Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

“Apakah kau melihat di bagian mana dari Hogwarts benda itu berada?” tanya Ron, yang sekarang juga berusaha berdiri.

“Tidak, ia berkonsentrasi untuk memberi peringatan kepada Snape, ia tidak memikirkan di mana tepatnya Horcrux itu berada – ”

“Tunggu, tunggu!” jerit Hermione ketika Ron menyambar Horcrux itu dan Harry mengambil Jubah Gaib lagi. “Kita tidak bisa pergi begitu saja, kita belum mempunyai rencana, kita harus – ”

“Kita harus pergi,” kata Harry dengan suara keras. Ia sangat ingin tidur di dalam tenda baru mereka, tetapi itu tidak mungkin sekarang, “Dapatkah kau bayangkan apa yang akan ia lakukan ketika ia menyadari bahwa cincin dan liontin itu telah hilang? Bagaimana jika ia memindahkan Horcrux yang berada di Hogwarts karena menganggap tempat itu tidak cukup aman?

“Tapi bagaimana cara kita masuk ke sana?”

“Kita akan pergi ke Hogsmeade,” kata Harry, “dan mencoba melakukan sesuatu ketika kita sudah melihat perlindungan seperti apa yang dilakukan oleh para DE di sekolah. Masuk ke bawah Jubah, Hermione, aku ingin kita tetap bersama sekarang.”

“Tapi kita tidak benar-benar cukup –“

“Hari sudah gelap,tak akan ada yang dapat melihat kaki kita.”

Suara kepakan sayap yang sangat besar menggema dari seberang danau yang gelap. Naga itu sudah puas minum dan kini akan terbang lagi. Mereka berhenti sesaat dari kesibukannya untuk memperhatikan naga itu terbang meninggi, hingga menembus awan yang hitam dan menghilang di balik pegunungan. Lalu Hermione berjalan menuju ke arah kedua orang temannya dan berdiri di tengahtengah, Harry menarik Jubah Gaib sejauh yang ia bisa, dan mereka pun berputar di titik itu bersama-sama berjalan menuju kegelapan.

* kata vault (atau storage vault) umumnya digunakan sebagai kata untuk menunjukkan tempat untuk menyimpan barang berharga dalam jumlah yang besar. Bentuknya bermacam-macam, namun tidak selalu membentuk kubah. Bila ingin melihat bentuk umum dari vault, maka dapat menonton film Ocean’s Eleven, atau membaca komik Donal Bebek (ya, Gudang Uang Paman Gober adalah contoh bagus untuk storage vault).

 

Bab 28 Cermin yang Hilang

Kaki Harry menyentuh jalan. Ia melihat pemandangan yang menyakitkan, Jalan Utama Hogsmeade yang dikenalnya: bagian depan toko-toko yang gelap, garis bentuk pegunungan yang gelap di belakang desa, belokan jalan di depan yang menuju Hogwarts, cahaya yang tercurah dari jendela Three Broomstick, dan dengan sentakan di jantungnya, diingatnya, dengan ketepatan yang menusuk, bagaimana dia pernah mendarat di sini, nyaris setahun lalu, memapah Dumbledore yang lemah; kesemuanya dalam sedetik, saat mendarat— kemudian, saat ia mengendurkan pegangan pada lengan Ron dan Hermione, hal itu terjadi.

Udara terbelah oleh jeritan yang terdengar seperti jeritan Voldemort saat Voldemort menyadari piala sudah dicuri; mengoyak tiap helai syaraf di tubuh Harry, dan ia segera tahu bahwa kemunculan merekalah penyebabnya. Saat Harry memandang kedua temannya di bawah Jubah, pintu Three Broomstick terbuka cepat, selusin Pelahap Maut berjubah dan bertudung menghambur ke jalan, tongkat mereka teracung.

Harry menangkap pergelangan tangan Ron saat ia mengangkat tongkat. Terlalu banyak untuk bisa di-Pingsankan; bahkan mencobanya berarti memberitahu dengan sukarela pada para Pelahap Maut di mana mereka berada. Salah satu Pelahap Maut mengayunkan tongkat dan jeritan itu berhenti, masih menggema di pegunugan yang jauh.

“Accio Jubah!” raung salah satu Pelahap Maut.

Harry menahan lipatannya, tapi Jubah itu tak bergerak: Mantra Panggil tak mempan.

