Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Sekarang setelah Potter dan Weasley telah berbaik hati mau bersikap sesuai usia mereka,” kata Profesor McGonagall, seraya memandang marah mereka berdua selagi kepala ikan Harry putus dan jatuh ke lantai tanpa suara-paruh nuri Ron telah mematuknya beberapa saat sebelumnya “ada yang harus kusampaikan kepada kalian.”

“Pesta dansa Natal, telah mendekat–bagian dari tradisi Turnamen Triwizard dan kesempatan bagi kita untuk bergaul lebih akrab dengan tamu-tamu asing kita. Nah, pesta dansa ini hanya untuk anak-anak kelas empat ke atas–meskipun kalian boleh mengajak murid yang lebih muda kalau mau…”

Lavender Brown terkikik nyaring. Parvati Patil menyodok keras rusuknya, wajahnya bersusah payah menahan kegeliannya sendiri. Mereka berdua menoleh memandang Harry. Profesor McGonagall

mengabaikan mereka, yang bagi Harry jelas sangat tidak adil, karena gurunya ini baru saja menegurnya dan Ron.

“Jubah pesta akan dipakai,” Profesor McGonagall meneruskan, “dan pesta dansa akan dimulai pukul delapan malam pada Hari Natal, berakhir tengah malam di Aula Besar. Nah, sekarang…”

Profesor McGonagall sengaja menatap seluruh kelas.

“Pesta dansa ini tentu saja kesempatan bagi kita semua untuk… er… bersantai,” katanya, dengan nada tak suka.

Lavender terkikik lebih keras lagi, dengan tangan menekap mulutnya untuk meredam suaranya. Harry bisa melihat apa yang lucu kali ini: Profesor McGonagall tak pernah santai.

“Tetapi itu TIDAK berarti,” Profesor McGonagall meneruskan, “ada pengenduran standar tingkah laku yang kami harapkan dari murid-murid Hogwarts. Aku akan kecewa sekali kalau ada anak Gryffindor yang mempermalukan sekolah dengan cara apa pun.”

Bel berdering, disusul bunyi aktivitas yang biasa ketika semua anak membereskan tas mereka dan menyandangkannya ke bahu.

Profesor McGonagall berseru mengatasi semua suara itu, “Potter… aku mau bicara sebentar.”

Mengira ini ada hubungannya dengan ikannya yang tanpa kepala, Harry berjalan muram ke meja gurunya. Profesor McGonagall menunggu sampai semua anak sudah keluar, baru berkata, “Potter, para juara dan pasangan mereka…”

“Pasangan apa?” tanya Harry.

Profesor McGonagall memandangnya dengan curiga, seakan dia menganggap Harry sedang berusaha melucu.

“Pasanganmu untuk pesta dansa, Potter,” katanya dingin. “Pasangan dansamu.”

Organ-organ tubuh Harry rasanya mengerut dan mengecil.

“Pasangan dansa?” Dia merasa wajahnya merah padam. “Saya tidak bisa dansa,” katanya cepat-cepat.

“Oh, kau bisa,” kata Profesor McGonagall jengkel. “Ini yang mau kukatakan kepadamu. Menurut tradisi, para juara dan pasangan mereka membuka pesta dansa.”

Mendadak terlintas di benak Harry bayangan dirinya memakai topi tinggi dan jas buntut, ditemani gadis memakai gaun berjumbai-jumbai seperti yang selalu dipakai bibi Petunia ke pesta kantor Paman Vernon.

“Saya tidak dansa,” katanya.

“Sudah tradisi,” kata Profesor McGonagall tegas. “Kau juara Hogwarts, dan kau akan melakukan apa yang diharapkan darimu sebagai wakil sekolah. Jadi, pastikan kau punya pasangan, Potter.”

“Tapi… saya tidak…”

“Kau sudah mendengar apa yang kukatakan, Potter,” kata Profesor McGonagall mengakhiri pembicaraan.

Seminggu yang lalu, Harry akan mengatakan bahwa mencari pasangan dansa soal enteng dibanding menghadapi naga Ekor-Berduri Hungaria. Tetapi sekarang setelah dia melakukan pertarungan dengan naga, dan menghadapi prospek mengajak anak perempuan ke pesta dansa, dia ternyata lebih memilih menghadapi naga sekali lagi.

