Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

Si burung hantu terbang turun dan hinggap di atas sangkar Hedwig. Hedwig memandangnya dingin, seakan menantangnya kalau dia berani mencoba datang lebih dekat.

Harry menyambar pena bulu-elangnya sekali lagi, menarik sehelai perkamen baru, dan menulis:

Ron, semua oke, si Muggle bilang aku boleh nonton. Sampai ketemu pukul lima besok. Sudah tak sabar.

Dilipatnya surat ini sampai kecil sekali, dan dengan susah payah diikatkannya ke kaki si burung hantu mungil, sementara burung itu melompat-lompat kegirangan. Begitu ikatan suratnya sudah kuat, burung itu terbang lagi, meluncur keluar dari jendela, dan lenyap.

Harry menoleh ke Hedwig. “Mau terbang jauh?” dia menanyainya. Hedwig menjawab dengan uhu yang anggun. “Bisakah kauantarkan ini kepada Sirius?” kata Harry, memungut suratnya. “Tunggu… kuselesaikan dulu.” Dia membuka lipatan suratnya dan buru-buru menambahkan,

Kalau kau ingin menghubungiku, aku akan berada di rumah temanku Ron Weasley selama sisa musim panas. Ayahnya mendapat tiket Piala Dunia Quidditch untuk kami!

Surat itu selesai. Diikatkannya ke kaki Hedwig. Tak seperti biasanya, Hedwig tak bergerak sama sekali, seakan bertekad ingin menunjukkan bagaimana seharusnya burung hantu pos bersikap.

“Aku di rumah Ron waktu kau pulang nanti, oke?” Harry memberitahunya.

Hedwig mematuk jarinya dengan sayang, kemudian, diiringi bunyi desah, dia mengepakkan sayapnya yang besar dan meluncur keluar dari jendela yang terbuka.

Harry mengawasinya sampai dia lenyap dari pandangan, kemudian merangkak ke kolong tempat tidurnya, mengangkat papan lepas, dan mengeluarkan sepotong besar kue ulang tahun. Dia duduk di lantai melahapnya, menikmati kebahagiaan yang melandanya. Dia punya kue, sedangkan Dudley cuma punya jeruk. Hari ini cerah, dia akan meninggalkan Privet Drive besok pagi, bekas lukanya sudah sepenuhnya normal lagi, dan dia akan menonton Piala Dunia Quidditch. Susah, sekarang ini, untuk merasa cemas tentang apa pun—bahkan tentang Lord Voldemort sekalipun.

 

Bab 4:

Kembali ke Burrow

PUKUL dua belas keesokan harinya, koper Harry sudah penuh peralatan sekolahnya dan semua miliknya yang paling berharga—Jubah Gaib yang diwarisinya dari ayahnya, sapu yang didapatnya dari Sirius, peta sihir Hogwarts yang diberikan kepadanya oleh Fred dan George tahun lalu. Dia telah mengosongkan tempat persembunyian di bawah papan lepas, mengecek semua sudut kamarnya dua kali, kalau-kalau masih ada buku sihir atau pena bulu yang ketinggalan, dan menurunkan diagram dari dinding yang digunakannya untuk menghitung hari sampai tanggal satu September. Harry senang mencoret sisa hari pada diagram itu, sampai tiba saatnya dia kembali ke Hogwarts.

Suasana di dalam rumah di Privet Drive nomor empat sangat tegang. Sebentar lagi kedatangan beberapa penyihir membuat keluarga Dursley tegang dan jengkel. Paman Vernon langsung kaget ketika

Harry memberitahunya bahwa keluarga Weasley akan tiba pukul lima sore hari besok.

“Kuharap kau memberitahu orang-orang itu agar berpakaian pantas,” gertaknya langsung. “Aku sudah pernah melihat pakaian yang dipakai bangsamu. Sebaiknya mereka cukup sopan dan memakai pakaian normal, itu saja.”

Firasat Harry agak tak enak. Jarang sekali dia melihat Mr atau Mrs Weasley memakai apa yang oleh keluarga Dursley disebut “normal”. Anak-anak mereka mungkin memakai pakaian Muggle selama liburan, tetapi Mr dan Mrs Weasley biasanya memakai jubah panjang dengan berbagai tingkat keusangan. Harry tidak memusingkan apa yang akan dikatakan para tetangga, tetapi dia cemas bagaimana nanti kalau keluarga Dursley bersikap tidak sopan kepada keluarga Weasley jika mereka muncul dengan dandanan sihir yang mereka anggap parah.

