Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

Tadinya Harry tidak tahu ia ada di mana, tapi sekarang dia melihat, dengan cahaya remang-remang dari sebuah lilin, tempat yang kotor bertaburan serbuk kayu, bar Hog’s Head. Mereka berlari di belakang tempat kasir, melalui pintu kedua menuju tangga kayu yang berderak-derak, mereka naik secepat mereka bisa. Tangga menuju ruang duduk dengan karpet usang dan perapian kecil, di atasnya tergantung sebuah lukisan cat minyak besar, seorang gadis pirang yang memandang ruangan dengan manis tetapi hampa.

Teriakan-teriakan terdengar dari jalanan di bawah. Masih menggunakan Jubah Gaib, mereka bergerak diam-diam ke jendela dan memandang ke bawah. Penyelamat mereka, yang Harry kenal sebagai pemilik bar Hog’s Head, merupakan satu-satunya orang yang tidak memakai tudung.

“Terus kenapa?” teriaknya pada salah satu wajah yang bertudung. “Terus kenapa? Kau mengirim Dementor ke jalanku, aku mengirim Patronus balik! Mereka nggak ada dekatdekat sini, sudah kubilang aku nggak dekat-dekat mereka!”

“Itu bukan Patronusmu!” sahut seorang Pelahap Maut, “Itu seekor rusa jantan, itu milik Potter!”

“Rusa jantan!” raung pemilik bar, dan ia mencabut tongkat, “Rusa jantan! Kau bodoh— expecto patronum!”

Sesuatu yang besar dan bertanduk muncul dari tongkat: kepala di bawah ia keluar menuju Jalan Utama dan menghilang dari pandangan.

“Itu bukan yang kulihat—” sahut Pelahap Maut itu, walau tak begitu yakin.

“Jam malam dilanggar, kau dengar suara,” satu dari temannya berkata pada pemilik bar itu. “Seseorang ada di luar, di jalan melanggar peraturan—”

“Kalau aku mau mengeluarkan kucingku, aku akan, peduli apa dengan jam malam?”

“Kau yang menjadikan Mantra Caterwauling berbunyi?”

“Emangnya kenapa? Mau mengirimku ke Azkaban? Membunuhku karena aku mengeluarkan hidungku di depan pintuku sendiri? Lakukan saja kalau kau mau! Asal, demi kepentinganmu sendiri, kau belum memencet Tanda Kegelapan kecilmu dan memanggil dia. Dia tidak akan suka dipanggil ke sini gara-gara aku dan kucing tuaku, kan?”

“Jangan mengkhawatirkan kami,” sahut salah satau Pelahap Maut, “khawatirkan dirimu sendiri saja, melanggar jam malam!”

“Dan ke mana kalian akan bertransaksi Ramuan dan Racun kalau pubku ditutup?

Bagaimana dengan usaha sampinganmu?””Kau mengancam—””Mulutku tertutup, itu makanya kau bertransaksi lewatku, iya kan?””Aku masih yakin kalau itu Patronus rusa jantan!” seru Pelahap Maut yang pertama.”Rusa jantan?” raung pemilik bar, “Itu kambing, tolol!””Ya sudah, kita salah,” sahut Pelahap Maut kedua, “melanggar jam malam lagi dan kami tidak akan bermurah hati!” Para Pelahap Maut berjalan kembali ke Jalan Utama. Hermione mengerang lega, keluar dari Jubah dan terhenyak di kursi reyot. Harry menarik tirai hingga tertutup rapat, lalu menarik Jubah dari dirinya sendiri dan Ron. Mereka bisa mendengar pemilik bar di bawah, menggembok pintu bar, lalu menaiki tangga. Perhatian Harry terpecah pada sesuatu di rak di atas perapian: sebuah cermin kecil segiempat ditopang di atasnya, tepat di bawah lukisan gadis itu. Pemilik bar itu memasuki kamar. “Kalian benar-benar bodoh sekali,” ucapnya kasar, menatap mereka satu persatu, “Apa yang kalian pikirkan, datang kemari?”

“Terima kasih,” sahut Harry, “terima kasih kami tak akan cukup. Kau menyelamatkan hidup kami.” Pemilik bar itu menggerutu. Harry mendekatinya, menatap wajahnya, mencoba mengamati lewat rambutnya yang panjang, berserabut, kasar beruban dan janggutnya. Ia memakai kacamata. Di balik lensanya yang kotor, matanya menusuk, biru cemerlang. “Jadi matamu yang kulihat di cermin?” Hening di kamar itu. Harry dan pemilik bar itu saling berpandangan. “Kau mengirim Dobby?” Pemilik bar itu mengangguk dan mencari-cari si peri rumah. “Kukira, ia bersamamu. Di mana kau tinggalkan dia?” “Dia sudah mati,” sahut Harry, “Bellatrix Lestrange membunuhnya.” Wajah pemilik bar itu tidak menunjukkan perasaan. Setelah beberapa saat ia berkata, “Aku turut berduka. Aku suka peri rumah itu.”

