Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

Staf Hogwarts, yang ingin memberi kesan baik kepada tamu-tamu dari Beauxbatons dan Durmstrang, rupanya bertekad untuk menunjukkan kastil dalam keadaan seindah-indahnya di Hari Natal. Ketika dekorasi telah terpasang, Harry sadar itu dekorasi paling memesona yang pernah dilihatnya selama dia di sekolah ini. Untaian tetes air beku dipasang pada birai tangga pualam. Dua belas Pohon Natal yang biasa dipasang di Aula Besar dipenuhi hiasan serbaneka, dari holly berry yang menyala, sampai burung hantu emas hidup yang beruhu-uhu, dan semua baju zirah sudah disihir untuk menyanyikan lagu-lagu Natal setiap kali ada anak yang melewatinya. Seru juga mendengar Oh Come, All Ye Faithful-Hai Mari Berhimpun dinyanyikan oleh helm kosong yang cuma hafal separo liriknya. Berkali-kali, Filch si penjaga

sekolah harus mengeluarkan Peeves dari baju-baju zirah, tempat dia bersembunyi, mengisi kekosongan kata-kata dalam lagu itu dengan lirik ciptaannya sendiri, yang semuanya sangat kurang ajar.

Dan tetap saja, Harry belum mengajak Cho ke pesta dansa. Dia dan Ron sudah sangat cemas sekarang, meskipun, seperti yang dikatakan Harry, Ron tidak akan tampak sekonyol dirinya kalau datang tanpa pasangan. Harry kan bertugas membuka pesta dansa bersama ketiga juara lainnya.

“Yah, masih ada Myrtle Merana,” katanya muram, menyebut hantu yang menghantui toilet anak perempuan di lantai dua.

“Harry… kita harus nekat dan melakukannya,” kata Ron pada hari Jumat pagi, dalam nada seakan mereka merencanakan menyerbu benteng yang tak mungkin dapat direbut. “Waktu kita kembali ke ruang rekreasi malam ini, kita berdua sudah punya pasangan… setuju?”

“Er… setuju,” kata Harry.

Tetapi setiap kali dia melihat Cho hari itu sewaktu istirahat, dan kemudian makan siang, dan dalam perjalanan ke Sejarah Sihir–Cho selalu dikelilingi teman-temannya. Apakah dia tak pernah pergi ke mana pun sendirian? Bisakah dia menyergapnya, mungkin saat Cho mau ke toilet? Tetapi tidak–rupanya ke sana pun dia ditemani empat atau lima cewek lain. Tapi kalau dia tidak segera melakukannya, Cho pasti keburu diajak cowok lain.

Sulit bagi Harry untuk berkonsentrasi pada tes Ramuan Snape, dan akibatnya dia lupa menambahkan bahan utama-bezoar-berarti dia mendapat nilai paling rendah. Tetapi dia tak peduli. Dia terlalu sibuk mengumpulkan keberanian untuk melakukan apa yang akan dia lakukan. Ketika bel berdering, Harry menyambar tasnya, dan bergegas ke pintu.

“Kita ketemu makan malam nanti,” katanya kepada Ron dan Hermione, dan dia melesat ke atas.

Yang diperlukannya hanyalah meminta Cho untuk bicara berdua, cuma itu… Dia bergegas melewati koridor-koridor yang penuh anak, mencarinya, dan (agak lebih cepat daripada yang diharapkannya) dia menemukan Cho, muncul dari kelas Pertahanan terhadap Ilmu Hitam.

“Er… Cho? Boleh aku bicara denganmu?”

Mengikik seharusnya dilarang, batin Harry jengkel, ketika semua cewek yang mengelilingi Cho mengikik.

Tetapi Cho tidak. Dia mengatakan, “Oke,” dan mengikuti Harry sampai berada di luar jangkauan pendengaran teman-teman sekelasnya.

Harry berpaling memandangnya dan perutnya serasa anjlok, seperti kalau dia sedang menuruni tangga dan satu anak tangga terlewat diinjak.

“Er,” katanya.

Dia tak bisa meminta Cho. Dia tak bisa. Tetapi harus. Cho tampak bingung, mengawasinya. Kata-katanya keluar sebelum Harry bisa mengatur lidahnya. “Mokah kau pesta dansa samaku?”

“Maaf?” kata Cho.

“Maukah… maukah kau ke pesta dansa bersamaku?” tanya Harry. Kenapa wajahnya harus memerah sekarang? Kenapa?

“Oh!” kata Cho, dan wajahnya juga merona merah. “Oh, Harry, maaf sekali,” dan dia kelihatan betul-betul menyesal. “Aku sudah janji mau pergi dengan orang lain.”

