Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Lihat, itu Hagrid!” kata Hermione.

Bagian belakang kepala Hagrid yang berambut lebat-untunglah dia sudah tidak berkuncir lagi, menyembul di atas kepala orang-orang lain. Harry heran kenapa dia tidak melihatnya sejak tadi, Hagrid kan besar sekali. Tetapi setelah Harry hati-hati berdiri, dia melihat bahwa Hagrid membungkuk rendah, berbicara kepada Profesor Moody. Seperti biasa Hagrid menghadapi cangkir besar sekali, tetapi Moody minum dari tempat minum yang tergantung di pahanya, Madam Rosmerta, pemilik rumah minum yang cantik, rupanya tidak begitu setuju. Dia menatap Moody dengan pandangan mencela, seraya mengumpulkan gelas-gelas dari meja-meja di sekitar mereka. Mungkin dia menganggap ini penghinaan bagi mead panasnya, tetapi Harry tahu alasannya. Moody telah memberitahu mereka semua dalam pelajaran Pertahanan terhadap Ilmu Hitam yang terakhir, bahwa dia lebih suka menyiapkan makanan dan minumannya sendiri sepanjang waktu, karena mudah bagi penyihir hitam untuk meracuni cangkir yang tak ditunggui.

Sementara Harry mengawasi, Hagrid dan Moody bangkit untuk pergi. Dia melambai, kemudian ingat bahwa Hagrid tidak bisa melihatnya. Meskipun demikian Moody berhenti, mata gaibnya tertuju ke sudut tempat Harry berdiri. Dia mengetuk pinggang Hagrid (karena tak bisa mencapai bahunya), menggumamkan sesuatu kepadanya, dan keduanya berjalan ke bagian belakang ruangan, menuju ke meja Harry dan Hermione.

“Baik-baik saja, Hermione?” sapa Hagrid keras-keras.

“Hallo,” balas Hermione, tersenyum.

Moody terpincang-pincang mengelilingi meja dan membungkuk. Harry mengira dia membaca buku catatan SPEW, sampai dia bergumam, “Jubah bagus, potter.”

Harry menatapnya keheranan. Bagian hidung Moody yang hilang tampak jelas sekali di wajahnya yang hanya berjarak beberapa senti dari Harry. Moody menyeringai.

“Bisakah mata Anda-maksud saya, bisakah Anda…?”

“Yeah, mataku bisa melihat menembus Jubah Gaib,” kata Moody pelan. “Dan sudah terbukti sangat berguna kadang-kadang.”

Hagrid menunduk, tersenyum kepada Harry juga. Harry tahu Hagrid tak bisa melihatnya, tetapi Moody rupanya telah memberitahu Hagrid bahwa ada Harry di situ. Hagrid sekarang menunduk, berpura-pura membaca catatan SPEW juga, dan berbisik pelan sekali, sehingga cuma Harry yang bisa mendengarnya,

“Harry, temui aku tengah malam nanti di pondokku. Pakai jubah ini.”

Seraya menegakkan diri, Hagrid berkata keras, “Senang ketemu kau, Hermione,” mengedip, lalu pergi.

Moody mengikutinya.

“Kenapa Hagrid ingin aku menemuinya tengah malam?” ujar Harry keheranan.

“Begitu?” kata Hermione, tercengang. “Apa ya maunya? Aku tak tahu apakah kau sebaiknya pergi, Harry…” Dengan cemas Hermione memandang berkeliling dan mendesis, “Kau bisa telat bertemu Sirius.”

Memang betul, menemui Hagrid di tengah malam bisa berarti waktunya menemui Sirius sempit sekali Hermione menyarankan Harry mengirim Hedwig ke Hagrid untuk memberitahunya bahwa dia tak bisa datang-dengan pengandaian Hedwig mau mengantar surat pemberitahuan itu, tentu. Meskipun demikian Harry berpikir lebih baik dia datang dan cepat-cepat menyelesaikan apa yang diinginkan Hagrid. Dia sangat penasaran. Hagrid belum pernah memintanya mengunjunginya selarut itu. Pukul setengah dua belas malam itu, Harry, yang telah berpura-pura pergi tidur lebih awal, mengerudungkan Jubah Gaib ke tubuhnya dan merayap turun ke ruang rekreasi. Cuma tinggal beberapa anak di sana. Kakak-beradik Creevey telah berhasil mendapatkan setumpuk lencana DUKUNGLAH CEDRIC DIGGORY! dan sedang berusaha menyihir lencana-lencana itu agar tulisannya berubah menjadi DUKUNGLAH HARRY POTTER!

