Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

”Yeah … hebat …”

Harry menutup matanya, dan saat bekas lukanya berdenyut-denyut ia memilih untuk terbenam lagi ke dalam pikiran Voldemort … Voldemort sedang bergerak sepanjang terowongan ke dalam gua pertama … Voldemort telah memilih untuk meyakinkan dulu bahwa leontin itu masih ada sebelum datang ke mari … tapi itu tidak akan lama …

Terdengar ketukan di pintu Ruang Rekreasi dan tiap murid Ravenclaw membeku. Dari sisi yang lain Harry mendengar suara halus seperti nyanyian, yang dikeluarkan oleh elang pengetuk pintu: ”Ke manakah perginya barang-barang yang menghilang?”

”Ga tau, ’napa? Diam!” geram suara kasar yang Harry kenal sebagai Amycus, saudara laki-laki Carrow, ”Alecto? Alecto? Kau disitu? Kau sudah menangkapnya? Buka pintunya!”

Para Ravenclaw berbisik-bisik sesama mereka, ketakutan. Lalu tanpa peringatan, serangkaian ledakan keras datang, seakan seseorang sedang menembaki pintu.

”ALECTO!. Kalau dia datang, dan kita belum menangkap Potter—kau mau bernasib sama seperti Malfoy? JAWAB!” Amycus berteriak, mengguncang pintu sekuat ia bisa, tapi tetap saja tak terbuka. Anak-anak Ravenclaw mundur, karena takut sampai ada yang melarikan diri lewat tangga ke ruang tidur. Saat Harry sedang mempertimbangkan apakah ia sebaiknya membuka pintu saja dan Memingsankan Amycus sebelum Pelahap Maut itu dapat melakukan hal lain, ternyata sedetik kemudian sebuah suara yang paling dikenalnya terdengar dari balik pintu.

”Boleh kutahu apa yang sedang Anda lakukan, Profesor Carrow?”

“Mencoba—melewati—pintu—terkutuk ini!” teriak Amycus. ”Pergi dan cari Flitwick! Suruh dia buka ini, sekarang!”

“Tapi bukankah saudarimu di dalam?” ujar Profesor McGonagall, “bukankah Profesor Flitwick mengijinkannya masuk tadi, atas permintaanmu yang mendesak? Mungkin dia bisa membukakan pintu untukmu? Sehingga kau tidak perlu membangunkan setengah kastil.”

“Dia tidak menjawab, kau sapu tua! Kau yang buka kalau begitu! Lakukan, sekarang!

“Tentu saja, bila kau menginginkannya,” sahut Profesor McGonagall sangat dingin. Ia mengetuk dengan santun, dan suara beralun itu bertanya lagi, “Ke manakah perginya barang-barang yang hilang?”

“Ke ketiadaan, atau dengan kata lain, keseluruhan,” jawab Profesor McGonagall.

”Pengungkapan dengan susunan yang baik,” balas elang pengetuk pintu itu, dan pintu itu mengayun membuka.

Anak-anak Ravenclaw yang masih tersisa, segera lari ke tangga begitu Amycus menyerbu masuk dari ambang pintu, mengacungkan tongkatnya. Badannya bungkuk seperti saudarinya, Amycus punya wajah pucat gemuk dan mata yang kecil, mata yang langsung menatap pada Alecto, yang tergeletak tak bergerak. Ia berteriak marah sekaligus ketakutan.

”Apa yang mereka lakukan, binatang kecil?” Amycus berteriak. ”Akan ku-Crucio mereka sampai mereka mengatakan siapa yang melakukannya—dan apa yang akan dikatakan oleh Pangeran Kegelapan?” ia memekik, berdiri dekat saudarinya, memukul keningnya sendiri dengan tinjunya. ”Kita tidak menangkap anak itu, mereka sudah menyiksa dan membunuh Alecto!”

“Dia hanya Dipingsankan,” sahut Profesor McGonagall tak sabar, membungkuk memeriksa Alecto. “Dia akan baik-baik saja.”

“Dia tidak akan baik-baik saja!” teriak Amycus. “Tidak setelah Pangeran Kegelapan menghubunginya. Ia disuruh mencari dia, aku rasa Tanda-ku terbakar dan dia kira kami menangkap Potter!”

”Menangkap Potter?” tanya Profesor McGonagall tajam, ”apa maksudmu ’menangkap Potter’?”

”Pangeran Kegelapan mengatakan pada kami bahwa Potter akan mencoba memasuki Menara Ravenclaw, dan meminta kami mengirim kabar padanya bila kami menangkapnya!”

”Untuk apa Harry Potter memasuki Menara Ravenclaw? Potter adalah anggota asramaku!”

