Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

Moody diam, meskipun masih mengawasi Karkaroff dengan puas wajah Karkaroff membara.

“Bagaimana situasi ini muncul, kita tidak tahu” kata Dumbledore, berbicara kepada semua orang yang berkumpul dalam ruangan itu. “Meskipun demikian bagiku tampaknya kita tak punya pilihan lain kecuali menerimanya. Baik Cedric maupun Harry telah terpilih untuk ikut bertanding dalam turnamen. Karena itu, mereka akan bertanding…”

“Ah, tapi, Dumbly-dorr…”

“Madame Maxime yang baik, kalau kau punya alternatif, aku akan senang mendengarnya.”

Dumbledore menunggu, tetapi Madame Maxime tidak bicara, dia cuma membelalak. Dan dia bukan satusatunya. Snape tampak berang, Karkaroff pucat saking marahnya. Tetapi Bagman kelihatan bergairah.

“Nah, kalau begitu kita mulai?” katanya, menggosok-gosokkan tangan dan memandang berkeliling ruangan. “Kita harus menyampaikan instruksi kepada para juara, kan? Barty, kau yang melakukan tugas terhormat ini?”

Mr Crouch tampak seakan baru sadar dari keasyikan melamun.

“Ya,” katanya, “instruksi. Ya… tugas pertama…”

Dia bergerak maju ke dalam cahaya perapian. Dari dekat, Harry membatin, dia seperti orang sakit. Ada lingkaran hitam di bawah matanya, dan kulitnya yang keriput kesannya seperti kertas kering. Padahal waktu Piala Dunia Quidditch tidak begitu.

“Tugas pertama dirancang untuk mengetes keberanian kalian,” dia memberitahu Harry, Cedric, Fleur, dan Viktor, “maka kami tidak akan memberitahu kalian, apa tugas itu. Keberanian menghadapi sesuatu yang tidak diketahui adalah kualitas penting bagi seorang penyihir… sangat penting…”

“Tugas pertama akan berlangsung pada tanggal dua puluh empat November, di depan semua murid dan dewan juri.”

“Para juara tidak diizinkan meminta atau menerima bantuan dalam bentuk apa saja dari guru mereka untuk menyelesaikan tugas dalam turnamen ini. Para juara akan menghadapi tantangan pertama ini hanya dengan bersenjata tongkat sihir mereka. Mereka akan menerima informasi tentang tugas kedua setelah tugas pertama selesai. Mengingat turnamen ini sangat berat dan menyita waktu, para juara dibebaskan dari mengikuti ujian akhir tahun ajaran.”

Mr Crouch menoleh memandang Dumbledore.

“Kurasa sudah cukup, kan, Albus?”

“Kurasa begitu,” kata Dumbledore, yang memandang Mr Crouch dengan agak prihatin. “Betul kau tidak mau menginap di Hogwarts malam ini, Barty?”

“Tidak, Dumbledore, aku harus kembali ke Kementerian,” kata Mr Crouch. “Saat ini kami sedang sangat sibuk, sedang dalam kesulitan… Aku meninggalkan si Weatherby yang masih muda itu untuk bertanggung jawab… Sangat antusias… agak kelewat antusias, sebenarnya…”

“Kau mau minum dulu sebelum pulang, paling tidak?” tanya Dumbledore.

“Ayolah, Barty, aku menginap!” kata Bagman ceria. “Sedang ada peristiwa besar di Hogwarts sekarang, kan jauh lebih seru daripada di kantor!”

“Kurasa tidak, Ludo,” kata Crouch, agak tak sabar seperti semula.

“Profesor Karkaroff… Madame Maxime… minuman keras sebelum tidur?” Dumbledore menawari.

Tetapi Madame Maxime sudah merangkul bahu Fleur dan membawanya cepat-cepat meninggalkan ruangan. Harry bisa mendengar keduanya bicara cepat sekali dalam bahasa Prancis sementara mereka memasuki Aula Besar. Karkaroff memberi isyarat pada Krum, dan mereka juga pergi, tetapi dalam diam.

“Harry, Cedric, kusarankan kalian berdua kembali ke asrama masing-masing,” kata Dumbledore, tersenyum kepada mereka. “Aku yakin Gryffindor dan Hufflepuff menunggu untuk merayakan ini bersama kalian, dan sayang kalau menghilangkan kesempatan bagus bagi mereka untuk bersenang-senang dan membuat keramaian.”

Harry mengerling Cedric, yang mengangguk, dan mereka pergi bersama-sama.

Aula Besar sudah kosong sekarang; cahaya-cahaya lilin menyala pendek, membuat senyum bergerigi di labu-labu kuning yang berbentuk kepala tampak berkelap-kelip mengerikan.

