Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Winky kesulitan menyesuaikan diri, Harry Potter” lengking Dobby yakin. “Winky lupa dia tidak terikat lagi pada Mr Crouch, dia boleh menyuarakan dapatnya sekarang, tetapi dia tak mau.”

“Apakah peri-rumah tidak boleh mengutarakan pendapatnya tentang tuannya?” tanya Harry.

“Oh, tidak boleh, Sir, tidak boleh,” mendadak tampak serius. “Itu bagian dari perbudakan peri-rumah, Sir.

Kami tutup mulut menyimpan rahasia mereka. Kami menjunjung kehormatan keluarga, kami tak pernah menjelek-jelekkan mereka, meskipun Profesor Dumbledore memberitahu Dobby dia tidak menuntut ini.

Profesor Dumbledore bilang kami bebas untuk… untuk…”

Dobby mendadak tampak gugip dan memberi isyarat agar Harry mendekat. Harry membungkuk. Dobby berbisik, “Dia bilang kami bebas mengatainya orang sinting aneh yang dingin kalau mau, Sir!”

Dobby mengeluarkan semacam kikik ketakutan.

“Tapi Dobby tak mau, Harry Potter,” katanya, bicara normal lagi, dan menggelengkan kepalanya sampai telinganya terkepak-kepak. “Dobby sangat menyukai profesor Dumbledore, Sir, dan bangga tutup mulut menyimpan rahasianya.”

“Tetapi kau bisa bilang apa saja yang kau mau tentang keluarga Malfoy sekarang?” Harry bertanya, nyengir.

Mata Dobby yang besar tampak agak ketakutan.

“Dobby… Dobby bisa,” katanya ragu-ragu. Ditegapkannya bahunya yang kecil. “Dobby bisa memberitahu Harry Potter bahwa majikannya yang lama adalah… adalah… penyihir hitam jahat!”

Sesaat seluruh tubuh Dobby gemetar, ngeri sendiri akan keberaniannya… kemudian dia berlari ke meja terdekat dan mulai membentur-benturkan kepalanya ke meja itu keras-keras, “Dobby jelek! Dobby jelek!”

Harry menyambar bagian belakang dasi Dobby dan menariknya dari meja.

“Terima kasih, Harry Potter, terima kasih,” kata Dobby terengah, menggosok-gosok kepalanya.

“Kau cuma perlu sedikit latihan,” kata Harry.

“Latihan!” lengking Winky berang. “Kau seharusnya malu pada dirimu sendiri, Dobby, menjelek-jelekkan tuanmu begitu!”

“Mereka bukan tuanku lagi, Winky!” bantah Dobby bandel. “Dobby tak peduli lagi apa pendapat mereka!”

“Oh, kau peri jahat, Dobby!” ratap Winky, air matanya bercucuran lagi. “Kasihan Mr Crouch, apa yang dilakukannya tanpa Winky? Dia membutuhkanku, dia membutuhkan bantuanku! Aku merawat semua

keluarga Crouch seumur hidupku, dan ibuku melakukannya sebelum aku, dan nenekku melakukannya sebelum dia… oh, apa yang akan mereka katakan kalau mereka tahu Winky sudah dibebaskan? Oh, sungguh memalukan, memalukan!” Dia membenamkan wajah ke roknya dan menangis menggerung-gerung.

“Winky,” kata Hermione tegas. “Aku Yakin Mr Crouch baik-baik saja tanpa kau. Aku sudah melihatnya…”

“Anda melihat tuan saya?” tanya Wink y mengangkat wajahnya yang berlinang air mata dari roknya sekali lagi, dan terbelalak menatap Hermione. “Anda melihatnya di sini, di Hogwarts?”

“Ya,” kata Hermione, “dia dan Mr Bagman menjadi juri dalam Turnamen Triwizard.”

“Mr Bagman juga datang?” lengking Winky, dan betapa herannya Harry (dan Ron dan ermione juga kalau melihat wajah mereka), Winky marah lagi. “Mr Bagman penyihir jahat! Jahat sekali! Tuan saya tidak menyukainya, oh tidak, sama sekali tidak!”

“Bagman… jahat?” tanya Harry.

“Oh ya,” kata Winky, mengangguk-angguk berang. “Tuan saya memberitahu Wink beberapa hal! Tapi Winky tak mau bilang… Winky—Winky menjaga rahasia tuanya…”

Sekali lagi air matanya membanjir. Mereka bisa mendengarnya terisak di roknya. “Kasihan Tuan, kasihan Tuan, tak lagi ada Winky yang membantunya!”

