Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

“Dobby!” dia menjerit dan bahkan Bellatrix membeku. “Kau! Kau menjatuhkan tempat lilinnya -?”

Peri rumah kecil itu berderap masuk ke dalam ruangan, tangannya yang gemetar menunjuk Nyonya lamanya.

“Kau tak boleh melukai Harry Potter,” dia mencicit.

“Bunuh dia, Cissy!” jerit Bellatrix, tapi terdengar suara derak keras lain, dan tongkat Narcissa juga terbang dan mendarat di sisi lain ruangan.

“Kau monyet kecil kotor!” jerit Bellatrix. “Beraninya kau mengambil tongkat seorang penyihir, beraninya kau pada tuamnu?”

“Dobby tak punya tuan!” cicit si peri. “Dobby peri rumah bebas, dan Dobby datang untuk menyelamatkan Harry Potter dan teman-temannya!”

Bekas luka Harry membuatnya buta dengan rasa sakit. Samar-samar dia tahu mereka punya waktu, beberapa detik sebelum Voldemort datang.

“Ron, tangkap –dan PERGI!” dia berteriak, melemparkan salah satu tongkat ke arahnya; kemudian dia menunduk untuk menarik Griphook keluar dari bawah tempat lilin. Mengangkat goblin yang merintih, yang masih menggenggam pedang, di satu pundak, Harry mengangkat tangan Dobby dan berputar ke titik Disapparate.

Saat dia menuju ke kegelapan di luar dia menangkap kilasan terakhir dari pemandangan di ruang tamu pada sosok Narcissa dan Draco yang pucat dan membeku, kilasan merah yang merupakan rambut Ron, dan kilasan biru dari sesuatu yang perak yang terbang, saat pisau Bellatrix terbang melintasi ruangan di tempat dia telah menghilang –

Tempat Bill dan Fleur…Shell Cottage…Tempat Bill dan Fleur…

Dia menghilang ke suatu tempat yang tidak dikenal; yang bisa dia lakukan hanyalah mengulang nama tempat tujuannya dan berharap itu cukup untuk membawanya ke sana. Rasa sakit di dahinya menusuknya, dan berat si goblin membebaninya,; dia bisa merasakan bagian tajam dari pedang Gryffindor membentur punggungnya: tangan Dobby tersentak di tangannya; dia penasaran apakah Dobby sedang mencoba untuk mengambil alih tanggung jawab, menarik mereka ke tempat yang tepat, dan mencoba, dengan tekanan pada jari-jarinya, memberi tanda bahwa mereka baik-baik saja…

Dan kemudian mereka membentur tanah keras dan mencium udara asin. Harry jatuh di lututnya, melepaskan tangan Dobby, dan mencoba menurunkan Griphook dengan lembut ke tanah.

“Kau tak apa-apa?” katanya karena goblin itu terlihat kacau, tetapi Griphook hanya merengek.

Harry mengerdip ke sekeliling dalam kegelapan. Di sana terlihat sesuatu seperti sebuah cottage tak jauh dibawah langit berbintang, dan dia pikir dia melihat gerakan di dalamnya.

“Dobby, apa ini Shell Cottage?” dia berbisik, menggenggam dua tongkat yang dia bawa dari tempat Malfoy, siap bertarung jika diperlukan. “Apa kita datang ke tempat yang tepat? Dobby?”

Dia melihat ke sekeliling. Peri rumah itu berdiri satu kaki darinya.

“DOBBY!”

Peri rumah itu bergoyang pelan, bintang-bintang terpantul di matanya yang lebar dan bersinar. Bersama-sama, dia dan Harry melihat ke pangkal perak dari pisau yang menonjol keluar dari dada Dobby yang bergerak naik turun.

“Dobby –tidak –TOLONG!” Harry melenguh ke arah cottage, ke orang-orang yang bergerak di dalam. “TOLONG!”

Dia tidak tahu atau tidak peduli apakah mereka penyihir atau Muggle, kawan atau lawan; semua yang dia pedulikan hanyalah noda gelap yang tersebar di bagian depan Dobby, bahwa dia menjulurkan tangannya ke arah Harry dengan tatapan memohon. Harry menangkapnya dan membaringkannya di tepi jalan di rumput yang dingin.

“Dobby, tidak, jangan mati, jangan mati –”

Mata si peri rumah menemukan matanya, dan bibirnya bergetar dengan usahanya membentuk kata-kata.

