Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Dia cuma mau bicara tentang kau, Harry,” Hagrid melanjutkan dengan suara rendah. “Yah, kukatakan kita sudah berteman sejak aku jemput kau dari keluarga Dursley. ‘Tak pernah perlu mendampratnya

selama empat tahun?’ tanyanya. ‘Tak pernah mempermainkanmu selama pelajaran?’ Kujawab tidak, dan dia rupanya kurang senang. Kesannya dia ingin aku bilang kau brengsek, Harry.”

“Tentu saja,” kata Harry, melempar gumpalan-gumpalan hati naga ke mangkuk logam besar dan memungut pisaunya untuk mengiris lebih banyak hati lagi. “Mana mungkin dia terus-menerus menulis aku pahlawan kecil yang tragis. Pembaca kan bosan.”

“Dia ingin sudut baru, Hagrid,” kata Ron bijaksana sambil mengupas telur salamander. “Kau diharapkan bilang Harry murid nakal yang sinting!”

“Tapi dia tidak nakal dan sinting!” kata Hagrid, tampak benar-benar terkejut.

“Mestinya dia mewawancara Snape” kata Harry suram. “Snape akan bicara yang jelek-jelek tentang aku kapan saja. ‘Potter telah berkali-kali melanggar peraturan sejak dia masuk sekolah ini…’”

“Dia bilang begitu?” kata Hagrid, sementara Ron dan Hermione tertawa. “Yah, kau mungkin telah langar beberapa peraturan, Harry, tapi kau oke.”

“Trims, Hagrid,” kata Harry, nyengir.

“Kau datang ke pesta dansa pada Hari Natal Hagrid?” tanya Ron.

“Kupikir ya,” kata Hagrid keras. “Ramai kurasa.

Kau akan buka pesta dansa kan, Harry? Siapa yang kau ajak?”

“Belum tahu,” kata Harry, merasa wajahnya merah lagi. Hagrid tidak mendesaknya.

Minggu terakhir semester menjadi ramai sekali. Desas-desus tentang pesta dansa Natal berseliweran, meskipun Harry tidak mempercayai setengah diantaranya. Misalnya saja, bahwa Dumbledore telah membeli delapan ratus ton dari Madam Rosmerta. Meskipun demikian, rupanya benar bahwa dia telah memesan The Weird Sisters. Persisnya apa atau siapa The Weird Sisters ini–yang namanya berarti kakak-beradik aneh-Harry tak tahu, karena dia tak punya akses ke radio penyihir. Tetapi dari kegairahan mereka yang rajin mendengarkan WWN (Wizarding Wireless Network Jaringan Radio Sihir), mereka rupanya grup musik yang sangat terkenal.

Beberapa guru, seperti Profesor Flitwick yang mungil, menyerah, tak lagi mengajar para muridnya banyak-banyak selagi pikiran mereka jelas melantur ke tempat lain. Dia membiarkan mereka bermain-main dalam jam pelajarannya di hari Rabu, dan melewatkan sebagian waktunya untuk bicara dengan Harry soal Mantra Panggil sempurna yang digunakannya dalam menghadapi tugas pertama Turnamen Triwizard. Guru-guru lain tidak semurah hati itu. Tak ada yang bisa membelokkan Profesor Binns, misalnya, dari catatannya tentang pemberontakan goblin-karena Binns tak membiarkan kematiannya sendiri menjadi penghalang dirinya meneruskan mengajar, mereka duga hal kecil seperti Natal tidak akan mengganggunya. Sungguh mengherankan bagaimana dia bisa membuat bahkan kerusuhan berdarah dan mengerikan para goblin kedengarannya sama membosankannya dengan laporan pantat kuali Percy.

Profesor McGonagall dan Moody juga menuntut mereka belajar sampai detik terakhir jam pelajaran. Dan Snape, tentu saja, jelas enggan mengizinkan mereka bermain-main di kelas, sama enggannya seperti kalau dia disuruh mengadopsi Harry. Memandang mereka semua dengan galak, dia mengumumkan

bahwa dia akan menguji mereka so al penangkal racun pada jam pelajaran terakhir semester itu.

“Jahat sekali dia,” kata Ron getir malam itu di ruang rekreasi Gryffindor. “Memberi, tes pada hari terakhir. Merusak sisa semester dengan beban belajar yang begitu banyak.”

“Mmm… kau tidak bersusah payah belajar, kan?” komentar Hermione, memandangnya dari atas catatan Ramuan-nya. Ron sedang asyik membuat istana kartu dengan kartu Exploding Snapnya yang jauh lebih menarik daripada kartu Muggle biasa, karena ada kemungkinan istananya bisa meledak kapan saja.

