Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Mungkin dia punya Jubah Gaib,” kata Harry, menyendok kaserol ayam ke dalam piringnya dan membuatnya menciprat ke mana-mana dalam kegusarannya. “Model dia kan, bersembunyi dalam semak, mencuri dengar omongan orang.”

“Seperti kau dan Ron, maksudmu,” kata Hermione.

“Kami tidak berusaha mencuri dengar!” bantah Ron naik pitam. “Kami tak punya pilihan! Si tolol itu, ngomongin ibunya raksasa di tempat siapa saja bisa mendengarnya!”

“Kita harus menjenguknya,” kata Harry. “Malam ini, sesudah Ramalan. Bilang padanya kita ingin dia mengajar lagi… kau ingin dia mengajar lagi, kan?” dia menanyai Hermione.

“Aku… yah, aku tak akan berpura-pura tidak senang mendapat pelajaran Pemeliharaan Satwa Gaib yang layak sekali-sekali-tetapi aku menginginkan Hagrid mengajar lagi, tentu saja!” Hermione menambahkan cepat-cepat, gemetar di bawah pandangan marah Harry.

Maka malam itu seusai makan malam, mereka bertiga meninggalkan kastil sekali lagi dan menyeberangi halaman yang membeku ke pondok Hagrid. Mereka mengetuk dan gonggong Fang yang membahana

menjawab.

“Hagrid, ini kami!” Harry berteriak, menggedor pintu. “Buka pintu!” Hagrid tidak menjawab. Mereka mendengar Fang menggaruk-garuk pintu, mendengking, tetapi pintu tetap tidak terbuka. Mereka masih menggedor selama sepuluh menit lagi. Ron bahkan menggedor salah satu jendela, tetapi tak ada tanggapan.

“Kenapa dia menghindari kita?” kata Hermione ketika mereka akhirnya menyerah dan berjalan kembali ke sekolah. “Apa dia pikir kita keberatan dia setengah raksasa?”

Tetapi rupanya Hagrid sendiri yang keberatan. Sepanjang minggu mereka tak melihatnya. Dia tak muncul di meja guru pada waktu makan, mereka tidak melihatnya melakukan tugas-tugas mengawasi binatang liar di halaman sekolah, dan Profesor Grubbly-Plank terus mengajar Pemeliharaan Satwa Gaib. Malfoy menyatakan kegirangannya dalam setiap kesempatan.

“Kehilangan sobat-bastarmu” tak hentinya dia berbisik kepada Harry setiap kali ada guru di dekat mereka, supaya dia bebas dari balasan Harry. “Kehilangan si manusia-gajah?”

Ada kunjungan ke Hogsmeade pada pertengahan Januari. Hermione heran sekali Harry mau ikut pergi.

“Kupikir kau mau menggunakan kesempatan ruang rekreasi yang tenang,” katanya. “Memecahkan tekateki telur itu.”

“Oh, aku… aku rasa aku sudah cukup tahu pemecahannya sekarang,” Harry berbohong.

“Betulkah?” kata Hermione, tampak terkesan. “Hebal sekali!”

Harry merasa bersalah, tetapi dia mengabaikannya Dia masih punya lima minggu untuk memecahkan petunjuk telur itu, dan itu masih lama… sedangkan kalau dia ke Hogsmeade, mungkin dia bertemu Hagrid, dan punya kesempatan membujuknya untuk mengajar kembali.

Harry, Ron, dan Hermione meninggalkan kastil bersama-sama pada hari Sabtu dan melewati halaman yang basah dan dingin menuju gerbang. Ketika melewati kapal Durmstrang yang berlabuh di danau, mereka melihat Viktor Krum naik ke geladak, hanya memakai celana renang. Dia memang sangat kurus, tetapi rupanya jauh lebih tangguh daripada penampilannya, karena dia memanjat sisi kapal,

merentangkan tangannya, dan terjun ke danau.

“Dia gila!” celetuk Harry, menatap kepala Krum yang berambut gelap timbul-tenggelam menuju ke tengah danau. “Airnya kan sedingin es, ini bulan januari!”

“Di tempat asalnya jauh lebih dingin,” kata Hermione. “Kurasa baginya ini cukup hangat.”

“Yeah, tapi masih ada cumi-cumi raksasa,” kata Ron. Dia tidak kedengaran cemas-malah berharap.

Hermione memperhatikan nada suaranya dan mengernyit.

“Dia benar-benar baik, tahu,” katanya. “Tidak seperti yang kau kira, meskipun dia anak Durmstrang. Dia jauh lebih suka di sini, begitu katanya kepadaku.”