Harry belum pernah mengalami begitu banyak anak mendaftar untuk tinggal di Hogwarts selama liburan Natal. Dia sendiri selalu tinggal, tentu saja, karena alternatifnya adalah pulang ke Privet Drive. Tetapi sebelum ini anak-anak yang tinggal sedikit sekali. Namun tahun ini tampaknya semua anak kelas empat, dan kelas-kelas di atasnya, tinggal dan bagi Harry mereka semua tampak terobsesi oleh pesta dansa atau paling tidak semua anak perempuannya, dan mengherankan sekali, mendadak di Hogwarts serasa ada begitu banyak anak perempuan. Harry tak pernah memperhatikan ini sebelumnya. Anak-anak perempuan berbisik-bisik di koridor, menjerit tertawa ketika anak-anak laki-laki melewati mereka, membanding-bandingkan catatan apa yang akan mereka pakai pada Hari Natal malam….

“Kenapa mereka selalu berombongan?” Harry bertanya kepada Ron ketika kira-kira selusin anak perempuan melewati mereka, terkikik dan memandang Harry. “Bagaimana caranya mendapatkan satu yang sendirian untuk diajak?”

“Dilaso?” saran Ron. “Sudah punya ide siapa yang akan kau ajak?”

Harry tidak menjawab. Dia tahu betul dia ingin mengajak siapa, tetapi membangkitkan keberanian untuk mengajaknya, itu soal lain… Cho setahun lebih tua darinya; dia sangat cantik; dia pemain Quidditch yang hebat, dan dia juga sangat populer.

Ron rupanya tahu apa yang sedang dipikirkan Harry.

“Dengar, kau tidak akan kesulitan. Kau juara. Kau baru saja mengalahkan naga Ekor-Berduri Hungaria.

Berani taruhan mereka pasti antre mau pergi denganmu.”

Untuk menghargai persahabatan mereka yang baru pulih, Ron menekan kegetiran dalam suaranya ke batas minimum. Lagi pula, betapa herannya Harry, ternyata Ron benar.

Seorang anak Hufflepuff kelas tiga berambut ikal yang seumur-umur belum pernah disapa Harry, memintanya ke pesta dansa bersamanya, keesokan harinya. Saking kagetnya, Harry langsung menolak sebelum sempat mempertimbangkan hal ini. Si gadis pergi dengan agak tersinggung dan Harry menahan ledekan Dean, Seamus, dan Ron sepanjang pelajaran Sejarah Sihir. Hari berikutnya dua gadis lain mengajaknya, seorang anak kelas dua dan (yang membuat buat Harry ngeri) anak kelas lima yang tampaknya bisa memukulnya sampai pingsan kalau dia menolak.

“Dia cukup cantik,” kata Ron sportif, setelah berhenti tertawa.

“Dia tiga puluh senti lebih tinggi daripadaku,” kata Harry, yang masih terkesima. “Bayangkan, bagaimana konyolnya kalau aku berdansa dengannya.”

Kata-kata Hermione tentang Krum terngiang-ngiang di telinganya. “Mereka hanya menyukainya karena dia terkenal!” Harry sangat meragukan apakah salah satu dari anak-anak perempuan yang telah mengajaknya menjadi pasangannya itu, akan mau ke pesta dansa dengannya kalau dia bukan juara sekolah. Kemudian dia bertanya-tanya sendiri dalam hati apakah semua hal ini akan mengganggunya jika Cho yang mengajaknya.

Secara keseluruhan, Harry harus mengakui bahwa bahkan dengan keharusan memalukan untuk

membuka pesta dansa, keadaan jelas sudah membaik sejak dia berhasil melaksanakan tugas

pertamanya. Dia tak lagi banyak dicemooh di koridor, Harry menduga itu berkat banyak campur tangan Cedric-Cedric mungkin melarang anak-anak Hufflepuff mengganggunya, sebagai ungkapan terima kasihnya untuk kisikan Harry tentang naga-naga itu. Lencana DUKUNG CEDRIC DIGGORY! juga sudah tidak sebanyak sebelumnya. Draco Malfoy, tentu saja, masih mengutip artikel Rita Skeeter setiap ada kesempatan, tetapi yang tertawa makin lama makin sedikit dan yang membuat Harry semakin gembira, tak ada artikel tentang Hagrid yang muncul di Daily Prophet.

“Dia tidak begitu tertarik pada Satwa Gaib, sebetulnya,” kata Hagrid, ketika Harry, Ron, dan Hermione menanyainya bagaimana wawancaranya dengan Rita Skeeter dalam pelajaran terakhir Pemeliharaan Satwa Gaib untuk semester itu. Mereka lega sekali Hagrid telah melepas ide melakukan kontak langsung dengan Skrewt, jadi mereka cuma duduk di belakang pondoknya hari ini, menyiapkan makanan baru untuk membuat Skrewt tergiur.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.