Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

Bellatrix Lestrange berjalan melintasi padang rumput ke arah mereka, ditemani oleh Griphook. Sambil berjalan, dia melipat tas manik-manik kecil dan memasukkan ke saku bagian dalam jubah tua yang mereka ambil dari Grimmauld Place. Meskipun Harry tahu pasti kalau itu Hermione, dia tidak bisa menahan getaran kebencian. Bellatrix lebih tinggi daripada Harry, rambut hitam panjang berombak dipunggungnya, kelopak matanya yang berat tampak menghina ketika memandangnya, tapi lalu ia bicara, dan dia mendengar Hermione melalui suara Bellatrix yang dalam.

“Rasanya menjijikkan, lebih parah dari akar Gurdy! Oke, Ron, kemarilah jadi aku bisa me….“

“Baik, tapi ingat, aku tak suka jenggot yang terlalu panjang.“

“Oh, demi Tuhan, ini bukan tentang tampil keren!“

“Bukan begitu, itu menghalangi jalanku! Tapi aku suka hidungku lebih kecil, cobalah seperti yang terakhir kau lakukan dulu.“

Hermione menghela nafas dan mulai bekerja, bergumam seiring nafasnya sembari mengubah beberapa aspek dari penampilan Ron. Dia telah menjadi seseorang yang benar-benar palsu, dan mereka mempercayakan aura kedengkian Bellatrix untuk melindunginya, sementara Harry dan Griphook tersembunyi dibawah jubah gaib.

“Sudah,“ kata Hermione, “bagaimana penampilannya, Harry?“

Jelas tak mungkin mengenali Ron dibalik penyamarannya, hanya karena Harry benarbenar mengenalnya dengan baik sajalah ia bisa membedakan. Rambut Ron sekarang panjang dan berombak, jenggot dan kumisnya coklat lebat, wajahnya bersih tanpa bintikbintik, hidungnya kecil dan lebar, alis matanya tebal.

“Well, dia bukan tipeku, tapi dia akan berhasil,“ kata Harry. “Bisakah kita pergi?“

Mereka bertiga memandang sekilas ke arah Pondok Kerang, gelap dan sunyi di bawah bintang yang memudar, lalu memutar tubuh dan mulai berjalan menuju lokasi, di balik dinding garis batas, dimana mantra Fidelius berhenti bekerja, dan mereka bisa berdisapparate. Setelah melewati gerbang, Griphook berkata.

“Aku bisa naik sekarang, Harry Potter, kurasa?“

Harry berlutut dan sang Goblin memanjat punggungnya, tangannya bertaut di depan kerongkongan Harry. Dia tidak berat, tapi Harry tidak suka perasaannya terhadap si Goblin dan kekuatan mengejutkan eratnya pegangannya. Hermione menarik jubah gaib dari tas manik-maniknya dan menutupi keduanya.

“Sempurna,“ katanya, berlutut untuk memeriksa kaki Harry, “Aku tidak bisa melihat apaapa. Ayo pergi!“

Harry berputar di tempat, dengan Griphook di atas bahunya, sekuat mungkin berkonsentrasi ke Leaky Cauldron, penginapan yang merupakan pintu masuk ke Diagon Alley. Si Goblin berpegangan lebih erat ketika mereka bergerak memasuki kegelapan yang menekan, dan beberapa detik kemudan kaki Harry menapaki trotoar kemudian saat ia membuka matanya tampaklah jalan Charing Cross. Para muggle lewat dengan tergesagesa, dengan ekspresi setengah hati pagi hari, tanpa menyadari keberadaan penginapan kecil itu.

Bar Leaky Cauldron nyaris kosong. Tom, pemilik penginapan yang bungkuk dan ompong, sedang mengelap gelas-gelas dibalik meja bar, sepasang penyihir bergumam mengobrol di pojok yang jauh sambil memandang sekilas pada Hermione kemudian menjauhkan diri kedalam kegelapan.

“Madam Lestrange,” Tom bergumam, dan ketika Hermione berhenti sejenak dia menundukkan kepala dengan patuh.

”Selamat pagi,“ kata Hermione, dan ketika Harry bergerak cepat, masih menggendong Griphook di bawah jubah gaib, dia melihat Tom terkejut.

”Terlalu sopan,“ Harry berbisik di telinga Hermione ketika mereka melangkah keluar dari penginapan menuju halaman belakang yang kecil.

”Kau harus memperlakukan orang seolah mereka sampah.“

“Oke, oke!“

Hermione mengangkat tongkat Bellatrix dan mengetuk batu bata tertentu di dinding depan mereka. Batu bata langsung berputar: Tampak lubang di tengahtengahnya, yang semakin melebar, akhirnya membentuk gerbang lengkung menuju jalan Cornblock sempit yang merupakan Diagon Alley.

