Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

Iya kan, Harry?”

“Caramu menunjukkannya aneh benar,” cemooh Ron.

“Ide utama turnamen ini adalah untuk mengenal penyihir dari negara lain dan berteman dengan mereka!” kata Hermione panas.

“Bukan!” teriak Ron. “Yang utama adalah menang!”

Anak-anak mulai memandang mereka.

“Ron,” kata Harry pelan, “aku tak keberatan Hermione berpasangan dengan Krum…”

Tetapi Ron juga tak mengacuhkan Harry.

“Kenapa kau tidak mencari Vicky, dia akan bertanya-tanya di mana kau,” kata Ron.

“Jangan memanggilnya Vicky!”

Hermione melompat bangun dan menghambur ke lantai dansa, menghilang di antara kerumunan. Ron memandangnya pergi dengan campuran rasa marah dan puas di wajahnya.

“Apakah kau tak akan mengajakku dansa sama sekali?” Padma menanyainya. “Tidak,” jawab Ron, masih memandang Hermione.

“Bagus,” tukas Padma. Dia berdiri dan bergabung bersama Parvati dan anak Beauxbatons, yang mendatangkan seorang temannya begitu cepat sampai Harry berani bersumpah anak itu memakai

Mantra Panggil.

“Di mana Herm-ayon-nini” terdengar suara bertanya. Krum baru saja tiba di meja mereka membawa dua botol Butterbeer.

“Mana kutahu,” jawab Ron ketus. “Kehilangan dia, ya?” Krum tampak cemberut lagi.

“Kalau kau melihatnya, katakan padanya aku sudah ambil minumnya,” katanya, dan dia berjalan membungkuk pergi.

“Sudah berkenalan dengan Viktor Krum rupanya kau, Ron?”

Percy bergegas mendatangi, menggosokkan tangannya tampak angkuh sekali. “Bagus sekali! Itu ide utamanya, kau tahu, kerjasama sihir internasional.”

Harry kecewa sekali, karena Percy menduduki kursi padma. Meja utama sekarang kosong. Profesor Dumbledore sedang berdansa dengan Profesor Sprout, Ludo Bagman dengan Profesor McGonagall.

Madame Maxime dan Hagrid membuat jalan lebar di sekeliling lantai dansa ketika mereka berdansa waltz melewati para murid, dan Karkaroff tak tampak batang hidungnya. Ketika lagu berikutnya berakhir, semua bertepuk tangan sekali lagi, dan Harry melihat Ludo. Bagman mengecup tangan Profesor McGonagall dan menyeruak di antara kerumunan. Saat itu Fred dan George menyapanya.

“Mau apa mereka itu, mengganggu anggota senior Kementerian?” Percy mendesis, mengawasi Fred dan George dengan curiga. “Tak punya rasa hormat…”

Tetapi Ludo Bagman berhasil melepaskan diri dari Fred dan George cukup cepat. Dan melihat Harry, dia melambai, dan mendatangi meja mereka.

“Saya harap adik-adik saya tidak mengganggu Anda, Mr Bagman?” kata Percy segera.

“Apa? Oh, sama sekali tidak, sama sekali tidak!” kata Bagman. “Tidak, mereka cuma memberitahuku sedikit lebih banyak tentang tongkat palsu mereka. Bertanya kalau aku bisa memberi nasihat tentang pemasarannya. Aku telah berjanji untuk menghubungkan mereka dengan beberapa kenalanku di Zonko’s Joke Shop…”

Percy sama sekali tak senang mendengarnya, dan Harry berani bertaruh dia akan segera

memberitahukannya pada Mrs Weasley begitu dia tiba di rumah. Rupanya rencana Fred dan George akhir-akhir ini tambah ambisius, itu kalau benar mereka ingin menjual produk mereka kepada umum.

Bagman membuka mulut untuk menanyakan sesuatu kepada Harry, tetapi Percy mendahuluinya.

“Bagaimana menurut Anda turnamen ini, Mr Bagman? Departemen kami cukup puas–insiden Piala Api”

dia melirik Harry “sedikit kurang menguntungkan, tentu saja, tetapi sejak itu turnamen berjalan mulus, ya?”

“Oh ya,” kata Bagman riang, “sejauh ini sangat menyenangkan. Bagaimana kabarnya si Barty? Sayang sekali dia tak bisa datang.”

