Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

Dia nyengir kepada Harry dan bergegas menuruni tangga, menghampiri Cho.

Harry berjalan ke Menara Gryffindor sendirian. Aneh sekali saran Cedric. Kenapa mandi bisa membantunya mengartikan lolongan telurnya? Apakah Cedric mempermainkannya? Apakah dia berusaha membuat Harry tampak konyol, supaya Cho lebih menyukainya?

Si Nyonya Gemuk dan temannya Vi mendengkur dalam lukisan di atas lubang. Harry harus meneriakkan

“Cahaya peri!” supaya bisa membangunkan mereka, dan ketika terbangun, mereka jengkel sekali. Dia memanjat masuk ke ruang rekreasi dan mendapatkan Ron dan Hermione sedang bertengkar seru. Berdiri terpisah sejauh tiga meter, mereka saling berteriak, wajah keduanya merah padam.

“Nah, kalau kau tidak suka, kau tahu solusinya, kan?” teriak Hermione, rambutnya sekarang terurai dari sanggul anggunnya, dan wajahnya tampak marah sekali.

“Oh yeah?” Ron balas berteriak. “Apa solusinya?”

“Kalau lain kali ada pesta dansa lagi, ajak aku sebelum orang lain mengajakku, dan jangan anggap aku sebagai cadangan terakhir!”

Mulut Ron membuka-menutup tanpa suara seperti ikan mas yang dikeluarkan dari air, sementara Hermione berbalik dan berlari menaiki tangga ke kamarnya. Ron menoleh memandang Harry.

“Ah…” gagapnya, termangu-mangu, “ah… itu membuktikan… masalahnya sama sekali bukan itu…”

Harry tidak mengatakan apa-apa. Dia senang sudah bicara lagi dengan Ron, sehingga tak mau

mengutarakan pendapatnya sekarang tetapi sebetulnya dia berpendapat Hermione tahu

permasalahannya jauh lebih baik daripada Ron.

 

Bab 24:

BERITA UTAMA RITA SKEETER

SEMUA orang bangun siang sehari sesudah Natal. Ruang rekreasi Gryffindor jauh lebih sepi dibanding hari-hari terakhir ini, banyak kuap menyela obrolan yang malas-malasan. Rambut Hermione sudah mengembang lagi. Dia mengaku kepada Harry dia menggunakan banyak Ramuan Pelicin Rambut untuk pesta dansa, “Tetapi terlalu merepotkan untuk dilakukan setiap hari,” katanya tanpa berbelit-belit seraya menggaruk belakang telinga Crookshanks yang mendengkur.

Ron dan Hermione rupanya telah mencapai kesepakatan tak tertulis untuk tidak mendiskusikan pertengkaran mereka. Mereka saling bersikap cukup ramah terhadap yang lain, walaupun formal, sehingga aneh jadinya. Ron dan Harry tak membuang-buang waktu, segera memberitahu Hermione tentang percakapan Hagrid dan Madame Maxime yang tak sengaja mereka dengar, tetapi Hermione tidak sekaget Ron ketika menerima kabar bahwa Hagrid setengah raksasa.

“Dari dulu sudah kuduga,” katanya, mengangkat bahu. “Aku tahu dia tak mungkin raksasa asli, karena yang asli tingginya sampai enam meter. Tetapi, ngapain sih, histeris begini cuma soal raksasa. Tak mungkin semuanya mengerikan… Ini kan seperti prasangka orang terhadap manusia serigala. Cuma kefanatikan saja, kan?”

Tampaknya Ron ingin menjawab dengan tajam, tetapi mungkin dia tak mau bertengkar lagi, karena dia berpuas diri dengan menggelengkan kepalanya tak percaya ketika Hermione berpaling darinya.

Sudah waktunya sekarang memikirkan PR yang terabaikan selama minggu pertama liburan. Semua anak tampaknya merasa kurang bergairah setelah Natal berlalu-semua, kecuali Harry, yang mulai (lagi) merasa agak cemas.

Masalahnya adalah, tanggal 24 Februari rasanya menjadi jauh lebih dekat setelah Natal berlalu, dan dia belum berbuat apa pun soal petunjuk di dalam telur emas. Itulah sebabnya dia mulai mengeluarkan telur itu dari kopernya setiap kali dia naik ke kamarnya, membukanya, dan mendengarkan dengan cermat, berharap bahwa kali ini lolongannya bisa dimengerti. Harry berpikir keras, lolongan telur itu mengingatkannya akan apa, selain tiga puluh alat musik gergaji, tetapi belum pernah dia mendengar bunyi lain yang seperti itu. Diaa menutup telurnya, mengguncangnya keras-keras, dan membukanya lagi, siapa tahu bunyinya telah berubah, tetapi ternyata tidak. Dia mencoba mengajukan pertanyaan kepada si telur, berteriak-teriak mengatasi lolongannya, tetapi tak terjadi apa-apa. Dia bahkan melemparkan telur itu ke seberang ruangan–meskipun tak berharap itu bisa membantu.

