Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

“Ia sudah bergerak lagi,” kata Harry pelan pada Ron dan Hermione. Ia memandang Cho lalu pada yang lain. “Dengar, mungkin aku tidak banyak memberikan petunjuk, tapi aku akan pergi dan melihat patung itu, paling tidak melihat diadem itu seperti apa. Tunggu di sini dan jaga diri kalian baik-baik.”

Cho sudah hendak berdiri, tapi Ginny menyahut galak, “Tidak, mending Luna yang pergi dengan Harry, iya kan, Luna?”

“Ooh, iya, aku mau,” sahut Luna gembira, dan Cho duduk lagi, agak kecewa.

“Bagaimana kami keluar?” tanya Harry pada Neville.

”Sebelah sini.”

Ia memimpin Harry dan Luna ke sebuah sudut, di mana sebuah lemari kecil membuka ke sebuah tangga.

”Keluarnya berbeda-beda setiap hari, jadi mereka tidak dapat menemukan Kamar ini,” ujarnya. ”Masalahnya, kita juga tak tahu keluarnya di mana. Hatihati Harry, mereka berpatroli di koridor malam-malam.”

”Tidak masalah,” sahut Harry, ”Sampai ketemu lagi.”

Ia dan Luna bergegas ke tangga, panjang, diterangi obor, dan membelok di tempat-tempat yang tak terduga. Akhirnya mereka tiba di suatu tempat yang nampak seperti dinding padat.

“Ke bawah sini,” sahut Harry pada Luna, mengeluarkan Jubah Gaib dan mengerudungkannya ke atas mereka berdua. Ia mendorong dinding sedikit.

Dindingnya meleleh saat disentuh dan mereka menyelinap keluar: Harry melirik ke belakang dan melihat dindingnya menutup kembali seketika. Mereka berdiri di koridor yang gelap: Harry menarik Luna mundur ke kegelapan bayangan, merabaraba kantong di sekeliling lehernya dan mengeluarkan Peta Perompak. Dipegangnya dekat hidung, ia mencari titik dengan namanya dan nama Luna.

”Kita di lantai lima,” bisiknya, mengamati Filch bergerak menjauh dari mereka, satu koridor ke depan. ”Ayo, ke sini.”

Mereka mengendap-endap.

Harry sudah sering berkeliling kastil di malam hari, namun jantungnya belum pernah berdetak sekencang ini, belum pernah sebegitu bergantungnya ia pada jalan yang aman di tempat ini. Melewati tempat bercahaya bulan di lantai, melewati perangkat baju besi yang helmnya berderak saat langkah kaki mereka berbunyi halus, melewati sudut di mana siapa yang bisa tahu ada siapa bersembunyi, Harry dan Luna berjalan, sesekali memeriksa Peta Perompak manakala cahaya memungkinkannya, dua kali berhenti untuk membiarkan [seorang, sebuah, selembar, sehelai?] hantu lewat sehingga mereka tidak menarik perhatian. Ia berjaga-jaga jangan sampai ada halangan tiap saat: ketakutan terbesarnya adalah Peeves, ia menajamkan telinganya dalam tiap langkah agar bisa mendengar setiap tanda jika si pembuka rahasia itu mendekat.

”Ke sini, Harry,” Luna berbisik, menarik lengan baju Harry ke arah tangga melingkar.

Mereka naik di lingkaran yang sempit dan memusingkan; Harry belum pernah ke sini sebelumnya. Akhirnya mereka mencapai sebuah pintu. Tak ada pegangan pintu, tak ada lubang kunci: tak ada apa-apa hanya pintu polos dari kayu tua dan pengetuk pintu perunggu berbentuk elang.

Luna mengulurkan tangannya yang pucat, kelihatannya menakutkan melayang di tengah udara, tak terhubung dengan lengan atau tubuh. Ia mengetuk sekali, dalam keheningan kedengarannya seperti ledakan meriam. Paruh elang membuka, tapi alih-alih suara burung, malah suara lembut bagai musik berujar, ”Mana yang duluan, phoenix atau nyala api?”

”Hm … kau pikir apa, Harry?” sahut Luna, nampak bijak.

”Apa? Bukannya ada kata kuncinya?”

”Oh, tidak, kau harus menjawab pertanyaan,” sahut Luna.

”Bagaimana kalau salah?”

”Well, kau harus menunggu seseorang menjawab dengan benar,” ujar Luna, ”dengan demikian kita jadi belajar.”

