Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

“Ada apa, Wormtail?” panggil Lucius dari atas.

“Tak ada!” Ron berteriak kembali, cukup mirip dengan suara Wormtail yang mencicit. “Semua baik-baik saja!”

Harry hampir tidak bisa bernapas.

“Kau mau membunuhku?” Harry sesak napas, berusaha melepaskan diri dari jari-jari metal itu. “Setelah aku menyelamatkan nyawamu? Kau berhutang padaku, Wormtail!”

Jari-jari perak itu mengendur. Harry tidak menyangkanya: dia menarik dirinya bebas, terpesona, tangannya tetap menutup mulut Wormtail. Dia melihat matanya yang kecil dan berair seperti tikus melebar karena ketakutan dan terkejut: Dia terlihat sama terkejutnya seperti Harry atas apa yang tangannya lakukan, pada saat kebaikan yang terkhianati, dan dia terus berjuang lebih keras, seperti ingin memperbaiki saat-saat kelemahannya.

“Dan kami akan ambil ini,” bisik Ron, menarik tongkat Wormtail dari tangannya yang lain.

Tanpa tongkat, tidak berdaya, pupil Pettigrew membesar karena ketakutan. Matanya teralih dari wajah Harry ke sesuatu yang lain. Jari peraknya sendiri bergerak menuju tenggorokannya tanpa bsa dicegah.

“Tidak –”

Tanpa berhenti untuk berfikir, Harry mencoba menarik tangan itu, tapi tak bisa menghentikannya. Alat perak yang Voldemort berikan pada pelayannya yang paling penakut telah berbalik melawan pemiliknya yang tak berguna dan terlucuti; Pettigrew mendapat balasan untuk keragu-raguannya, saat menyedihkannya; dia dicekik di depan mata mereka.

“Tidak!”

Ron telah melepaskan Wormtail juga, dan bersama-sama Harry dia mencoba menarik jari-jari metal itu dari sekeliling tenggorokan Wormtail, tapi tak berguna. Pettigrew berubah jadi biru.

“Relashio!” ujar Ron, mengarahkan tongkatnya ke tangan perak, tapi tak terjadi apa-apa; Pettigrew terjatuh di lututnya, dan pada saat yang sdama, Hermione meneriakkan teriakan mengerikan dari atas kepala mereka. Mata Wormtail berputar di wajahnya yang ungu; dia memberikan puntiran terakhir, dan hening.

Harry dan Ron saling berpandangan, kemudian meninggalkan tubuh Wormtail di lantai di belakang mereka, berlari menaiki tangga dan kembali ke gang gelap yang menuju ke ruang tamu. Mereka bergerak pelan-pelan dengan sangat hati-hati sampai mereka mencapai pintu ruang tamu, yang terbuka sedikit. Sekarang mereka bisa melihat dengan jelas. Bellatrix melihat Griphook, yang memegang pedang Gryffindor di tangannya yang berjari panjang. Hermione terbaring di kaki Bellatrix. Dia terlihat kacau.

“Well?” kata Bellatrix pada Griphook. “Apa ini pedang yang asli?”

Harry menunggu, menahan napasnya, berjuang melawan rasa sakit dari bekas lukanya.

“Bukan,” kata Griphook. “Ini palsu.”

“Kau yakin?” kata Bellatrix terengah. “Benar-benar yakin?”

“Ya,” kata si goblin.

Kelegaan terlihat di wajahnya, semua ketegangan hilang.

“Bagus,” katanya, dan dengan jentikan santai tongkatnya dia menorehkan goresan dalam lain ke wajah si goblin, dan dia menjerit terjatuh di kaki Bellatrix. Dia menendang goblin itu ke tepi. “Dan sekarang,” dia berkata dalam suara yang meledak dengan kemenangan, “kita panggil Pangeran Kegelapan!”

Dan dia mendorong lengan bajunya dan menyentuhkan jari telunjuknya ke Tanda Kegelapan.

Saat itu, bekas luka Harry terasa seperti akan terbuka lagi. Keadaan sekitarnya yang sebenarnya hilang. Dia adalah Voldemort, dan penyihir kurus di depannya tertawa memperlihatkan giginya yang ompong padanya; dia marah sekali pada panggilan yang dia rasakan –dia sudah memperingatkan mereka, dia sudah memberitahu mereka jangan memanggilnya kecuali untuk Potter. Kalau mereka salah…

“Bunuh aku, kalau begitu!” tuntut si pria tua. “Kau tak akan menang, kau tak bisa menang! Tongkat itu tak akan, tak akan pernah jadi milikmu –”

Dan kemarahan Voldemort pecah: Secercah sahaya hijau memenuhi ruang tahanan, dan tubuh tua yang lemah itu terangkat dari tempat tidurnya yang keras, dan kemudian terjatuh lagi, tanpa kehidupan, dan Voldemort kembali ke jendela, kemarahannya hampir tak bisa terkontrol… Mereka akan menderita dalam pembalasannya kalau mereka tidak punya alasan yang bagus untuk memanggilnya…

“Dan kurasa,” kata Bellatrix, “Kita bisa melenyapkan Darah Lumpur ini. Greyback, ambil kalau kau mau dia.”

