Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

Kaus kaki kirinya merah manyala dan bermotif sapu; kaus kaki kanannya hijau dengan motif Snitch.

“Wah… ini… ini sungguh… terima kasih, Dobby,” kata Harry, dan dipakainya kaus kaki itu, membuat air mata Dobby mengucur lagi.

“Dobby harus pergi sekarang, Sir. Kami sudah mulai menyiapkan hidangan untuk pesta Natal nanti malam!” kata Dobby, dan dia bergegas meninggalkan kamar, melambai kepada Ron dan yang lain ketika melewati mereka.

Hadiah Harry yang lainnya jauh lebih memuaskan daripada kaus kaki aneh Dobby-kecuali hadiah keluarga Dursley, yang cuma sehelai tisu, parah sekali Harry menduga mereka masih ingat pada kejadian Permen Lidah-Liar. Hermione menghadiahi Harry buku berjudul Tim Quidditch Inggris dan Irlandia; dari Ron, sekantong penuh Bom Kotoran; Sirius, pisau lipat praktis yang dilengkapi alat untuk membuka semua kunci dan mengurai semua ikatan; dan Hagrid, sekotak besar permen, termasuk semua

kegemaran Harry-Kacang Segala Rasa Bertie Botts, Cokelat Kodok, Permen Karet Tiup Drooble, dan permen melayang Kumbang Berdesing atau Fizzing Whizzbees. Tentu saja ada hadiah Mrs Weasley yang biasa, termasuk sweter baru (hijau, dengan gambar naga di dada–Harry menduga Charlie telah menceritakan kepada ibunya tentang naga Ekor-Berduri), dan banyak pai daging cincang.

Harry dan Ron bergabung dengan Hermione di ruang rekreasi dan mereka turun untuk sarapan bersama-sama. Mereka melewatkan sebagian besar pagi hari di Menara Gryffindor. Semua anak menikmati hadiah mereka di sana. Kemudian kembali ke Aula Besar untuk makan siang yang lezat, termasuk paling tidak seratus ekor kalkun dan puding Natal, dan seonggok tinggi Biskuit Sihir Cribbage.

Sore harinya mereka turun ke halaman. Salju membentang licin tak tersentuh, kecuali kanal-kanal dalam yang dibuat oleh anak-anak Durmstrang dan Beauxbatons dalam perjalanan mereka ke kastil. Hermione memilih menonton Harry dan kakak-beradik Weasley berperang bola salju daripada ikut bermain dan pada pukul lima berkata dia akan kembali ke atas untuk bersiap-siap ke pesta.

“Apa, kau perlu waktu tiga jam?” kata Ron, memandang Hermione keheranan. Pecahnya konsentrasinya nya ini harus dibayarnya dengan sebuah bola salju besar yang menghantam sisi kepalanya dengan keras,

hasil lemparan George. “Kau pergi dengan siapa?” dia meneriakinya, tetapi Hermione hanya melambai dan menaiki undakan batu, menghilang ke dalam kastil.

Tak ada acara minum teh Natal kali ini, karena pestanya termasuk makan-makan. Maka pukul tujuh, ketika sudah sulit untuk membidik dengan tepat, anak-anak menghentikan perang salju dan kembali ke ruang rekreasi. Si Nyonya Gemuk duduk di dalam piguranya bersama temannya Violet dari lantai bawah,, keduanya mabuk berat, kotak-kotak kosong cokelat berisi minuman keras bertebaran di dasar lukisannya.

“Pahaya ceri, itu dia!” si Nyonya Gemuk terkikik ketika mereka menyebutkan kata kuncinya, dan dia berayun ke depan mengizinkan mereka masuk.

Harry, Ron, Seamus, Dean, dan Neville berganti memakai jubah pesta mereka di kamar. Semuanya tampak canggung dan malu, tapi tak ada yang secanggung Ron, yang memandang dirinya dalam cermin di sudut dengan wajah ngeri. Tak bisa diungkiri bahwa jubahnya sangat mirip rok. Dalam

keputusasaannya untuk membuat jubah itu lebih jantan, dia menggunakan Mantra Potong pada renda di leher dan lengannya. Manjur juga, paling tidak sekarang jubahnya tidak berenda, meskipun hasil kerjanya tidak rapi. Ujung-ujungnya masih berjumbai saat anak-anak itu turun.

“Aku masih tak bisa mengerti bagaimana kalian berdua mendapatkan dua cewek paling cantik di kelas empat,” gumam Dean.

