Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

Sementata itu Fleur Delacour menyampaikan kritikan tentang dekorasi Hogwarts kepada Roger Davies.

“Ini tidak ada apa-apanya,” katanya meremehkan, memandang berkeliling dinding Aula Besar yang berkilauan. “Di istana Beauxbatons kami punya patung-patung es di sekeliling ruang makan di Hari Natal.

Mereka tidak meleleh, tentu… mereka seperti patung berlian besar. Dan kami punya paduan suara peri-hutan, yang melantunkan musik indah selama kami makan. Kami tak punya baju zirah jelek di aula, dan kalau ada hantu jail masuk Beauxbatons, dia akan diusir seperti ini.” Tangannya memukul meja dengan tak sabar.

Roger Davies memandangnya bicara dengan terkesima dan berkali-kali garpunya meleset dari mulutnya.

Harry mendapat kesan Davies terlalu sibuk menatap Fleur sehingga tak menangkap apa yang

diucapkannya.

“Betul sekali,” katanya buru-buru, ikut memukul meja meniru Fleur. “Seperti itu. Yeah.”

Harry memandang berkeliling aula. Hagrid duduk di salah satu meja guru yang lain. Dia kembali memakai jas cokelat berbulunya yang parah dan menatap meja utama. Harry melihat Hagrid melambai sedikit, lalu dilihatnya Madame Maxime membalas lambaian itu, opal-opalnya berkilauan kena cahaya lilin.

Hermione sekarang sedang mengajar Krum mengucapkan namanya dengan benar. Krum terus saja

memanggilnya “Herma-yon.”

“Her-ma-yo-ni,” kata Hermione lambat dan jelas.

“Herm-ayon-nini.”

“Sudah hampir,” katanya, matanya bertatapan dengan mata Harry, dan dia tersenyum.

Setelah semua makanan disantap, Dumbledore bangkit dan meminta semua anak untuk bangkit juga.

Kemudian, dengan lambaian tongkat sihirnya, semua meja meluncur berjajar di sepanjang dinding sehingga lantai kosong, lalu dia menyihir panggung di depan dinding sebelah kanan. Satu set drum, beberapa gitar, kecapi, cello, dan beberapa bagpipe-alat musik tiup Skotlandia–disiapkan di atas panggung.

The Weird Sisters sekarang naik ke panggung, diiringi tepuk gemuruh. Mereka semua sangat berbulu dan memakai jubah hitam yang telah dirobek-robek dengan artistik. Mereka mengambil instrumen masing-masing, dan Harry, yang begitu terpesona memandang mereka sampai lupa apa yang akan terjadi, mendadak menyadari bahwa lilin di meja-meja lain sudah padam, dan bahwa para juara lainnya dan pasangan mereka telah berdiri.

“Ayo!” Parvati mendesis. “Kita harus berdansa!”

Harry terserimpet jubahnya ketika berdiri. The Weird Sisters memetik nada pelan merana. Harry berjalan ke lantai dansa yang benderang, dengan sengaja menghindari tatapan anak-anak (dia bisa melihat Seamus dan Dean melambai dan terkikik) melihat berikutnya Parvati telah menyambar kedua tangannya, satu diletakkan di sekeliling pinggangnya dan satunya lagi digenggamnya erat-erat.

Tidak begitu parah, pikir Harry, berputar pelan di tempat (Parvati yang mengarahkan). Harry sengaja mengarahkan matanya di atas kepala mereka yang menontonnya, dan segera saja banyak di antara penonton telah turun ke lantai dansa sehingga para juara tak lagi menjadi pusat perhatian. Neville dan Ginny berdansa di dekat mereka–Harry bisa melihat Ginny sering mengernyit ketika Neville menginjak kakinya–dan Dumbledore berdansa waltz dengan Madame Maxime. Puncak topi kerucut Dumbledore tak sampai menggelitik dagunya, tetapi Madame Maxime bergerak sangat anggun untuk ukuran wanita sebesar dirinya. Mad-Eye Moody berdansa two-steps dengan amat canggung dengan Profesor Sinistra, yang dengan gugup menghindari kaki kayunya.

“Kaus kakinya bagus, Potter,” kata Moody ketika melewati Harry, mata gaibnya melihat menembus jubah Harry.

“Oh… yeah, Dobby si peri-rumah merajutnya untuk saya,” kata Harry, nyengir.

“Dia mengerikan sekali!” Parvati mendesis ketika Moody berketak-ketok menjauh.

Harry mendengar getar nada akhir bagpipe dengan lega, The Weird Sisters berhenti bermain, tepuk tangan memenuhi aula sekali lagi, dan Harry langsung melepas Parvati.