“Jadi,” kata Cedric, tersenyum samar, “kita bertanding lagi.”

“Rupanya begitu,” kata Harry. Dia tak tahu harus berkata apa lagi. Isi kepalanya rasanya sangat kacau-balau, seakan otaknya baru saja diporak-porandakan.

“Jadi… beritahu aku….” kata Cedric ketika mereka tiba di Aula Depan, yang sekarang tinggal diterangi obor-obor setelah Piala Api tak ada lagi. “Bagaimana caranya kau memasukkan namamu?”

“Aku tidak memasukkan namaku,” Kata Harry, menengadah menatapnya. “Sungguh. Aku tidak bohong.”

“Ah… oke,” kata Cedric. Harry bisa melihat Cedric tak percaya. “Nah… sampai ketemu lagi kalau begitu.”

Cedric tidak menaiki tangga pualam, melainkan menuju pintu di sebelah kanannya. Harry berdiri mendengarkan dia menuruni tangga di balik pintu itu, kemudian, perlahan-lahan, dia sendiri mulai menaiki tangga pualam.

Apakah ada yang percaya padanya, selain Ron dan Hermione, atau apakah mereka semua mengira dia mendaftarkan diri dalam turnamen ini? Tapi masa sih, ada yang menuduh begitu, sementara yang harus dihadapinya adalah para pesaing yang sudah mendapat pendidikan tiga tahun lebih lama daripada dirinya sementara dia sekarang menghadapi tugas-tugas yang tak hanya kedengaran luar biasa berbahaya, tetapi juga harus dilaksanakan di depan ratusan orang? Ya, memang dia pernah memikirkannya… dia pernah membayangkannya… tetapi itu cuma iseng saja, sebetulnya, cuma lamunan kosong… dia tak pernah, secara serius, mempertimbangkan untuk benar-benar ikut…

Tapi ada orang lain yang mempertimbangkannya… ada orang lain yang menginginkan dia ikut turnamen, dan memastikan dia mendaftar. Kenapa? Untuk menyenangkannya? Menurut Harry tidak…

Untuk melihatnya bertindak konyol? Nah, keinginan mereka akan terkabul…

Tetapi menginginkan dia terbunuh?

Apakah Moody cuma paranoid seperti biasanya? Tak mungkinkah orang itu memasukkan nama Harry ke dalam piala hanya sekedar main-main saja? Apakah benar ada orang yang ingin dia mati?

Harry bisa langsung menjawab pertanyaan itu. Ya, ada yang menginginkan dia mati, bahkan berusia satu tahun… Lord Voldemort. Tetapi bagaimana Lord Voldemort bisa memastikan nama Harry dimasukkan ke dalam Piala Api? Voldemort kabarnya berada di tempat yang jauh, di negara yang jauh sekali bersembunyi… sendirian… lemah dan tak berdaya…

Tetapi di dalam mimpinya waktu itu, tepat sebelum dia terbangun dengan bekas lukanya sakit sekali, Voldemort tidak sendirian… dia bicara kepada Wormtail… merencanakan pembunuhan Harry… Harry kaget sendiri ketika ternyata dia sudah tiba di depan lukisan si Nyonya Gemuk. Dia nyaris tak memperhatikan ke mana kakinya membawanya. Juga mengagetkan bahwa ternyata si Nyonya Gemuk

tidak sendirian di dalam piguranya. Penyihir tua keriput yang melesat ke lukisan tetangganya ketika Harry bergabung dengan para juara lainnya, sekarang duduk puas di sebelah si Nyonya Gemuk. Dia pasti telah berlari-lari melewati semua lukisan yang berjajar di sepanjang tujuh tangga untuk bisa tiba di sini sebelum Harry Dia dan si Nyonya Gemuk memandang Harry dengan sangat tertarik.

“Wah, wah, wah,” kata si Nyonya Gemuk. “Violet baru saja menceritakan segalanya. Siapa rupanya yang baru terpilih sebagai juara sekolah?”

“Balderdash,” kata Harry lesu.

“Jelas bukan!” kata si nenek sihir keriput sebal.

“Bukan, bukan, Vi, itu kata kuncinya,” kata si Nyonya Gemuk menenangkannya, dan dia mengayun ke muka pada engselnya, supaya Harry bisa masuk ke ruang rekreasi. Ledakan kebisingan yang menyambut telinga Harry ketika lukisan membuka nyaris membuat Harry terjengkang. Tahu-tahu dia sudah ditarik ke dalam ruangan oleh sekitar selusin pasang tangan, dan menghadapi seluruh penghuni Asrama Gryffindor, yang semuanya berteriak-teriak, bertepuk, dan bersuit-suit.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.