“TIDAAAAAK!”

Ron menghambur ke ruang tamu; Bellatrix melihat sekeliling, terkejut; dia mengarahkan tongkatnya ke wajah Ron – “Expelliarmus!” dia meraung, mengarahkan tongkat Wormtail ke arah Bellatrix, dan tongkatnya terbang di udara dan ditangkap oleh Harry, yang berlari setelah Ron. Lucius, Narcissa, Draco dan Greyback bergerak maju; Harry berteriak, “Stupefy!” dan Lucius Malfoy terjatuh tak sadarkan diri. Kilatan cahaya meluncur dari tongkat Draco, Narcissa dan Greyback; Harry melemparkan dirinya ke lantai, berguling di belakang sofa untuk menghindari mereka.

“BERHENTI ATAU DIA MATI!”

Terengah-engah, Harry mengintip dari ujung sofa. Bellatrix mengangkat Hermione, yang terlihat tidak sadar, dan memegang pisau perak pendeknya ke tenggorokan Hermione.

“Jatuhkan tongkat kalian,” dia berbisik. “Jatuhkan, atau kita akan lihat tepatnya seberapa kotor darahnya!”

Ron berdiri kaku, memegang tongkat Wormtail. Harry berdiri, masih mengenggam tongkat Bellatrix.

“Kubilang jatuhkan!” dia berteriak, menekan pisaunya ke tenggorokan Hermione: Harry melihat beberapa tetes darah muncul di sana.

“Baiklah!” serunya, dan dia menjatuhkan tongkat Bellatrix ke lantai di dekat kakinya, Ron melakukan hal yang sama dengan tongkat Wormtail. Keduanya mengangkat tangan di atas bahu.

“Bagus!” liriknya. “Draco, ambil tongkatnya! Pangeran Kegelapan akan datang, Harry Potter! Kematianmu sudah dekat!”

Harry tahu; bekas lukanya seperti terbakar oleh rasa sakit, dan dia bisa merasakan Voldemort terbang di langit dari tempat yang jauh, melewati laut yang gelap dan berbadai, dan akan cukup dekat untuk ber-Apparate ke tempat mereka, dan Harry melihat tak ada jalan keluar.

“Sekarang,” kata Bellatrix lembut, saat Draco kembali padanya membawa tongkat. “Cissy, kurasa kita harus mengikat pahlawan kecil ini lagi, sementara Greyback mengurus Nona Darah Lumpur. Aku yakin Pangeran Kegelapan tak akan iri padamu karena mendapatkan gadis itu, Greyback, setelah apa yang kau lakukan malam ini.”

Pada kata-kata terakhir terdengar suara berat yang aneh dari atas. Semuanya melihat ke atas tepat pada waktunya untuk melihat tempat lilin kristal itu bergetar; kemudian, dengan suara derak dan bunyi gemerincing tak menyenangkan, mulai jatuh. Bellatrix berdiri tepat di bawahnya; menjatuhkan Hermione, dia melemparkan dirinya ke samping dengan jeritan. Tempat lilin itu manimpa lantai dalam ledakan kristal dan rantai, jatuh di atas Hermione dan si goblin, yang masih memegang pedang Gryffindor. Pecahan kristal yang berkilauan terbang ke segala arah; Draco terkena, tangannya menutupi wajahnya yang berdarah.

Saat Ron berlari untuk menarik Hermione keluar dari kekacauan, Harry mengambil kesempatan: dia melompati kursi berlengan dan merebut tiga tongkat tersebut dari pegangan Draco, mengacungkan semuanya ke arah Greyback, dan berteriak, “Stupefy!” Manusia serigala itu terangkat kakinya oleh mantra triple, terbang ke langit-langit dan manghantam lantai.

Saat Narcissa menarik Draco keluar dari kekacauan lebih jauh, Bellatrix melompat, rambutnya melayang saat dia melambaikan pisau peraknya; tapi Narcissa telah mengacungkan tongkatnya ke arah pintu.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.