Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

“Yeah,” sahut Neville, sedikit terengah-engah sekarang karena jalan tembusnya menanjak curam, “Well, kau bisa melihat apa yang mereka pikirkan. Biasanya bekerja baik, culik anak agar keluarganya berkelakuan baik, cuma soal waktu agar mereka melakukan yang sebaliknya. Masalahnya,” ia berbalik menghadap mereka, dan Harry heran melihat Neville nyengir, “mereka salah kira tentang Nenek. Penyihir wanita tua kecil hidup sendiri, mereka pikir tak usah kirim orang yang cukup kuat. Hasilnya,” Neville tertawa, “Dawlish masih di St Mungo, dan Nenek dalam pelarian. Dia mengirimiku surat,” ia menepukkan tangan di saku dada jubahnya, “bilang bangga padaku, bahwa aku benar-benar putra orangtuaku, dan agar aku terus berjuang.”

“Keren,” sahut Ron.

“Yeah,” Neville bahagia, “Satu hal, saat mereka menyadari mereka tidak punya sandera untukku, mereka memutuskan Hogwarts bisa terus tanpaku. Aku tidak tahu apakah mereka merencanakan untuk membunuhku atau mengirimku ke Azkaban, yang manapun, tapi aku tahu ini waktunya untuk menghilang.”

”Tapi,” Ron terlihat bingung, ”bukankah kita langsung tembus ke Hogwarts?”

“Tentu,” sahut Neville. “Kau akan lihat. Kita di sini.”

Mereka membelok dan di depan mereka akhir dari jalan tembus itu. Seperangkat undakan menuju pintu persis seperti yang tersembunyi di belakang lukisan Ariana. Neville mendorong pintunya dan memanjat naik. Saat Harry mengikuti, ia mendengar Neville berseru pada orang-orang yang tak terlihat: “Lihat ini siapa! Sudah kubilang, kan?”

Saat Harry muncul di ruangan di balik jalan tembus, terdengar jeritan dan pekikan : ”HARRY!” ”Itu Potter, itu POTTER!” ”Ron!” ”Hermione!”

Harry dibuat bingung dengan gantungan-gantungan berwarna-warni, lampu, dan banyaknya wajah. Saat berikutnya ia, Ron, dan Hermione diterjang, dipeluk, dipukulpukul punggungnya, rambut diacak-acak, tangan dijabat oleh nampaknya lebih dari 20 orang: seperti baru habis memenangkan final Quidditch saja.

“OK, OK, tenang,” seru Neville, dan saat kerumunan itu mundur, Harry bisa melihat sekelilingnya.

Ia tak mengenali ruangan ini sama sekali. Besar, dan interiornya seperti rumah pohon yang mewah atau kabin kapal raksasa. Tempat tidur gantung warna-warni diikatkan dari langit-langit dan dari balkon yang mengitari dinding berpanel kayu gelap tanpa jendela, yang ditutupi hiasan gantung berwarna cerah, Harry melihat singa emas Gryffindor berhias merah, luak hitam Hufflepuff dihias kuning, elang perunggu Ravenclaw dalam warna biru. Silver dan hijau Slytherin satu-satunya yang tidak ada. Ada rak-rak buku yang penuh sesak, beberapa sapu terbang disandarkan di dinding, dan di sudut sebuah radio besar tanpa kabel berbingkai kayu.

”Di mana kita?”

”Kamar Kebutuhan, tentu saja,” sahut Neville. ”Melebihi apa yang kita harapkan, kan? Carrow bersaudara mengejarku, aku tahu hanya punya satu kesempatan: aku berhasil mencapai pintunya, dan seperti ini yang kutemukan. Well, tak seperti ini waktu aku datang, jauh lebih kecil, hanya satu tempat tidur gantung dan hanya ada gantungan Gryffindor. Tapi jadi makin besar saat lebih banyak anak Laskar Dumbledore tiba.”

“Dan Carrow bersaudara tidak bisa masuk?” tanya Harry mencari adanya pintu.

“Tidak,” sahut Seamus, yang tidak Harry kenali hingga dia bicara; wajah Seamus lebam dan bengkak, “Persembunyian yang baik, selama kita tinggal di sini, mereka tidak dapat menemukan kita, pintunya tidak membuka. Terserah Neville. Ia benar-benar mendapatkan Kamar ini. Kau harus meminta tepat apa yang kaubutuhkan—seperti ‘aku tak mau pendukung Carrow bisa masuk’—dan kamar ini akan melakukannya. Asal kau yakin menutup semua kesempatan! Neville memang orangnya!”

