Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

Crabbe dan Goyle terbahak melecehkan, tetapi Malfoy terpaksa berhenti di situ, karena Hagrid muncul dari belakang pondoknya, membawa setumpuk peti yang bergoyang, masing-masing berisi Skrewt Ujung-Meletup. Anak-anak kaget dan ngeri ketika Hagrid menjelaskan bahwa alasan para Skrewt itu saling bunuh adalah karena kelebihan energi yang tak bisa disalurkan, dan solusinya adalah masing-masing anak mengikatkan tali ke satu Skrewt dan membawanya jalan-jalan sebentar. Satu-satunya kebaikan tugas ini adalah, membuat perhatian Malfoy sama sekali teralih.

“Membawa makhluk ini jalan-jalan?” dia mengulang dengan jijik, memandang ke dalam salah satu peti.

Dan di mana persisnya kita ikatkan tali itu? Di sekelilingnya sengat, di ujung meletupnya, atau di bagian pengisapnya?”

“Di tengah-tengah,” kata Hagrid, seraya memperagakannya. “Er… kalian perlu pakai sarung tangan kulit naga kalian, hanya untuk berjaga-jaga. Harry… sini, bantu aku dengan yang besar ini…”

Tujuan Hagrid sebenarnya adalah untuk mengajak Harry bicara, jauh dari teman-temannya. Dia menunggu sampai semua anak lain sudah berangkat membawa Skrewt mereka, kemudian dia menoleh kepada Harry dan berkata, sangat serius, “Jadi kau akan ikut bertanding, Harry. Dalam turnamen. juara sekolah.”

“Salah satu juara,” Harry mengoreksinya.

Mata kumbang-hitam Hagrid tampak sangat cemas di bawah alisnya yang liar.

“Tak bisa tebak siapa kira-kira yang masukkan namamu, Harry?”

“Kau percaya bukan aku yang memasukkannya, kalau begitu?” kata Harry, menyembunyikan dengan susah payah luapan rasa terima kasih yang melandanya mendengar kata-kata Hagrid.

“Tentu saja,” gerutu Hagrid. “Kau bilang bukan kau, dan aku percaya padamu… dan Dumbledore juga percaya padamu.”

“Sayang sekali aku tak tahu siapa yang melakukannya,” kata Harry getir.

Mereka berdua memandang hamparan padang rumput. Anak-anak telah menyebar, semuanya dengan susah payah. Skrewt-skrewt itu sekarang panjangnya sudah lebih dari satu meter, dan sangat kuat.

Mereka kini tak lagi tanpa kulit dan tanpa warna, karena telah tumbuh lapisan pelindung tebal mengilap, keabu-abuan. Penampilan mereka sekarang campuran antara kalajengking raksasa dan kepiting yang memanjang tetapi tetap tanpa kepala dan mata yang bisa dikenali. Mereka sudah jadi luar biasa kuat dan sangat susah dikendalikan.

“Mereka kelihatannya asyik, ya?” kata Hagrid senang. Harry menduga maksud Hagrid yang asyik itu para Skrewt, karena teman-temannya jelas tidak asyik. Sekali-sekali, dengan bunyi duar mengagetkan, salah satu ujung Skrewt itu akan meledak, membuat Skrewtnya meluncur maju beberapa meter, dan lebih dari satu anak terseret-seret pada perut mereka, berusaha dengan putus asa untuk bangkit lagi.

“Ah, aku tak tahu, Harry,” tiba-tiba Hagrid menghela napas, kembali menatap Harry dengan cemas,

“Juara sekolah… segalanya tampaknya terjadi padamu, ya?”

Harry tidak menjawab. Ya, segalanya tampaknya terjadi padanya… kira-kira begitulah yang dikatakan Hermione ketika mereka berjalan mengelilingi danau, dan itulah alasannya, menurut Hermione, kenapa Ron tidak bicara kepadanya. Beberapa hari berikutnya adalah hari-hari terburuk Harry di Hogwarts.

Situasinya agak mirip dengan kejadian selama beberapa bulan pada tahun keduanya, ketika sebagian besar anak menuduhnya menyerang teman-temannya. Tetapi waktu itu Ron ada di pihaknya. Harry merasa dirinya akan bisa menghadapi sikap semua anak lain, jika Ron kembali menjadi temannya. Tetapi dia tidak akan membujuk Ron untuk bicara kepadanya kalau Ron tak mau. Meskipun demikian, sepi rasanya disiram kebencian dari segala jurusan.

