Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

keinginan mereka bertindak saat itu juga. ”Kau tidak mengerti,” Harry nampak sudah mengatakannya berkali-kali dalam beberapa jam terakhir ini. ”Kami—kami tidak bisa bilang. Kami harus mengerjakannya— sendiri.”

”Kenapa?” tanya Neville. ”Karena …” dalam keputusasaan untuk mencari Horcrus yang hilang, atau paling tidak bisa atau tidak mendiskusikannya dengan Ron dan Hermione bagaimana mereka bisa memulai pencarian, Harry menemui kesulitan untuk mengumpulkan pikirannya. Bekas lukanya masih terbakar. ”Dumbledore meninggalkan pekerjaan untuk kami bertiga,”

sahutnya hati-hati, ”dan kami seharusnya mengatakan—maksudku, ia menginginkan kami untuk melakukannya, hanya kami bertiga.” ”Kami Laskar-nya,” sahut Neville, ”Laskar Dumbledore. Kami selalu bersama, kami

selalu melawan walau saat kalian bertiga sedang tak ada—” ”Kami bukan sedang piknik, sobat,” sahut Ron. ”Aku tidak bilang begitu, tapi aku tidak melihat alasan mengapa kalian tidak bisa

mempercayai kami. Tiap orang di Kamar Kebutuhan ini berjuang, dan mereka ada di sini karena Carrow bersaudara mengejar mereka semua. Semua di sini sudah terbukti setia pada Dumbledore—setia padamu.”

”Begini,” Harry mulai, tanpa tahu apa yang akan ia katakan, tetapi itu tak jadi soal, pintu terowongan membuka di belakangnya. ”Kami dapat pesanmu, Neville! Hello kalian bertiga, kupikir kalian pasti ada di sini!”

Luna dan Dean. Seamus meraung gembira dan lari memeluk sobat baiknya itu.

“Hai, semuanya!” sahut Luna gembira, “Oh, senangnya bisa kembali!”

”Luna,” Harry merasa teralihkan, ”apa yang sedang kau lakukan di sini? Bagaimana bisa—?”

”Aku beritahu dia,” sahut Neville, mengacungkan Galleon palsunya, ”Aku janji padanya dan Ginny, kalau kau muncul mereka akan kuberitahu. Kami semua berpikir jika kau kembali, itu artinya revolusi. Bahwa kita akan menyingkirkan Snape dan Carrow bersaudara.”

”Tentu saja artinya memang demikian,” sahut Luna berseri-seri. ”Iya, kan, Harry? Kita berjuang mengeluarkan mereka dari Hogwarts?”

”Dengar,” sahut Harry, mulai panik, ”Maaf, tapi bukan untuk itu kami kembali. Ada yang harus kami kerjakan, lalu—”

”Kau akan meninggalkan kami dalam situasi seperti ini?” tuntut Michael Corner.

”Bukan!” sahut Ron, ”Apa yang kami kerjakan akan menguntungkan bagi semua orang, itu berkaitan dengan menyingkirkan Kau-Tahu-Siapa—”

”Kalau begitu, biarkan kami menolong!” sahut Neville marah, ”Kami ingin menjadi bagian!”

Ada suara lagi di belakang, dan Harry menoleh. Jantungnya nampaknya akan berhenti: Ginny sedang memanjat lubang di dinding, disusul Fred, George, dan Lee Jordan. Ginny tersenyum berseri-seri pada Harry: Harry sudah lupa atau tak pernah benar-benar menghargai, betapa cantiknya dia, tapi dia senang sekali bertemu Ginny.

“Aberforth mulai sedikit nampak seperti tikus,” sahut Fred mengangkat tangannya membalas beberapa teriakan menyambutnya, “dia tidak bisa tidur katanya, dan barnya berubah nenjadi stasiun kereta api!”

Mulut Harry terbuka. Tepat di belakang Lee Jordan, datang pacar lama Harry, Cho Chang. Dia tersenyum pada Harry.

“Aku dapat pesan,” sahutnya mengangkat Galleonnya, dan dia terus berjalan untuk duduk di samping Michael Corner.

“Jadi, apa rencananya, Harry?” tanya George.

“Tidak ada rencana,” sahut Harry, masih bingung dengan kemunculan tiba-tiba orang-orang ini, belum bisa mengerti saat bekas lukanya masih membakar dengan ganas.

“Biarkan saja berjalan sendiri, kan? Kesukaanku!” sahut Fred.

”Kau harus menghentikan ini!” sahut Harry pada Neville. ”Kenapa kau memanggil mereka? Kau gila—”

”Kita akan bertempur, kan?” sahut Dean, mengacungkan Galleon palsunya, ”Pesannya berbunyi Harry kembali, dan kita akan bertempur. Walau aku harus mendapat tongkat dulu—”

”Kau belum dapat tongkat—” Seamus mulai.