Masih sunyi, belum waktunya toko-toko buka, dan hampir tidak ada orang berbelanja. Jalan cornblock berliku-liku itu telah banyak berubah sekarang dari tempat berisik yang dikenal Harry bertahun-tahun yang lalu sebelum ia masuk Hogwarts. Lebih banyak lagi toko ditutup daripada sebelumnya, meski beberapa toko baru yang beraliran sihir hitam bermunculan sejak kunjungan terakhirnya. Wajah Harry sendiri memandangnya dari poster yang tertempel di kaca-kaca, semuanya dengan tulisan YANG TIDAK DIINGINKAN NOMOR SATU.

Beberapa orang berpakaian compang-camping duduk meringkuk di depan pintu. Dia mendengar mereka mengemis kepada orang lewat, memohon uang emas, berusaha meyakinkan bahwa mereka benar-benar penyihir. Tampak pula seorang laki-laki dengan pembalut penuh darah yang menutupi matanya.

Ketika mereka mulai melangkah menuju jalan cornblock, pengemis-pengemis itu memandang sekilas ke arah Hermione. Sepertinya mereka segera menghilang satu persatu, menutupi wajah dengan kerudung, dan kabur secepat mungkin.

Hermione mengikuti mereka dengan pandangan mata yang aneh, hingga laki-laki dengan pembalut penuh darah tiba-tiba menghalangi jalannya.

“Anak-anakku,“ dia berteriak sambil menunjuk Hermione. Suaranya pecah, bernada tinggi, kedengaran bingung. “Dimana anak-anakku?” Apa yang dia lakukan pada mereka? Kau tahu, kau tahu!”

“Aku—aku benar-benar—,“ Hermione tergagap.

Laki-laki itu sekonyong-konyong maju mendekatinya, dan berusaha mencekik lehernya. Lalu, bersamaan dengan suara keras dan semburan cahaya merah dia terlempar ke belakang, jatuh ke tanah tak sadarkan diri. Ron berdiri disana, tongkatnya masih teracung dan ekspresi tegang terlihat dibalik jenggotnya.

Wajah-wajah muncul di balik kaca-kaca di sepanjang sisi jalan, sementara sekelompok kecil orang lewat yang kelihatannya-orang-kaya saling bertaut jubah dan mulai menderap langkah pelan, ingin sekali meninggalkan lokasi.

Kunjungan mereka ke Diagon Alley kemungkinan tidak pernah lebih menarik perhatian daripada ini, sesaat Harry bertanya-tanya apakah sekarang sebaiknya pergi dan mencoba memikirkan rencana lain. Tetapi sebelum mereka bisa bergerak atau saling

berkonsultasi, terdengar teriakan dari belakang. “Kenapa, Madam Lestrange?“ Harry berputar dan Griphook mengeratkan pegangannya di leher Harry. Seorang

penyihir tinggi dan kurus dengan rambut abu-abu lebat dan hidung mancung yang tajam

berjalan dengan langkah panjang kearah mereka. “Itu Travers,“ desis si Goblin di telinga Harry, tapi saat itu Harry tidak bisa berpikir siapa Travers itu. Hermione sudah menegakkan diri dan berkata dengan sikap menghina yang sebaik mungkin:

“Dan apa maumu?”

Travers berhenti berjalan, merasa terhina.

“Dia Pelahap Maut juga!” desah Griphook, dan Harry berjalan menyamping perlahan

untuk menyampaikan informasi itu ke telinga Hermione.

“Aku hanya mencoba menyapa,” kata Travers dingin, “tapi kalau kehadiranku tidak diharapkan….” Harry mengenali suaranya sekarang: Travers adalah salah satu Pelahap Maut yang

muncul dirumah Xenophilius. “Tidak, tidak apa-apa, Travers,” kata Hermione segera, berusaha menutupi kesalahannya. “Apa kabar?” “Well, kuakui aku terkejut melihatmu pergi keluar, Bellatrix.” “Oya? Kenapa?” tanya Hermione. “Well,” Travers berdehem, “kudengar Penghuni Kediaman Malfoy dikurung dirumah itu, setelah – ah….pelarian itu.”

Harry berharap Hermione tidak gugup. Jika berita ini benar, dan Bellatrix seharusnya tidak muncul di hadapan publik…. “Pangeran Kegelapan memaafkan orang yang setia melayaninya di masa lalu,” kata

Hermione meniru sikap menghina Bellatrix secara luar biasa. “Mungkin reputasimu tidak sebaik aku di matanya, Travers.” Walaupun Pelahap Maut itu tampak tersinggung, dia juga tampak tidak terlalu curiga.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.