Di bawah rasa tak percaya dan amarah, Harry merasa ada sejumput kebanggaan pada suara Profesor McGonagall, dan rasa sayang pada Minerva McGonagall memancar dari dalam diri Harry.

”Kami diberi tahu dia mungkin masuk ke sini!” sahut Carrow, ”’ga tau, kan?”

Profesor McGonagall berdiri dan mata manik-maniknya menyapu ruangan. Dua kali mata itu melalui tempat Harry dan Luna berdiri.

”Kita bisa menyalahkan anak-anak,” sahut Amycus, wajah-babinya tiba-tiba bersinar. ”Yeah, itu yang akan kita lakukan. Kita akan bilang Alecto diserang oleh anak-anak, anak-anak ini,” ia memandang langit-langit berbintang di atas asrama, ”dan kita bilang mereka memaksa Alecto untuk menekan Tanda, dan karena itulah Pangeran Kegelapan mendapat tanda peringatan palsu … Pangeran Kegelapan dapat menghukum mereka. Beberapa anak, apa bedanya?”

”Hanya perbedaan antara kebenaran dan dusta, keberanian dan kepengecutan,” sahut Profesor McGonagall yang sudah berubah pucat, ”suatu perbedaan, singkatnya, yang tidak bisa dihargai olehmu dan saudarimu. Tapi biarkan aku menjelaskannya, sangat jelas. Kau tidak akan menerapkan tindakanmu yang bodoh pada siswa-siswa di Hogwarts. Aku tidak akan mengijinkannya.”

”Apa kau bilang?”

Amycus maju mendekati Profesor McGonagall, wajahnya hanya beberapa inci dari Profesor McGonagall. Profesor McGonagall menolak mundur, memandang rendah pada Amycus seakan dia itu sesuatu yang menjijikkan yang ditemukan di toilet.

”Bukan masalah apa yang kau ijinkan, Minerva McGonagall. Waktumu sudah habis. Kami sekarang yang bertugas di sini, kau mendukung kami, atau kau harus membayarnya.”

Dan Amycus meludahinya.

Harry membuka Jubahnya, mengangkat tongkatnya dan berucap, “Kau seharusnya tidak boleh melakukan itu.”

Saat Amycus berputar menoleh, Harry berseru “Crucio!”

Pelahap Maut itu terangkat kakinya, menggeliat nyeri di udara seperti orang tenggelam, menggelepar, melolong kesakitan, dan dengan suara kaca pecah ia terlempar ke depan rak buku, dan jatuh pingsan di lantai.

“Aku paham maksud Bellatrix sekarang,” sahut Harry, darah menggelegak di benaknya, “kau harus benar-benar berniat untuk itu.”

“Potter!” bisik Profesor McGonagall menenangkan jantungnya, “Potter—kau disini! Apa—? Bagaimana—?” ia berjuang menguasai diri, ”Potter, itu bodoh!”

”Ia meludahi Anda,” sahut Harry.

”Potter, aku—kau sangat—sangat gagah berani—tapi tidakkah kau sadari—?”

”Ya, aku sadar.” Harry meyakinkan Profesor McGonagall. Kepanikan Profesor McGonagall membuat Harry percaya diri. “Profesor McGonagall, Voldemort sedang dalam perjalanan ke sini.”

“Oh, apakah sekarang kita boleh menyebut namanya?” tanya Luna dengan wajah tertarik, melepaskan Jubah Gaib. Kemunculan kedua murid yang hilang ini nampaknya membuat Profesor McGonagall kewalahan, terhuyung mundur, jatuh di kursi terdekat, mencengkeram leher baju tidur kotak-kotaknya.

“Kukira tak ada bedanya kita memanggil dia apa,” Harry berkata pada Luna, “dia sudah tahu aku ada di mana.”

Bagian yang jauh dari benak Harry, bagian yang terhubung dengan bekas luka yang membara, marah, ia dapat melihat Voldemort berperahu cepat di danau gelap, dengan perahu hijau remang-remang … ia sudah nyaris mencapai pulau di mana baskom batu itu berada …

”Kau harus pergi Potter,” bisik Profesor McGonagall, ”Sekarang, Potter, secepat kau bisa!”

”Aku tidak bisa,” sahut Harry. ”Ada yang harus kulakukan. Profesor, tahukah Anda di mana beradanya diadem Ravenclaw?”

“D-diadem Ravenclaw? Tentu saja tidak—bukankah itu sudah berabad-abad hilang?” Profesor McGonagall duduk tegak, “Potter, ini gila, benar-benar gila, untuk memasuki kastil ini—“

“Saya harus,” sahut Harry, “Profesor, ada sesuatu yang tersembunyi di sini yang harus saya temukan, dan mungkin diadem itu—kalau saja saya dapat berbicara dengan Profesor Flitwick—“

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.