Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Bagus sekali, kalian semua!” kata Ludo Bagman, melangkah ringan ke dalam tenda dan tampak gembira seakan dia sendirilah yang baru berhasil melewati naga. “Kalian punya waktu istirahat panjang sebelum tugas kedua, yang akan dilangsungkan pukul setengah sepuluh pagi tanggal dua puluh empat Februari…

tetapi sementara itu kami memberi kalian sesuatu untuk dipikirkan! Jika kalian meneliti telur emas yang kalian pegang, kalian bisa melihat bahwa telur-telur itu bisa dibuka… lihat engselnya? Kalian harus memecahkan petunjuk yang ada di dalam telur itu karena petunjuk itu akan memberitahu kalian apa tugas kedua kalian, sehingga kalian bisa mempersiapkan diri untuk menghadapinya! Semua jelas? Yakin?

Baiklah, kalian boleh pergi, kalau begitu!”

Harry meninggalkan tenda, bergabung dengan Ron, dan mereka berjalan mengelilingi tepi hutan, mengobrol seru. Harry ingin tahu apa yang dilakukan para juara lainnya dengan lebih detail. Kemudian, ketika mereka menikung di segerumbul pepohonan yang dari baliknya Harry pertama kali mendengar para naga menggerung, seorang penyihir wanita melompat keluar dari belakang mereka.

Rita Skeeter! Dia memakai jubah hijau cemerlang hari ini. Pena Bulu Kutip-Kilat di tangannya menyatu dengan warna jubahnya.

“Selamat, Harry!” katanya, tersenyum kepada Harry.

“Bagaimana kalau kau beri aku sepatah-dua patah kata?

Bagaimana perasaanmu tadi waktu menghadapi naga itu? Bagaimana perasaanmu sekarang, tentang pemberian angka, apakah cukup adil?”

“Yeah, boleh dua patah kata,” kata Harry galak.

“Selamat tinggal.”

Dan dia melanjutkan berjalan pulang ke kastil bersama Ron.

 

Bab 21:

GERAKAN PEMBEBASAN PERI-RUMAH

HARRY, Ron, dan Hermione ke Kandan Burung Hantu malam itu untuk menemui Pigwidgeon, agar Burung Harry bisa mengirim kabar kepada Sirius bahwa dia telah berhasil melewati naga tanpa cedera.

Dalam perjalanan, Harry memberitahu Ron segala sesuatu tentang Karkaroff yang telah diceritakan Sirius kepadanya. Meskipun awalnya Ron kaget sekali mendengar Karkaroff dulunya Pelahap Maut, pada waktu mereka tiba di Kandang Burung Hantu, dia mengatakan bahwa seharusnya mereka sudah mencurigainya sejak awal.

“Klop kan?” katanya. “Ingat apa yang dikatakan Malfoy di kereta, tentang ayahnya yang berteman dengan Karkaroff—Kepala Sekolah Durmstrang? Sekarang kita tahu dimana mereka berdua saling kenal.

Mereka mungkin berbaris bersama memakai topeng waktu Piala Dunia itu… Tapi kuberitahu kau satu hal, Harry, kalau Karkaroff yang memasukkan namamu dalam piala dia pasti merasa tolol sekali sekarang, kan? Dia tidak berhasil, kan? Kau cuma luka tergores! Sini… biar aku saja…”

Pigwidgeon kelewat bersemangat ketika tahu akan disuruh mengantar surat, sehingga dia beterbangan mengitari kepala Harry sambil tak hentinya beruhu-uhu. Ron menangkap Pigwidgeon dan memeganginya erat-erat sementara Harry mengikatkan surat ke kakinya

“Tak mungkin tugas-tugas berikutnya seberbahaya tadi, pasti tidak,” kata Ron ketika dia membawa Pigwidgeon ke jendela. “Tahu, tidak? Kurasa kau bisa memenangkan turnamen ini, Harry, aku serius.”

Harry tahu bahwa Ron berkata begitu hanya untuk menebus sikapnya selama beberapa minggu belakangan ini, tetapi dia tetap menghargainya. Meskipun demikian, Hermione bersandar pada dinding Kandang Burung Hantu, bersedekap, dan mengernyit menatap Ron.

“Masih jauh sebelum Harry menyelesaikan turnamen ini,” katanya serius. “Kalau tugas pertamanya sudah seperti itu, aku ngeri memikirkan apa tugas berikutnya.”

“Penghibur ulung kau, ya,” komentar Ron. “Kau dan Profesor Trelawney kapan-kapan harus bertemu.”