“Kau tidak sedang di bawah selubungmu, kalau begitu , Potter?” teriak Pelahap Maut yang mencoba mantra itu, lalu pada rekannya, “Berpencar. Dia di sini.”

Enam Pelahap Maut berlari ke arah mereka: Harry, Ron, dan Hermione mundur secepat mereka bisa, ke sisi jalan kecil, dan nyaris terlanggar para Pelahap Maut, luput beberapa inci. Mereka menunggu dalam kegelapan, mendengardengar langkah kaki ke sana ke mari, sorot cahaya bersilangan di jalanan dari tongkat para Pelahap Maut yang sedang mencari.

“Mari kita pergi saja!” bisik Hermione, “Disapparate sekarang!”

“Gagasan yang bagus,” sahut Ron, tapi sebelum Harry bisa menjawab, seorang Pelahap Maut berseru, “Kami tahu kau di sini, Potter, dan jangan coba-coba pergi! Kami akan menemukanmu!”

“Mereka sudah bersiaga,” bisik Harry. “Mereka merancang mantra yang bisa memberitahu kalau kita datang. Kuperhitungkan mereka sudah berbuat sesuatu untuk menjaga kita tetap di sini, memerangkap kita—”

“Bagaimana kalau kita pakai Dementor?” seru Pelahap Maut yang lain, “Lepaskan kekang mereka, mereka bisa cepat menemukannya.”

“Pangeran Kegelapan ingin membunh Potter, tidak oleh orang lain, tapi oleh tangannya …”

“—sesosok Dementor tidak akan membunuhnya. Pangeran Kegelapan menginginkan nyawa Potter, bukan jiwanya. Dia akan lebih mudah dibunuh jika dikecup dulu!”

Suara-suara menyetujui terdengar. Rasa takut menyelimuti Harry: untuk mengusir Dementior mereka harus membuat Patronus yang akan segera membuka rahasia mereka ada di mana.

“Kita harus mencoba Disapparate, Harry!” bisik Hermione.

Saat Hermione masih bicara, Harry sudah mulai merasa dingin yang tak wajar menyelimuti seluruh jalanan. Cahaya disedot dari mulai lingkungan sekeliling hingga ke atas ke bintang-bintang. Dalam kegelapan ia merasa Hermione memegang tangannya dan bersama, mereka berputar.

Udara yang mereka perlukan untuk bergerak seakan memadat: mereka tidak dapat ber-Disapparate: para Pelahap Maut sudah merapal mantranya dengan baik. Rasa dingin itu makin lama makin menusuk daging Harry. Ia, Ron, dan Hermione mundur ke sisi jalan kecil, meraba-raba jalan sepanjang tembok, berusaha tidak menimbulkan suara. Lalu dari sudut meluncur tanpa suara, datanglah Dementor, sepuluh atau lebih, dapat terlihat karena Dementor itu lebih padat gelapnya dari lingkungan sekelilingnya, dengan jubah hitam mereka, dengan tangan berkeropeng dan membusuk. Dapatkah mereka merasakan ketakutan di sekitarnya? Harry yakin: mereka seperti datang lebih cepat, napas yang terseret-seret, bergemeretuk, yang ia benci, merasakan keputusasaan di udara, mengepung—

Harry mengacungkan tongkatnya: ia tidak mau, tidak akan, menderita kecupan Dementor, apapun yang terjadi setelahnya. Ia memikirkan Ron dan Hermione saat ia berbisik, “Expecto patronum!”

Rusa jantan perak meluncur dari tongkatnya dan menyerang: Dementor-Dementor bubar bertemperasan, lalu ada teriakan kemenangan entah dari mana.

“Itu dia, di sebelah sana, sebelah sana, aku lihat Patronusnya, seekor rusa jantan!”

Para Dementor sudah mundur, bintang-bintang muncul kembali, dan langkahlangkah kaki para Pelahap Maut semakin keras: tapi sebelum Harry yang panik bisa memutuskan apa yang harus dilakukan, ada bunyi gemerincing gerendel pintu dekat-dekat sini, sebuah pintu terbuka di sebelah kiri jalan yang sempit, dan suara yang kasar berkata, “Potter, ke sini, cepat!”

Harry menurut tanpa ragu: ketiganya meluncur cepat-cepat melalui pintu terbuka.

“Ke atas, tetap pakai Jubah, dan diam!” gumam sesosok tinggi, melewati mereka menuju ke jalanan dan membanting pintu di depannya.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.