Mereka tak bisa lagi memancing Winky mengatakan hal yang masuk akal. Mereka membiarkannya menangis dan menghabiskan teh mereka, sementara Dobby mengoceh riang tentang hidupnya sebagai peri-rumah merdeka dan rencananya menggunakan gajinya.

“Berikutnya Dobby mau beli sweter, Harry Potter!” katanya gembira, menunjuk dadanya yang telanjang.

“Eh, Dobby,” kata Ron, yang rupanya jadi suka sekali pada si peri, “kuberi saja sweter yang dirajut ibuku untukku Natal ini. Aku selalu dapat sweter baru setiap Natal. Kau tak keberatan warna merah tua, kan?”

Dobby senang sekali.

“Kita mungkin harus membuatnya mengerut sedikit biar pas untukmu,” Ron memberitahunya, “tapi sweter itu akan serasi sekali dengan tudung tehmu.”

Ketika mereka bersiap pulang, banyak peri-rumah di sekeliling mereka mendekat, menawarkan camilan untuk dibawa ke atas. Hermione menolak, wajahnya menyiratkan kepedihan melihat bagaimana para peri itu tak hentinya membungkuk dan menghormat, tetapi Harry dan Ron memenuhi kantong-kantong mereka dengan kue krim dan pai.

“Banyak terima kasih!” kata Harry kepada para peri, yang semua berkerumun di pintu untuk mengucapkan selamat tidur. “Sampai ketemu lagi, Dobby!”

“Harry Potter… boleh Dobby datang menemui Anda kapan-kapan, Sir?” Dobby bertanya ragu-ragu.

“Tentu saja boleh,” kata Harry, dan Dobby berseri-seri.

“Tahu, tidak?” celetuk Ron, begitu dia, Harry, dan Hermione telah meninggalkan dapur dan sedang menaiki tangga menuju Aula Depan lagi. “Selama beberapa tahun ini aku sungguh terkagum-kagum pada Fred dan George, mengambil makanan dari dapur… nah, ternyata itu tidak sukar sama sekali. Mereka tak sabar ingin memberikannya!”

“Kurasa ini hal paling baik yang bisa terjadi pada para peri itu,” kata Hermione, berjalan paling depan ke tangga pualam. “Dobby bekerja di sini, maksudku. Peri-peri yang lain akan melihat betapa bahagianya dia, merdeka, dan pelan-pelan mereka akan menyadari bahwa mereka ingin merdeka juga!”

“Semoga saja mereka tidak terlalu memperhatikan winky,” kata Harry.

“Oh, dia akan ceria juga nanti,” kata Hermione, meskipun kedengarannya agak ragu-ragi. “Kalau sudah tidak shock, dan sudah terbiasa dengan Hogwarts dia akan menyadari bahwa dirinya lebih baik Crouch itu.”

“Kelihatannya Winky menyanyanginya,” kata Ron tak jelas (dia baru menggigit kue krim).

“Tapi tak suka Bagman, ya?” kata Harry. “Apa ya yang dikatakan Crouch di rumah tentang Bagman?”

“Mungkin dia bilang Bagman bukan kepala departemen yang baik,” kata Hermione, “dan jujur saja… ada benarnya juga, kan?”

“Tetap saja aku lebih suka bekerja untuknya daripada si tua Crouch,” kata Ron. “Paling tidak, Bagman punya rasa humor.”

“Jangan sampai Percy mendengarmu ngomong begitu,” kata Hermione, tersenyum.

“Yeah, tapi Percy mana mau bekerja pada orang yang punya selera humor, kan?” kata Ron, sekarang mulai makan kue sus cokelat. “Percy tak akan mengenali lelucon, sekalipun lelucon itu menari telanjang di depannya memakai tudung teko Dobby.”

 

Bab 22:

TUGAS TAK TERDUGA

“POTTER! Weasley! Tolong perhatikan!”

Suara Profesor McGonagall yang jengkel melecut seperti cemeti dalam pelajaran Transfigurasi pada hari Kamis, dan Harry serta Ron terlonjak dan memandang ke depan.

Saat itu menjelang akhir pelajaran. Mereka telah menyelesaikan tugas mereka. Ayam mutiara yang telah mereka ubah menjadi marmot sudah dimasukkan kandang besar di meja Profesor McGonagall (marmot Neville masih ada bulu ayamnya); mereka sudah mencatat PR dari papan tulis (Jelaskan dengan contoh, cara cara mengadaptasi Mantra Transfigurasi kalau melakukan Perubahan Spesies-Silang). Bel bisa berdering setiap saat, dan Harry dan Ron, yang tadi adu pedang memakai dua tongkat palsu Fred dan George di bagian belakang kelas, sekarang mendongak. Ron memegangi nuri kaleng dan Harry, ikan karet.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.