”Yeah … masalahnya, kita tidak bisa menunggu orang lain, Luna.”

”Aku tahu apa maksudmu,” sahut Luna serius, ”Baiklah, kurasa jawabannya adalah sebuah lingkaran tak berawal.”

”Cukup beralasan,” sahut suara itu, dan pintu berayun membuka.

Ruang Rekreasi Ravenclaw yang ditinggalkan itu adalah sebuah ruangan yang luas, bundar, lebih sejuk daripada yang pernah Harry rasakan di Hogwarts. Jendela melengkung yang anggun di dinding, digantungi sutra biru dan perunggu; di siang hari para Ravenclaw punya pemandangan yang indah dengan gununggunung yang melingkar. Langit-langit berbentuk kubah dilukisi bintang-bintang, serasi dengan karpet biru tengah malam. Ada meja-meja, kursi, rak-rak buku dan di relung berseberangan dengan pintu berdiri sebuah patung tinggi dari marmer putih.

Harry mengenal Rowena Ravenclaw dari patung sedada yang ia lihat di rumah Luna. Patung itu berdiri di samping pintu ke, ia perkirakan, ke kamar-kamar asrama di atas. Ia melangkah mendekati wanita marmer itu, nampak dia memandang balik padanya dengan pandangan aneh. Setengah senyum pada wajahnya, cantik tapi sedikit menakutkan. Sebuah lingkaran yang kelihatannya lembut dibuat tiruannya dari marmer di atas kepalanya. Mirip tiara yang dipakai Fleur di hari pernikahannya. Ada kata-kata kecil dipahatkan di situ. Harry melangkah keluar dari kerudungan Jubah, menaiki standar patung Ravenclaw itu untuk membacanya.

Bijak melampaui ukuran adalah kekayaan terbesar manusia

”Yang akan membuatmu cukup miskin, dungu!” sebuah suara berkotek.

Harry berbalik cepat, terpeleset dari standar patung dan mendarat di lantai. Sosok berbahu miring, Alecto Carrow, berdiri di hadapannya, dan saat Harry mengangkat tongkatnya, Alecto menekankan jari telunjuknya yang pendek gemuk pada tanda tengkorak dan ular di lengannya.

 

Bab 30 PEMECATAN SEVERUS SNAPE

Saat jari Alecto menyentuh Tanda, bekas luka Harry terasa terbakar liar, ruang berbintang tiba-tiba lenyap dari pandangan, dan Harry berdiri di atas puncak potongan batu di bawah sebuah karang, ombak laut bergulung di sekitarnya, dan kemenangan di hatinya—mereka mendapatkan anak itu.

Sebuah letusan keras membawa Harry kembali ke tempat ia berdiri: bingung, ia mengangkat tongkatnya, tapi penyihir di hadapannya segera terjatuh ke depan, ia menabrak lantai sedemikian keras sampai-sampai kaca-kaca di rak buku bergemerincing.

“Aku belum pernah Memingsankan orang kecuali dalam pelajaran LD kita,” sahut Luna, terdengar agak tertarik. “Lebih berisik dari yang kuduga.”

Sudah barang tentu, langit-langit mulai bergetar. Langkah kaki bergegas, bergema, terdengar lebih keras di balik pintu menuju asrama; mantra Luna membangunkan para murid Ravenclaw yang tidur di lantai atas.

“Luna, kau di mana? Aku harus masuk ke bawah Jubah!”

Kaki Luna muncul entah dari mana; Harry bergegas berdiri ke sebelahnya dan Luna membiarkan Jubah jatuh kembali mengerudungi mereka berdua saat pintu terbuka dan sebarisan Ravenclaw, semua dalam pakaian tidur, membanjiri Ruang Rekreasi. Ada yang menahan napas, ada yang menjerit, terkejut saat melihat Alecto tergeletak tak sadarkan diri. Pelan-pelan, takut-takut mereka mengelilingi Alecto, seperti seekor binatang buas yang bisa bangun kapan saja dan menyerang mereka. Lalu seorang anak kelas satu, kecil tapi pemberani maju mendekati Alecto, menusuk punggung Alecto dengan jari kakinya.

”Kukira dia sudah mati!” teriak anak itu kegirangan.

”Oh, lihat,” bisik Luna gembira, saat para Ravenclaw mengerumuni Alecto, ”mereka senang!”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.