Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

Harry mengeringkan tangannya, tertarik pada keindahan pemandangan di luar jendela dan pada gumaman yang lain di ruang duduk. Dia melihat pada laut di luar sana dan merasa dekat, fajar ini, lebih dekat di hatinya lebih dari kapan pun.

Dan bekas lukanya masih tetap berdenyut, dan dia tahu Voldemort ada di sana juga. Harry sudah mengerti dan belum mengerti pada saat bersamaan. Perasaannya mengatakan suatu hal, tapi otaknya mengatakan lain. Dumbledore dalam pikiran Harry tersenyum, meneliti Harry di atas jari-jarinya, yang menelengkup seperti sedang berdoa…

Kau memberi Ron Deluminator… Kau memahaminya… Kau memberinya jalan untuk kembali… Dan kau juga mengerti Wormtail… Kau tahu ada sedikit penyesalan di sana, di suatu tempat… Dan jika kau memahami mereka… Apa yang kau pahami tentangku, Dumbledore? Apa ini berarti aku hanya boleh tahu dan bukannya untuk mencari? Apakah kau tahu betapa sulit merasakannya? Apakah itu sebabnya kau membuat ini menjadi sulit?

Sehingga aku perlu waktu untuk mengerjakannya?

Harry berdiri diam, melihat pemandangan, mengamati tempat dimana sinar keemasan matahari yang cerah terbit di cakrawala. Kemudian dia melihat ke bawah pada tangannya yang sudah bersih dan sedikit terkejut melihat pakaian yang ia genggam. Dia meletakkannya dan kembali ke ruang depan, dan ketika dia melakukannya, dia merasakan bekas lukanya berdenyut marah, dan kemudian kilatan melewati pikirannya, cepat seperti bayangan capung di atas air, sebuah bentuk bangunan yang dia kenal dengan baik.

Bill dan Fleur berdiri di kaki tangga.

“Aku ingin bebicara dengan Griphook dan Ollivander.” kata Harry.

“Tidak,” kata Fleur. “kau ‘arus menunggu, ‘Arry. Mereka berdua sangat kelela’an…”

“Aku minta maaf,” dia berbicara dengan tenang, ”tapi aku tidak dapat menunggu. Aku perlu berbicara dengan mereka sekarang, sendirian… dan terpisah. Ini penting.”

“Harry, apa yang terjadi?” tanya Bill. “Kau datang kemari dengan seorang peri rumah yang mati dan goblin yang setengah sadar, Hermione seperti telah kena siksa, dan Ron menolak untuk memberitahuku apapun…”

“Kami tidak dapat memberitahumu apa yang kami lakukan,” kata Harry datar.

“Kau di Orde, Bill. Kau tahu Dumbledore memberikan kami sebuah tugas. Kami tidak seharusnya memberitahu orang lain tentang ini.”

Fleur mengeluarkan suara tidak sabar, tapi Bill tidak melihat padanya; dia memandang Harry. Wajahnya yang terluka yang dipenuhi bekas luka dalam sulit untuk dibaca. Akhirnya, Bill berkata, “Baiklah, siapa yang ingin kau ajak bicara lebih dahulu?”

Harry bimbang. Dia tahu apa yang menggantung dalam keputusannya. Tak banyak waktu yang tersisa; sekarang adalah waktunya untuk memutuskan: Horcrux atau Hallows?

“Griphook,” Harry berkata. “Aku akan berbicara dengan Griphook lebih dahulu.”

Jantungnya bedegup kencang seakan dia telah berlari kencang dan telah menyelesaikan rintangan yang besar.

“Ke atas sini, kalau begitu.” Kata Bill, memimpin jalan.

Harry telah melangkah ke atas beberapa langkah sebelum dia berhenti dan melihat ke belakang.

“Aku membutuhkan kalian berdua,” dia memanggil Ron dan Hermione, yang telah menyelinap, setengah tersembunyi di pintu ruang duduk.

Mereka bergerak ke dalam cahaya, melihat dengan sedikit aneh.

“Bagaimana keadaanmu?” Harry bertanya pada Hermione. “Kau luar biasa bisa bertahan dengan cerita itu ketika dia menyakitimu seperti itu…”

Hermione tersenyum lemah ketika Ron meremas sebelah lengannya.

“Apa yang kita lakukan sekarang, Harry?” Ron bertanya.

“Kau akan tahu, ayo”

Harry, Ron dan Hermione mengikuti Bill naik ke tangga keatas ruangan yang sempit. Ada tiga pintu disana.

