Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Kau harus masuk ke situ bersama yang lain,” kata Profesor McGonagall dengan suara yang agak bergetar, “dan tunggu giliranmu, Potter. Mr Bagman ada di dalam situ… dia akan memberitahumu…

prosedurnya… Semoga berhasil.”

“Terima kasih,” kata Harry, dengan suara datar yang kedengarannya datang dari jauh. Profesor McGonagall meninggalkannya di pintu tenda. Harry masuk.

Fleur Delacour duduk di sudut di bangku kayu rendah. Dia tidak tampak setenang biasanya, melainkan agak pucat dan berkeringat. Viktor Krum tampak lebih sangar dari biasanya. Menurut dugaan Harry, begitulah caranya menunjukkan ketegangan. Cedric berjalan hilir-mudik. Ketika Harry masuk, Cedric tersenyum kecil kepadanya, yang dibalas Harry. Harry merasakan otot-otot wajahnya kaku, seakan sudah lupa bagaimana caranya tersenyum.

“Harry! Selamat datang!” sambut Bagman riang, berpaling memandangnya. “Masuk, masuk, anggap saja rumah sendiri!”

Bagman tampak bagai tokoh kartun yang kelewat besar, berdiri di tengah para juara yang berwajah pucat. Dia memakai jubah Wasp-nya yang dulu lagi.

“Nah, setelah kalian semua berada di sini… sudah saatnya menjelaskan kepada kalian!” kata Bagman ceria. “Kalau para penonton sudah berkumpul, kantong ini akan kutawarkan kepada kalian” dia mengangkat kantong kecil dari sutra ungu dan mengguncangnya di depan mereka “dari dalamnya kalian masing-masing akan memilih model miniatur benda yang harus kalian hadapi! Soalnya… er… jenis-jenisnya berbeda. Dan aku harus memberitahu kalian satu hal lain lagi… ah, ya… tugas kalian adalah mengambil telur emasnya!”

Harry memandang berkeliling. Cedric mengangguk sekali, untuk menunjukkan bahwa dia memahami kata-kata Bagman, dan kemudian mulai berjalan hilir mudik lagi dalam tenda. Wajahnya pucat. Fleur dan Krum sama sekali tak bereaksi. Mungkin mereka mengira mereka akan muntah jika membuka mulut; begitulah yang Harry rasakan. Tetapi paling tidak, mereka berdua dengan sukarela ikut turnamen ini….

Dan dalam waktu singkat, ratusan pasang kaki terdengar melewati tenda, pemiliknya berbicara dengan bergairah, tertawa-tawa, bergurau… Harry merasa terasing dari para penonton itu, seakan mereka spesies lain. Dan kemudian rasanya cuma sedetik bagi Harry-Bagman membuka kantong sutra itu.

“Wanita lebih dulu,” katanya, mengulurkan kantong itu kepada Fleur Delacour.

Fleur memasukkan tangan yang gemetar ke dalam kantong dan mengeluarkan model naga miniatur yang Sempurna-naga Hijau Wales. Ada angka dua melingkar di lehernya. Dan, melihat Fleur yang tidak menunjukkan tanda-tanda keterkejutan, melainkan tekad pasrah, Harry tahu bahwa dugaannya benar.

Madame Maxime telah memberitahunya apa yang akan dihadapinya.

Hal yang sama terjadi pada Krum. Dia mengeluarkan Bola Api Cina yang berwarna merah. Nomor tiga terkalung di lehernya. Krum bahkan tidak berkedip, hanya duduk lagi dan memandang tanah.

Cedric memasukkan tangan ke dalam kantong, dan menarik naga Moncong-Pendek Swedia berwarna biru abu-abu, dengan nomor satu terkalung di lehernya. Harry memasukkan tangan ke dalam kantong sutra dan mengeluarkan naga Ekor-Berduri Hungaria yang bernomor empat. Naga itu merentangkan sayapnya ketika Harry menunduk memandangnya, dan menyeringai memamerkan taring mininya.

“Nah, begitulah!” kata Bagman. “Kalian masing-masing sudah mengeluarkan naga yang akan kalian hadapi, dan nomor-nomor itu adalah nomor urut kalian untuk menghadapi naga-naga itu. Sebentar lagi aku harus meninggalkan kalian, karena aku yang akan memberi komentar. Mr Diggory, kau yang paling

dulu. Keluarlah langsung ke arena yang sudah dipagari kalau kau mendengar tiupan peluit, oke?

Sekarang… Harry… bisa kita bicara sebentar? Di luar?”

