Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Kau ditunggu burung hantu,” kata Ron singkat begitu Harry masuk. Ron menunjuk ke bantal Harry.

Burung hantu serak milik sekolah sedang menunggunya di situ.

“Oh… betul,” kata Harry.

“Dan kita harus menjalani detensi besok malam, ruang bawah tanah Snape,” kata Ron.

Dia kemudian langsung keluar ruangan, tanpa memandang Harry. Sesaat Harry berniat mengejarnya dia tak yakin apakah dia ingin bicara dengannya atau memukulnya, dua-duanya menarik tetapi godaan jawaban Sirius sangat kuat. Harry melangkah mendekat burung hantu itu, mengambil surat dari kakinya, dan membuka gulungannya.

Harry,

Aku tak bisa mengatakan semua yang ingin kukatakan di dalam surat, terlalu riskan, siapa tahu hantunya ditangkap. Kita harus bicara langsung. Bisakah kau pastikan kau sendirian di depan perapian Menara Gryffindor pukul satu dinihari pada tanggal 22 November?

Aku tahu lebih daripada siapa pun bahwa kau bisa menjaga dirimu, dan selagi kau berada di dekat Dumbledore dan Moody, kurasa tak seorang pun bisa mencederaimu. Meskipun demikian, rupanya ada orang yang sedang berusaha keras. Mendaftarkan namamu dalam turnamen itu sangat riskan, apalagi di bawah hidung Dumbledore.

Waspadalah selalu, Harry. Aku masih tetap ingin mendengar apa saja yang tidak biasa. Kabari aku tentang 22 November secepatnya.

Sirius

 

Bab 19:

NAGA EKOR BERDURI HUNGARIA

PROSPEK akan berbicara langsung dengan Sirius adalah satu-satunya hal yang menopang Harry selama dua minggu berikutnya, satu-satunya bintik cerah di kaki langit yang belum pernah sepekat itu. Shock gara-gara dirinya terpilih menjadi juara sekolah sudah mulai agak memudar sekarang, dan ketakutan akan apa yang harus dihadapinya, mulai disadarinya. Tugas pertama sudah semakin dekat. Harry merasa tugas pertama itu sudah meringkuk di depannya seperti monster, mengerikan, menghalangi jalannya. Dia belum pernah setegang ini, ketegangannya jauh melampaui apa yang dirasakannya sebelum pertandingan Quidditch, bahkan juga pertandingan terakhirnya melawan Slytherin, yang menentukan siapa yang akan memenangkan Piala Quidditch. Sulit sekali bagi Harry untuk memikirkan masa depan.

Dia merasa seakan seluruh hidupnya menuju, dan akan berakhir dengan tugas pertamanya….

Sejujurnya, dia tidak tahu bagaimana Sirius bisa membuatnya merasa lebih enak, padahal dia harus melaksanakan sihir entah apa yang sulit dan berbahaya di hadapan ratusan orang, tetapi memandang wajah ramah akan menghiburnya saat ini. Harry membalas surat Sirius, mengatakan dia akan berada di depan perapian pada waktu yang diusulkan Sirius. Dia dan Hermione melewatkan banyak waktu mendiskusikan rencana memaksa pergi anak-anak yang berlama-lama berada di ruang rekreasi pada malam itu. Kalau segala upaya tak berhasil, mereka akan meledakkan sekantong bom kotoran, tetapi mereka berharap tak usah sampai begitu-Filch akan menguliti mereka hidup-hidup.

Sementara itu, hidup menjadi lebih sulit bagi Harry di dalam kungkungan kastil, karena Rita Skeeter telah menerbitkan artikelnya tentang Turnamen Triwizard, dan ternyata tulisannya bukannya laporan mengenai turnamen melainkan kisah hidup Harry yang sangat didramatisir. Sebagian besar halaman pertama dihabiskan untuk menampilkan foto Harry. Artikelnya (yang bersambung ke halaman dua, enam, dan tujuh) semuanya tentang Harry. Nama-nama juara Beauxbatons dan Durmstrang (salah eja, lagi) cuma disisipkan di baris terakhir artikel, dan Cedric malah sama sekali tidak disebut-sebut.

Artikel itu muncul sepuluh hari yang lalu, dan Harry masih merasa muak dan mukanya panas saking malunya setiap kali dia teringat itu. Rita Skeeter melaporkan Harry telah mengatakan begitu banyak hal, Harry tak bisa ingat dia pernah mengatakan semua itu seumur hidupnya, apalagi di dalam lemari sapu itu.