Ron tidak mengatakan apa-apa. Dia tak pernah menyebut-nyebut Viktor Krum sejak pesta dansa itu, tetapi Harry menemukan tangan boneka kecil di bawah tempat tidurnya sehari setelah Natal, yang kelihatannya dipatahkan dari boneka kecil yang memakai jubah seragam Quidditch Bulgaria.

Harry memasang mata tajam-tajam mencari Hagrid sepanjang jalan becek High Street, dan menyarankan lnereka mengunjungi Three Broomsticks setelah memastikan Hagrid tak ada dalam salah satu toko.

Rumah minum itu seramai biasanya, tetapi sekali pandang ke meja-meja Harry tahu Hagrid tak ada.

Dengan semangat merosot, dia ke meja layan bersama Ron dan Hermione, memesan tiga Butterbeer pada Madam Rosmerta, dan berpikir dengan murung bahwa kalau begini lebih baik dia tidak ikut dan mendengarkan lolongan telur saja.

“Apa dia tak pernah ke kantor?” Hermione mendadak berbisik. “Lihat!” Hermione menunjuk cermin di belakang meja layan, dan Harry melihat bayangan Ludo Bagman di dalamnya, duduk di sudut remang-remang dengan serombongan goblin. Bagman bicara cepat sekali dengan suara rendah kepada para goblin, yang semuanya menyilangkan lengan dan tampak agak mengancam.

Sungguh ganjil, Harry membatin, bahwa Bagman berada di Three Broomsticks pada akhir minggu saat tak ada acara Triwizard, dan karena itu tak harus menjuri. Dia mengawasi Bagman dalam cermin.

Bagman tampak tegang lagi, setegang malam itu di hutan sebelum Tanda Kegelapan muncul. Tetapi kemudian Bagman mengerling ke meja layan, melihat Harry, dan bangkit.

“Sebentar, sebentar!” Harry mendengarnya berkata kasar kepada para goblin, dan Bagman bergegas menyeberangi ruangan ke tempat Harry, senyum kekanakannya kembali menghias wajahnya.

“Harry!” katanya. “Apa kabar? Aku sudah berharap bertemu kau! Semua baik-baik saja?”

“Baik, terima kasih,” kata Harry.

“Apa kita bisa bicara berdua sebentar, Harry?” tanya Bagman bergairah. “Kalian bisa memberi kami waktu sebentar, kan?”

“Er… oke,” kata Ron, lalu dia dan Hermione pergi mencari meja.

Bagman membawa Harry ke ujung meja layan, jauh dari Madam Rosmerta.

“Aku mau mengucapkan selamat lagi untuk prestasimu yang hebat sewaktu menghadapi si Ekor-Berduri itu, Harry,” kata Bagman. “Sungguh luar biasa.”

“Terima kasih,” kata Harry, tetapi dia tahu tidak hanya ini yang mau dikatakan Bagman, karena dia bisa mengucapkan selamat kepada Harry di depan Ron dan Hermione. Namun tampaknya dia tidak tergesa-gesa. Harry melihatnya melirik cermin di atas meja layan yang memantulkan gambar para goblin, yang semuanya diam menatap Bagman dan Harry dengan mata mereka yang gelap dan sipit.

“Parah sekali,” kata Bagman kepada Harry dalam bisikan, sewaktu melihat Harry memandang para goblin juga. “Bahasa Inggris mereka tak terlalu baik… sama seperti menghadapi orang-orang Bulgaria sewaktu Piala Dunia Quidditch… tetapi paling tidak mereka menggunakan bahasa isyarat yang bisa dipahami orang lain. Yang ini ngoceh terus dalam Gobbledegook… dan aku cuma tahu satu kata dalam bahasa Gobbledegook. Bladvak. Artinya ‘beliung’. Aku tak mau menggunakannya, salah-salah mereka mengira aku mengancam mereka.” Dia tertawa pendek membahana.

“Apa yang mereka inginkan?” Harry bertanya, memperhatikan bagaimana para goblin masih mengawasi Bagman tajam-tajam.

“Er-mmm…” kata Bagman, mendadak sangat gelisah. “Mereka… er… mereka mencari Barty Crouch.”

“Kenapa mereka mencarinya di sini?” kata Harry. “Dia ada di Kementerian di London, kan?”

“Er… terus terang saja, aku tak tahu di mana dia,” kata Bagman. “Sepertinya dia… begitu saja berhenti datang ke tempat kerja. Sudah dua minggu ini dia absen. Percy, asistennya, mengatakan dia sakit.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.