“Daya tarik yang luar biasa,” kata Ron muram, menarik sehelai benang yang mencuat dari pergelangan tangannya.

Ruang rekreasi tampak aneh, penuh anak-anak yang memakai jubah aneka warna, alih-alih warna hitam yang biasa. Parvati menunggu Harry di kaki tangga. Dia memang tampak cantik sekali, memakai jubah berwarna shocking pink, rambut panjangnya yang hitam dikepang dan dililit pita emas, dan gelang emas berkilau-kilau di pergelangan tangannya. Harry lega melihat dia tidak terkikik.

“Kau… er… cantik,” kata Harry canggung.

“Trims” katanya. “Padma menunggumu di Aula Depan,” dia menambahkan kepada Ron.

“Baik” kata Ron, memandang berkeliling. “Di mana Hermione?”

Parvati mengangkat bahu. “Kita turun sekarang, Harry?”

“Oke,” kata Harry, dalam hati ingin sekali tetap tinggal di ruang rekreasi. Fred mengedip kepada Harry ketika melewatinya dalam perjalanan ke lubang lukisan.

Aula Depart juga penuh anak-anak, semua menunggu datangnya pukul delapan, saat pintu Aula Besar akan dibuka. Anak-anak yang menunggu pasangannya dari asrama lain menyelinap-nyelinap di antara kerumunan, saling mencari. Parvati menemukan saudara kembarnya, Padma, dan membawanya ke Harry dan Ron.

“Hai,” sapa Padma, yang sama cantiknya dengan Parvati, memakai jubah hijau toska cerah. Tetapi dia tidak begitu antusias berpasangan dengan Ron. Matanya yang hitam terpaku pada lubang leher dan pergelangan tangan jubah Ron yang berjumbai ketika dia memandang Ron dari atas ke bawah.

“Hai,” kata Ron, tidak memandangnya, tetapi memandang kerumunan anak-anak di sekitarnya. “Oh tidak.. .”

Dia menekuk lututnya sedikit untuk menyembunyikan diri di belakang Harry karena Fleur Delacour lewat, tampak memesona dalam jubah satin abu-abu perak, dan ditemani kapten Quidditch Ravenclaw, Roger Davies. Ketika mereka sudah lenyap, Ron berdiri tegak lagi dan mencari-cari melewati kepala anak-anak.

“Di mana Hermione?” katanya lagi.

Serombongan anak Slytherin muncul dari tangga ruang bawah tanah mereka. Malfoy paling depan. Dia memakai jubah pesta beludru hitam dengan kerah tinggi, yang menurut pendapat Harry membuatnya tampak seperti pendeta: Pansy Parkinson yang memakai jubah merah jambu pucat penuh rimpel

bergayut di lengannya. Crabbe dan Goyle memakai jubah hijau. Mereka mirip batu besar berlumut, dan keduanya–Harry senang melihatnya–tak berhasil mendapat pasangan.

Pintu depan yang terbuat dari kayu ek terbuka, dan semua anak menoleh ketika anak-anak Durmstrang masuk bersama Profesor Karkaroff. Krum paling depan, ditemani gadis cantik memakai jubah biru yang tidak dikenal Harry. Melewati atas kepala mereka Harry melihat area di depan kastil telah diubah menjadi semacam gua penuh cahaya peri berarti ratusan peri asli sedang duduk di semak mawar hasil sihiran, dan beterbangan di atas patung yang tampaknya seperti patung Santa Claus dan rusanya.

Dan kemudian terdengar suara Profesor McGonagall memanggil, “Para juara silakan ke sini!”

Parvati membetulkan gelangnya, tersenyum. Dia dan Harry berkata, “Sampai nanti,” kepada Ron dan Padma dan maju, kerumunan yang sedang berceloteh menyeruak ruak memberi mereka jalan. Profesor McGonagall, yang memakai jubah pesta kotak-kotak merah dan menghiasi tepi topinya dengan tanaman berduri, menyuruh mereka menunggu di sisi pintu, sementara anak-anak lain masuk. Mereka nanti akan memasuki Aula Besar beriringan setelah anak-anak lain duduk. Fleur Delacour dan Roger Davies menempatkan diri paling dekat pintu. Davies tampak terpana pada nasib baiknya bisa berpasangan dengan Fleur sehingga dia nyaris tak bisa melepas pandangannya dari gadis itu.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.