“Yuk, kita duduk.”

“oh… tapi… yang ini benar-benar bagus!” kata Parvati ketika The Weird Sisters memainkan lagu berikutnya, yang jauh lebih cepat.

“Tidak, aku tidak suka,” Harry berbohong, dan dia membawa Parvati menjauh dari lantai dansa–

melewati Fred dan Angelina, yang berdansa dengan amat lincah, sehingga orang-orang di sekitarnya mundur takut terluka menuju ke meja Ron dan Padma.

“Bagaimana?” Harry bertanya kepada Ron sambil duduk dan membuka botol Butterbeer.

Ron tidak menjawab. Dia membelalak memandang Hermione dan Krum, yang berdansa di dekat situ.

Padma duduk menyilangkan tangan dan kakinya, satu kakinya bergoyang mengikuti musik. Berulang-ulang dia melempar pandang tak puas kepada Ron, yang sama sekali tidak mengacuhkannya. Parvati duduk di sisi lain Harry, menyilangkan tangan dan kakinya juga, dan dalam beberapa menit saja sudah diajak dansa oleh anak Beauxbatons.

“Kau tidak keberatan kan, Harry?” tanya Parvati.

“Apa?” tanya Harry, yang sekarang memandang Cho dan Cedric.

“Oh, sudahlah,” tukas Parvati, dan dia langsung Pergi bersama anak Beauxbatons itu. Ketika lagu berakhir, dia tidak kembali.

Hermione datang dan duduk di kursi kosong Parvati. Wajahnya agak kemerahan akibat berdansa.

“Hai,” sapa Harry. Ron tidak mengatakan apa-apa.

“Panas, ya?” kata Hermione, mengipasi diri tangannya. “Viktor sedang mengambil minuman.”

Ron memandangnya menghina. “Viktor?” katanya.

“Apa dia belum memintamu untuk memanggilnya Vicky?”

Hermione memandangnya keheranan. “Kenapa sih kau?” katanya.

“Kalau kau tak tahu,” kata Ron tajam, “aku tak akan memberitahumu.”

Hermione melongo memandangnya, kemudian memandang Harry, yang mengangkat bahu.

“Ron,kenapa… ?”

“Dia anak Durmstrang!” bentak Ron. “Dia bertanding melawan Harry! Melawan Hogwarts! Kau… kau…”

jelas Ron mencari kata-kata yang cukup keras untuk menjelaskan kesalahan Hermione, “bergaul dengan musuh, tahu!”

Hermione ternganga.

“Jangan konyol!” katanya sejenak kemudian. “Musuh! Astaga… siapa yang begitu bersemangat ketika melihatnya datang? Siapa yang menginginkan tanda tangannya? Siapa yang punya bonekanya di dalam kamarnya?”

Ron memilih mengabaikan ini. “Kurasa dia memintamu untuk pergi bersamanya ketika kalian berdua di perpustakaan?”

“Ya, betul,” kata Hermione, rona di pipinya semakin merah. “Jadi kenapa?”

“Bagaimana kejadiannya–kau mengajaknya bergabung di spew, kan?”

“Tidak! Kalau kau memang ingin tahu, dia… dia bilang dia ke perpustakaan setiap hari untuk mencari kesempatan bicara denganku, tetapi dia tak kunjung punya keberanian!”

Hermione mengucapkan kata-kata itu amat cepat, dan pipinya menjadi merah sekali sehingga sewarna dengan jubah Parvati.

“Yeah, tapi… itu kan kata dia,” kata Ron sangar.

“Dan apa maksudmu?”

“Jelas, kan? Dia murid Karkaroff, kan? Dia tahu siapa yang selalu bersamamu… Dia cuma mencari cara lebih dekat dengan Harry untuk mendapat informasi dari teman terdekatnya atau agar bisa cukup dekat untuk menyihirnya…”

Wajah Hermione tampak seakan Ron baru saja menamparnya. Ketika bicara, suaranya bergetar.

“Asal kau tahu saja, dia tidak menanyakan satu pertanyaan pun tentang Harry, sama sekali tidak…”

Secepat kilat Ron ganti haluan.

“Kalau begitu dia mengharap kau membantunya memecahkan teka-teki telurnya! Kurasa kalian asyik bertukar pikiran di perpustakaan…”

“Aku tak pernah membantunya soal telur itu!” kata Hermione, tampak berang. “Tak pernah. Bagaimana mungkin kau mengatakan sesuatu seperti itu–aku ingin Harry memenangkan turnamen, Harry tahu itu.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.