Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

Harry, Ron, dan Hermione saling pandang dengan resah. Harry lebih suka mengajak jalan-jalan lima puluh Skrewt Ujung-Meletup daripada mengaku kepada Hagrid bahwa dia tak sengaja mendengarnya bicara dengan Madame Maxime, tetapi Hagrid masih terus bicara, rupanya tak sadar dia telah mengatakan sesuatu yang aneh.

“Tahu tidak, Harry?” katanya, mendongak dari foto ayahnya, matanya berkaca-kaca. “Waktu pertama bertemu denganmu, kau mengingatkan aku pada diriku sedikit. Ayah dan ibu tak ada, dan kau merasa kau tak layak masuk Hogwarts, ingat? Tak yakin apa kau bisa… dan sekarang lihat dirimu, Harry! Juara sekolah!”

Dia memandang Harry beberapa saat dan kemudian berkata, sangat serius, “Kau tahu apa yang kuinginkan, Harry? Aku ingin kau menang, ingin sekali. Itu akan menunjukkan kepada mereka semua…

kau tak perlu berdarah murni untuk menang. Kau tak perlu malu akan siapa dirimu. Itu akan

menunjukkan kepada mereka bahwa Dumbledore yang benar, menerima siapa saja asal mereka bisa menyihir. Bagaimana kemajuanmu dengan telurmu, Harry?”-

“Bagus,” kata Harry. “Benar-benar bagus.”

Senyum merekah di wajah merana Hagrid yang berurai air mata.

“Itu baru anakku… tunjukkan pada mereka, Harry, tunjukkan. Kalahkan mereka semua.”

Berbohong kepada Hagrid tidak seperti berbohong kepada orang lain. Harry kembali ke kastil sore itu bersama Ron dan Hermione, tak bisa melenyapkan bayangan kebahagiaan yang terpancar di wajah berewokan Hagrid saat dia membayangkan Harry memenangkan turnamen. Telur yang tak bisa dipahami semakin membebani nurani Harry malam itu, dan saat naik ke tempat tidur, dia telah mengambil keputusan sudah waktunya mengesampingkan harga dirinya dan mencoba kalau-kalau saran Cedric layak dituruti.

 

Bab 25:

TELUR DAN MATA

HARRY tak tahu berapa lama dia perlu mandi sampai bisa memecahkan rahasia telur emas, karena itu dia memutuskan untuk melakukannya pada malam hari, supaya dia bisa mandi sebebas mungkin.

Walaupun sebetulnya segan menerima bantuan Cedric lebih banyak lagi, dia juga memutuskan untuk menggunakan kamar mandi Prefek. Jauh lebih sedikit anak yang boleh mandi di sana, maka kecil kemungkinannya dia akan terganggu.

Harry merencanakan acara mandinya ini dengan hati-hati, karena dia pernah tertangkap oleh Filch, si penjaga sekolah, berkeliaran pada tengah malam, dan tak ingin mengulang pengalaman itu. Jubah Gaib tentu saja akan sangat diperlukan, dan untuk berjaga-jaga, Harry juga akan membawa Peta Perampok, yang selain jubah, adalah alat bantu paling berguna yang dimiliki Harry untuk pelanggaran peraturan.

Peta itu memperlihatkan seluruh Hogwarts, termasuk jala-jalan pintas dan lorong-lorong rahasianya, dan, yang paling penting, peta itu juga menunjukkan semua orang di dalam kastil sebagai titik berlabel nama mereka, bergerak sepanjang koridor-koridor, sehingga Harry bisa tahu lebih dulu jika ada orang yang mendekati kamar mandi.

Kamis malam, Harry menyelinap ke kamar, memakai jubah Gaib-nya, turun lagi, dan seperti pada malam Hagrid menunjukkan naga-naga kepadanya, dia menunggu di dekat lubang lukisan. Kali ini Ron yang menunggu di luar untuk memberikan kata kunci kepada si Nyonya Gemuk (“keripik pisang”). “Semoga berhasil,” gumam Ron, seraya memanjat masuk sementara Harry memanjat keluar.