Tetapi sejauh ini yang berhasil mereka lakukan barulah memunculkan tulisan POTTER BAU. Harry mengendap melewati mereka, menuju ke lubang lukisan dan menunggu selama kira-kira semenit sambil memandang arlojinya. Kemudian Hermione membukakan si Nyonya Gemuk dari luar seperti yang sudah direncanakan. Harry menyelinap melewati Hermione sambil membisikkan, “Terima kasih!” dan meninggalkan kastil.

Halaman gelap gulita. Harry menyeberangi padang rumput menuju sinar lampu yang menyala dalam pondok Hagrid. Kereta Beauxbatons juga masih terang. Harry bisa mendengar Madame Maxime berbicara di dalam keretanya ketika dia mengetuk pintu Hagrid.

“Kaukah itu, Harry?” bisik Hagrid, seraya membuka pintu dan memandang berkeliling.

“Yeah, kata Harry, menyelinap masuk ke dalam pondok dan menarik lepas Jubah Gaib dari kepalanya.

“Ada apa?”

“Ada yang mau kutunjukkan padamu,” ujar Hagrid.

Hagrid tampak bergairah sekali. Dia memakai bunga yang seperti kol di lubang kancingnya. Kelihatannya dia sudah tidak menggunakan minyak pelumas, tetapi jelas dia berusaha menyisir rambutnya, Harry bisa melihat patahan gigi-gigi sisir tersangkut di rambutnya.

“Apa yang mau kautunjukkan padaku” tanya Harry waspada, bertanya-tanya dalam hati kalau-kalau Skrewt telah bertelur, atau Hagrid telah berhasil membeli anjing berkepala tiga yang lain dari orang asing di rumah minum.

“Ikut aku, jangan bicara, dan tutupi tubuhmu dengan jubah itu,” kata Hagrid. “Kita tidak akan ajak Fang, dia tak akan suka…”

“Dengar, Hagrid, aku tak bisa tinggal lama… aku harus berada kembali di kastil pukul satu…”

Tetapi Hagrid tidak mendengarkan. Dia membuka pintu pondoknya dan melangkah ke dalam kegelapan malam. Harry bergegas mengikutinya, dan betapa herannya dia, Hagrid ternyata membawanya ke kereta Beauxbatons.

“Hagrid apa‚Ķ?”

“Shhh!” kata Hagrid, dan dia mengetuk tiga kali pada pintu yang bergambar tongkat emas bersilang.

Madame Maxime membukanya. Dia memakai syal sutra yang dililitkan ke bahunya yang besar. Dia tersenyum ketika melihat Hagrid.

“Ah, ‘Agrid… sudah waktunya?”

“Tempat pembuangan air,” kata Hagrid, tersenyum kepadanya, dan mengulurkan tangan untuk membantu Madame Maxime menuruni tangga emas.

Madame Maxime menutup pintu di belakangnya. Hagrid menawarkan lengannya, dan mereka berjalan mengelilingi tepi padang rumput tempat beristirahat kuda-kuda bersayap raksasa milik Madame Maxime, dengan Harry, yang tak habis heran, berlarian untuk bisa mengimbangi mereka. Hagrid kan bisa bertemu Madame Maxime kapan saja dia mau… perempuan itu besar sekali sehingga gampang dilihat…

Tetapi rupanya Madame Maxime akan mendapat hadiah yang sama dengan Harry, karena setelah

beberapa saat dia berkata dengan main-main, “Apa yang ingin kau tunjukkan padaku, ‘Agrid?”

“Kau akan nikmati ini,” kata Hagrid keras, “layak dilihat, percayalah padaku. Cuma… jangan bilang siapa-siapa kutunjukkan ini padamu, oke? Kau harusnya tak boleh tahu.”

“Tentu saja tidak,” kata Madame Maxime, mengedip

ngedipkan matanya yang berbulu mata hitam panjang.

Dan mereka masih terus berjalan. Harry makin lama makin jengkel ketika berjalan membuntuti mereka, berkali-kali mengecek arlojinya. Hagrid punya rencana gila, yang bisa menyebabkannya kehilangan kesempatan bertemu Sirius. Kalau mereka tidak segera tiba di tempat tujuan, Harry akan berbalik, kembali ke kastil, dan meninggalkan Hagrid menikmati berjalan-jalan berdua dengan Madame Maxime di bawah sinar bulan purnama….

Tetapi kemudian ketika mereka telah berjalan mengelilingi tepi Hutan-Terlarang sampai kastil dan danau tak kelihatan lagi, Harry mendengar sesuatu. Beberapa pria berteriak-teriak… kemudian terdengar gerung keras memekakkan telinga…

Hagrid menggandeng Madame Maxime mengitari sekelompok pepohonan, dan berhenti. Harry bergegas mendekati mereka, sekejap dia mengira dia melihat api unggun, dan orang-orang berlarian di sekelilingnya, kemudian mulutnya ternganga.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.