Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Kau berhasil, Harry!” kata Hagrid parau. “Kau berhasil! Padahal melawan si Ekor-Berduri, dan kau tahu Charlie bilang dia yang paling galak…”

“Terima kasih, Hagrid!” kata Harry keras-keras, supaya Hagrid tidak keterlepasan ngomong bahwa dia telah menunjukkan naga-naga itu kepada Harry sebelumnya.

Profesor Moody juga tampak sangat senang. Mata gaibnya menari-nari dalam rongganya.

“Asyik dan gampang, kan, Potter,” geramnya.

“Baik, Potter, pergilah ke tenda pertolongan pertama….” kata Profesor McGonagall.

Harry keluar dari arena, masih terengah, dan melihat Madam Pomfrey berdiri di mulut tenda kedua tampak cemas.

“Naga!” katanya dengan nada jijik, seraya menarik Harry masuk. Tenda itu dibagi dalam dua ruangan.

Harry bisa melihat bayangan Cedric di balik kanvas, tetapi tampaknya Cedric tidak terluka parah. Dia duduk, paling tidak. Madam Pomfrey memeriksa bahu Harry sambil terus mengomel. “Tahun lalu Dementor, tahun ini naga, apa lagi yang akan mereka bawa ke sekolah selanjutnya? Kau beruntung sekali… lukamu cukup dangkal… tapi perlu dibersihkan sebelum kusembuhkan…”

Madam Pomfrey membersihkan luka itu dengan menotol-notolnya dengan cairan ungu yang berasap dan membuat perih, tetapi kemudian dia menyentuh bahu Harry dengan tongkat sihirnya, dan Harry merasakan lukanya langsung sembuh.

“Sekarang duduk diam dulu sebentar… duduk! Setelah itu baru kau boleh pergi dan melihat angkamu.”

Dia bergegas meninggalkan tenda, dan. Harry mendengarnya masuk ke sebelah dan bertanya,

“Bagaimana rasanya sekarang, Diggory?”

Harry tidak mau duduk diam saja. Dia terlalu penuh semangat. Dia bangkit, ingin tahu apa yang terjadi di luar, tetapi sebelum mencapai mulut tenda, dua orang melesat masuk Hermione, diikuti oleh Ron.

“Harry, kau hebat sekali!” lengking Hermione. Masih ada bekas kuku di pipinya yang tadi dicengkeramnya penuh ketakutan. “Kau luar biasa! Betul!”

Tetapi Harry memandang Ron, yang sangat pucat dan menatap Harry seakan Harry hantu.

“Harry,” katanya, sangat serius, “siapa pun yang memasukkan namamu dalam piala itu… ku… kurasa mereka berusaha membunuhmu!”

Seakan beberapa minggu yang terakhir ini tak pernah terjadi seakan Harry bertemu Ron untuk pertama kalinya, setelah dia terpilih menjadi juara.

“Paham juga akhirnya kau,” kata Harry dingin. “Perlu waktu cukup lama.”

Hermione berdiri cemas di antara mereka, menatap mereka bergantian. Ron membuka mulutnya dengan sangsi. Harry tahu Ron akan minta maaf dan mendadak dia merasa tak perlu mendengarnya.

“Sudahlah,” katanya sebelum Ron bisa berkata apa-apa. “Lupakan saja.”

“Tidak,” kata Ron, “seharusnya aku tidak…”

“Lupakan saja,” kata Harry.

Ron nyengir gugup kepada Harry, dan Harry membalas nyengir.

Air mata Hermione langsung bercucuran.

“Tak ada yang perlu ditangisi” kata Harry, bingung.

“Kalian berdua tolol benar!” teriaknya, mengentakkan kaki ke tanah, air mata membasahi bagian depan jubahnya. Kemudian, sebelum salah satu dari mereka bisa mencegahnya, Hermione memeluk mereka berdua dan berlari pergi, menangis tersedu-sedu.

“Sinting,” kata Ron, menggelengkan kepala. “Harry, ayo, mereka akan mengumumkan angkamu…”

Memungut telur emas dan tongkatnya, merasa lebih gembira daripada yang dibayangkannya bisa terjadi satu jam yang lalu, Harry menunduk keluar dalam tenda. Ron di sebelahnya, berbicara cepat.