“Di dalam sini.” Kata Bill, membuka pintu ruang kamarnya dan Fleur, ruangan itu mempunyai pemandangan laut, yang sekarang dipenuhi warna keemasan sinar matahari. Harry bergerak ke jendela, membalik punggungnya ke pemandangan luar biasa itu, dan menunggu, lengannya terlipat, bekas lukanya berdenyut. Hermione duduk di kursi disamping meja rias, Ron duduk di lengan kursinya.

Bill datang lagi, menggendong seorang goblin kecil, yang diletakkannya dengan hati-hati di atas tempat tidur. Griphook mengucapkan terima kasih, dan Bill pergi, menutup pintu di depan mereka.

“Aku minta maaf mengganggu istirahatmu,” kata Harry. “Bagaimana keadaan kakimu?”

“Sakit,” jawab si goblin. “tapi membaik.”

Dia masih memegang pedang Gryffindor, dan kelihatan aneh, setengah galak, setengah licik. Harry memperhatikan kulitnya yang pucat, jari-jarinya yang kurus panjang, mata hitamnya. Fleur telah melepas sepatunya; telapak kakinya yang panjang kotor. Dia sedikit lebih besar daripada peri rumah, tapi tidak terlalu. Kepala bulatnya sedikit lebih besar dari kepala manusia.

“Mungkin kau tidak ingat…” Harry memulai.

“—bahwa aku adalah goblin yang menuntunmu ke ruang penyimpananmu, pada saat pertama kalinya kau mengunjungi Gringotts?” kata Griphook. “Aku ingat, Harry Potter. Bahkan diantara para goblin, kau sangat terkenal.”

Harry dan goblin itu saling bertatapan, saling menilai. Bekas luka Harry masih berdenyut. Dia ingin menyelesaikan pembicaraan ini dengan cepat, dan pada saat bersamaan merasa takut telah melakukan kesalahan. Sementara dia memutuskan cara terbaik untuk menyampaikan permintaannya, goblin itu memecah kesunyian.

“Kau menguburkan peri itu,” dia berkata, kedengaran seperti tanpa belas kasihan yang tidak terduga.

“Ya,” kata Harry.

Griphook memandangnya lewat sudut matanya yang hitam.

“Kau penyihir yang tidak biasa, Harry Potter.”

“Dibagian mana?” kata Harry, menggosok bekas lukanya

“Kau menggali sebuah makam.”

“Jadi?” Griphook tidak menjawab. Harry berpikir bahwa goblin itu mencemoohnya karena berbuat seperti muggle, tapi itu bukan masalah apakah Griphook menyetujui

makam Dobby atau tidak. Dia mempersiapkan dirinya untuk menyerang.

“Griphook, aku ingin bertanya…”

“Kau juga menyelamatkan goblin.”

“Apa?”

“Kau membawaku kemari. Menyelamatkanku.”

“Well, kurasa kau tidak menyesal?” kata Harry sedikit tidak sabar.

“Tidak, Harry Potter,” kata Griphook, dan dengan satu jari dia memilin janggut kecil di dagunya, “tapi kau penyihir yang sangat aneh.” “Baiklah.” kata Harry. “Well, aku membutuhkan beberapa pertolongan, Griphook, dan kau dapat memberikannya.” Goblin itu tidak memperlihatkan ketertarikan, tetapi masih melanjutkan memandang Harry seakan dia belum pernah melihat sesuatu sepertinya. “Aku ingin menerobos ke dalam ruang penyimpanan Gringgots.” Harry tidak bermaksud mengatakannya begitu buruk; kata-kata yang terucap darinya ketika rasa sakit terasa di bekas lukanya dan dia melihat, lagi, bentuk bangunan Hogwarts. Dia menutup pikirannya. Dia butuh kesepakatan dengan Griphook terlebih dahulu. Ron dan Hermione memandang Harry seperti dia sudah gila. “Harry—” kata Hermione, tapi dia dipotong oleh Griphook.

“Menerobos ke ruang penyimpanan Gringotts?” ulang si goblin, mengernyit sedikit ketika dia berubah posisi di atas tempat tidur. “Itu tidak mungkin.”

“Tidak, itu tidak benar,” Ron menentangnya, “itu sudah pernah dilakukan.”

“Yeah,” kata Harry, “pada hari yang sama ketika aku bertemu denganmu, Griphook. Saat ulang tahunku, tujuh tahun yang lalu.”

“Ruang penyimpanan yang kalian maksud sudah dikosongkan pada hari itu juga.” timpal si goblin, dan Harry mengerti bahwa meskipun Griphook telah meninggalkan Gringotts, dia tertahan pada rencana untuk melanggar pertahanannya. “pengamanan ruang itu minimal.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.