Ron melempar Pigwidgeon dari jendela. Pigwidgeon langsung terjun tiga setengah meter sebelum berhasil terbang naik. Surat yang diikatkan ke kakinya lebih panjang dan lebih tebal daripada biasanya–

Harry tak bisa menahan diri menceritakan kepada Sirius secara mendetail bagaimana dia berkelit, memutar, dan menghindari si naga Ekor-Berduri. Mereka mengawasi Pigwidgeon menghilang ke dalam kegelapan dan kemudian Ron berkata, “Lebih baik kita sekarang turun untuk pesta kejutanmu, Harry…

Fred dan George tentunya sudah berhasil mengambil cukup makanan dari dapur sekarang.”

Betul saja, ketika mereka memasuki ruang rekreasi Gryffindor, ruangan meledak dengan sorakan dan teriakan-teriakan riuh lagi. Ada setumpuk kue-kue jus labu kuning, dan Butterbeer di atas semua permukaan. Lee Jordan telah menyalakan beberapa Kembang Api Filibuster, sehingga udara, dipenuhi bintang-bintang dan bunga api; dan Dean Thomas, yang jago menggambar, telah membuat beberapa

panji-panji baru yang impresif, sebagian besar menggambarkan Harry terbang mengelilingi kepala si Ekor-Berduri di atas Firebolt-nya, meskipun beberapa di antaranya menampilkan Cedric dengan kepala terbakar.

Harry mengambil makanan, lalu duduk bersama Ron dan Hermione. Dia nyaris sudah lupa bagaimana rasanya benar-benar lapar. Harry tak percaya betapa bahagianya dia. Ron telah berbaikan dengannya, dia telah berhasil melewati tugas pertamanya, dan dia baru akan menghadapi tugas keduanya tiga bulan lagi.

“Ampun deh, berat amat,” kata Lee Jordan, mengangkat telur emas yang diletakkan Harry di atas meja, dan menimangnya. “Buka dong, Harry, ayo! Coba kita lihat apa isinya!”

“Dia harus memecahkan petunjuk itu sendiri,” kata Hermione tegas. “Ada dalam peraturan turnamen…”

“Aku juga diharuskan berupaya sendiri bagaimana bisa melewati naga itu,” gumam Harry, sehingga hanya Hermione yang bisa mendengarnya, dan Hermione nyengir agak-merasa bersalah.

“Yeah, ayo, Harry, buka!” beberapa anak ikut membujuk.

Lee menyerahkan telur emas kepada Harry, dan Harry mencongkel lekukan yang melingkari telur dengan kukunya dan membukanya.

Telur itu berongga dan sama sekali kosong… tetapi begitu Harry membukanya, suara yang sangat mengerikan, lolongan keras melengking, memenuhi ruangan. Bunyi yang paling mirip dengan lolongan itu adalah orkes hantu yang memainkan alat musik gergaji dalam pesta ulang tahun kematian Nick si Kepala-Nyaris-Putus.

“Tutup!” raung Fred, menutupi telinganya.

“Apa itu?” kata Seamus Finnigan, menatap telur ketika Harry menutupnya lagi. “Kedengarannya seperti banshee… Mungkin berikutnya kau harus melewati banshee, Harry!”

“Itu mirip suara orang yang disiksa!” kata Neville, yang sudah pucat pasi dan menumpahkan sosis di lantai. “Kau harus melawan Kutukan Cruciatus!”

“Jangan ngaco, Neville, itu ilegal,” kata George. “Mereka tidak akan menggunakan Kutukan Cruciatus pada para juara. Menurutku suaranya mirip Percy menyanyi… mungkin kau harus menyerangnya waktu dia mandi, Harry.”

“Mau kue selai, Hermione?” Fred menawarkan.

Hermione memandang ragu-ragu piring yang disodorkan Fred. Fred nyengir.

“Tidak apa-apa,” katanya. “Tidak kuapa-apakan.

“Krim custard yang harus kau waspadai…”

Neville, yang baru saja menggigit kue krim custard, tersedak dan memuntahkannya. Fred terbahak.

“Cuma bergurau, Neville…”

Hermione mengambil kue selai. Kemudian dia berkata, “Apakah kau mengambil semua ini dari dapur, Fred?”

“Yep,” kata Fred, nyengir kepadanya. Dia lalu berkata melengking, menirukan peri-rumah, “apa yang bisa kami ambilkan untukmu, Sir, apa saja! Mereka sangat membantu… akan mengambilkan daging banteng panggang kalau aku bilang aku gampang marah.”

“Bagaimana kau bisa masuk ke dapur?” tanya Hermione polos dengan suara biasa saja.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.