Sulit melangkah di bawah jubah malam ini karena satu tangannya membawa telur yang berat dan tangannya yang lain memegangi peta di depan hidungnya. Meskipun demikian, koridor yang diterangi cahaya bulan kosong dan sepi, dan dengan mengecek peta pada waktu-waktu strategis, Harry berhasil memastikan dia tidak akan bertemu orang-orang yang ingin dihindarinya. Setibanya di patung Boris si Bingung, penyihir bertampang kebingungan dengan sarung tangan tertukar, Harry menemukan pintu yang benar, bersandar merapat ke pintu itu, dan menggumamkan kata kuncinya, “Pinus segar,” seperti yang diberitahukan Cedric kepadanya.

Pintu terbuka. Harry menyelinap masuk, menyelot gerendel pintu, dan melepas Jubah Gaib-nya, sambil memandang berkeliling.

Reaksi langsungnya adalah betapa asyiknya menjadi Prefek, hanya untuk menikmati kamar mandi ini.

Kamar mandi itu diterangi lembut oleh kandelar indah yang penuh lilin, dan segalanya terbuat dari marmer putih, termasuk bak mandi yang tampak seperti kolam renang kosong segi empat yang membenam di lantai di tengah ruangan. Kira-kira seratus keran emas berderet di sekeliling tepi kolam, masing-masing dengan permata yang berbeda warna pada putarannya. Juga ada papan loncat. Gorden linen panjang menggantung di jendela. Di sudut ada setumpuk besar handuk putih empuk, dan ada lukisan berpigura emas di dinding. Lukisan putri duyung berambut pirang yang tertidur nyenyak di atas karang, rambutnya yang panjang menutupi wajahnya. Rambutnya bergetar setiap kali dia mendengkur.

Harry maju, memandang berkeliling, bunyi langkahnya bergema dipantulkan dinding. Betapapun megahnya kamar mandi itu dan dia ingin mencoba membuka beberapa keran sekarang setelah berada di sini, dia tak bisa menekan perasaan bahwa Cedric mungkin mempermainkannya. Bagaimana caranya semua ini membantunya memecahkan misteri telur? Kendatipun demikian, dia mengambil sehelai handuk lembut setelah terlebih dulu meletakkan jubahnya, peta, dan telur di tepi bak mandi yang luar biasa besarnya. Kemudian dia berjongkok dan membuka beberapa keran.

Dia langsung tahu bahwa keran-keran itu mengalirkan gelembung sabun yang berbeda-beda. Belum pernah Harry melihat gelembung sabun seperti itu. Salah satu keran mengeluarkan gelembung berwarna merah jambu dan biru sebesar-besar bola sepak. Yang satu lagi mengeluarkan busa putih yang begitu tebal sehingga Harry berpikir busa itu akan kuat menahan tubuhnya kalau dia mau mencobanya. Keran ketiga mengeluarkan awan ungu luar biasa harum yang mengambang di atas permukaan air. Selama beberapa saat Harry bersenang-senang dengan membuka-tutup keran-keran. Dia terutama menyukai salah satu keran yang mengeluarkan semburan air yang melenting dari permukaan air dalam bentuk bunga api besar-besar. Kemudian, ketika bak mandi yang dalam itu sudah penuh air panas, busa, dan gelembung (dalam waktu singkat, mengingat ukurannya yang besar), Harry mematikan semua keran, melepas piama dan sandalnya, dan meluncur masuk ke air.

Bak itu dalam sekali sehingga kakinya nyaris tak menyentuh dasarnya, dan dia berenang dua kali sepanjang bak itu sebelum kembali ke tepi dan berenang di tempat, memandang telurnya. Meskipun sangat menyenangkan berenang dalam air panas berbusa dengan uap berwarna-warni mengembus di sekelilingnya, tak muncul ide brilian dalam kepalanya, tak ada juga pemahaman mendadak.

Harry menjulurkan tangannya, mengangkat telur di tangannya yang basah, dan membukanya. Lolong melengking memenuhi kamar mandi, bergema dan berkumandang dari dinding-dinding marmernya, tetapi masih sama tak bisa dimengertinya seperti sebelumnya, bahkan semakin membingungkan karena gemanya. Harry menutupnya lagi, cemas bunyinya akan menarik perhatian Filch. Dalam hati dia bertanya tanya, apakah itu memang yang diharapkan Cedric dan kemudian dia terlonjak kaget sampai telurnya jatuh dan menggelinding ke seberang ruangan, karerta ada yang bicara.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.