Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

Rupanya dia cuma mengirim instruksi lewat burung hantu. Tetapi tolong jangan katakan ini kepada siapa pun, Harry. Karena Rita Skeeter masih mengorek berita dari mana-mana, dan aku yakin dia akan mengubah sakitnya Barty ini menjadi sesuatu yang mengerikan. Mungkin akan mengatakan Barty hilang seperti Bertha Jorkins.”

“Sudahkah Anda dengar sesuatu tentang Bertha Jorkins?” Harry bertanya.

“Belum,” kata Bagman, tampak tegang lagi. “Aku sudah menyuruh orang mencarinya, tentu saja…”

(Sudah saatnya, Harry membatin) “dan aneh sekali. Dia jelas sudah tiba di Albania, karena dia bertemu sepupunya di sana, dan kemudian meninggalkan rumah sepupunya untuk ke selatan menemui bibinya…

dan dia menghilang begitu saja tanpa jejak. Bingung aku apa maunya… dia bukan tipe yang akan kawin lari, misalnya… tapi siapa tahu… Untuk apa kita membicarakan goblin dan Bertha Jorkins? Aku ingin bertanya kepadamu” dia merendahkan suaranya “bagaimana kemajuanmu dengan telur emasmu?”

“Er… tidak buruk,” kata Harry berbohong.

Bagman rupanya tahu Harry tidak bicara jujur.

“Dengar, Harry,” katanya (masih dalam suara pelan), “aku merasa sangat tak enak tentang semua ini…

kau terpaksa ikut turnamen, kau tidak ikut dengan sukarela… dan kalau…” (suaranya begitu pelan sekarang, Harry harus mendekat agar bisa mendengarnya) “kalau aku bisa membantumu… memberi dorongan ke arah yang benar… aku menyukaimu… caramu melewati naga itu!… Yah, bilang saja.”

Harry memandang wajah bundar merah jambu Bagman dan mata biru mudanya yang lebar.

“Kami seharusnya memecahkan petunjuk itu sendiri, kan?” katanya, berhati-hati agar suaranya biasa dan tidak kedengaran menuduh Kepala Departemen Permainan dan Olahraga Sihir melanggar peraturan.

“Yah… memang,” kata Bagman tak sabar, “tetapi… ayolah, Harry… kita semua menginginkan kemenangan Hogwarts, kan?”

“Sudahkah Anda menawarkan bantuan kepada Cedric?” tanya Harry.

Ada kerut kecil di wajah mulus Bagman. “Belum,” katanya. “Aku… seperti telah kukatakan, aku suka padamu. Kupikir aku akan menawarkan…”

“Terima kasih,” tukas Harry, “tetapi saya rasa saya sudah hampir berhasil dengan telur itu… satu-dua hari lagi pasti beres.”

Harry tak mengerti sepenuhnya kenapa dia menolak bantuan Bagman, kecuali bahwa Bagman nyaris orang asing baginya, dan menerima bantuannya sepertinya lebih curang daripada minta bantuan Ron, Hermione, atau Sirius.

Bagman tampaknya merasa terhina, tetapi tak bisa bicara banyak lagi, karena saat itu Fred dan George muncul.

“Halo, Mr Bagman,” sapa Fred riang. “Boleh kami menawari Anda minum?”

“Er… tidak,” kata Bagman, dengan lirikan kecewa terakhir kepada Harry. “Tidak, terima kasih, anak-anak.. .”

Fred dan George tampak sama kecewanya seperti Bagman, yang memandang Harry seakan Harry telah membuatnya sangat kecewa.

“Wah, aku harus buru-buru,” katanya. “Senang bertemu kalian semua. Semoga sukses, Harry.”

Dia bergegas meninggalkan rumah minum. Para goblin semua bangkit dari kursi mereka dan keluar mengikutinya. Harry bergabung dengan Ron dan Hermione.

“Mau apa dia?” tanya Ron, begitu Harry duduk.

“Dia menawari membantuku memecahkan rahasia telur emas,” kata Harry.

“Mana bisa!” kata Hermione, tampak sangat terkejut.

“Dia kan salah satu juri! Lagi pula, kau sudah bisa sendiri… iya, kan?”

“Er… hampir,” kata Harry.

“Kurasa Dumbledore tak akan suka kalau tahu Bagman berusaha membujukmu berbuat curang!” kata Hermione, masih tampak sangat mencela. “Kuharap dia juga menawari membantu Cedric!”

“Tidak, aku sudah tanya,” kata Harry.

“Siapa peduli Diggory dibantu atau tidak?” kata Ron. Dalam hati Harry setuju.

“Goblin-goblin itu kelihatannya tidak terlalu ramah,” komentar Hermione, menyeruput Butterbeer-nya.