“Saya rasa saya mendapatkan kekuatan dari orang tua saya. Saya tahu mereka akan sangat bangga kalau mereka bisa melihat saya sekarang… ya, kadang-kadang di malam hari saya masih menangisi mereka, saya tidak malu mengatakannya… Saya tahu tak ada yang akan membuat saya cedera selama turnamen karena mereka menjaga saya…”

Tetapi Rita Skeeter bahkan bertindak lebih jauh daripada mengubah “er-er” Harry menjadi kalimat-kalimat panjang. Dia telah mewawancarai juga orang-orang lain untuk bicara tentang Harry.

Harry akhirnya menemukan cinta di Hogwarts. Teman dekatnya, Colin Creevey, mengatakan bahwa Harry jarang tampil tanpa ditemani Hermione Granger, gadis kelahiran-Muggle yang cantik memukau yang, seperti halnya Harry, salah satu murid top di sekolah.

Sejak artikel itu muncul, Harry tak hentinya menerima cemooh terutama dari anak-anak Slytherin setiap kali dia lewat. Mereka juga menirukan ucapannya di artikel.

“Perlu saputangan, Potter, siapa tahu kau nanti nangis di pelajaran Transfigurasi?”

“Sejak kapan kau jadi salah satu murid top di Sekolah, Potter? Apa ini sekolah baru yang kau dirikan sendiri bersama Neville?”

“Hei… Harry!”

“Yeah, betul!” Harry berteriak sambil berbalik di koridor, dia sudah tak tahan lagi. “Aku baru saja menangisi ibuku yang sudah mati, dan aku baru akan menangis lagi…”

“Tidak… aku cuma mau kasih tahu… ini, pena bulumu jatuh.”

Ternyata Cho Chang. Harry merasa wajahnya merah padam.

“Oh… maaf,” gumam Harry, mengambil kembali pena bulunya.

“Er… semoga sukses hari Selasa nanti,” kata Cho Chang. “Aku benar-benar berharap kau berhasil baik.”

Harry jadi merasa tolol sekali.

Hermione juga kebagian ejekan, tetapi dia tidak sampai berteriak pada para penonton yang tak bersalah.

Bahkan Harry sangat kagum pada caranya menangani situasi ini.

“Cantik memukau? Dia?” Pansy Parkinson menjerit saat pertama kali dia berhadapan dengan Hermione setelah munculnya artikel Rita. “Dibandingkan dengan apa… bajing?”

“Jangan pedulikan,” kata Hermione anggun, kepalanya tetap tegak ketika dia melewati cewek-cewek Slytherin yang terkikik-kikik seakan dia tidak mendengar mereka. “Abaikan saja, Harry.”

Tetapi Harry tidak dapat mengabaikannya. Ron belum bicara lagi kepadanya sejak memberitahunya tentang detensi Snape. Harry setengah berharap mereka akan rukun lagi sewaktu selama dua jam mereka dipaksa mengawetkan otak tikus di ruang bawah tanah Snape, tetapi hari itu adalah hari munculnya artikel Rita Skeeter, yang rupanya memastikan dugaan Ron bahwa Harry sesungguhnya menikmati semua perhatian ini.

Hermione sebal sekali pada mereka berdua. Dia pergi dari yang satu ke yang lain, berusaha memaksa mereka agar mau saling bicara, tetapi Harry tak mau mengalah. Dia baru mau bicara kepada Ron lagi hanya kalau Ron mengakui Harry tidak memasukkan namanya ke dalam Piala Api dan minta maaf karena telah menuduhnya pembohong.

“Bukan aku yang mulai,” kata Harry keras kepala. “Itu urusan dia.”

“Kau merasa kehilangan dia!” kata Hermione tak sabar. “Dan aku tahu dia juga kehilangan kau…”

“Kehilangan dia?” kata Harry. “Aku tidak kehilangan dia…”

Tetapi ini bohong besar. Harry sangat menyukai Hermione, tetapi Hermione tidak sama dengan Ron.

Bersahabat dengan Hermione berarti sedikit tertawa dan lebih banyak berada di perpustakaan. Harry masih belum menguasai Mantra Panggil. Tampaknya ada hambatan baginya, dan Hermione ngotot

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.