Baca Novel Online

Harry Potter Dan Reliku Kematian

Terdengar teriakan mengerikan lainnya –

“HERMIONE!”

“Apa lagi yang kau ambil? Apa lagi yang kau punya? Beri tahu aku yang sebenarnya, atau, aku bersumpah, aku akan mengulitimu dengan pisau ini!”

“Ini!”

Harry merasakan talinya jatuh dan memutar, menggosok pergelangan tangannya, melihat Ron berlari mengelilingi gudang, melihat ke langit-langit rendah, mencaricari pintu jebakan. Dean, wajahnya penuh memar dan berdarah, mengucapkan “terima kasih” pada Luna dan berdiri di sana, gemetaran, sementara Griphook terjatuh ke lantai gudang, terlihat terhuyung-huyung dan tak terbiasa, bilurbilur terlihat di wajahnya yang kehitaman.

Ron sekarang mencoba ber-Dissapparate tanpa tongkat.

“Tak ada jalan keluar, Ron,” kata Luna, menonton usahanya yang tidak berhasil. “Gudang ini benar-benar tahan-kabur. Aku mencobanya, dulu. Mr. Ollivander sudah lama di sini, dia sudah mencoba segalanya.”

Hermione menjerit lagi: Suaranya menerpa Harry seperti sakit badannya. Baru saja sadar dari rasa sakit hebat yang menusuk di bekas lukanya, dia juga mulai berlarian berkeliling ruangan, meraba dindingnya untuk sesuatu yang hampir dia tidak sadari apa, mengetahui dalam hatinya kalau itu sia-sia.

“Apa lagi yang kau ambil, apa lagi? JAWAB AKU! CRUCIO!”

Jeritan Hermione bergema di dinding di atas, Ron setengah terisak saat dia memukul dinding dengan kepalan tangannya, dan Harry dalam keputusasaannya mengeluarkan dompet dari Hagrid dari lehernya dan meraba-raba ke dalamnya: Dia menarik keluar Snitch Dumbledore dan mengguncangnya, mengharap sesuatu yang dia tidak tahu apa – tak ada yang terjadi – dia melambaikan patahan tongkat phoenixnya, tapi tongkatnya tidak bernyawa –pecahan kaca jatuh dan berkilau di lantai, dan dia melihat kilatan biru terang –

Mata Dumbledore menatapnya dari dalam cermin.

“Tolong kami!” dia berteriak pada cermin itu dalam keputusasaan. “Kami di gudang bawah tanah Kediaman Malfoy, tolong kami!”

Mata itu mengedip dan hilang.

Harry bahkan tidak yakin itu benar-benar terjadi. Dia memiringkan pecahan kacanya dalam berbagai cara, dan melihat tak ada apapun yang terpantul di situ kecuali dinding dan langit-langit penjara mereka, dan di atas Hermione menjerit lebih buruk dari sebelumnya, dan di sebelahnya Ron melenguh, “HERMIONE! HERMIONE!”

“Bagaimana kau masuk ke lemari besiku?” mereka mendengar Bellatrix menjerit.

“Apa goblin kecil kotor di gudang itu yang membantumu?”

“Kami baru bertemu dia malam ini!” Hermione terisak. “Kami tak pernah masuk ke lemari besimu…Ini bukan pedang yang asli! Ini hanya tiruan, hanya tiruan!”

“Tiruan?” Bellatrix bercicit. “Oh, cerita yang bagus!”

“Tapi kita bisa menemukannya dengan mudah!” terdengar suara Lucius. “Draco, ambil goblin itu, dia bisa memberitahu kita pedang ini asli atau bukan!”

Harry bergerak cepat menyebrangi gudang ke tempat di mana Griphook membungkuk di lantai.

“Griphook,” dia berbisik ke telinga runcing si goblin, “kau harus memberi tahu mereka kalau pedangnya palsu, mereka tak boleh tahu itu yang asli, Griphook, kumohon –”

Dia bisa mendengar langkah kaki teredam seseorang di gudang; saat berikutnya, suara gemetaran Draco berbicara dari balik pintu.

“Mundur. Berbaris di dekat tembok belakang. Jangan coba-coba lakukan apapun, atau aku akan membunuh kalian!”

Mereka berdiri seolah mereka masih diikat; saat kunci diputar, Ron menjentikkan Deluminator dan cahanyanya tersapu kembali ke kantungnya, mengembalikan kegelapan gudang. Pintu terbuka; Malfoy melangkah masuk, tongkatnya teracung di depannya, pucat dan penuh tekad. Dia mengangkat goblin kecil itu di lengannya dan keluar lagi, menyeret Griphook dengannya. Pintu dibanting menutup dan di saat yang sama suara krak keras terdengar menggema di dalam gudang.

Ron menjentikkan Deluminator. Tiga bola cahaya terbang lagi ke udara dari sakunya, memperlihatkan Dobby, si peri rumah, yang baru saja ber-Apparate ke tengahtengah mereka.

“DOB -!”