“Er… ya,” kata Harry bengong. Dia bangkit dan keluar dari tenda bersama Bagman, yang mengajaknya berjalan agak menjauh, ke tengah pepohonan, dan kemudian berbalik menghadapinya dengan ekspresi kebapakan pada wajahnya.

“Kau merasa baik-baik saja, Harry? Ada yang bisa kuambilkan?”

“Apa?” kata Harry. “Saya… tidak, tidak ada.”

“Sudah punya rencana?” tanya Bagman, merendahkan suaranya dengan nada berkonspirasi. “Karena aku tak keberatan membagi beberapa petunjuk, kalau kau mau. Maksudku,” Bagman meneruskan, merendahkan suaranya lebih pelan lagi, “kau yang paling lemah, Harry… Kalau ada yang bisa kubantu…”

“Tidak,” kata Harry cepat sekali, dia tahu dia kedengaran tak sopan, “tidak… saya… saya tahu apa yang akan saya lakukan, terima kasih.”

“Tak akan ada yang tahu, Harry,” kata Bagman, mengedip kepadanya.

“Tidak, saya tak apa-apa,” kata Harry, dalam hati heran sendiri, kenapa dia terus mengatakan begini kepada orang-orang, padahal belum pernah rasanya dia separah ini. “Saya sudah membuat rencana, saya…”

Terdengar tiupan peluit dari suatu tempat.

“Astaga, aku harus buru-buru!” kata Bagman kaget, dan dia bergegas pergi.

Harry berjalan kembali ke tenda dan melihat Cedric keluar, lebih pucat dari tadi. Harry berusaha mengucapkan semoga berhasil ketika berpapasan dengannya, tetapi yang keluar dari mulutnya hanyalah semacam dengkur parau.

Dia masuk bergabung dengan Fleur dan Krum. Beberapa saat kemudian mereka mendengar teriakan gemuruh penonton, yang berarti Cedric sudah memasuki arena dan sekarang berhadapan dengan

naganya yang sebenarnya….

Ternyata hanya bisa duduk dan mendengarkan rasanya jauh lebih parah daripada yang bisa dibayangkan Harry. Penonton menjerit… berteriak-teriak… memekik ketakutan, sementara Cedric melakukan entah apa untuk bisa melewati naga Moncong-Pendek Swedia. Crum masih memandang tanah. Fleur sekarang mengikuti jejak Cedric, berjalan hilir-mudik mengelilingi tenda. Dan komentar Bagman membuat segalanya jauh lebih parah… Bayangan-bayangan mengerikan berkelebat, di benak Harry ketika dia mendengar, “Oooh, nyaris saja, sangat nyaris…” “Dia mengambil risiko!…” “Gerakan cerdik-sayang tidak berhasil!”

Dan kemudian, setelah kira-kira lima belas menit, Harry mendengar sorakan gegap gempita memekakkan telinga yang hanya berarti satu hal: Cedric telah berhasil melewati naganya dan mengambil telur emasnya.

“Sungguh bagus sekali!” Bagman berteriak. “Dan sekarang nilai dari para juri!”

Tetapi Bagman tidak meneriakkan angka-angkanya. Harry menduga para juri mengangkat angka-angka itu dan memperlihatkannya kepada penonton.

“Satu selesai, masih ada tiga lagi!” seru Bagman ketika peluit berbunyi lagi. “Miss Delacour, silakan!”

Fleur gemetar dari kepala sampai ke kaki. Harry merasa lebih hangat terhadapnya daripada yang selama ini dirasakannya, ketika Fleur meninggalkan tenda dengan kepala tegak dan tangan mencengkeram tongkat sihirnya. Tinggal Harry dan Krum berdua berseberangan dalam tendam saling menghindari pandangan yang lain,\.

Proses yang sama mulai lagi… “Oh, menurutku itu tidak bijaksana!” mereka bisa mendengar Bagman berteriak riang. “Oh… hampir! Hati-hati sekarang, astaga, kupikir tadi habislah dia!”

Sepuluh menit kemudian, Harry mendengar penonton meledak bersorak lagi… Fleur tentunya telah berhasil juga. Hening sesaat, ketika angka-angka Fleur ditunjukkan… tepuk tangan lagi… dan, untuk ketiga kalinya, tiupan peluit.

“Dan sekarang, inilah Mr Krum!” seru Bagman, dan Krum berjalan bungkuk keluar, meninggalkan Harry sendirian.

Harry merasakan kesadaran akan tubuhnya lebih daripada biasanya. Dia sangat sadar bagaimana jantungnya berdegup keras, dan jari-jarinya dirayapi ketakutan… tetapi, pada saat bersamaan, dia serasa berada di luar tubuhnya, melihat dinding tenda, dan mendengar teriakan gemuruh penonton, seakan dari kejauhan.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.