Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Nah…. Sudah punya ide bagaimana kau akan melewati nagamu?” tanya Moody.

“Belum,” kata Harry.

“Yah, aku tidak akan memberitahumu,” kata Moody tegas. “Aku tidak pilih kasih. Aku cuma mau memberimu nasihat bagus yang umum. Dan yang pertama adalah gunakan kekuatanmu.”

“Saya tak punya kekuatan,” celetuk Harry sebelum bisa menahan diri.

“Maaf?” kata Moody menggeram. “Kau punya kekuatan kalau aku bilang kau punya. Pikirkan sekarang.

Kau paling mahir dalam hal apa?”

Harry berusaha berkonsentrasi. Dia paling mahir dalam hal apa? Yah, itu sih gampang sebetulnya…

“Quidditch,” katanya bingung, “dan apa gunanya…”

“Betul,” kata Moody, memandangnya tajam sekali, mata gaibnya nyaris tak bergerak. “Kau penerbang yang luar biasa, kudengar.”

“Yeah, tetapi…” Harry menatapnya. “Saya tak diizinkan membawa sapu. Saya cuma membawa tongkat…”

“Nasihat umumku yang kedua,” kata Moody keras, menyelanya, “adalah gunakan mantra sederhana yang memungkinkan kau mendapatkan yang kau butuhkan.”

Harry menatapnya bengong. Apa yang dibutuhkannya?

“Ayolah, Nak….” bisik Moody. “Gabungkan keduanya… tidak terlalu sulit…

Dan Harry seakan mendapat pencerahan. Dia jago terbang. Dia perlu melewati naga itu lewat udara.

Untuk itu, dia memerlukan Firebolt. Dan untuk mendapatkan Firebolt, dia membutuhkan… “Hermione,”

Harry berbisik, ketika dia secepat kilat ke Rumah Kaca tiga menit kemudian, seraya mengumumkan permintaan maaf buru-buru kepada Profesor Sprout ketika melewatinya. “Hermione… aku perlu bantuanmu.”

“Menurutmu apa yang selama ini kucoba lakukan, Harry?” Hermione balas berbisik, matanya membulat cemas di atas semak Flutterby yang sedang dipangkasnya.

“Hermione, aku harus sudah menguasai Mantra panggil dengan baik besok sore.” Maka mereka pun berlatih. Mereka tidak makan siang, melainkan langsung ke kelas kosong. Di kelas itu Harry mencoba sekuat tenaga membuat berbagai benda terbang menyeberangi ruangan ke arahnya. Dia masih

kesulitan. Buku dan pena bulu berulang-ulang jatuh ke lantai seperti batu ketika baru setengah jalan menyeberangi ruangan.

“Konsentrasi, Harry, konsentrasi…”

“Menurutmu apa yang sedang kulakukan?” balas Harry gusar. “Naga raksasa entah kenapa tak hentinya muncul di benakku… Oke, coba lagi …”

Dia ingin membolos Ramalan untuk meneruskan latihan, tetapi Hermione menolak mentah-mentah meninggalkan Arithmancy, dan tak ada gunanya berlatih tanpa dia. Harry terpaksa menahan diri selama pelajaran Profesor Trelawney, yang menghabiskan lebih setengah jam pelajaran memberitahu muridmuridnya bahwa posisi Mars dalam hubungannya dengan Saturnus pada saat itu berarti bahwa orang yang lahir pada bulan Juli menghadapi bahaya besar meninggal mendadak secara mengerikan.

“Bagus, kalau begitu,” kata Harry keras-keras, kemarahannya meledak, “asal tidak berlama-lama saja aku tak mau menderita.”

Sekejap Ron tampaknya akan tertawa. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari ini matanya

bertatapan dengan mata Harry, tetapi Harry masih merasa jengkel sekali dengan Ron sehingga dia tak peduli. Dia menghabiskan sisa jam pelajaran dengan berusaha menarik benda-benda kecil ke arahnya di bawah meja menggunakan tongkat sihirnya. Dia berhasil membuat seekor lalat meluncur langsung ke tangannya, meskipun dia tak sepenuhnya yakin itu berkat kelihaiannya menggunakan Mantra Panggil…

mungkin si lalat saja yang bodoh.

Dia memaksa diri menelan makan malam setelah pelajaran Ramalan, kemudian kembali ke kelas kosong bersama Hermione, memakai Jubah Gaib untuk menghindari para guru. Mereka berlatih sampai lewat tengah malam. Mereka akan tinggal lebih lama, tetapi Peeves muncul, dan berpura-pura mengira Harry ingin dilempari barang-barang, Peeves mulai melempar-lempar kursi ke seberang ruangan. Harry dan Hermione buru-buru pergi sebelum kebisingan itu menarik perhatian Filch. Mereka kembali ke ruang rekreasi Gryffindor, yang untungnya sudah kosong.

