Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Sangat berani!” teriak Bagman, dan Harry mendengar si Bola Api Cina mengeluarkan jeritan menggerung mengerikan, sementara penonton menahan napas. “Sungguh berani dia… dan… ya, dia berhasil mengambil telurnya!”

Sorakan memecah udara musim dingin seperti memecahkan kaca. Krum telah menyelesaikan tugasnya giliran Harry akan tiba setiap saat.

Harry bangkit, kakinya rasanya terbuat dari agar-agar. Dia menunggu. Dan kemudian dia mendengar tiupan peluit. Dia berjalan melewati pintu tenda, kepanikan meningkat di dalam dirinya. Dan sekarang dia berjalan melewati pohon-pohon, masuk melalui lubang di pagar arena.

Dia melihat segala sesuatu di depannya seakan dalam mimpi yang berwarna-warni. Beratus-ratus wajah memandangnya dari tribune tinggi yang secara sihir telah didirikan di sekeliling arena. Dan di ujung lain arena tampak si Ekor-Berduri, merunduk rendah melindungi telur-telurnya, sayapnya setengah terentang, matanya yang kuning kejam memandang Harry. Sosoknya berupa kadal raksasa bersisik yang

mengerikan, menghantam-hantamkan ekornya yang berduri, meninggalkan lekukan-lekukan sepanjang hampir satu meter di tanah yang keras. Penonton bising sekali, tetapi entah suara mereka ramah atau tidak, Harry tidak tahu dan tidak peduli. Sudah waktunya melakukan apa yang harus dia lakukan…

memfokuskan pikirannya, seluruhnya dan sepenuhnya, pada satu hal yang merupakan satu-satunya kesempatannya…

Harry mengangkat tongkat sihirnya.

“Accio Firebolt!” dia berteriak.

Harry menunggu, seluruh serabut tubuhnya berharap, berdoa… Jika tidak berhasil… jika sapunya tidak datang… Rasanya dia memandang ke segala sesuatu di sekelilingnya melalui batas transparan yang bergetar, seperti udara panas, yang membuat arena dan ratusan wajah di sekelilingnya bergoyang aneh…

Dan kemudian didengarnya bunyi deru, melesat menembus udara di belakangnya. Harry menoleh dan melihat Firebolt-nya meluncur ke arahnya mengitari tepi hutan, terbang melewati atas pagar, dan berhenti di tengah udara persis di sebelahnya, menunggu dia menaikinya. Penonton riuh rendah…

Bagman neriakkan sesuatu… tetapi telinga Harry tak lagi berfungsi dengan benar… mendengarkan tidaklah penting lagi…

Dia melangkahkan kaki ke atas sapunya dan menjejak tanah. Sedetik kemudian, sesuatu yang luar biasa terjadi…

Saat dia melesat ke atas, saat angin menerpa rambutnya, saat wajah-wajah di bawahnya hanya berupa titik-titik kecil, dan si naga Ekor-Berduri mengecil seukuran anjing, Harry sadar bahwa dia tidak hanya meninggalkan tanah, melainkan juga ketakutannya… Di sinilah memang tempatnya…

Ini hanya pertandingan Quidditch yang lain, cuma itu… hanya pertandingan Quidditch yang lain, dan si naga Ekor-Berduri itu hanyalah regu lawan yang jelek…

Dia menunduk memandang gundukan telur dan melihat telur emasnya, berkilau di tengah telur-telur lainnya yang berwarna semen, tergeletak dengan aman di antara kedua kaki depan si naga. “Oke,” Harry berkata kepada dirinya sendiri, “taktik pengalihan perhatian… ayo…”

Dia menukik. Kepala si Ekor-Berduri mengikutinya. Harry tahu apa yang akan dilakukan si naga dan menghindar tepat pada waktunya. Semburan api diarahkan ke tempat di mana dia persis akan berada jika tidak menghindar… tetapi Harry tidak peduli… itu tak lebih daripada menghindari Bludger…

“Bukan main, hebat sekali terbangnya!” teriak Bagman sementara penonton menjerit dan menahan panas. “Apakah kau menyaksikan ini, Mr Krum?”