Ron tiba-tiba berbalik pada Harry.

“Kenapa mereka tidak bisa menolong?”

”Apa?”

”Mereka bisa menolong.” Ia menurunkan suaranya sehingga tidak ada orang lain yang bisa mendengarnya kecuali Hermione, yang berdiri di antara mereka. ”Kita tidak tahu Horcrux itu ada di mana. Kita harus mencarinya cepat. Kita tidak usah bilang kalau itu Horcrux.”

Harry memandang Ron lalu Hermione yang bergumam, ”Kupikir Ron benar. Kita bahkan tidak tahu apa yang kita cari, kita memerlukan mereka.” Dan saat Harry nampak tidak yakin, ”Kau tidak harus mengerjakan semua sendirian, Harry.”

Harry berpikir cepat, bekas lukanya masih berdenyut, kepalanya seperti mau pecah lagi. Dumbledore sudah memperingatkan agar dia jangan mengatakan pada siapapun kecuali Ron dan Hermione. Rahasia dan dusta, begitulah kami tumbuh, dan Albus … dia memang sepantasnya … Apakah dia sudah berubah menjadi Dumbledore, menyimpan semua rahasia di dadanya, takut mempercayai orang lain? Tetapi Dumbledore percaya pada Snape, dan kemana akhirnya? Dibunuh di atas menara tertinggi …

”Baiklah,” ujarnya pelan pada kedua temannya, ”OK,” serunya ke seluruh Kamar, dan semua suara berhenti: Fred dan George yang sedang menertawakan suatu lelucon langsung terdiam, dan semua waspada, bergairah.

”Ada sesuatu yang harus kami temukan,” sahut Harry, ”Sesuatu—sesuatu yang akan membantu kita menyingkirkan Kau-Tahu-Siapa. Ada di sini di Hogwarts, tapi kami tak tahu di mana. Mungkin kepunyaan Ravenclaw. Apakah ada yang pernah mendengar benda semacam itu? Misalnya, apa ada yang pernah melihat sesuatu dengan elang Ravenclaw padanya?”

Ia menatap berharap pada sekelompok kecil Ravenclaw, pada Padma, Michael, Terry, dan Cho, tapi Luna yang menjawab, bertengger di lengan kursi Ginny.

“Well, ada diademnya yang hilang. Aku pernah bilang tentangnya, inget kan, Harry?

Diadem Ravenclaw yang hilang? Daddy sedang berusaha menirunya.”

“Yeah, tapi diadem yang hilang itu,” sahut Michael Corner memutar matanya, “sudah hilang, Luna. Itu masalahnya.”

“Kapan hilangnya?” tanya Harry.

“Kata mereka sih berabad-abad lalu,” sahut Cho, dan jantung Harry terbenam. “Profesor Flitwick bilang, diadem itu lenyap bersamaan dengan Ravenclaw sendiri. Orang-orang sudah mencari, tapi,” Cho memandang rekan-rekan Ravenclawnya mencari dukungan, “tak seorangpun yang pernah menemukan bahkan jejaknya, benar kan?”

Teman-temannya menggeleng.

“Sori, diadem itu apa?” tanya Ron.

”Semacam mahkota,” sahut Terry Boot, ”Ravenclaw seharusnya memiliki benda sihir, meningkatkan kebijaksanaan si pemakai.”

”Ya, pipa Wrackspurt Daddy—”

Tapi Harry memotong percakapan Luna.

“Dan tak ada dari kalian yang pernah melihat sesuatu yang mirip dengan itu?”

Anak-anak Ravenclaw itu menggeleng lagi. Harry memandang Ron dan Hermione, kekecewaannya tercermin pada wajah mereka juga. Sebuah benda, yang sudah hilang sedemikian lama, dan jelas-jelas tanpa jejak, nampaknya bukan kandidat yang baik untuk Horcrux yang tersembunyi di kastil … sebelum dia berhasil merumuskan pertanyaan baru, Cho berbicara lagi.

“Kalau kau mau lihat seperti apa diadem itu, aku bisa membawamu ke Ruang Rekreasi kami dan memperlihatkannya padamu, Harry? Patung Ravenclaw memakainya.”

Bekas luka Harry membara lagi: untuk sesaat Kamar Kebutuhan lenyap di hadapannya, sebagai gantinya ia melihat dunia gelap terbentang di bawahnya, ia merasa ular besar melilit di pundaknya. Voldemort sedang terbang lagi, entah ke danau bawah tanah atau ke sini, ia tidak tahu: ke manapun waktu yang tersisa sangat sedikit.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.