Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Kelihatannya rencana yang bagus sekali,” kata Harry, menyeringai suram. “Mereka tinggal mundur saja dan membiarkan naga-naga itu melakukan tugas mereka.”

“Betul… naga-naga ini,” kata Sirius, bicaranya cepat sekarang. “Ada satu cara, Harry. Jangan tergoda menggunakan Mantra Bius naga kuat dan terlalu gaib untuk bisa dijatuhkan dengan satu Mantra Bius.

Diperlukan sekitar setengah lusin penyihir yang bersamaan meluncurkan mantra untuk menaklukkan seekor naga…”

“Yeah, aku tahu, aku baru saja melihatnya,” kata Harry.

“Tetapi kau bisa melakukannya sendiri,” kata Sirius. “Ada satu jalan, dan satu mantra sederhana yang kau perlukan. Kau tinggal…”

Tetapi Harry mengangkat tangan, menyuruhnya diam. Jantungnya berdebur keras sekali, seakan dadanya mau meledak. Dia bisa mendengar langkah-langkah menuruni tangga spiral di belakangnya.

“Pergilah!” dia mendesis kepada Sirius. “Pergilah! Ada orang datang!” Harry buru-buru bangun, menutupi perapian. Kalau sampai ada yang melihat wajah Sirius di dalam tembok Hogwarts, mereka akan bikin ribut-Kementerian akan terbawa-bawa dia, Harry, akan ditanyai tentang keberadaan Sirius…

Harry mendengar bunyi pop pelan dari api di belakangnya dan tahu Sirius telah pergi. Dia melihat ke dasar tangga spiral. Siapa yang telah memutuskan untuk berjalan-jalan pada pukul satu dinihari dan mencegah Sirius memberitahunya bagaimana caranya melewati naga?

Ternyata Ron. Memakai piama merah tuanya, Ron berhenti mendadak begitu berhadapan dengan Harry di seberang ruangan, dan memandang berkeliling.

“Kau bicara dengan siapa?” tanya Ron.

“Apa urusannya denganmu?” tukas Harry ketus. “Mau apa kau turun jam begini?”

“Aku cuma ingin tahu di mana kau….” kata-kata Ron terputus, dia mengangkat bahu. “Tak apa-apa. Aku akan kembali ke tempat tidur.”

“Kau mau menyelidiki, kan?” Harry berteriak. Harry tahu Ron sama sekali tak tahu apa yang telah digagalkannya, tahu Ron tidak sengaja, tetapi dia tak peduli pada saat ini dia benci segalanya tentang Ron, termasuk beberapa senti pergelangan kakinya yang tampak di bawah pipa piamanya.

“Sori deh,” kata Ron, wajahnya merah padam karena marah. “Mestinya aku menyadari kau tak mau diganggu. Silakan meneruskan latihan untuk wawancara berikutnya dengan tenang.”

Harry menyambar salah satu lencana POTTER BENAR-BENAR BAU dari meja dana melemparnya sekuat tenaga ke seberang ruangan. Lencana itu menghantam dahi Ron dan melenting jatuh.

“Nah, itu buatmu,” kata Harry. “Untuk kau pakai hari Selasa. Kau mungkin punya bekas luka sekarang, kalau kau beruntung… Itu yang kauinginkan kan?”

Harry menyeberang ruangan menuju tangga. Dia setengah berharap Ron menghentikannya. Dia bahkan ingin Ron meninjunya, tetapi Ron berdiri diam dalam piamanya yang kekecilan. Dan Harry, setelah menghambur ke atas, terbaring lama di tempat tidurnya sambil menggerutu dan tidak mendengar Ron naik ke tempat tidurnya.

 

Bab 20:

TUGAS PERTAMA

HARRY terbangun pada hari Minggu pagi dan berpakaian tanpa memperhatikan sama sekali, sehingga baru beberapa saat kemudian dia sadar dia berusaha memasukkan kaki ke topinya, bukannya ke kaus kakinya. Ketika akhirnya dia berhasil melekatkan pakaiannya ke bagian-bagian tubuhnya yang benar, dia bergegas mencari Hermione. Ditemukannya Hermione di meja Gryffindor di Aula Besar, sedang sarapan bersama Ginny. Merasa mual sehingga tak ingin makan, Harry menunggu sampai Hermione menelan suapan terakhir buburnya, kemudian menariknya ke halaman. Di sana dia menceritakan tentang keempat naga, tentang segalanya yang diucapkan Sirius, sementara mereka berjalan mengitari danau.

