Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

Ada suara gerakan, kaca berdenting: Amycus sadar. Sebelum Harry atau Amycus bertindak, Profesor McGonagall berdiri, mengarahkan tongkatnya pada Pelahap Maut yang terhuyung-huyung itu dan berucap: Imperio.

Amycus berdiri, berjalan ke arah saudarinya, memungut tongkat Alecto, berjalan dengan kaki terseret dengan patuh ia menuju Profesor McGonagall, dan menyerahkan tongkat Alecto beserta tongkatnya sendiri. Lalu ia berbaring di sisi Alecto. Profesor McGonagall mengayunkan tongkatnya lagi, seutas tali keperakan mengilap muncul dari udara, menyusup melingkari kedua Carrow, mengikat mereka berdua erat-erat.

“Potter,” sahut Profesor McGonagall, menoleh pada Harry lagi, sangat mengacuhkan penderitaan kedua Carrow, “jika Dia-Yang-Namanya-Tidak-Boleh-Disebut benar-benar tahu kau ada di sini—“

Saat profesor McGonagall menucapkan ini, kemurkaan yang meyerang fisiknya melanda Harry, seakan menyalakan api di bekas lukanya, dan dalam sedetik ia sudah memandang pada baskom itu, yang Ramuannya sudah habis, sudah tak ada leontin emas tergeletak di sana—”

“Potter, kau baik-baik saja?” sahut sebuah suara, dan Harry kembali: dia sedang mencengkeram bahu Luna untuk menyeimbangkan dirinya.

“Waktu berjalan terus, Voldemort semakin mendekat. Profesor, saya bertindak atas perintah Dumbledore, saya harus menemukan apa yang ia inginkan untuk saya temukan. Tapi kita harus mengeluarkan para siswa dulu saat saya mencari— Voldemort menginginkan saya, tapi ia tidak akan peduli membunuh lebih banyak atau lebih sedikit, tidak sekarang—” Tidak sekarang setelah ia tahu aku menghancurkan Horcruxesnya, Harry menyelesaikan kalimat di dalam kepalanya.

”Kau bertindak atas perintah Dumbledore?” Profesor McGonagall mengulangi, dengan tatapan keheranan. Ia membenahi diri.

“Kita akan mengamankan sekolah ini dari Dia Yang Namanya Tidak Boleh Disebut saat kau mencari benda—benda ini.”

“Mungkinkah?”

“Kukira ya,” sahut Profesor McGonagall datar dan kering, “kami guru-guru punya sihir yang cukup baik, kau tahu. Aku yakin kita bisa menahan dia untuk beberapa lama bila kami mengerahkan segala daya upaya. Tentu saja sesuatu harus dilakukan pada Profesor Snape—”

”Biarkan saya—”

”—dan jika Hogwarts memang akan memasuki keadaan siaga, dengan Pangeran Kegelapan di pintu gerbang, tentu saja harus diupayakan sebanyak mungkin orang yang tak bersalah, tak terlibat. Dengan Jaringan Floo diawasi dan tak mungkin menggunakan Apparate di daerah ini—”

“Ada caranya,” sahut Harry cepat, dan ia menjelaskan jalan masuk yang mengarah ke Hog’s Head.

“Potter, kita bicara tentang ratusan siswa—“

“Saya tahu, Profesor, tapi jika Voldemort dan para Pelahap Maut berkonsentrasi pada tapal batas sekolah, mereka tidak akan tertarik pada siapapun yang ber-DisApparate dari Hog’s Head.

“Boleh juga,” Profesor McGonagall setuju. Ia menunjukkan tongkatnya pada kedua Carrow, dan jaring perak jatuh di atas tubuh mereka yang terikat, menyimpul sendiri dan menggantung kedua bersaudara itu di udara, terayun-ayun di bawah langit-langit biru dan keemasan, seperti dua binatang yang jelek dan besar. “Ayo, kita harus memperingatkan Kepala–Kepala Asrama yang lain. Kalian lebih baik memakai Jubah itu lagi.”

Ia berjalan gagah menuju pintu, sambil mengangkat tongkatnya. Dari ujung tongkatnya muncul tiga ekor kucing perak dengan tanda seperti kacamata di sekeliling mata mereka. Para Patronus itu berlari mendahului, mengilap, mengisi tangga spiral dengan cahaya keperakan, saat Profesor McGonagall, Harry, dan Luna bergegas turun.

Sepanjang koridor para Patronus itu berlomba, dan satu demi satu meninggalkan mereka, gaun tidur kotak-kotak Profesor McGonagall menyapu lantai, Harry dan Luna berlari di belakangnya di bawah naungan Jubah.