“Apa yang mereka lakukan di sini?”

“Bagman bilang mereka mencari Crouch,” kata Harry. “Dia masih sakit. Belum masuk kerja.”

“Mungkin Percy meracuninya,” kata Ron. “Barangkali dia kira kalau Crouch meninggal, dia akan diangkat angkat jadi kepala Departemen Kerjasama Sihir Internasional.”

Hermione melempar pandang jangan bergurau dengan hal semacam itu kepada Ron dan berkata, “Aneh, goblin mencari Mr Crouch… Biasanya mereka berhubungan dengan Departemen Pengaturan dan

Pengawasan Makhluk Gaib.”

“Crouch bisa bicara banyak bahasa,” kata Harry.

“Mungkin mereka perlu penerjemah.”

“Mengkhawatirkan goblin yang malang sekarang rupanya?” Ron bertanya kepada Hermione. “Berpikir mendirikan KPGJ atau apa? Kelompok Perlindungan Goblin Jelek?”

“Ha, ha, ha,” tawa Hermione sinis. “Goblin tidak perlu perlindungan. Tidakkah kalian mendengarkan apa yang diceritakan Profesor Binns tentang pemberontakan goblin?”

“Tidak,” kata Harry dan Ron bersamaan.

“Nah, mereka cukup mampu menghadapi penyihir,” kata Hermione, menyeruput Butterbeer-nya lagi.

“Mereka pintar sekali. Tidak seperti peri-rumah, yang tak bisa membela diri.”

“Uh-oh,” kata Ron, memandang pintu.

Rita Skeeter baru saja masuk. Dia memakai jubah kuning-pisang hari ini. Kukunya yang panjang dicat shocking pink, dan dia ditemani fotografernya yang berperut gendut. Rita membeli minuman, dan bersama si fotografer menyeruak menuju meja di dekat mereka. Harry, Ron, dan Hermione mendelik ketika dia mendekat. Dia bicara cepat dan tampak sangat puas.

“… kelihatannya tak mau bicara dengan kita, kan, Bozo? Nah, menurutmu kenapa? Dan apa yang dilakukannya dengan serombongan goblin yang membuntutinya? Menunjukkan pemandangan kepada

mereka… sungguh omong kosong… dia memang tukang bohong. Menurutmu dia menyembunyikan

sesuatu? Bagaimana kalau kita selidiki sedikit? ‘Mantan-Kepala Permainan dan Olahraga Sihir yang Dipemalukan, Ludo Bagman…’ Pembukaan yang tajam, Bozo-tinggal kita cari cerita yang cocok…”

“Mau menghancurkan hidup orang lain lagi?” kata Harry keras.

Beberapa orang menoleh. Mata Rita Skeeter melebar di balik kacamatanya yang berhias permata ketika dia melihat siapa yang bicara.

“Harry!” katanya, tersenyum. “Bagus sekali! Kenapa kau tidak ke sini dan bergabung…?”

“Aku tak mau mendekatimu dengan sapu tiga meter sekalipun,” kata Harry berang. “Kenapa kau menulis begitu tentang Hagrid, eh?”

Rita Skeeter mengangkat alisnya yang digambar tebal.

“Pembaca kami punya hak mengetahui yang sebenarnya, Harry. Aku hanya melakukan pek…”

“Siapa yang peduli kalau dia setengah-raksasa?” teriak Harry. “Tak ada yang salah dengannya!”

Seluruh rumah minum sekarang diam. Madam Rosmerta memandang dari balik meja layan, tak sadar bahwa cangkir yang dituanginya dengan mead sudah luber.

Senyum Rita Skeeter lenyap sekejap, tetapi langsung tersungging lagi. Dia membuka tas tangan kulit buayanya; mengeluarkan Pena Bulu Kutip-Kilat, dan berkata, “Bagaimana kalau wawancara denganku tentang Hagrid yang kau kenal, Harry? Orang di balik ototnya? Persahabatan kalian yang ganjil dan alasannya? Apakah kau menganggapnya sebagai pengganti ayah?”

Hermione mendadak berdiri, gelas Butterbeer-nya tercengkeram di tangan seakan granat.

“Kau perempuan jahat,” katanya dengan gigi mengertak, “kau sama sekali tak peduli, asal bisa mendapat cerita, siapa saja boleh, kan? Bahkan Ludo Bagman…”

“Duduk, anak kecil bodoh, dan jangan ngomong tentang hal yang tidak kau ketahui,” kata Rita Skeeter dingin, matanya mengeras saat memandang Hermione. “Aku tahu banyak hal tentang Ludo Bagman yang akan membuat rambutmu keriting… padahal tak perlu lagi dibuat lebih keriting…” dia menambahkan, memandang rambut lebat Hermione.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.