Walaupun mencemaskan peringatan Sirius tentang Karkaroff, Hermione tetap berpendapat bahwa naga-naga itu persoalan yang lebih mendesak.

“Kita berusaha saja agar kau tetap hidup sampai Selasa malam,” katanya putus asa, “dan baru sesudah itu kita mencemaskan Karkaroff.”

Mereka berjalan mengelilingi danau tiga kali, berusaha mencari mantra sederhana yang bisa menjinakkan naga. Tetapi tak satu pun terpikirkan oleh mereka maka mereka ganti ke perpustakaan. Di sana Harry menurunkan semua buku tentang naga yang bisa ditemukannya, dan keduanya mulai bekerja, mencari dari tumpukan besar itu.

“Menggunting kuku cakar dengan mantra… mengobati luka sisik… Percuma saja, ini cocoknya buat orang aneh seperti Hagrid yang ingin naga peliharaannya sehat…”

“Naga sangat susah dibantai, mengingat kegaiban kuno mengaruniai mereka kulit yang tebal, yang hanya bisa ditembus oleh mantra-mantra yang paling kuat… Tetapi Sirius mengatakan mantra sederhana bisa manjur…”

“Kalau begitu kita tengok buku-buku mantra sederhana,” kata Harry, melempar buku Orang yang Terlalu Mencintai Naga.

Dia kembali ke meja membawa setumpuk buku mantra, menaruhnya, dan mulai membalik halamannya satu demi satu. Hermione tak hentinya berbisik di sikunya.

“Nah, itu Mantra Pengganti… tapi apa gunanya menggantinya? Kecuali kau mengganti taringnya dengan permen karet atau sesuatu yang lain yang membuatnya kurang berbahaya… Sulitnya, seperti dikatakan buku ini, tak banyak yang bisa menembus kulit naga… Aku akan menyarankan men-Transfigurasi-nya,

tetapi binatang sebesar itu, kau tak punya harapan. Bahkan Profesor McGonagall pun aku ragu bisa melakukannya, kecuali kau memantrai dirimu sendiri? Mungkin untuk memberimu kekuatan ekstra?

Tetapi mantra itu tidak sederhana, maksudku, kita belum mempelajari mantra-mantra begitu di kelas.

Aku tahu tentang itu karena aku telah mengerjakan soal-soal latihan OWL…”

“Hermione” tukas Harry mengertak gigi, “tolong diam sebentar. Aku sedang berusaha berkonsentrasi.”

Tetapi yang terjadi setelah Hermione diam adalah otak Harry dipenuhi dengung kosong, yang rupanya tak memberi lowongan untuk berkonsentrasi. Harry memandang putus asa buku Sihir Dasar untuk yang Sibuk dan Sakit Hati: Pengulitan kepala dalam sekejap… tetapi naga tak punya rambut… napas merica…

ini mungkin malah menambah kekuatan penyemburan api si naga… lidah tanduk… persis yang diperlukan si naga, untuk memberinya senjata ekstra…

“Oh, tidak, dia ke sini lagi, kenapa sih dia tidak membaca dikapalnya sendiri?” ujar Hermione jengkel ketika Viktor Krum berjalan agak bungkuk masuk, melempar pandang masam ke arah mereka berdua, dan mendudukkan diri di sudut yang jauh, dengan setumpuk buku. “Ayo, Harry, kita kembali ke ruang rekreasi… fan club-nya akan muncul setiap saat, berkicau bising…”

Benar saja, ketika mereka meninggalkan perpustakaan, serombongan anak perempuan berpapasan dengan mereka, salah satunya memakai syal Bulgaria yang diikatkan ke pinggangnya.

Harry nyaris tidak tidur malam itu. Saat terbangun pada hari Senin paginya, dia mempertimbangkan dengan serius, untuk pertama kalinya, kemungkinan kabur dari Hogwarts. Tetapi ketika memandang berkeliling Aula Besar saat sarapan, dan memikirkan apa artinya meninggalkan kastil, Harry tahu dia tak bisa melakukannya. Di sini satu-satunya tempat dia pernah bahagia… yah, tentunya dia berbahagia bersama orangtuanya, tetapi dia tak bisa mengingatnya.

Bagaimanapun, menyadari bahwa dia lebih memilih berada di sini dan menghadapi naga daripada kembali ke Privet Drive bersama Dudley, membuatnya sedikit lebih tenang. Dia menghabiskan daging asapnya dengan susah payah (kerongkongannya tak berfungsi dengan baik), dan ketika dia dan Hermione bangkit, dia melihat Cedric Diggory meninggalkan meja Hufflepuff.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.