Harry memukul Ron di lengannya untuk menghentikan dia berteriak, dan Ron terlihat ketakutan karena kesalahannya. Langkah kaki terdengar di langit-langit: Draco membawa Griphook ke Bellatrix.

Mata Dobby yang sangat besar dan seperti bola tenis melebar; Dia gemetar dari ujung kakinya ke ujung telinganya. Dia kembali ke rumah tuannya yang lama, dan

terlihat jelas kalau dia membeku ketakutan.

“Harry Potter,” dia mencicit dengan suara gemetar yang palng kecil, “Dobby telah datang untuk menyelamatkan Harry Potter.”

“Tapi bagaimana kau –” Jeritan mengerikan menenggelamkan kata-kata Harry:Hermione disiksa lagi. Dia langsung ke tujuan.

“Kau bisa ber-Dissapparate keluar gudang ini?” dia menanyai Dobby, yang mengangguk, telinganya mengepak. “Dan kau bisa membawa manusia bersamamu?”

Dobby mengangguk lagi. “Baiklah, Dobby, aku ingin kau memegang Luna, Dean, dan Mr. Ollivander, dan membawa mereka – membawa mereka ke Tempat Bill dan Fleur,” kata Ron, “Shell Cottage di luar Tinworth!” Peri rumah itu mengangguk untuk yang ketiga kalinya. “Dan kemudian kembali lagi,” kata Harry. “Bisa kau lakukan, Dobby?””Tentu saja, Harry Potter,” bisik peri rumah kecil itu. Dia berjalan tergesa menuju Mr. Ollivander, yang kelihatannya baru sadar. Dia mengambil salah satu lengan si pembuat tongkat dengan tangannya, dan mengulurkan yang lain pada Luna dan Dean, tak ada diantara mereka yang bergerak.

“Harry, kami ingin membantumu!” Luna berbisik. “Kami tak bisa meninggalkanmu di sini,” kata Dean. “Pergi, kalian berdua! Kami akan menemui kalian di tempat Bill dan Fleur.” Saat Harry berbicara, bekas lukanya terbakar lebih buruk dari sebelumnya, dan untuk beberapa saat dia melihat ke bawah, yang terlihat bukan si pembuat tongkat, tapi pria lain yang setua dan sekurus dia, tapi tertawa menghina.

“Bunuh aku, kalau begitu. Voldemort, aku menyambut kematian! Tapi kematianku tidak akan membawamu pada apa yang kau cari… Terlalu banyak yang tidak kau mengerti…”

Dia merasakan kemarahan Voldemort, tapi saat Hermione menjerit lagi dia juga berteriak, kembali ke gudang dan ketakutan dengan kehadirannya sendiri.

“Pergi!” Harry memohon pada Luna dan Dean. “Pergi! Kami akan mengikuti, sekarang pergi!”

Mereka mengenggam jari si peri rumah. Terdengar suara crack yang lain, lalu Dobby, Luna, Dean, dan Ollivander menghilang.

“Apa itu?” teriak Lucius dari atas kepala mereka. “apa kau mendengar itu? Apa suara di gudang itu?”

Harry dan Ron saling pandang.

“Draco –tidak, panggil Wormtail! Suruh dia pergi dan periksa!”

Langkah kaki terdengar bersilangan menyebrangi ruangan, dan kemudian sunyi. Harry tahu orang-orang di ruang tamu mendengarkan suara lain dari gudang.

“Kita harus mencoba menangani dia,” dia berbisik pada Ron. Mereka tidak punya pilihan: Saat siapapun yang memasuki ruangan dan melihat ketidakhadiran tiga tahanan, mereka kalah. “Biarkan cahayanya menyala,” tambah Harry, dan saat mereka mendengar seseorang melangkah mendekat di luar pintu, mereka mundur ke tembok di sisi yang lain.

“Mundur,” terdengar suara Wormtail. “Mundur dari pintu. Aku masuk.”

Pintu mengayun terbuka. Untuk sedetik Woemtail memandang ke ruangan yang kosong, dibutakan oleh cahaya dari tiga miniatur matahari yang melayang di udara. Kemudian Harry dan Ron menampakkan diri mereka di depannya. Ron menarik tangan Wormtail yang menggenggam tongkat dan mendorongnya ke atas. Harry menutup tangannya ke mulutnya, membungkam suaranya. Mereka berjuang dalam diam: tongkat Wormtail memancarkan cahaya; tangan peraknya menutup di sekeliling tenggorokan Harry.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: July 11, 2014 12:31

    Budi Oka Santoso

    Update lg dong novelnya . . . . . . . . :) . . . . Terima Kasih :)
  • Posted: October 14, 2015 12:59

    Sulaiman

    Novel nya donk di update lgi
  • Posted: March 3, 2016 07:22

    fida kurnia

    update yang bayak dong novelnya
  • Posted: February 20, 2018 14:07

    devkimedia

    salah satu master piece novel terbaik yang di buat oleh JK rowling,,, nice novel
  • Posted: April 23, 2018 03:47

    NUR ZULAIKHA

    BANYAK NYA MUKA SURAT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.