“Kau paling hebat… tak ada pesaing. Yang dilakukan Cedric aneh. Dia men-Transfigurasi batu karang di tanah… mengubahnya menjadi anjing Labrador… dia berusaha membuat naganya mengejar anjing itu alih-alih dirinya. Yah, Transfigurasi-nya cool sih, dan cukup sukses, karena dia berhasil mengambil telurnya. Tetapi dia terbakar juga si naga berubah pikiran setengah jalan dan memutuskan lebih suka menangkapnya daripada si Labrador. Nyaris saja Cedric bisa diterkamnya. Dan si Fleur memantrai naganya, kurasa dia mencoba membuat naganya trans-yah, usahanya berhasil juga, naganya jadi mengantuk, tetapi kemudian dia mendengkur, dan menyemburkan lidah api besar, dan jubah Fleur terbakar dia memadamkannya dengan air dari tongkatnya. Dan Krum kau tak akan mempercayai ini, tapi dia bahkan tidak memikirkan terbang! Dia mungkin yang terbaik setelah kau. Langsung menyerang mata si naga dengan semacam mantra. Celakanya, si naga mengentak-entak kesakitan dan menggencet separo dari telur-telurnya yang asli angkanya dikurangi karena itu, dia tak boleh membuat telur-telur itu rusak.”

Ron menahan napas ketika dia dan Harry tiba di tepi arena. Sekarang setelah si Ekor-Berduri dibawa pergi, Harry bisa melihat di mana kelima juri duduk tepat di seberang, di tempat duduk tinggi berselubung kain keemasan.

“Nilai tertinggi dari masing-masing sepuluh,” kata Ron, dan Harry, menyipitkan mata ke seberang, melihat juri pertama-Madame Maxime mengangkat tongkat sihirnya ke atas. Pita perak panjang meluncur keluar dari ujungnya, melingkar membentuk angka delapan.

“Tidak buruk!” kata Ron, sementara penonton bersorak. “Kurasa dia mengurangi angkanya gara-gara bahumu luka.”

Berikutnya Mr Crouch. Dia meluncurkan angka sembilan ke angkasa.

“Bagus!” teriak Ron, menepuk punggung Harry.

Berikutnya Dumbledore. Dia juga memberi angka sembilan. Penonton bersorak lebih riuh daripada sebelumnya.

Ludo Bagman-sepuluh.

“Sepuluh?” ujar Harry tak percaya. “Tapi… aku terluka… Apa maksudnya?”

“Harry… jangan mengeluh!” teriak Ron bersemangat.

Dan sekarang Karkaroff mengangkat tongkatnya. Dia berhenti sejenak, kemudian ada angka yang meluncur dari tongkatnya empat.

“Apa?” Ron menggerung marah. “Empat? Brengsek, licik, curang, kau memberi Krum angka sepuluh!”

Tetapi Harry tidak peduli, dia tak akan peduli sekalipun Karkaroff memberinya nilai nol. Kemarahan Ron untuknya berharga seratus angka baginya. Dia tidak mengatakan ini kepada Ron, tentu saja, tetapi hatinya terasa lebih ringan daripada udara ketika dia berbalik meninggalkan arena. Dan bukan hanya Ron maupun anak-anak Gryffindor yang bersorak ramai. Ketika mereka tadi melihat apa yang harus dihadapi Harry, sebagian besar anak-anak langsung berpihak kepadanya, sama seperti kepada Cedric… Harry tidak peduli kepada anak-anak Slytherin, dia bisa tahan apa pun yang mereka lontarkan kepadanya sekarang.

“Kau berada di tempat pertama, Harry! Kau dan Krum!” kata Charlie Weasley, bergegas menemui mereka ketika mereka bersiap kembali ke sekolah. “Aku harus lari sekarang. Aku harus kirim burung hantu ke Mum, aku sudah bersumpah akan mengabarinya apa yang terjadi tapi tadi sungguh tak bisa dipercaya!

Oh yeah… dan mereka menyuruhku memberitahumu kau harus menunggu beberapa menit… Bagman mau bicara, di tenda para juara.”

Ron berkata akan menunggu, maka Harry masuk lagi ke tenda juara, yang sekarang rasanya berbeda, lebih ramah dan menyenangkan. Harry mengingat bagaimana rasanya sewaktu menghindari si Ekor-Berduri, dan membandingkannya dengan masa menunggu lama sebelum dia keluar menghadapi naga itu… Tak bisa dibandingkan. Masa menunggu tadi sungguh jauh lebih buruk.

Fleur, Cedric, dan Krum masuk bersama-sama. Sebelah wajah Cedric berlumur tebal salep berwarna jingga, mungkin salep luka bakarnya. Dia tersenyum kepada Harry.

“Hebat, Harry.”

“Kau juga,” kata Harry, balas tersenyum.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.