Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

Dia memandang sekilas saja pada laki-laki yang baru saja dipingsankan Ron.

“Apa yang menyinggungmu?” “Bukan apa-apa, takkan terjadi lagi,” kata Hermione dingin. “Orang-orang tanpa tongkat memang bisa jadi masalah,” kata Travers. “Jika mereka

hanya mengemis aku tidak keberatan, tapi salah satu dari mereka benar-benar memintaku untuk membela perkaranya di Kementerian minggu lalu. “Aku penyihir

Tuan, aku penyihir, ijinkanlah aku membuktikan kepada anda!” katanya sambil bercicit menirukan. “Seolah-olah aku akan memberinya tongkatku —tapi tongkat siapa,“ tanya Travers ingin tahu, “yang kau pakai sekarang Bellatrix? Kudengar punyamu sudah–”

“Ini tongkatku,” kata Hermione dingin, memegang tongkat Bellatrix. “Entah gosip apa yang kaudengar, Travers, tapi sepertinya kau salah informasi.” Travers kelihatan kaget mendengarnya, dan dia menoleh menghadap Ron.

“Siapa temanmu? Aku tidak mengenalnya.”“Ini Dragomir Despard,” kata Hermione; mereka telah memutuskan bahwa tokoh fiksi dari luar negeri adalah penyamaran yang paling aman untuk Ron. “Dia hanya bisa sedikit Bahasa Inggris, tapi dia menaruh simpati pada tujuan Pangeran Kegelapan. Dia berkunjung kemari dari Transilvania untuk melihat rezim baru kita.”

”Benarkah? Apa kabar Dragomir?“ ”’’Abar baik,“ kata Ron, menjabat tangannya. Travers mengulurkan dua jari dan menjabat tangan Ron seakan takut mengotori dirinya sendiri.

“Jadi apa yang membawamu dan teman –ah- yang bersimpati ke Diagon Alley sepagi ini?” Tanya Travers.“Aku perlu ke Gringotts,” kata Hermione.“Kebetulan, aku juga,” ujar Travers. “Emas, emas yang kotor! Kita tidak bisa hidup tanpanya, kuakui aku menyesalkan keharusan bergaul dengan rekan berjari panjang kita.” Harry merasa genggaman tangan Griphook mengencang sejenak di lehernya. “Silakan,” Travers mengisyaratkan Hermione untuk berjalan duluan. Hermione tak punya pilihan selain berjalan bersamanya dan menyusuri jalan berbatu yang berliku-liku menuju gedung Gringotts yang seputih salju berdiri menjulang diantara toko-toko kecil. Ron mengiringi di sampingnya, lalu Harry dan Griphook mengikuti.

Seorang Pelahap Maut yang waspada adalah hal terakhir yang mereka butuhkan, dan yang paling parah adalah, dengan Travers berada di tempat yang ia yakini sebagai sisi Bellatrix, tak ada kesempatan bagi Harry untuk berkomunikasi dengan Hermione atau Ron. Dengan segera mereka sampai di kaki tangga pualam menuju pintu perunggu besar. Sebagaimana yang telah diperingatkan Griphook, goblin-goblin berseragam yang biasanya mengapit pintu masuk telah digantikan oleh 2 penyihir, memegang batang logam emas yang panjang dan kurus.

“Ah, Detektor Kejujuran,” tunjuk Travers dibuat-buat, “Sangat kejam—tapi efektif!”

Dan dia melangkah naik tangga, mengangguk kepada kedua penyihir di sebelah kanan dan kiri, yang mengangkat batang emas dan menggerakkannya keatas dan bawah memeriksa seluruh tubuh Travers.

Detektor itu –Harry tahu- mendeteksi mantra dan barang-barang tersembunyi. Menyadari waktunya hanya beberapa detik, Harry mengarahkan tongkat Draco bergantian kearah kedua penjaga da bergumam “Confundo” dua kali. Tanpa disadari oleh Travers, yang memandang pintu perunggu di aula dalam, kedua penjaga tersentak ketika mantra mengenai mereka.

Rambut hitam panjang Hermine berombak di punggungnya ketika ia menaiki tangga.

“Sebentar, Madam!” kata si penjaga, mengangkat Detektor.

“Tapi kau baru saja melakukannya!“ kata Hermione dalam suara memerintah dan arogan milik Bellatrix. Travers memandang sekeliling, alisnya terangkat. Si penjaga bingung. Dia memandang Detektor emas kurus itu lalu memandang rekannya, yang berkata dengan suara agak linglung.

“Yeah, kau sudah memeriksa mereka, Marius.”

