Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

Berapa lama lagi waktu yang tersisa sebelum Voldemort mengetahui bahwa mereka telah menerobos masuk ke brankas penyimpanan* milik Lestrange? Seberapa cepat para goblin dari Gringgots melaporkannya kepada Bellatrix? Seberapa cepat mereka menyadari apa yang telah diambil? Lalu, kapan mereka akan menyadari bahwa piala emas telah hilang? Voldemort akan tahu, pada akhirnya, bahwa mereka sedang berburu Horcrux.

Sang naga sepertinya menginginkan udara yang lebih sejuk dan segar. Ia terbang terusmenerus, hingga mereka terbang melalui gumpalan awan yang dingin, dan Harry tak bisa lagi melihat titik-titik kecil beraneka warna yang sebenarnya adalah mobil yang keluarmasuk ibu kota di bawah mereka. Mereka terus terbang, di atas daerah pedesaan yang tampak seperti sebidang kain penuh tambalan berwarna hijau dan coklat, melintasi jalanjalan dan sungaisungai yang meliuk-liuk melalui pemandangan seperti potonganpotongan pita, baik yang pudar maupun mengkilap.

“Menurutmu, apa yang dicarinya?” Ron berteriak saat mereka terbang lebih jauh dan lebih jauh lagi ke utara.

“Entahlah,” Harry berteriak kembali kepada Ron. Tangannya terasa kebas karena dingin, tetapi ia tak berani untuk mencoba melepaskan genggamannya. Harry membayangkan apa yang akan mereka lakukan bila mereka melintasi garis pantai di bawah mereka, jika sang naga menuju ke laut lepas. Belum lagi dengan keadaan naga itu yang kelaparan dan kehausan. Kapan, Harry bertanya-tanya dalam hati, makhluk ini terakhir kali makan? Tentu saja ia akan membutuhkan makanan tak lama lagi? Dan bagaimana jika, pada suatu saat, ia menyadari bahwa ada tiga orang manusia yang dapat dimakan sedang duduk di punggungnya?

Matahari mulai tergelincir di langit, yang berubah warna menjadi nila; dan naga itu masih terbang, kota besar dan kecil di bawah mereka melintas cepat, sejenak tampak dan sejenak tak terlihat lagi, bayangan naga yang sangat besar itu meluncur di atas bumi bagaikan awan hitam raksasa. Semua bagian tubuh Harry terasa sakit karena usahanya untuk berpegangan pada punggung naga itu.

“Apakah ini hanya perasaanku,” teriak Ron setelah beberapa saat dalam kesunyian, “atau kita memang kehilangan ketinggian?”

Harry menoleh ke bawah dan melihat pegunungan dan danau yang hijau, sedikit berwarna tembaga saat matahari terbenam. Pemandangannya kelihatan lebih besar dan jelas ketika ia melihatnya melalui bagian samping tubuh sang naga, dan Harry membayangkan apakah sang naga telah meramalkan adanya air segar dengan kilasankilasan pantulan cahaya matahari.

Naga itu terbang lebih rendah dan lebih rendah lagi, berputar-putar membentuk lingkaran yang sangat besar, semakin mendekat ke atas permukaan sebuah danau kecil.

“Menurutku kita harus melompat begitu naga ini terbang cukup rendah!” Harry berkata pada yang lain, “Langsung ke dalam air sebelum ia menyadari kita di sini!”

Mereka menyetujuinya, Hermione sedikit pucat, sekarang Harry dapat melihat perut bagian bawah naga yang lebar dan berwarna kuning berdesir di atas permukaan air.

“SEKARANG!”

Ia merayap di atas punggung naga dan terjun ke danau dengan kaki terlebih dahulu; dengan jarak yang ternyata lebih jauh daripada yang ia perkirakan dan ia menghantam air dengan sangat keras, jatuh bagaikan sebuah batu ke dalam dunia yang sangat dingin, hijau, dan dipenuhi alang-alang. Ia berenang ke arah permukaan dan muncul, terengahengah, untuk melihat riak membulat yang sangat besar, di tempat Ron dan Hermione jatuh. Naga itu kelihatannya tidak menyadari apapun, ia telah pergi sejauh lima puluh kaki, menukik rendah di atas danau untuk mengambil air dengan moncongnya yang berluka. Ketika Ron dan Hermione muncul, gemetar dan terengah-engah, dari kedalaman danau, naga itu terbang lagi, sayapnya mengepak sangat keras, dan akhirnya mendarat di tepi danau yang jauh.