Harry meluncur naik melingkar. Si naga Ekor-Berduri masih mengikuti gerakannya, kepalanya berputar di atas lehernya yang panjang kalau dia begini terus, dia akan pusing tetapi lebih baik jangan terlalu memaksanya, nanti dia menyemburkan api lagi…

Harry meluncur turun tepat ketika si Ekor-Berduri membuka mulutnya, tetapi kali ini dia kurang beruntung dia berhasil menghindari apinya, tetapi ekor si naga melecutnya, dan saat dia miring ke kiri, salah satu durinya yang tajam menggores bahunya, merobek ubahnya…

Harry bisa merasakan bahunya panas dan perih, dia bisa mendengar jeritan dan keluhan dari penonton, tetapi lukanya rupanya tidak dalam… Sekarang Harry meluncur mengelilingi punggung si naga, dan terlintas di benaknya satu kemungkinan…

Si Ekor-Berduri tampaknya tak mau beringsut, dia terlalu protektif terhadap telur-telurnya. Meskipun dia menggeliat dan berputar, mengepakkan dan mengatupkan sayapnya, dan menancapkan pandangan

mata kuningnya yang mengerikan pada Harry, dia takut bergerak terlalu jauh dari telur-telurnya… tetapi Harry harus membujuknya agar menjauh, kalau tidak dia tak akan bisa mendekati telur-telur itu…

Caranya adalah melakukannya dengan hati-hati, tahap demi tahap…

Harry mulai terbang, mula-mula ke arah yang satu, kemudian ke arah lain, tidak cukup dekat untuk membuat si naga menyemburkan api guna mengusirnya, tetapi tetap cukup mengancam hingga si naga terus memandangnya. Kepala si naga terayun kesana kemari, memandang Harry melewati pupilnya yang vertikal, taringnya menyeringai…

Harry terbang lebih tinggi. Kepala si naga ikut naik, lehernya sekarang terjulur sepanjang mungkin masih terayun seperti ular di depan pawangnya.

Harry naik lagi sekitar satu meter, dan si naga mengeluarkan raungan putus asa. Harry baginya seperti lalat, lalat yang ingin ditepuknya. Ekornya menyabet lagi, tetapi Harry sekarang terlalu tinggi… Dia menyemburkan api ke udara, yang berhasil dihindari Harry… Moncongnya terbuka lebar…

“Ayo,” desis Harry, berayun menggoda di atasnya, “ayo, ayo tangkap aku… bangun sekarang…”

Dan kemudian naga itu bangkit, akhirnya merentangkan sayapnya yang lebar, hitam, dan seperti kulit, selebar sayap pesawat kecil dan Harry menukik. Sebelum si naga tahu apa yang dilakukan Harry, atau ke mana dia menghilang, Harry melesat ke tanah secepat dia bisa, menuju telur-telur yang sekarang tidak dilindungi kaki naga yang bercakar tajam dia sudah melepas tangan dari Firebolt dia berhasil menyambar telur emas…

Dan dengan kecepatan tinggi, dia menyingkir, melayang di atas tribune, telur yang berat itu aman terkepit oleh lengannya yang tidak terluka, dan seakan baru saja ada yang membesarkan volume untuk pertama kalinya Harry menyadari kerasnya teriakan penonton, yang memekik-mekik dan bersorak seriuh sorakan pendukung tim Irlandia dalam Piala Dunia.

“Lihat itu!” teriak Bagman. “Coba lihat itu! Juara termuda kitalah yang paling cepat mendapatkan telurnya! Wah, ini akan mengubah peringkat Mr Potter!”

Harry melihat para pawang naga berlari ke arena untuk menenangkan si Ekor-Berduri, dan di balik lubang masuk arena, Profesor McGonagall, Profesor Moody, dan Hagrid bergegas menyongsongnya, semuanya melambai agar Harry mendatangi mereka, senyum mereka jelas tampak, walaupun dari

kejauhan. Harry kembali terbang di atas tribune, sorakan penonton berdentum menggetarkan gendang telinganya, dan dia mendarat dengan mulus, hatinya terasa lebih ringan daripada selama beberapa minggu belakangan ini… Dia telah berhasil melaksanakan tugas pertamanya, dia selamat…

“Hebat sekali, Potter!” seru Profesor McGonagall saat Harry turun dari. Firebolt-nya-datang dari Profesor McGonagall, itu pujian yang luar biasa. Harry memperhatikan bahwa tangan Profesor McGonagall bergetar ketika menunjuk ke bahunya. “Kau perlu menemui Madam Pomfrey sebelum para juri mengumumkan angkamu… Di sana, dia harus membersihkan luka-luka Diggory…”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.