Paman Vernon memakai setelan jasnya yang terbaik. Bagi sementara orang, ini seolah untuk menghormati tamunya, tetapi Harry tahu ini karena Paman Vernon ingin tampil mengesankan dan berwibawa. Dudley, sebaliknya, tampak mengecil. Ini bukan karena dietnya akhirnya berhasil, tetapi gara-gara ketakutan. Terakhir kalinya Dudley bertemu penyihir dewasa, ekor babi yang melengkung muncul dari pantatnya, dan Bibi Petunia dan Paman Vernon harus membayar biaya operasi untuk menghilangkannya di sebuah rumah sakit swasta di London. Karena itu, tidaklah meng-herankan Dudley berkali-kali mengelus bagian belakang tubuhnya dengan cemas, dan berjalan menyamping dari satu ruang ke ruang lain, supaya tidak menghadapkan target yang sama kepada musuh.

Makan siang berlangsung nyaris tanpa suara. Dudley bahkan tidak memprotes makanannya (keju lunak dan seledri parut). Bibi Petunia tidak makan apa-apa. Tangannya bersedekap, bibirnya cemberut, dan dia tampak seperti mengunyah lidahnya, seakan menggigit kembali kecaman-kecaman tajam yang ingin sekali dilayangkannya kepada Harry.

“Mereka datang naik mobil, tentunya?” kata Paman Vernon keras.

“Er,” kata Harry.

Harry tidak memikirkannya. Bagaimana caranya keluarga Weasley akan menjemputnya? Mereka tak lagi punya mobil. Ford Anglia tua yang pernah mereka miliki sekarang berkeliaran di Hutan Terlarang di Hogwarts. Tetapi Mr Weasley meminjam mobil Kementerian Sihir tahun lalu, mungkin hari ini juga begitu?

“Kurasa begitu,” kata Harry.

Paman Vernon mendengus ke kumisnya. Normalnya, Paman Vernon akan bertanya apa mobil Mr Weasley. Dia cenderung menilai orang lain dari berapa besar dan mahal mobilnya. Tetapi Harry sangsi apakah Paman Vernon akan menyukai Mr Weasley kalaupun dia naik Ferrari.

Harry melewatkan sebagian besar sore itu di dalam kamarnya. Dia tak tahan melihat Bibi Petunia mengintip dari balik vitrage beberapa detik sekali, seakan baru saja mendengar peringatan ada badak bercula satu yang lepas. Akhirnya, pukul lima kurang seperempat, Harry turun kembali ke ruang keluarga.

Bibi Petunia melurus-luruskan bantal kursi dengan terpaksa. Paman Vernon berpura-pura membaca surat kabar, tetapi mata kecilnya tidak bergerak, dan Harry yakin dia sebenarnya sedang mendengarkan setajam mungkin bunyi mobil yang mendekat. Dudley duduk dijejalkan dalam kursi berlengan, tangan gemuknya di bawahnya, memegangi pantatnya erat-erat. Harry tak tahan menyaksikan ketegangan ini, dia meninggalkan ruangan dan duduk di tangga di lorong, matanya memandang arlojinya dan jantungnya berdegup kencang karena gairah dan kecemasan.

Tetapi pukul lima tiba dan berlalu. Paman Vernon, berkeringat di dalam setelan jasnya, membuka pintu depan, mengintip ke jalan dan buru-buru menarik kembali kepalanya.

“Mereka terlambat!” dia membentak Harry. “Aku tahu,” kata Harry. “Mungkin… er… macet, atau kenapa.”

Lima lewat sepuluh… kemudian lima seperempat… Harry sendiri mulai merasa cemas sekarang. Pukul setengah enam, dia mendengar Paman Vernon dan Bibi Petunia berbicara dalam gumam tegang di ruang keluarga.

“Tak punya perasaan.”

“Kita bisa saja punya acara lain.”

“Mungkin mereka kira akan diajak makan malam kalau telat.”

“Jangan harap,” kata Paman Vernon, dan Harry mendengarnya bangkit dan berjalan mondar-mandir. “Mereka akan mengambil anak itu dan pergi, tak perlu berlama-lama. Itu kalau mereka jadi datang.

Mungkin mereka salah lihat hari. Kurasa bangsa mereka tidak menghargai ketepatan waktu. Itu masalahnya. Atau bisa juga karena mereka naik mobil kaleng bekas yang mog—AAAAAAAARRRRRGH!”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.