Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

Cedric dan Cho berdiri dekat Harry. Harry tidak memandang mereka supaya tidak usah berbicara kepada mereka. Pandangannya jatuh ke gadis di sebelah Krum. Dia ternganga.

Gadis itu ternyata Hermione.

Tetapi dia sama sekali tidak seperti Hermione. Dia telah melakukan sesuatu pada rambutnya. Rambutnya tak lagi mengembang berantakan, tetapi rapi mengilap, dan dipilin menjadi sanggul anggun di belakang kepalanya. Dia memakai jubah terbuat dari kain ringan berwarna biru indah, dan pembawaannya berbeda atau mungkin itu hanya kesan karena tak adanya kira-kira dua puluh buku yang biasanya digendongnya di punggung. Dia juga tersenyum-agak gugup, memang–tetapi pengecilan ukuran gigi depannya lebih mencolok daripada sebelumnya. Harry tak mengerti kenapa dia tak melihatnya

sebelumnya.

“Hai, Harry!” sapanya. “Hai, Parvati!”

Parvati menatap Hermione tak percaya serta tak senang. Dan dia bukan satu-satunya. Ketika pintu ke Aula Besar terbuka, klub penggemar Krum dari perpustakaan lewat, melempar pandangan sangat menghina kepada Hermione. Pansy Parkinson melongo ketika dia lewat bersama Malfoy, dan bahkan Malfoy rupanya tak berhasil menemukan cemoohan untuk dilontarkan kepada Hermione. Meskipun demikian; Ron lewat saja di depannya, tanpa memandang Hermione.

Setelah semua duduk di Aula Besar, Profesor McGonagall menyuruh para juara dan pasangan mereka untuk berderet berpasangan dan mengikutinya. Semua yang berada di Aula Besar bertepuk ketika mereka masuk beriringan dan berjalan ke arah meja bundar besar di ujung aula, tempat para juri duduk.

Dinding aula ditutup bunga salju perak berkilauan, dengan beratus untaian mistletoe dan sulur yang bersilang-silang di bawah langit-langit hitam berbintang. Meja-meja asrama telah lenyap, dan sebagai gantinya ada kira-kira seratus meja kecil berlilin menyala, masing-masing dikitari selusin anak.

Harry berkonsentrasi agar tidak tersandung kakinya sendiri. Parvati tampaknya sangat menikmati semua ini. Dia tersenyum kepada semua orang dan menggandeng Harry dengan kuat sehingga Harry merasa dia anjing yang dipamerkan dan diatur langkahnya. Harry melihat Ron dan Padma ketika sudah dekat meja utama. Ron memandang Hermione dengan mata disipitkan. Padma tampak cemberut.

Dumbledore tersenyum senang ketika para juara mendekati meja utama, tetapi ekspresi Karkaroff mirip sekali dengan Ron ketika dia memandang Krum dan Hermione mendekat. Ludo Bagman, malam ini

memakai jubah ungu cerah dengan bintang-bintang besar berwarna kuning, bertepuk tangan sama antusiasnya dengan murid-murid, dan Madame Maxime, yang telah mengganti jubah satin hitamnya yang biasa dengan gaun ungu lavender yang berjuntai, bertepuk tangan sopan. Tetapi Mr Crouch, mendadak Harry sadar, tidak ada di sana. Tempat duduk kelima di meja diduduki oleh Percy Weasley.

Ketika para juara dan pasangan mereka tiba di meja, Percy menarik kursi kosong di sebelahnya, dengan sengaja menatap Harry. Harry paham dan duduk di sebelah Percy, yang ekspresi wajahnya begitu puas, sampai Harry berpendapat dia harus didenda. “Aku sudah naik pangkat,” kata Percy sebelum Harry sempat bertanya, dan dari nadanya, seakan dia mengumumkan dirinya terpilih sebagai penguasa jagat raya. “Aku sekarang asisten pribadi Mr Crouch dan aku berada di sini mewakilinya.”

“Kenapa dia tidak datang?” tanya Harry. Dia tak ingin sepanjang santap malam dikuliahi soal pantat kuali.