Dia bisa mengerti sikap anak-anak Hufflepuff, meskipun dia tidak menyukainya. Mereka punya juara sendiri yang harus mereka dukung. Kalau hinaan keji dari anak-anak Slytherin, itu sudah biasa-sejak dulu Harry tidak disukai mereka karena dia telah begitu sering membantu Gryffindor mengalahkan mereka, baik dalam Qudditch maupun dalam Pertandingan Antar-Asrama. Tetapi dia sebetulnya berharap anak-anak Ravenclaw mau mendukungnya, sama seperti dukungan mereka terhadap Cedric. Tetapi harapannya sia-sia. Sebagian besar anak Ravenclaw rupanya mengira dia ingin sekali menambah ketenarannya dengan mengecoh Piala Api agar menerima namanya.

Belum lagi kenyataan bahwa Cedric jauh lebih cocok tampil sebagai juara dibanding dirinya. Dengan wajah luar biasa tampan, hidung lurus, rambut hitam, dan mata abu-abunya, susah mengatakan siapa yang menerima lebih banyak kekaguman hari-hari ini, Cedric atau Viktor Krum. Harry malah melihat gadis-gadis kelas enam yang dulu ingin sekali mendapatkan tanda tangan Krum, sekarang memohon Cedric menandatangani tas sekolah mereka pada suatu jam makan siang.

Sementara itu tak ada jawaban dari Sirius. Hedwig menolak mendekatinya. Profesor Trelawney meramalkan kematiannya dengan kepastian lebih daripada biasanya, dan prestasinya dalam pelajaran Mantra Panggil begitu buruk, sehingga dia mendapat PR tambahan — satu-satunya yang mendapat PR tambahan, selain Neville.

“Sebetulnya tidak susah-susah amat, Harry,” Hermione berusaha meyakinkannya ketika mereka meninggalkan kelas Flitwick. Tadi Hermione membuat benda-benda melayang kepadanya sepanjang pelajaran, seakan dia sejenis magnet aneh bagi penghapus papan tulis, tempat sampah, dan lunaskop.

“Kau cuma tidak berkonsentrasi sepenuhnya…”

“Heran, kenapa ya,” kata Harry suram ketika Cedric Diggory lewat, dikelilingi rombongan besar gadis yang tersenyum-senyum, yang semuanya memandang Harry seakan dia Skrewt Ujung-Meletup ekstrabesar. “Tapi… biar saja, kan? Masih ada dua jam pelajaran Ramuan yang seru sore ini….”

Dari dulu dua jam pelajaran Ramuan selalu jadi pengalaman mengerikan, tetapi hari-hari ini sudah sama saja dengan siksaan. Terkungkung dalam ruang bawah tanah selama satu setengah jam bersama Snape dan anak-anak Slytherin, yang semuanya tampaknya bertekad untuk menghukum Harry seberat mungkin karena berani menjadi juara sekolah, adalah hal paling tidak menyenangkan yang bisa dibayangkan Harry. Dia sudah mengalami melewatkan sepanjang hari Jumat, dengan Hermione yang duduk di sebelahnya dan melagukan, “Jangan acuhkan mereka, jangan acuhkan mereka, jangan acuhkan mereka” dan dia tak punya alasan kenapa hari ini harus lebih baik.

Saat dia dan Hermione tiba di kelas Snape di ruang bawah tanah setelah makan siang, anak-anak Slytherin sudah menunggu di depan. Semuanya memakai lencana besar di bagian depan jubah mereka.

Sesaat Harry mengira mereka memakai lencana S.P.E.W tetapi kemudian dilihatnya, semua lencana itu bertulisan sama, dengan huruf-huruf merah yang menyala terang dalam lorong bawah tanah yang berpenerangan redup: DUKUNGLAH CEDRIC DIRGORRY JUARA ASLI HOGWARTS!

“Suka, Potter?” kata Malfoy keras ketika Harry mendekat. “Dan bunyinya bukan cuma ini… lihat!”

Malfoy menekankan lencananya ke dada, dan tulisan di atasnya lenyap, digantikan tulisan hijau menyala: POTTER BAU

Anak-anak Slytherin tertawa terbahak-bahak. Semua ikut menekan lencana mereka, sampai tulisan POTTER BAU bersinar terang di sekeliling Harry. Harry merasa leher dan mukanya panas.

“Oh, lucu sekali,” kata Hermione sinis kepada Pansy Parkinson dap geng cewek-cewek Slytherin, yang tertawa lebih keras daripada yang lain, “benar-benar kocak.”

Ron berdiri bersandar pada dinding bersama Dean dan Seamus. Dia tidak tertawa, tetapi dia juga tiadk membela Harry.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.