Harry, Ron, dan Hermione berenang menuju ke pantai yang berlawanan dengan sang naga. Danaunya tak nampak dalam. Tidak berapa lama kemudian mereka tidak lagi berenang, akan tetapi lebih mirip bergumul dengan alang-alang dan lumpur, namun pada akhirnya mereka berhasil naik ke rumput yang licin dengan keadaan basah kuyup dan kelelahan. Hermione jatuh, batuk-batuk dan ketakutan. Meskipun Harry dapat berbaring dan tidur dengan gembira, ia berdiri terhuyung-huyung di atas kakinya, mengeluarkan tongkat, dan mulai memasang mantra pelindung seperti biasa di sekitar mereka.

Ketika ia telah selesai, ia bergabung dengan yang lain. Itu adalah kali pertama Harry melihat wajah kedua temannya sejak mereka melarikan diri dari brankas penyimpanan* Gringgots. Wajah mereka berdua merah terbakar di mana-mana, dan pakaiannya terbakar pula di beberapa tempat. Mereka bergerenyit kesakitan ketika mereka mengoleskan sari dittany ke atas luka-luka mereka yang banyak. Hermione memberikan botol sari dittany tersebut kepada Harry, lalu ia mengambil tiga botol jus labu yang dibawanya dari Pondok Kerang dan jubah yang bersih, dan kering untuk mereka bertiga. Mereka berganti jubah, kemudian meneguk habis jus labu itu.

“Yah, berita baiknya,” kata Ron akhirnya, yang sedang duduk sambil melihat kulit di tangannya tumbuh kembali,”kita mendapatkan Horcrux itu. Berita buruknya -” “– tidak ada pedang,” potong Harry dengan gigi bergeretak, sambil meneteskan sari dittany melalui lubang bekas terbakar pada celana jeansnya ke atas luka bakar yang besar di bawahnya.

“Tidak ada pedang,” ulang Ron. “Pengkhianat kecil tukang tipu itu…”

Harry menarik Horcrux itu keluar dari saku jaketnya yang basah, yang baru ia lepas dan tergeletak di atas rumput di depan mereka. Benda itu berkilau ditimpa cahaya matahari, dan menarik perhatian mereka sembari mereka meneguk botol-botol jus labu mereka.

“Setidaknya kita tak bisa memakainya kali ini, benda itu pasti akan kelihatan aneh jika bergantung di leher kita,” kata Ron, seraya menyeka mulut dengan punggung tangannya.

Hermione melihat ke seberang danau, ke tepi yang jauh dari mereka di mana naga itu masih minum.

“Apakah kau memikirkan apa yang akan terjadi pada naga itu nanti?” ia bertanya, “Apakah ia akan baik-baik saja?’

“Kau mulai kedengaran seperti Hagrid,” kata Ron, “Ia seekor naga, Hermione, ia bisa menjaga dirinya sendiri. Kau seharusnya lebih mengkhawatirkan tentang kita.”

“Apa maksudmu?”

“Yah, aku tak tahu bagaimana menjelaskan hal ini padamu,” kata Ron “Tapi kurasa mereka mungkin sudah tahu kalau kita mengacau di Gringgots.”

Mereka bertiga mulai tertawa, dan begitu mulai, sulit untuk berhenti. Tulang rusuk Harry terasa sakit, ia merasa pusing karena kelaparan, namun ia kembali berbaring di rumput, di bawah langit yang mulai kemerahan dan terus tertawa hingga kerongkongannya terasa kering.

“Apa yang akan kita lakukan sekarang?’ kata Hermione akhirnya, berusaha untuk kembali serius. “Ia akan tahu kan? Kau-Tahu-Siapa akan mengetahui bahwa kita tahu mengenai Horcrux-Horcrux nya!”

“Mungkin mereka akan terlalu takut untuk mengatakan padanya!” kata Ron penuh harap, “Mungkin mereka akan menutup-nutupi –” Langit, bau air danau, dan suara Ron, lenyap. Sakit membelah kepala Harry seperti sebuah tebasan pedang. Ia sedang berdiri di dalam ruangan bercahaya temaram, dan dikelilingi oleh penyihir-penyihir yang membentuk setengah lingkaran, dan di lantai tepat

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.