.

Perlahan keempat meja mulai kosong. Meja Slytherin telah kosong, tetapi beberapa anak Ravenclaw yang lebih tua tetap duduk sementara teman-temannya berderet keluar; bahkan lebih banyak lagi anak Hufflepuff yang tetap tinggal, dan separuh Gryffindor tetap di tempatnya, mengharuskan Prof. McGonagall turun dari podium guru untuk memandu siswa di bawah umur untuk mengikuti yang lain.

“Tidak boleh, Creevey, ayo! Kau juga Peakes!”

Harry bergegas menuju keluarga Weasley, yang semuanya duduk di meja Gryffindor.

“Dimana Ron dan Hermione?”

“Kau belum menemukan—?“ Mr. Weasley terlihat cemas.

Tapi kalimatnya terhenti ketika Kingsley menaiki podium untuk berbicara kepada semua yang tetap tinggal di aula.

“Kita hanya punya waktu setengah jam hingga tengah malam, jadi kita harus bergerak cepat. Rencana pertempuran telah disetujui antara guru-guru Hogwarts dengan Orde Phoenix. Prof. Flitwick, Sprout dan Mc. Gonagall akan memimpin kelompok-kelompok pejuang naik ke tiga menara tertinggi –Ravenclaw, Astronomi dan Gryffindor— yang sudut pandangnya paling bagus, posisi yang sempurna untuk melancarkan mantra. Sementara Remus” –dia menunjuk Lupin— “Arthur” menunjuk Mr. Weasley yang duduk di meja Gryffindor—“ dan aku, akan memimpin kelompok di bawah. Kita perlu seseorang untuk mengorganisir pertahanan di pintu-pintu masuk atau jalan tembus menuju sekolah—“

“Kedengarannya seperti pekerjaan untuk kita,” kata Fred, menunjuk dirinya dan George, dan Kingsley mengangguk setuju.

“Baiklah, para pemimpin kesini dan kita akan memencar pasukan!”

“Potter,” ujar Prof. McGonagall, bergegas mendekatinya, ketika siswa-siswa memenuhi podium, menempatkan diri, dan menerima perintah, “Bukankah kau seharusnya mencari sesuatu?”

“Apa? Oh” ucap Harry, “Oh, yeah!”

Dia hampir melupakan Horcrux, hampir lupa bahwa pertempuran akan digelar supaya dia bisa mencarinya: Ketiadaan Ron dan Hermione yang tidak jelas sementara telah membuang pikiran lain dari kepalanya.

“Pergilah Potter, ayo!”

“Benar—yeah—“

Dia merasakan berpasang-pasang mata memandang ketika ia berlari keluar lagi dari aula besar menuju aula depan yang penuh sesak dengan siswa-siswa yang dievakuasi. Ia membiarkan dirinya terbawa rombongan mereka menuju tangga pualam, tapi sampai diatas ia bergegas menyusuri koridor yang sunyi. Rasa takut dan panik membuatnya sulit berpikir. Ia berusaha menenangkan diri, berkonsentrasi untuk menemukan Horcrux, tapi pikirannya simpang siur, kalut dan bingung seperti lebah yang terjebak diantara kaca. Tanpa Ron dan Hermione yang membantunya, tampaknya ia kesulitan menyusun rencana. Dia melambat di tengah koridor, duduk di alas sebuah patung retak dan mengambil Peta Perompak dari kantong yang tergantung di lehernya. Tidak terlihat nama Ron dan Hermione dimanapun, walaupun padatnya titik yang sekarang menuju ke Kamar Kebutuhan, pikirnya, mungkin saja menyembunyikan mereka. Dia meletakkan peta, menutup wajah dengan tangannya, terpejam, dan mencoba untuk konsentrasi.

Voldemort mengira aku pergi ke menara Ravenclaw. Itu dia, petunjuk jelas dari mana harus memulai. Voldemort telah menempatkan Alecto Carrow di ruang rekreasi Ravenclaw, dan pasti hanya ada satu penjelasan; Voldemort kuatir Harry sudah tahu Horcruxnya berhubungan dengan asrama itu.

Tapi tampaknya satu-satunya benda yang dihubungkan dengan asrama itu oleh semua orang hanyalah diadem yang hilang… dan bagaimana mungkin Horcruxnya adalah diadem itu? Apa mungkin Voldemort, anak Slytherin, bisa menemukan diadem yang tidak diketahui oleh bergenerasi anggota Ravenclaw? Siapa yang bisa memberitahunya dimana harus mencari, ketika tidak ada orang yang pernah melihatnya yang masih hidup?

Yang masih hidup….

Mata Harry terbuka kembali di sela-sela jarinya. Dia melompat bangun dari alas patung dan bergegas berbalik arah kembali ke jalan yang telah ia lalui, mengejar harapan satusatunya. Suara ratusan orang yang bergerak kearah Kamar Kebutuhan terdengar semakin jelas ketika ia kembali ke tangga pualam. Para Prefek meneriakkan instruksi, berusaha menjaga para siswa tetap di jalur asramanya, semakin banyak dorongan dan teriakan; Harry melihat Zacharias Smith meluncur cepat menuju antrian depan; disana-sini terdengar isak tangis siswa-siswa yang lebih muda, sementara yang lebih tua saling memanggil teman dan saudara dengan putus asa.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.