Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

“Ia setengah buta,” kata Griphook terengah-engah, “tapi itu justru membuatnya lebih buas. Bagaimanapun kita diharuskan mengendalikannya. Ia telah mengetahui apa yang menantinya ketika Logam Gerincing datang. Berikan padaku Logamnya.“

Ron memberikan tas kepada Griphook, dan goblin itu mengambil beberapa alatalat logam kecil yang jika digerakkan menimbulkan suara gemerincing yang panjang seperti miniatur palu pada landasan besi tempa. Griphook membagibagikannya, Bogrod menerimanya dengan patuh.

“Kalian tahu apa yang harus dilakukan,“ Griphook berkata pada Harry, Ron dan Hermione. “Mungkin akan terasa sakit ketika mendengar suaranya, tapi ia akan mundur dan Bogrod harus meletakkan tangannya pada pintu lemari besi.“

Mereka bergerak maju di sekitar tikungan lagi, menggoyangkan kunci-kunci dan suaranya bergema di dinding berbatu, semakin besar sampai-sampai isi tengkorak Harry seperti ikut bergetar bersama ruangan. Naga itu meraung lagi, lalu mundur. Harry bisa melihatnya gemetar, dan saat mereka mendekat dia melihat bekas luka karena sayatan yang jelek di wajah naga itu dan menduga ia pasti diajar untuk takut pada pedang panas ketika mendengar suara Logam Gerincing.

“Suruh dia menekan tangannya pada pintu,“ Griphook mengingatkan Harry, yang segera mengarahkan tongkatnya lagi pada Bogrod. Goblin tua itu menurut, menekan telapak tangannya pada pintu kayu, dan pintu lemari besi meleleh menampilkan ruangan seperti gua yang penuh berjejalan koin-koin emas dan piala-piala, baju besi perak, kulit makhluk-makhluk aneh –beberapa dengan duriduri panjang, lainnya dengan sayap-sayap rontok—ramuan dalam botol berkilau dan sebuah tengkorak yang masih memakai mahkota.

“Cepat, cari!“ kata Harry saat mereka bergegas masuk ke dalamnya. Dia telah menggambarkan bentuk Piala Hufflepuff kepada Ron dan Hermione, tapi jika itu yang lain, Horcrux tak diketahui yang terdapat di ruangan ini, ia tak tahu seperti apa bentuknya. Bagaimanapun Harry hampir tak punya waktu untuk memandang sekeliling, sebelum suara bising menutup dari belakang mereka: Pintu telah muncul kembali, mengunci mereka di dalam lemari besi dan mereka terjebak dalam kegelapan total.

“Jangan kuatir, Bogrod akan mengeluarkan kita!“ kata Griphook ketika Ron berteriak terkejut. “Nyalakan tongkat kalian, bisa kan? Dan cepatlah, waktu kita hanya sedikit!“

“Lumos!“

Harry menyinari sekitar lemari besi dengan tongkatnya yang menyala. Cahayanya menerpa perhiasan yang berkilau; dia melihat pedang Gryffindor palsu tergeletak diatas rak tinggi diantara rantai yang campur aduk. Ron dan Hermione juga menyalakan tongkat mereka, dan sekarang sedang memeriksa tumpukan benda-benda di sekitar mereka.

“Harry, apakah ini –? Aahh!“

Hermione menjerit kesakitan, Harry langsung mengarahkan tongkat kepadanya dan melihat piala permata berguling dari pegangannya. Tapi saat piala itu jatuh, ia membelah, berubah menjadi hujan piala, sehingga sedetik kemudan, dengan bunyi gemerincing yang berisik, lantai tertutup piala-piala identik di semua penjuru, yang asli tak mungkin dibedakan lagi.

“Piala itu membakarku!“ rintih Hermione, mengibas-ngibaskan tangan yang melepuh.

“Mereka pasti menambahkan Kutukan Penumbuh dan Pembakar****,“ kata Griphook.

“Semua yang kau sentuh akan terbakar dan menjadi banyak, tapi tiruannya tidak berharga—jika kalian meneruskan memegang harta, kalian akhirnya akan hancur menuju kematian karena tertimbun emas yang terus bertambah.“

“Oke, jangan menyentuh apapun!“ kata Harry putus asa, tapi bahkan saat ia mengatakannya, Ron tak sengaja menyentuh salah satu piala dengan kakinya, dan duapuluh piala lagi muncul ketika Ron melompat di tempat, sebagian sepatunya terbakar karena bersentuhan dengan logam panas.