“Harry… Potter…”

Dan kemudian diringi gemetar kecil Dobby terdiam, dan matanya tak lebih dari bola kaca besar, bersinar karena cahaya bintang yang tak bisa mereka lihat.

 

Bab 24 Pembuat Tongkat

Rasanya seperti tenggelam ke dalam mimpi buruk lama; dalam sekejap, Harry seperti berlutut lagi di samping tubuh Dumbledore di kaki menara tertinggi Howarts, tapi kenyataannya dia sedang memAndang tubuh kurus yang ada di atas rumput, tertusuk oleh pisau perak Bellatrix. Suara Harry masih menyebut, ”Dobby… Dobby…” meskipun dia tahu bahwa peri itu telah pergi ke tempat dimana ia tak dapat memanggilnya kembali.

Setelah beberapa menit atau sekitar itu, dia sadar bahwa dia, akhirnya, telah datang ke tempat yang benar, ketika Bill dan Fleur, Dean dan Luna, berkumpul di sekitarnya ketika dia berlutut di samping peri itu.

“Hermione.” Akhirnya dia berkata, “Dimana dia?”

“Ron telah membawanya ke dalam.” Kata Bill, “Dia akan baik-baik saja.”

Harry melihat ke belakang pada Dobby lagi. Dia menggenggamkan tangannya dan mencabut pisau tajam itu dari tubuh Dobby, kemudian melepaskan jaketnya dan menutupi tubuh Dobby dengannya seperti selimut.

Laut menghantam karang disuatu tempat yang dekat; Harry mendengarkannya sementara yang lain berbicara mendiskusikan masalah yang tidak dapat diperhatikannya, membuat keputusan, Dean membawa Griphook yang terluka ke dalam rumah, Fleur mengikuti mereka; sekarang Bill mengerti apa yang dia katakan, ketika dia melakukannya, dia memAndang kebawah pada tubuh kecil itu, dan lukanya menjadi sakit dan serasa terbakar, dan di salah satu bagian pikirannya, seperti memAndang dari ujung teleskop yang salah, dia melihat Voldemort menghukum mereka yang tinggal di rumah Keluarga Malfoy. Kemarahannya sangat mengerikan dan belakangan Harry bersyukur pada Dobby yang kelihatannya menyebabkannya, sehingga itu menjadi sebuah badai yang jauh dan menggapai Harry dari seberang laut, lautan yang sunyi.

“Aku ingin melakukannya sendiri,” adalah kata pertama yang diucapkan Harry ketika dia benar-benar sadar, “tidak dengan sihir, apakah kau punya sekop?” dan tak lama kemudian dia mulai bekerja, sendirian, menggali kubur di tempat yang ditunjukkan Bill di pinggir kebun, diantara semak. Dia menggali dengan sedikit kemarahan, melampiaskannya pada kerja moral, membanggakan nonsihir di dalamnya, pada tiap tetes keringatnya dan tiap lepuh merasakan duka cita bagi peri yang telah menyelamatkan nyawa mereka.

Bekas lukanya terasa terbakar, tapi dia menguasai sakitnya, dia merasakannya, masih belum jauh darinya. Dia akhirnya belajar bagaimana mengendalikannya, belajar menutup pikirannya dari Voldemort, sesuatu Dumbledore inginkan ia pelajari dari Snape. Hanya karena Voldemort tidak mampu menguasai Harry ketika Harry dipenuhi duka untuk Sirius, sehingga dia berpikir bahwa Voldemort tidak mampu menguasai pikirannya sekarang ketika dia berduka atas Dobby. Duka cita kelihatannya membuat Voldemort kalah… yang menurut Dumbledore, tentunya, bisa dikatakan sebagai cinta.

Dalam penggalian Harry, dalam dan lebih dalam lagi ke tanah yang dingin dan keras, menumpahkan duka citanya dalam keringat, mengabaikan sakit di bekas lukanya. Dikegelapan, dengan kesunyian setelah suara napasnya dan deburan laut yang tetap menemaninya, sesuatu yang terjadi di rumah Malfoy teringat lagi, sesuatu yang dia dengar kembali lagi padanya, dan pengertian terbentuk di kegelapan.

Irama tetap dari gerakan tangannya beriringan dengan pikirannya, Hallows… Horcrux… Hallows… Horcrux… tak lama kemudian terbakar dalam keanehan itu, obsesi yang panjang. Rasa kehilangan dan ketakutan menyedotnya, dia merasa bahwa dia tersentak bangun lagi.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.