Hermione kembali berjalan, Ron di sampingnya, Harry dan Griphook yang tidak tampak, berlari di belakangnya, Harry memandang sekilas ke belakang saat mereka melalui ambang pintu. Kedua penyihir sedang menggosok-gosok kepalanya.

Dua goblin berdiri di depan pintu dalam, yang terbuat dari perak dan membawa tulisan peringatan tentang hukuman mengerikan bagi calon pencuri. Harry melihatnya, dan tibatiba ingatan setajam-pisau muncul di kepalanya: Berdiri tepat di titik ini pada hari dia berusia 11 tahun, ulang tahun terhebat dalam hidupnya, dan Hagrid berdiri di sampingnya berujar, “Seperti kataku, m’reka gila klo’ coba m’rampoknya.” Gringotts tampaknya tempat yang aneh hari itu, tempat penyimpanan sihir berisi segunung emas yang tak pernah ia tahu telah dimilikinya, dan tak pernah sekejap pun dia bermimpi akan kembali untuk mencuri…. Tapi dalam hitungan detik mereka sudah berdiri di aula bank berlantai pualam yang sangat luas itu.

Meja kasir panjang dijaga oleh seorang Goblin yang duduk diatas kursi tak berlengan yang sedang melayani pelanggan pertama hari itu. Hermione, Ron dan Travers menghadapi goblin tua yang sedang memeriksa sebuah koin emas tebal melalui sebuah kacamata. Hermione membiarkan Travers untuk melangkah lebih dulu dengan alasan yang dibuat-buat, yaitu menjelaskan bagian-bagian ruangan kepada Ron.

Goblin itu melontarkan koin yang dipegangnya ke samping, berkata tidak kepada siapasiapa, “Leprechaun,” dan lalu menyambut Travers, yang memberikan sebuah kunci emas kecil, diperiksa, kemudian dikembalikan lagi padanya.

Hermione melangkah ke depan.

“Madam Lestrange!” kata sang Goblin, jelas sekali terkejut. “Astaga! Apa—apa yang bisa saya bantu hari ini?“

“Aku ingin memasuki lemari besiku,” kata Hermione.

Sang Goblin tua tampak sedikit terlonjak. Harry memandang sekilas sekeliling. Tak hanya Travers yang tidak bergerak, mengawasi, tapi beberapa goblin yang lain pun mengangkat kepala dari pekerjaannya, memandang Hermione.

“Anda punya….identitas?” tanya sang goblin.

“Identitas? Aku—aku belum pernah dimintai identitas sebelumnya!” kata Hermione.

“Mereka tahu!” bisik Griphook di telinga Harry, “Mereka pasti telah diperingatkan akan kemungkinan adanya penipu!”

“Tongkat anda akan membuktikannya, Madam,” ucap si goblin. Ia mengangkat tangan yang gemetar, dan tiba-tiba dalam diri Harry muncul kesadaran yang mengkuatirkan, ia menduga bahwa para goblin Gringotts pastilah telah diperingatkan bahwa tongkat Bellatrix telah dicuri.

“Lakukan sesuatu, lakukan sesuatu!” bisik Griphook di telinga Harry. “Kutukan Imperius!”

Harry mengangkat tongkat hawthorn dari dalam jubah, mengarahkan ke goblin tua, dan berbisik, untuk yang pertama kali dalam hidupnya, “Imperio!”

Sebuah sensasi aneh menjalari lengan Harry, perasaan pedih, kehangatan yang sepertinya mengalir dari pikirannya, turun ke otot dan pembuluh darah, menghubungkannya ke tongkat dan kutukan yang baru saja dilancarkannya.

Goblin itu mengambil tongkat Bellatrix, memeriksanya dari dekat, lalu berkata, “Ah, anda telah membuat tongkat baru, Madam Lestrange!”

“Apa?” ujar Hermione. “Tidak, tidak, itu milikku—“

“Tongkat baru?” tanya Travers, mendekat ke meja lagi; para goblin di sekitarnya masih mengawasi. “Tapi bagaimana kau melakukannya? Siapa pembuat tongkat yang kau pakai?”

Harry bertindak tanpa berpikir. Mengarahkan tongkat ke Travers, ia bergumam, “Imperio!” sekali lagi.

“Oya, aku mengerti,” kata Travers, memandang tongkat Bellatrix, “Ya, sangat tampan, dan berfungsi dengan baik? Aku selalu berpikir tongkat membutuhkan sedikit latihan, bukan begitu?”

Hermione tampak benar-benar bingung, tapi mengingat kemungkinan bantuan dari Harry, dia menerima saja perubahan peristiwa yang ganjil itu tanpa berkomentar.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.