Harry belum lupa petunjuk yang diberikan Cedric, tetapi perasaan kurang senangnya terhadap Cedric membuat dia tak mau mengikuti petunjuk itu, kalau bisa. Lagi pula, menurutnya jika Cedric benar-benar ingin membantunya, dia seharusnya bicara jauh lebih jelas. Harry telah memberitahu Cedric apa persisnya yang harus mereka hadapi dalam tugas pertamadan balasan yang setimpal menurut Cedric adalah menyuruh Harry mandi. Huh, dia tak memerlukan bantuan kelas kroco seperti itu tidak dari orang yang terus-menerus berjalan di koridor-koridor bergandengan dengan Cho. Dan begitulah hari pertama semester baru tiba, dan Harry berangkat ikut pelajaran, dibebani buku, perkamen, dan pena bulu seperti biasanya, tetapi juga oleh kecemasan soal telur yang bercokol di perutnya, seakan dia membawanya ke mana-mana.

Salju masih tebal di halaman, dan jendela-jendela rumah kaca tertutup salju begitu tebal sehingga mereka tak bisa melihat ke luar dalam pelajaran Herbologi. Tak seorang pun menantikan Pemeliharaan Satwa Gaib dalam cuaca seperti ini, meskipun seperti kata Ron, Skrewt mungkin akan menghangatkan mereka, entah dengan cara mengejar mereka, atau meletus begitu keras sehingga pondok Hagrid terbakar.

Tetapi ketika mereka tiba di pondok Hagrid, mereka ditunggu penyihir wanita tua dengan rambut beruban yang dipotong sangat pendek dan dagu sangat mencuat yang berdiri di depan pintunya.

“Ayo cepat, bel sudah berbunyi lima menit yang lalu,” dia berteriak kepada mereka yang bersusalh payah mendekatinya melewati salju.

“Siapakah Anda?” tanya Ron, memandangnya. “Di mana Hagrid?”

“Namaku Profesor Grubbly-Plank,” katanya singkat “Aku guru pengganti Pemeliharaan Satwa Gaib kalian.”

“Di mana Hagrid?” Harry mengulang keras.

“Dia sakit,” kata Profesor Grubbly-Plank pendek.

Tawa pelan tak menyenangkan mencapai telingi Harry. Dia menoleh. Draco Malfoy dan anak-anal Slytherin lainnya telah bergabung. Mereka semua tam pak senang dan tak seorang pun heran meliha Profesor Grubbly-Plank.

“Ke sini,” kata Profesor Grubbly-Plank, dan dia melangkah ke arah padang rumput tempat kuda-kuda Beauxbatons gemetar kedinginan. Harry, Ron, dan Hermione mengikutinya, seraya menoleh beberapa kali, memandang pondok Hagrid. Semua gordennya tertutup. Apakah Hagrid di dalam sana, sendirian dan sakit?

“Sakit apa Hagrid?” tanya Harry, bergegas mengejar Profesor Grubbly-Plank.

“Tak usah peduli,” jawabnya, seakan dia menganggap Harry mencampuri urusan orang.

“Tapi saya peduli” kata Harry panas. “Kenapa dia?”

Profesor Grubbly-Plank bersikap seakan tidak mendengarnya. Dia membawa mereka melewati lapangan rumput tempat kuda-kuda Beauxbatons berdiri berkerumun melawan hawa dingin, menuju sebatang pohon di tepi hutan. Di pohon itu seekor Unicorn besar dan indah ditambatkan.

Sebagian besar anak perempuan ber-“oooooh!” melihat Unicorn itu.

“Oh, indah sekali!” bisik Lavender Brown. “Bagaimana dia mendapatkannya? Unicorn kan sulit sekali ditangkap!”

Si Unicorn sangat putih cemerlang sehingga membuat buat salju di sekelilingnya tampak abu-abu.

Dengan gugup dia mengais-ngais tanah dengan kakinya yang keemasan dan mendongakkan kepalanya yang bertanduk.

“Anak laki-laki mundur!” seru Profesor Grubbly-Plank, Plank, merentangkan sebelah tangannya yang menghantam keras dada Harry. “Unicorn lebih suka sentuhan wanita. Anak perempuan di depan, dan dekati dia hati-hati, ayo, santai saja…”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.