Pukul dua dini hari, Harry berdiri di dekat perapian, dikelilingi oleh tumpukan benda-benda: buku-buku, pena-pena bulu, beberapa kursi terbalik, satu set Gobstones usang, dan katak Neville, si Trevor. Baru sejam yang lalu Harry betul-betul menguasai Mantra Panggil.

“Itu lebih baik, Harry, jauh lebih baik,” kata Hermione, tampak lelah tetapi sangat senang.

“Yah, sekarang kita tahu apa yang harus kita lakukan lain kali kalau aku tak bisa menguasai mantra,”

kata Harry, melemparkan kembali Kamus Rune kepada Hermione, supaya dia bisa mencoba lagi. “Ancam aku dengan naga. Baik…” Dia mengangkat tangannya sekali lagi. “Accio Dictionary!”

Buku tebal itu melesat dari tangan Hermione, terbang menyeberangi ruangan, dan Harry menangkapnya.

“Harry, menurutku kau sudah menguasainya!” kata Hermione riang.

“Asal besok bisa berhasil saja,” ujar Harry. “Fireboltku jaraknya sangat lebih jauh daripada barang-barang di sini. Dia ada di kastil, sedangkan aku di lapangan…”

“Tak jadi soal,” kata Hermione tegas. “Asal kau berkonsentrasi benar-benar pada sapumu, dia akan datang. Harry, lebih baik kita tidur sebentar… kau perlu tidur.

Harry berlatih keras menguasai Mantra Panggil malam itu, sehingga sebagian kepanikannya telah meninggalkannya. Tetapi paginya kepanikan itu muncul lagi sepenuhnya. Suasana di sekolah penuh ketegangan dan kegairahan. Pelajaran dihentikan pada tengah hari, agar anak-anak punya cukup waktu untuk pergi ke tempat penampungan naga meskipun tentu saja mereka tak tahu apa yang akan mereka temukan di sana.

Harry merasa terpisah dari semua anak di sekitar nya, baik yang mengharapkan agar dia berhasil mau pun yang mendesis mencemoohnya, “Kami akan menyiapkan sekotak tisu, Potter,” ketika dia lewat.

Ketegangannya begitu besar, sehingga dia membatin apakah dia tidak akan hilang akal ketika mereka membawanya ke naganya, dan mulai mengutuk semua orang yang dilihatnya. Waktu seolah berjalan ngebut, sehingga tadi rasanya dia masih duduk ikut pelajaran pertama, Sejarah Sihir, lalu tiba-tiba saja sudah berjalan untuk makan siang… dan kemudian (ke mana pergi nya waktu? Jam-jam terakhir tanpa-naga?), Profesor McGonagall bergegas menjumpainya di Aula Besar. Banyak anak yang mengawasi mereka.

“Potter, para juara harus turun ke halaman sekarang… Kau harus bersiap untuk menghadapi tugas pertamamu.”

“Baiklah,” kata Harry, bangkit, garpunya terjatuh ke piringnya dengan bunyi dentang keras.

“Semoga sukses, Harry,” bisik Hermione. “Kau akan baik-baik saja!”

“Yeah,” kata Harry, dalam suara yang sama sekali tidak seperti suaranya.

Dia meninggalkan Aula Besar bersama Profesor McGonagall. Profesor McGonagall juga tidak seperti biasanya. Dia bahkan tampak sama cemasnya dengan Hermione. Ketika menemani Harry menuruni

undakan batu dan keluar memasuki udara sore November yang dingin, dia meletakkan tangan di bahu Harry.

“Jangan panik, ya,” katanya, “tetaplah berkepala dingin… Kita punya para penyihir yang siap bertindak jika situasi tak terkendali lagi… Yang paling utama adalah lakukan sebaik kau bisa, dan tak akan ada yang menyalahkanmu… Kau baik-baik saja?”

“Ya, Harry mendengar dirinya menjawab. “Ya, saya baik-baik saja.”

Profesor McGonagall membawanya ke tempat para naga, di tepi hutan. Tetapi ketika mereka mendekati kerumunan pepohonan, yang dari belakangnya pagar bisa kelihatan; Harry melihat di situ sudah didirikan tenda. Jalan masuknya menghadap mereka, menghalangi naga-naga itu dari pandangan.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.