“Tetap disitu, jangan bergerak!“ kata Hermione sambil mencengkeram Ron.

“Cukup lihat saja sekeliling!“ kata Harry. “Ingat piala itu kecil dan emas, ada lambang terukir di atasnya, dua pegangan –lihat juga barangkali kalian menemukan lambang Ravenclaw di suatu tempat, elang—.“

Mereka mengarahkan tongkat ke setiap sudut dan celah, berputar di tempat dengan hatihati. Sangat tidak mungkin tidak menyentuh apapun: Harry menambahkan segunung galleon palsu bersama piala-piala, dan sekarang sulit sekali mendapatkan tempat untuk kaki mereka, dan emas berkilau menyala karena panas, sehingga lemari besi itu terasa seperti tungku. Nyala tongkat Harry melewati pelindung dan helm buatan-goblin tergeletak dirak yang tergantung di langit-langit; ia mengangkat sinar semakin tinggi, hingga akhirnya ia menemukan sebuah benda yang membuat jantungnya berdegup kencang dan tangannya berkeringat.

“Itu dia, di atas sana!“

Ron dan Hermioe mengarahkan tongkat mereka kesana juga, sehingga piala emas kecil itu berkilau diterpa sinar-tiga-penjuru: piala yang merupakan milik Helga Hufflepuff, yang berpindah menjadi milik Hebzibah Smith, dari siapa Tom Riddle telah mencurinya.

”Dan bagaimana kita bisa naik ke sana tanpa menyentuh apapun?” tanya Ron.

“Accio piala!” raung Hermione, yang karena putus asa telah melupakan kata-kata Griphook saat sesi perencanaan.

“Tak ada gunanya, tak ada gunanya!” teriak Griphook.

“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya Harry, memandang dengan marah kepada si Goblin, “Jika kau ingin pedang itu, Griphook, kau harus membantu kami lebih dari – tunggu! Bisakah aku memegang benda dengan pedang itu? Hermione, berikan pedangnya!“

Hermione meraba ke dalam jubahnya, menarik keluar tas manik-manik, menggeledah sebentar, lalu memindahkan pedang berkilau. Harry menangkap pangkal pedang yang berwarna merah tua itu dan menyentuhkan ujung mata pedangnya ke sebuah botol besar perak di dekatnya, yang ternyata tidak bertambah banyak.

“Kalau aku bisa menusukkan pedang melalui pegangan piala –tapi bagaimana aku bisa naik kesana?“

Rak tempat piala itu bertengger sangat jauh dari jangkauan mereka, bahkan juga Ron, yang tubuhnya paling tinggi. Panas dari harta karun sihir itu semakin membumbung ke angkasa. Keringat membanjiri wajah dan punggung Harry saat dia berusaha memikirkan cara untuk naik menuju piala; lalu dia mendengar sang naga meraung di sisi lain pintu lemari besi, dan suara gemerincing terdengar semakin keras.

Mereka benar-benar terjebak sekarang: Tak ada jalan lain kecuali lewat pintu, dan sekelompok goblin tampaknya semakin mendekat di balik pintu. Harry memandang Ron dan Hermione dan terlihat ekspresi ngeri di wajah keduanya.

“Hermione,“ panggil Harry, ketika suara gemerincing semakin dekat. “Aku harus naik kesana, kita harus membebaskan diri dari ini—“

Hermione mengangkat tongkatnya, mengarahkannya pada Harry dan berbisik, “Levicorpus.”

Tergantung terbalik di pergelangan kakinya, Harry terangkat ke udara, menabrak setelan baju besi dan tiruannya menyembur keluar seprti tubuh-tubuh putih panas, berjejalan mengisi ruangan. Dengan teriakan kesakitan, Ron, Hermione dan kedua goblin terdorong kesamping mengenai benda-benda lain, yang juga mulai berduplikasi.

Setengah terkubur dalam gunungan arus harta yang panas memerah, mereka berjuang dan berteriak, Harry menusukkan pedang melalui pegangan piala Hufflepuff, mengaitkannya ke mata pedang.

“Impervius!” jerit Hermione berusaha melindungi dirinya, Ron dan kedua goblin dari logam yang membara. Lalu jeritan yang sangat mengerikan membuat Harry memandang ke bawah: Ron dan Hermione tenggelam sebatas pinggang, berjuang mencegah Bogrod agar tidak terkubur dalam gunungan harta, tapi Griphook sudah tidak kelihatan; hanya sedikit ujung jari panjangnya yang terlihat.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.