“Ini kan Natal, Hermione,” kata Harry bermalas-malasan. Dia sedang membaca ulang Terbang bersama Cannons untuk kesepuluh kalinya di kursi berlengan dekat perapian.

Hermione memandangnya dengan galak juga. “Kupikir kau akan melakukan sesuatu yang konstruktif, Harry, bahkan kalau kau tak ingin belajar ramuan penangkal racun!”

“Apa misalnya?” kata Harry sambil memandang Joey Jenkins dari tim Cannons memukul Bludger ke arah Chaser Ballycastle Bats.

“Telur itu!” desis Hermione.

“Sudahlah, Hermione, aku masih punya waktu sampai tanggal dua puluh empat Februari,” kata Harry.

Dia menyimpan telur emas itu di atas dalam kopernya dan belum pernah membukanya lagi sejak pesta merayakan keberhasilannya melaksanakan tugas pertama. Masih ada waktu dua setengah bulan sebelum dia perlu tahu apa artinya lolongan melengking itu.

“Tetapi siapa tahu perlu berminggu-minggu untuk memahami artinya!” kata Hermione. “Kau akan tampak tolol kalau yang lain tahu apa tugas berikutnya dan kau tidak!”

“Jangan ganggu dia, Hermione, dia berhak bersantai sebentar,” kata Ron sambil meletakkan dua kartu terakhirnya di atas istananya dan seluruh istana meledak, menghanguskan alisnya.

“Bagus, Ron… alis hangus cocok untuk jubah pesta Fred” Fred dan George yang berkomentar. Mereka duduk di meja bersama Harry, Ron, dan Hermione, sementara Ron memeriksa seberapa parah kerusakan alisnya.

“Ron, boleh tidak kami pinjam Pigwidgeon?” tanya George.

“Tidak, dia sedang mengantar surat,” jawab Ron. “Kenapa?”

“Karena George mau mengajaknya ke pesta dansa,” kata Fred sinis.

“Karena kami mau mengirim surat, tolol,” kata George.

“Kalian ini menulis terus ke siapa sih?” tanya Ron.

“Jangan ikut campur, Ron, kalau tidak kubakar hidungmu sekalian,” ancam Fred, melambaikan tongkat sihirnya. “Jadi… kalian sudah punya pasangan untuk pesta dansa?”

“Belum,” jawab Ron.

“Kalau begitu harus buru-buru, kalau tidak yang cantik-cantik sudah keambil semua,” kata Fred.

“Kau sendiri pergi dengan siapa?” tanya Ron.

“Angelina,” kata Fred segera, tanpa malu-malu.

“Apa?” tanya Ron kaget. “Kau sudah memintanya?”

“Pertanyaan bagus,” kata Fred. Dia menoleh dan berteriak ke seberang ruang rekreasi. “Oi! Angelina!”

Angelina, yang sedang mengobrol dengan Alicia Spinnet di dekat perapian, memandangnya.

“Apa?” dia membalas berteriak.

“Mau ke pesta dansa bersamaku?”

Angelina menatap Fred dengan pandangan menilai.

“Baiklah,” katanya, dan dia kembali menoleh ke Alicia dan meneruskan mengobrol, dengan wajah sedikit nyengir.

“Begitu,” kata Fred kepada Harry dan Ron, “gampang.”

Fred bangkit, menguap, dan berkata, “Kalau begitu kita pakai burung hantu sekolah, George, a yo…”

Mereka pergi. Ron berhenti meraba alisnya dan memandang Harry melewati reruntuhan istana kartunya yang berasap.

“Kita harus bergerak, kau tahu… minta seseorang. Dia betul. Kita kan tak mau terpaksa pergi dengan sepasang Troll.”

Hermione mendengus jengkel. “Sepasang.., apa, maaf?”

“Ah… kau tahu,” kata Ron mengangkat bahu. “Lebih baik aku pergi sendiri daripada dengan-Eloise Midgen, misalnya.”

“Belakangan ini jerawatnya sudah banyak berkurang dan dia sangat menyenangkan!”

“Hidungnya miring,” kata Ron.

“Oh, begitu,” kata Hermione, siap berperang. “Jadi, pada dasarnya kalian akan mengajak gadis tercantik yang mau, meskipun dia sangat menyebalkan?”

“Er… yeah, kira-kira begitu,” kata Ron.

“Aku mau tidur,” kata Hermione berang, dan dia bergegas ke tangga yang menuju kamar anak perempuan tanpa sepatah kata pun lagi.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.