Ia memalingkan diri, menyalakan lampu dengan jentikan tongkatnya, tidak menatap satupun di antara mereka.

“Kau Aberforth,” sahut Harry pada punggung orang itu.

Ia tidak mengiyakan atau menyangkal, tapi membungkuk menyalakan api.

“Bagaimana kau dapat ini?” tanya Harry, berjalan menyeberangi kamar menuju cermin Sirius, pasangan dari cermin yang telah ia pecahkan nyaris dua tahun lalu.

“Beli dari Dung sekitar tahun lalu,” sahut Aberforth, “Albus kasih tahu itu apa. Terus mencoba mengamatimu.”

Ron menahan napas.

“Rusa betina perak itu!” katanya bergairah. “Itu kau juga?”

“Apa yang kaubicarakan?” tanya Aberforth.

“Seseorang mengirimkan Patronus rusa betina pada kami!”

“Otak macam begitu, kau bisa jadi Pelahap Maut, nak. Kan sudah kubuktikan bahwa Patronusku kambing?”

“Oh,” sahut Ron, “Yeah … well, aku lapar!” Ia menambahkan memberi alasan, karena perutnya berkeruyuk keras.

“Aku punya makanan,” sahut Aberforth, dan menyelinap keluar dari kamar, muncul lagi beberapa saat kemudian dengan sebongkah besar roti, keju, dan sekendi mead, disimpannya di meja kecil di depan perapian. Mereka makan dengan rakus, dan untuk sementara suasana hening kecuali suara gemeretak api, dentingan piala dan suara mengunyah.

“Sekarang,” saht Aberforth, saat mereka sudah kenyang, Harry dan Ron duduk merosot mengantuk di kursi mereka. “Kita harus memikirkan jalan terbaik untuk mengeluarkan kalian dari sini. Tidak bisa malam-malam, kau tahu apa yang terjadi bila kalian bergerak di luar saat gelap: Mantra Caterwauling terpasang, mereka akan langsung menyergapmu seperti Bowtruckles pada telur-telur Doxy. Kukira aku tidak akan bisa lagi pura-pura rusa jantan adalah kambing, untuk kedua kalinya. Tunggu sampai terang, jam malam dicabut, pakai lagi Jubah kalian dan pergilah dengan jalan kaki. Keluar dari Hogsmeade, naik ke pegunungan, dan kalian bisa ber-Disapparate dari sana. Mungkin ketemu Hagrid. Dia sembunyi di gua dengan Grawp sejak mereka mencoba menangkapnya.

“Kami tidak akan pergi,” sahut Harry, “Kami harus masuk ke Hogwarts.”

“Jangan bodoh, nak,” sahut Aberforth. “Kami harus,” sahut Harry. “Yang harus kalian lakukan,” sahut Aberforth, duduk maju, “adalah menjauh dari sini

sejauh yang kalian bisa.”

“Kau tak mengerti. Tak ada waktu lagi. Kami harus masuk ke kastil. Dumbledore— maksudku, kakakmu—menginginkan kami—” Cahaya api membuat lensa buram kacamata Aberforth sejenak tak tembus pandang, putih

cemerlang, dan Harry ingat mata buta laba-laba raksasa, Aragog. “Kakakku Albus menginginkan banyak hal,” sahut Aberforth, “dan orang biasanya terluka saat dia menjalankan rencana besarnya. Kau pergilah menjauh, Potter, ke luar

negeri kalau bisa. Lupakan kakakku dan rencana besarnya. Dia sudah pergi, tak ada satupun yang bisa melakukannya, dan kau tak berhutang apapun padanya.” “Kau tak mengerti,” sahut Harry. “Oh, aku tidak mengerti?” sahut Aberforth tenang. “Kau mengira aku tidak mengerti kakakku sendiri? Kau kira kau lebih tahu tentang Albus daripadaku?”

“Aku tak bermaksud begitu,” sahut Harry, otaknya terasa melempem karena lelah dan kekenyangan makanan dan anggur. “Dia … dia meninggalkan pekerjaan untukku.” “Yang benar?” sahut Aberforth. “Pekerjaan yang bagus, kuharap? Menyenangkan? Mudah? Macam yang bisa dikerjakan oleh penyihir anak tak berpengalaman tanpa memaksakan diri?” Ron tertawa suram, Hermione terlihat tegang.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.