“Terus terang, sebenarnya,” sahut Neville rendah hati, “Aku sudah sehari setengah di sini, benar-benar lapar, dan berharap mendapat sesuatu untuk dimakan, dan saat itulah jalan tembus ke Hog’s Head membuka. Aku menyusurinya, dan bertemu dengan Aberforth. Ia menyediakan makanan untuk kami, sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh Kamar.”

”Yeah, well, makanan adalah satu dari lima pengecualian terhadap Hukum Gamp tentang Asas Transfigurasi,” sahut Ron, menyebabkan semua heran.

”Jadi kami bersembunyi di sini sudah hampir dua minggu,” sahut Seamus, ”dan Kamar membuat lebih banyak tempat tidur gantung tiap saat kami memerlukan, dan bahkan memunculkan sebuah kamar mandi yang bagus saat para gadis juga datang—”

”—dan berpikir bahwa mereka suka membersihkan diri, ya,” sahut Lavender Brown, yang tak terperhatikan oleh Harry hingga saat itu. Sekarang dia melihat ke sekeliling, ia mengenali banyak wajah, kedua kembar Patil ada, seperti juga Terry Boot, Ernie Macmillan, Anthony Goldstein, dan Michael Corner.

”Ceritakan apa yang terjadi dengan dirimu,” sahut Ernie, ”banyak sekali kabar burung, kami mencoba mengikuti berita tentangmu di Potterwatch,” ia menunjuk pada radio tanpa kabel, ”Kau tak menerobos ke Gringotts?”

”Mereka memang menerobos!” sahut Neville, ”Dan cerita naga itu benar juga!”

Tepuk tangan dan beberapa teriakan: Ron menerima hormat dengan membungkukkan badan.

”Apa yang kau cari?” Seamus ingin tahu.

Sebelum siapapun bisa menjawab pertanyaan itu, Harry merasa nyeri yang menghanguskan, yang mengerikan, pada bekas lukanya. Saat ia menoleh tergesa pada wajah-wajah yang ingin tahu, Kamar Kebutuhan menghilang, dan

ia berdiri di dalam sebuah gubuk batu yang sudah hancur, lantai yang lapuk terbuka di kakinya, sebuah kotak emas baru digali, terbuka kosong di dekat lubang, dan teriakan kemarahan Voldemort bergema di dalam kepalanya.

Dengan susah payah Harry menarik diri dari pikiran Voldemort, kembali ke tempat di mana ia berdiri, terhuyung-huyung di Kamar Kebutuhan, keringat bercucuran dan Ron menahannya.

”Kau baik-baik saja, Harry?” Neville sedang bertanya, ”Mau duduk? Kukira kau lelah, apakah—“

“Tidak,” sahut Harry. Ia menatap Ron dan Hermione, mencoba memberitahu tanpa kata pada mereka bahwa Voldemort baru saja mengetahui salah satu Horcruxnya sudah hancur. Waktu berjalan cepat: jika Voldemort memilih untuk mengunjungi Hogwarts sekarang, maka mereka akan kehilangan kesempatan.

“Kita harus berjalan terus,” kata Harry dan raut wajah Ron serta Hermione mengatakan bahwa mereka mengerti.

”Apa yang akan kita lakukan, Harry?” tanya Seamus, ”apa rencanamu?”

”Rencana?” ulang Harry. Ia mengerahkan semua kemampuannya untuk menghalangi dirinya tergoda lagi ke dalam kemarahan Voldemort, bekas lukanya masih membara. ”Ada sesuatu yang harus kami—Ron, Hermione, dan aku—perlu kerjakan, dan setelah itu kami keluar dari sini.”

Tak ada tawa atau pekikan lagi, Neville nampak bingung.

”Apa yang kau maksud ’keluar dari sini’?”

”Kami tidak kembali untuk tinggal,” sahut Harry, mengusap bekas lukanya, mencoba

mengurangi nyerinya, ”Ada sesuatu yang penting yang harus kami lakukan—” ”Apa itu?” ”Aku—aku tak bisa bilang.” Gumam-gumam keheranan, alis Neville berkerut. ”Kenapa tidak bisa bilang pada kami? Sesuatu untuk melawan Kau-Tahu-Siapa, kan?” ”Well, ya—” ”Kalau begitu, kami akan menolongmu.” Anggota Laskar Dumbledore yang lain menganggukkan kepala, beberapa antusias,

beberapa lagi serius. Beberapa dari mereka bangkit dari kursinya untuk menunjukkan

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.