Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

Naga.

Empat naga raksasa bertampang mengerikan sedang berdiri di atas kaki belakang mereka, dalam lapangan yang dipagari papan-papan tebal, menggerung dan mendengus-dengus-kobaran api menyembur ke langit gulita dari mulut mereka yang terbuka dan bertaring, lima belas meter di atas tanah, pada leher mereka yang terjulur. Salah satu naga berwarna biru-keperakan, dengan dua tanduk panjang runcing, mengatup-ngatupkan rahang dan menggeram pada para penyihir di tanah. Satu lagi naga hijau bersisik halus, yang menggeliat dan mengentak-entak tanah sekuat tenaga. Yang ketiga naga merah dengan sirip keemasan mengelilingi mukanya, menyemburkan api berbentuk jamur ke udara, dan yang terakhir naga hitam raksasa, yang bentuknya lebih menyerupai kadal dibanding yang lain, dan berdiri paling dekat dengan mereka.

Paling sedikit tiga puluh penyihir, tujuh atau delapan untuk masing-masing naga, sedang berusaha mengendalikan mereka, menarik rantai yang dihubungkan ke tali kulit yang terlilit di leher dan kaki-kaki mereka. Terpesona, Harry menengadah, jauh ke atasnya, dan melihat mata si naga hitam, dengan pupil tegak seperti kucing, membelalak entah karena berang atau ketakutan, Harry tak bisa memastikan…

Naga hitam itu mengeluarkan suara mengerikan, jeritan melolong dan menciut-ciut….

“Diam di situ saja, Hagrid!” teriak seorang penyihir di dekat pagar, bersusah payah bertahan memegangi talinya yang tegang. “Mereka bisa menyemburkan api sampai sejauh enam meter! Aku pernah melihat si ekor berduri ini menyemburkan api sejauh dua belas meter!”

“Bagus sekali, ya?” kata Hagrid pelan.

“Tak ada gunanya!” teriak penyihir yang lain. “Mantra Bius, pada hitungan ketiga!”

Harry melihat masing-masing pawang naga mencabut tongkat sihir mereka.

“Stupefy!” mereka berteriak bersamaan, dan Mantra Bius meluncur dalam kegelapan seperti roket berapi, membuncah menjadi hujan bintang pada kulit bersisik keempat naga itu….

Harry memandang naga yang paling dekat dengan mereka bergoyang berbahaya pada kaki belakangnya, rahangnya terbuka lebar dalam lolongan tanpa suara; lubang hidungnya mendadak tak berapi lagi, meskipun masih berasap… kemudian, perlahan, naga itu jatuh. Naga hitam berotot, bersisik, seberat beberapa ton, menghantam tanah dengan bunyi debam yang membuat pohon-pohon di belakangnya bergetar.

Para penjaga naga menurunkan tongkat mereka dan maju mendekati binatang-binatang asuhan mereka yang telah tumbang, yang masing-masing mengonggok sebesar bukit kecil. Mereka bergegas mengencangkan rantai-rantainya dan mengikatkannya pada pasak-pasak kayu yang mereka tancapkan dalam-dalam ke tanah dengan tongkat sihir mereka.

“Mau lihat lebih dekat?” Hagrid menanyai Madame Maxime dengan bergairah. Pasangan itu bergerak ke pagar, dan Harry mengikuti. Penyihir yang tadi memperingatkan Hagrid agar tidak mendekat berpaling, dan Harry menyadari siapa dia: Charlie Weasley.

“Kau baik-baik saja, Hagrid?” sapanya tersengal, mendekat untuk bicara. “Mereka mestinya oke sekarang… kami membuat mereka tertidur dengan Ramuan Tidur dalam perjalanan kemari. Kami pikir lebih baik bagi mereka jika terbangun dalam kegelapan dan kesunyian… tetapi seperti yang tadi kau lihat, mereka tidak senang, sama sekali tidak senang…”

“Naga jenis apa itu, Charlie?” kata Hagrid, memandang naga terdekat, si naga hitam, dengan pandangan nyaris penuh hormat. Mata si naga masih terbuka sedikit. Harry bisa melihat segaris kilau kuning di bawah pelupuk matanya yang berlipat.

“Ini naga Ekor-Berduri Hungaria,” kata Charlie. “Itu naga Hijau Wales, yang lebih kecil. Moncong-Pendek Swedia, yang biru abu-abu itu, dan yang merah itu Bola Api Cina.”

Charlie memandang berkeliling. Madame Maxime sedang berjalan mengeilingi pagar, memandang naga-naga yang tertidur.