Mereka sudah menuruni dua lantai saat terdengar langkah sepasang kaki pelan. Harry yang bekas lukanya masih menusuk-nusuk, mendengarnya duluan, ia merasa dalam kantong jubahnya ada Peta Perompak, tapi sebelum ia mengeluarkannya, McGonagall nampaknya sudah waspada juga. Ia berhenti, mengangkat tongkatnya siap berduel, dan berkata, ”Siapa itu?”

”Ini aku,” sahut sebuah suara rendah.

Dari belakang seperangkat baju besi melangkahlah Severus Snape. Kebencian menggelora begitu Harry melihatnya; ia sudah lupa rincian penampilan Snape dengan kejahatannya, lupa bagaimana rambutnya yang hitam dan berminyak tergantung seperti tirai membingkai wajahnya yang kurus, bagaimana mata hitamnya punya tatapan yang dingin mematikan. Snape tidak memakai baju tidur tapi mengenakan jubah hitamnya yang biasa, dan dia juga sedang memegang tongkatnya siap bertempur. ”Di mana Carrow bersaudara?” tanyanya tenang. “Kurasa berada di tempat yang kau suruh, Severus,” sahut Profesor McGonagall. Snape melangkah mendekat dan matanya melihat berganti-ganti antara pada

Profesor McGonagall dan ke udara di sekitarnya, sepertinya ia bisa tahu bahwa

Harry ada di situ. Harry mengangkat tongkatnya juga, siap menyerang. “Aku mendapat kesan,” sahut Snape, “bahwa Alecto berhasil menemukan seorang penyelundup.”

“Benarkah?” tanya Profesor McGonagall, “Dan apakah yang membuatmu

mempunyai kesan demikian?” Snape membuat gerakan kecil pada tangan kirinya, di mana Tanda Kegelapan diterakan.

”Oh, tapi itu wajar,” sahut Profesor McGonagall, ”Kalian para Pelahap Maut

punya sarana komunikasi sendiri, aku lupa.” Snape pura-pura tak mendengar. Matanya masih memeriksa udara di sekitar Profesor McGonagall, dan Snape bergerak mendekat perlahan seperti tak memerhatikan apa yang sedang dia lakukan.

“Aku tak tahu malam ini giliranmu mengawasi koridor, Minerva.” ”Kau keberatan?” ”Aku heran apa yang bisa membuatmu keluar kamar selarut ini?” ”Kukira aku mendengar keributan,” sahut Profesor McGonagall. ”Benarkah? Tapi semua seperti tenang.” Snape memandang mata Profesor McGonagall.

“Apakah kau melihat Harry Potter, Minerva? Karena kalau kau melihat, aku terpaksa—“ *

Profesor McGonagall bergerak lebih cepat dari apa yang bisa Harry percayai: tongkatnya megiris udara dan untuk sedetik Harry mengira Snape telah rubuh, tak sadar, tapi dengan kecepatan Mantra Pelindungnya, justru McGonagall yang kehilangan keseimbangan. McGonagall mengarahkannya tongkatnya pada sebuah obor di dinding dan obor itu melayang dari standarnya; Harry, nyaris merapal kutukan pada Snape, terpaksa menarik Luna agar tidak terkena nyala api, yang kemudian menjadi cincin api yang memenuhi koridor dan terbang seperti laso menuju Snape.

Sekarang bukan lagi api, tapi ular hitam dan besar yang diledakkan McGonagall menjadi asap, lalu berubah bentuk dan mengeras dalam hitungan detik menjadi sekumpulan belati yang mengejar; Snape menghindarinya dengan menarik baju besi ke hadapannya, dengan suara logam berbenturan, belati itu terbenam satu demi satu di bagian dada—

“Minerva!” seru suara mencicit, dan di belakangnya, masih melindungi Luna dari mantra terbang, Harry melihat Profesor Flitwick dan Profesor Sprout berlari menyusuri koridor mendekati mereka masih memakai pakaian tidur, dengan Profesor Slughorn terengahengah di belakangnya.

“Tidak!” Flitwick memekik, mengangkat tongkatnya, “Kau tidak boleh membunuh lagi di Hogwarts!”

Mantra Flitwick membentur baju besi yang digunakan Snape untuk perlindungan; dengan suara berisik baju besi itu hidup. Snape berjuang melepaskan diri dari tangan besi yang meremukkan, dan mengirimnya terbang kembali pada penyerangnya; Harry dan Luna harus menunduk ke samping untuk menghindarinya, dan tangan besi itu terhempas ke dinding dan hancur. Saat Harry melihat lagi, Snape sudah benar-benar melarikan diri, McGonagall, Flitwick, dan Sprout segera mengejarnya; Snape meluncur lewat pintu kelas dan sesaat kemudian Harry mendengar McGonagall berteriak: “Pengecut! PENGECUT!”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.