Ganjil sekali. Sesaat sebelumnya perutnya terasa menggeliat-geliat seperti ular, tetapi mendadak saja sekarang kosong, seolah seluruh isinya terbang ke luar.

“Oh, oke,” katanya, “tak apa-apa.”

“Aku sungguh minta maaf,” kata Cho lagi.

“Tak apa-apa,” kata Harry.

Mereka saling pandang, dan kemudian Cho berkata.

“Yah…”

“Yeah,” kata Harry.

“Yuk,” kata Cho, wajahnya masih merah padam. Dia pergi.

Harry memanggilnya, sebelum dia bisa menahan diri.

“Dengan siapa kau pergi?”

“Oh… Cedric,” katanya. “Cedric Diggory.”

“Oh, baiklah,” kata Harry.

Perutnya sudah penuh kembali, tapi seolah terisi timah panas. Sama sekali lupa tentang makan malam, Harry melangkah pelan naik ke Menara Gryffindor. Suara Cho mengiang mengiringi setiap langkahnya.

“Cedric… Cedric Diggory.” Tadinya Harry sudah mulai menyukai Cedric–siap melupakan bahwa Cedric pernah mengalahkannya sekali dalam pertandingan Quidditch, dan bahwa dia tampan, populer, dan juara favorit hampir setiap anak. Sekarang mendadak dia menyadari bahwa Cedric sebetulnya cowok-cantik tak berguna yang otaknya tak cukup untuk memenuhi mangkuk telur.

“Cahaya peri,” katanya lesu kepada si Nyonya Gemuk–kata kuncinya telah diubah hari sebelumnya.

“Ya, betul, Nak!” kata si Nyonya Gemuk dengan suaranya yang bergetar. Dia meluruskan bando perak barunya sambil berayun ke depan agar Harry bisa masuk.

Memasuki ruang rekreasi, Harry memandang berkeliling, dan heran sekali melihat Ron duduk dengan muka pucat pasi di sudut yang jauh. Ginny duduk bersamanya, berbicara kepadanya dengan suara pelan menghibur.

“Ada apa, Ron?” tanya Harry, bergabung dengan mereka.

Ron mendongak menatap Harry, wajahnya ngeri.

“Kenapa kulakukan?” tanyanya liar. “Aku tak tahu apa yang membuatku melakukannya!”

“Apa?” tanya Harry.

“Dia… er… baru saja meminta Fleur Delacour untuk ke pesta dansa bersamanya,” kata Ginny.

Tampaknya Ginny berusaha menahan senyum, tetapi dia terus membelai lengan Ron dengan penuh simpati.

“Kau apa?” celetuk Harry.

“Aku tak tahu apa yang membuatku begitu!” Ron meratap lagi. “Ngapain sih aku? Ada banyak orang… di sekitar kami… aku sudah gila… semua mengawasi! Aku sedang melewatinya di Aula Depan–dia sedang bicara kepada Diggory–dan tiba-tiba saja aku seperti mendapat ide–dan kuajak dia!”

Ron meratap dan menutup wajah dengan tangannya. Dia terus bicara, meskipun kata-katanya nyaris tak jelas.

“Dia memandangku seakan aku ini cacing laut atau apa. Bahkan tidak menjawab. Dan kemudian…

entahlah… tiba-tiba saja aku tersadar dan kabur.”

“Dia keturunan Veela,” kata Harry. “Kau betul neneknya Veela. Bukan salahmu, aku berani taruhan kau kebetulan lewat ketika dia sedang memancarkan daya pikatnya untuk Diggory dan kau kecipratan sedikit.

Tapi dia membuang-buang waktu saja. Diggory akan pergi dengan Cho Chang.”

Ron mengangkat wajahnya.

“Aku baru saja memintanya untuk pergi bersamaku,” kata Harry lesu, “dan dia bilang begitu.” Ginny mendadak berhenti tersenyum.

“Ini gila,” kata Ron. “Tinggal kita yang belum punya pasangan–yah, kecuali Neville. Hei… coba tebak siapa yang diajaknya? Hermione!”

“Apa?” kata Harry, perhatiannya teralih sepenuhnya oleh berita mengejutkan ini.

“Yeah, aku tahu!” kata Ron, mukanya sudah mulai berwarna lagi ketika dia mulai tertawa. “Neville bilang padaku sesudah pelajaran Ramuan! Katanya Hermione sejak dulu baik, membantunya dalam pelajaran dan tugas-tugasnya–tapi Hermione bilang pada Neville dia akan pergi dengan orang lain. Ha! Asal ngomong saja! Dia cuma tak mau pergi dengan Neville… Maksudku, siapa sih yang mau?”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.