“Sayang sekali Mr Crouch kurang begitu sehat. Sama sekali tak sehat, malah. Sejak Piala Dunia itu. Tidak begitu mengherankan-kelewat lelah. Dia tak semuda dulu lagi–meskipun masih brilian, tentu saja, pikirannya masih sama hebatnya. Tetapi Piala Dunia adalah kegagalan bagi seluruh Kementerian, dan kemudian Mr Crouch mengalami pukulan berat gara-gara kelakuan peri-rumahnya, Blinky atau entah siapa namanya. Tentu saja dia memecatnya segera sesudah itu, tetapi–seperti yang telah kukatakan, usianya sudah lanjut, dia perlu dirawat, dan kurasa rumahnya jadi kurang nyaman sejak peri itu pergi.

Dan kemudian kami harus mengatur turnamen ini, dan menangani dampak Piala Dunia–si reporter cewek yang menyebalkan itu berkelintaran–kasihan Mr Crouch, sekarang dia layak melewatkan Natal yang tenang. Aku cuma senang dia punya orang yang bisa diandalkan untuk menggantikannya.”

Harry ingin sekali bertanya apakah Mr Crouch sudah berhenti memanggil Percy “Weatherby”, tetapi menahan godaan ini.

Belum ada makanan tersaji di piring-piring emas berkilauan, tetapi ada menu kecil-kecil tergeletak di depan masing-masing piring. Harry mengangkat menunya dengan ragu-ragu dan memandang

berkeliling. Tak ada pelayan. Tetapi Dumbledore memandang menunya dengan teliti, kemudian berkata dengan sangat jelas kepada piringnya, “Daging panggang!”

Dan daging panggang muncul. Setelah tahu caranya, yang lain menyampaikan pesanan masing-masing kepada piring mereka. Harry mengerling Hermione untuk melihat bagaimana pendapatnya tentang metode makan malam yang lebih rumit ini-jelas ini berarti banyak tugas tambahan bagi para peri-rumah?

tetapi sekali ini Hermione tampaknya tidak memikirkan S.P.E.W Dia asyik bicara dengan Viktor Krum dan tampaknya nyaris tidak memperhatikan apa yang dimakannya.

Harry baru sadar bahwa dia sebetulnva belum pernah mendengar Krum bicara, tetapi Krum jelas sedang bicara sekarang, bahkan sangat antusias.

“Kami juga punya kastil, tidak sebesar ini, juga tidak senyaman ini, kurasa,” dia memberitahu Hermione.

“Kastil kami cuma empat lantai dan perapian hanya dinyalakan untuk keperluan sihir. Tetapi halaman kami lebih luas daripada di sini–meskipun dalam musim dingin kami sedikit sekali mendapat cahaya, jadi kami tidak menikmati musim dingin. Tetapi dalam musim panas kami terbang setiap hari, di atas danau dan gunung-gunung…”

“Wah, wah, Viktor!” kata Karkaroff dengan tawa yang tidak mencapai matanya yang dingin, “jangan buka rahasia lebih banyak lagi, nanti temanmu yang cantik akan tahu persis di mana bisa menemukan kita!”

Dumbledore tersenyum, matanya berkilat. “Igor, kenapa harus serba-rahasia… orang akan berpikir kau tak menginginkan tamu.”

“Yah, Dumbledore,” kata Karkaroff, memamerkan giginya yang kuning, “kita semua kan protektif terhadap daerah kekuasaan kita, kan? Bukankah dengan ketat kita menjaga sekolah yang telah dipercayakan kepada kita? Bukankah benar kalau kita bangga bahwa hanya kita sendiri yang mengetahui rahasia-rahasia sekolah kita, dan benar bahwa kita melindunginya?”

“Oh, aku tak akan pernah mimpi menganggap diriku tahu semua rahasia Hogwarts, Igor,” kata Dumbledore ramah. “Baru pagi ini, misalnya, aku salah belok dalam perjalanan ke kamar mandi, dan tahu-tahu sudah berada dalam ruangan indah yang tak pernah kulihat sebelumnya, berisi koleksi pispot yang bagus-bagus sekali. Waktu aku kembali untuk menyelidiki lebih jauh, ruangan itu telah lenyap.

Tetapi aku harus bersiap kalau sewaktu-waktu sampai ke ruangan itu lagi. Mungkin ruangan itu hanya ada pada pukul setengah enam pagi. Atau cuma muncul pada akhir minggu pertama–atau kalau si pencari sudah sangat kepingin buang air kecil.”

Harry mendengus ke dalam piring gulai dagingnya. Percy mengernyit, tetapi Harry berani sumpah Dumbledore memberi kedipan kecil kepadanya.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.