“Aku tak tahu kau akan membawa wanita itu Hagrid,” kata Charlie, mengernyit. “Para juara tak boleh tahu apa yang akan mereka hadapi dia pasti akan memberitahu muridnya, kan?”

“Kupikir dia akan senang lihat mereka,” kata Hagrid, masih terkesima memandang para naga.

“Sungguh kencan yang romantis, Hagrid,” kata Charlie, menggelengkan kepala.

“Empat….” kata Hagrid, “jadi satu untuk masing-masing juara, kan? Apa yang harus mereka lakukan? melawan naga-naga itu?”

“Cuma melewati mereka, kurasa,” kata Charlie. “Kami siap berjaga kalau-kalau si naga jadii galak. Siap meluncurkan Mantra Pemadam. Mereka menginginkan induk naga yang sedang mengerami telurnya. Aku tak tahu kenapa… tetapi satu hal aku pasti, aku tidak ini pada yang dapat si Ekor-Berduri ini. Ganas sekali. Bagian belakangnya sama berbahayanya dengan depannya, lihat.”

Charlie menunjuk ekor si naga, dan Harry melihat paku-paku besar panjang berwarna perunggu bermunculan di sepanjang ekor, masing-masing berjarak sekitar lima belas senti.

Lima kawan Charlie terhuyung mendekati si Ekor-Berduri, membawa segunduk telur granit raksasa di atas selimut. Dengan hati-hati mereka meletakkan telur-telur itu di sebelah si Ekor-Berduri. Hagrid mengeluarkan keluh penuh kerinduan.

“Sudah kuhitung, Hagrid,” kata Charlie galak. Kemudian dia bertanya, “Bagaimana kabar Harry?”

“Baik,” kata Hagrid. Dia masih memandang telur-telur itu.

“Mudah-mudahan saja dia masih tetap baik setelah menghadapi naga-naga ini,” kata Charlie muram, memandang melewati pagar. “Aku tak berani memberitahu Mum apa yang harus dihadapi Harry dalam tugas pertamanya. Mum sudah sangat mencemaskannya…” Charlie menirukan suara cemas ibunya.

“Bagaimana mungkin mereka mengizinkannya ikut turnamen, dia masih terlalu muda! Kupikir mereka semua aman, kupikir akan ada batas umur!” Dia langsung banjir air mata setelah membaca artikel tentang Harry di Daily Prophet. “Dia masih menangisi orangtuanya! Oh, kasihan sekali, aku tak pernah tahu!”

Sudah cukup bagi Harry. Dia yakin Hagrid tidak akan kehilangan dia, ada empat naga menarik dan Madame Maxime yang akan menyibukkannya. Tanpa suara Harry berbalik dan berjalan kembali ke kastil.

Dia tak tahu apakah dia senang telah melihat apa yang akan dihadapinya. Mungkin dengan begini lebih baik. Shock pertama sudah berakhir sekarang. Mungkin kalau dia baru melihat naga-naga itu untuk pertama kalinya pada hari Selasa, dia akan langsung pingsan di hadapan seluruh sekolah… tapi mungkin saja dia tetap akan pingsan… Dia akan dipersenjatai dengan tongkat sihirnya yang saat ini, rarsanya tak lebih dari sepotong kayu tipis untuk menghadapi naga setinggi lima belas meter, bersisik, berduri, dan bernapaskan api. Dan dia harus melewatinya. Ditonton semua orang. Bagaimana caranya?

Harry bergegas, mengitari tepi hutan. Dia tinggal punya waktu kurang dari lima belas menit untuk kembali ke perapian dan bicara dengan Sirius, dan seingatnya, tak pernah dia ingin sekali bicara dengan seseorang seperti ini. Mendadak, tanpa peringatan, dia menabrak sesuatu yang sangat kokoh.

Harry terjengkang, kacamatanya miring. Dicengkeramnya jubahnya erat-erat menutupinya. Suara di dekatnya berkata, “Ouch! Siapa itu?”

Buru-buru Harry memastikan jubahnya menyelubungi seluruh tubuhnya dan dia berbaring bergeming, memandang sosok penyihir yang ditabraknya. Dia mengenali jenggot kambingnya… Karkaroff.

“Siapa itu?” tanya Karkaroff lagi, dengan sangat curiga memandang berkeliling dalam kegelapan. Harry tetap diam tak bergerak. Setelah kira-kira semenit, Karkaroff rupanya memutuskan bahwa dia telah menabrak semacam binatang. Dia memandang berkeliling setinggi pinggangnya, seakan mengharap melihat anjing. Kemudian dia merayap kembali ke balik pepohonan dan mulai berindap ke arah para naga.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.