“Oh, saya yakin Mr Crouch akan segera sembuh,” kata Percy sok penting, “tetapi sementara itu saya dengan sukarela menggantikannya. Tentu saja tidak cuma menghadiri pesta dansa” dia tertawa ringan

“oh tidak, saya harus menangani segala macam hal yang muncul selama beliau absen Anda sudah dengar Ali Bashir tertangkap menyelundupkan karpet terbang ke negeri ini? Dan kami juga sedang membujuk pihak Transylvania untuk menandatangani Larangan Duel Internasional. Saya akan rapat dengan Kepala Kerjasama Sihir mereka tahun baru ini…”

“Ayo jalan-jalan,” Ron bergumam kepada Harry, “menyingkir dari Percy…”

Para-pura mau mengambil minuman lagi, Harry dan Ron meninggalkan meja, melangkah melipir tepi lantai dansa, dan menyelinap ke Aula Depan. Pintu depan terbuka, dan cahaya peri-peri yang beterbangan di kebun mawar berkelip-kelip ketika mereka menuruni undakan. Mereka berdua dikelilingi semak-semak, jalan setapak ornamental yang berkelok-kelok, dan patung-patung batu besar. Harry bisa mendengar gemercik air, yang kedengaran seperti air mancur. Di sana-sini tampak orang-orang duduk di bangku berukir. Dia dan Ron berjalan menyusuri salah satu jalan setapak yang berkelok menembus semak-semak mawar, tetapi baru berjalan sebentar, mereka mendengar suara tak menyenangkan yang sudah mereka kenal.

“… tak mengerti kenapa harus bingung, Igor.”

“Severus, kau tak bisa berpura-pura ini tidak sedang terjadi” suara Karkaroff terdengar cemas dan pelan, seakan tak ingin didengar orang lain. “Sudah beberapa bulan belakangan ini semakin jelas, aku benar-benar cemas. Aku tak bisa menyangkal…”

“Kalau begitu kabur saja,” kata Snape tegas. “Kabur… akan kucarikan alasan untukmu. Tetapi aku sendiri akan tetap tinggal di Hogwarts.”

Snape dan Karkaroff muncul di belokan. Snape memegang tongkat sihirnya dan mengayunkannya untuk menyibak semak-semak mawar, ekspresi wajahnya sangat sangar. Pekik terdengar dari banyak semak, dan sosok-sosok gelap bermunculan dari dalamnya.

“Potong sepuluh angka dari Hufflepuff, Fawcett!” Snape menggertak ketika seorang gadis berlari melewatinya. “Dan sepuluh angka dari Ravenclaw juga, Stebbins!” ketika seorang anak laki-laki bergegas mengejar gadis itu. “Dan apa yang kalian berdua lakukan?” dia menambahkan, ketika melihat Harry dan Ron di jalan setapak di depannya. Karkaroff tampak resah melihat mereka. Tangannya gugup memegang jenggot kambingnya, dan mulai melilitkannya di sekeliling jarinya.

“Kami jalan-jalan,” Ron menjawab Snape singkat. “Tidak melanggar hukum, kan?”

“Terus jalan kalau begitu!” gertak Snape, dan dia melewati mereka, mantel panjang hitamnya melambai di belakangnya. Karkaroff bergegas mengikuti Snape. Harry dan Ron meneruskan menyusuri jalan setapak.

“Apa yang membuat Karkaroff cemas?” Ron bergumam.

“Dan sejak kapan dia dan Snape saling panggil nama depan?” tanya Harry lambat-lambat.

Mereka tiba di patung batu besar berbentuk rusa kutub sekarang. Di atas rusa itu mereka bisa melihat semburan air mancur tinggi. Bayangan dua sosok besar tampak duduk di atas bangku batu, memandang air di bawah sinar bulan. Dan kemudian Harry mendengar Hagrid bicara.

“Begitu lihat kau, aku tahu,” katanya, dalam suara parau yang aneh.

Harry dan Ron membeku. Tampaknya ini bukan adegan yang pantas untuk dipergoki… Harry

memandang berkeliling, ke arah dari mana mereka datang, dan melihat Fleur Delacour dan Roger Davies berdiri separo tersembunyi di semak mawar di dekat situ. Dia mengetuk bahu Ron dan mengedikkan kepala ke arah mereka, bermaksud mengatakan bahwa mereka bisa menyelinap lewat jalan itu tanpa ketahuan (Fleur dan Davies tampak sangat sibuk bagi Harry). Tetapi Ron, matanya membelalak ngeri melihat Fleur, menggelengkan kepala keras-keras, dan menarik Harry lebih dalam ke dalam keremangan di belakang rusa kutub.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.