Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Oh lihat, mereka semua kecewa,” kata Hermione, mengangguk ke arah sisa rombongan Beauxbatons.

Bukan sekadar “kecewa”, pikir Harry. Dua gadis yang tidak terpilih mencucurkan air mata dan terisak, membenamkan kepala di lengan.

Setelah Fleur Delacour juga menghilang ke dalam ruangan yang disediakan, aula sunyi lagi, tetapi kali ini kesunyiannya amat tegang. Berikutnya juara Hogwarts.

Dan Piala Api berubah merah sekali lagi, bunga api menyembur, lidah api melesat tinggi ke atas, dan dari puncaknya Dumbledore menarik perkamen ketiga.

“Juara Hogwarts,” katanya, “adalah Cedric Diggory!”

“Tidak!” kata Ron keras, tetapi tak ada yang mendengarnya kecuali Harry. Kegemparan di meja sebelah terlalu besar. Semua anak Hufflepuff telah berdiri, berteriak-teriak dan mengentak-entakkan kaki, ketika Cedric berjalan melewati mereka, tersenyum lebar, menuju ruangan di belakang meja guru. Aplaus untuk Cedric berlangsung lama sekali, sehingga baru beberapa waktu kemudian suara Dumbledore bisa di dengar lagi.

“Luar biasa!” seru Dumbledore riang setelah kegemparan mereda. “Nah, sekarang ketiga juara kita sudah terpilih. Aku yakin bisa mengandalkan kalian semua, termasuk para pelajar dari Beauxbatons dan Durmstrang, untuk memberi dukungan penuh kepada para juara kalian. Dengan menyemangati para juara kalian, kalian akan berkontribusi dalam su…”

Mendadak Dumbledore berhenti bicara, dan jelas bagi semua orang apa yang telah mengalihkan perhatiannya.

Api di dalam piala baru saja kembali berubah merah. Bunga api beterbangan. Lidah api panjang tiba-tiba meluncur ke atas, dan pada puncaknya ada secarik perkamen lagi.

Secara otomatis, Dumbledore mengulurkan tangannya menyambar perkamen itu. Dia memeganginya dan menatap nama yang tertulis di atasnya. Hening lama, sementara Dumbledore terus menatap

perkamen di tangannya, dan semua orang di dalam aula menatap Dumbledore. Dan kemudian

Dumbledore berdeham dan membacanya…

“Harry Potter.”

 

Bab 17:

KEEMPAT JUARA

HARRY duduk terpaku, sadar bahwa semua kepala di dalam Aula Besar telah menoleh untuk memandangnya. Dia kaget sekali. Tubuhnya serasa mati rasa. Pastilah dia mimpi. Dia salah dengar.

Tak ada aplaus. Dengung keras, seperti kawanan lebah yang marah, mulai memenuhi aula. Beberapa anak berdiri agar bisa melihat Harry lebih jelas, sementara Harry duduk membeku di kursinya.

Di meja guru, Profesor McGonagall bangkit dari kursinya dan bergegas melewati Ludo Bagman dan Profesor Karkaroff, berbisik serius kepada Profesor Dumbledore, yang menelengkan kepala ke arahnya, sedikit mengernyit.

Harry menoleh kepada Ron dan Hermione. Di belakang mereka, dia melihat semua anak di meja panjang Gryffindor melongo memandangnya.

“Aku tidak memasukkan namaku,” kata Harry bingung. “Kalian tahu itu.”

Keduanya cuma memandangnya dengan sama bingungnya.

Di meja guru, Profesor Dumbledore sudah duduk tegak lagi, mengangguk kepada Profesor McGonagall.

“Harry Potter!” dia memanggil lagi. “Harry! Silakan maju ke sini!”

“Sana,” bisik Hermione sambil agak mendorong Harry.

Harry bangkit, menginjak tepi jubahnya, dan sedikit terhuyung. Dia melewati lorong di antara meja Gryffindor dan Hufflepuff. Rasanya lorong itu panjang sekali, dia tak sampai-sampai ke meja guru, dan dia bisa merasakan beratus pasang mata memandangnya, seperti lampu-lampu sorot. Bunyi dengung semakin lama semakin keras. Setelah rasanya satu jam, dia tiba di depan Dumbledore, merasakan tatapan semua guru kepadanya.

“Nah… lewat pintu itu, Harry,” kata Dumbledore. Dia tidak tersenyum.

Harry bergerak melewati meja guru. Hagrid duduk di paling ujung. Dia tidak mengedip kepada Harry, ataupun melambai, atau memberikan salah satu sapaannya yang biasa. Dia tampak sangat keheranan dan cuma melongo menatapnya seperti yang lain ketika Harry lewat. Harry melewati pintu dan ternyata masuk ke dalam ruangan yang lebih kecil, yang di sepanjang dindingnya berderet lukisan para penyihir pria dan wanita. Api berkobar di perapian di seberang ruangan.

Wajah-wajah dalam lukisan menoleh memandangnya ketika dia masuk. Dia melihat seorang penyihir wanita tua yang sudah kisut melesat meninggalkah piguranya dan masuk ke pigura di sebelahnya menampilkan penyihir pria berkumis beruang laut. Si nenek sihir kisut berbisik-bisik di telinganya.

Viktor Krum, Cedric Diggory, dan Fleur Delacour bergerombol di depan perapian. Mereka tampak sangat mengesankan, membentuk siluet dilatarbelakangi kobaran api. Krum, yang agak bungkuk dan bertampang serius, sedang bersandar pada rak perapian, agak terpisah dari kedua temannya. Cedric berdiri dengan tangan di belakang punggung, memandang api. Fleur Delacour berpaling ketika Harry masuk dan mengibaskan rambut panjangnya yang keperakan. “Ada apa?” tanyanya. “Apa mereka ingin kami kembali ke aula?” Fleur mengira dia datang untuk menyampaikan pesan. Harry tak tahu bagaimana menjelaskan apa yang baru saja terjadi. Dia cuma berdiri saja, memandang ketiga juara itu. Baru disadarinya, betapa jangkungnya mereka bertiga. Terdengar langkah-langkah kaki di belakangnya, dan Ludo Bagman masuk. Dia memegang lengan Harry dan membawanya maju.

“Luar biasa!” gumamnya, seraya meremas lengan Harry. “Sungguh luar biasa! Saudara-saudara,” katanya kepada ketiga orang di depan perapian. “Izinkan aku memperkenalkan meskipun kedengarannya tak masuk akal juara Triwizard yang keempat.” Viktor Krum berdiri tegak. Wajahnya yang masam berubah gelap ketika dia mengawasi Harry. Cedric tampak tercengang. Dia memandang Bagman, lalu Harry, kembali ke Bagman lagi, seakan yakin dia pasti salah dengar. Tetapi Fleur Delacour mengibaskan rambutnya, tersenyum, dan berkata, “Oh, lucu sekali leluconnya, Meester Bagman.”

“Lelucon?” Bagman mengulangi, kebingungan. “Bukan, bukan, sama sekali bukan lelucon! Nama Harry baru saja muncul dari dalam Piala Api!”

Alis tebal Krum bergerak-gerak sedikit. Cedric masih tampak keheranan. Fleur mengernyit.

“Tapi pasti ada kekeliruan,” kata Fleur kepada Bagman dengan nada melecehkan. “Dia tak bisa ikut bertanding. Dia masih terlalu kecil.”

“Yah… memang mengherankan,” kata Bagman, menggosok-gosok dagunya yang licin dan menunduk tersenyum kepada Harry. “Tetapi, seperti yang kalian ketahui, pembatasan umur diterapkan tahun ini hanya sebagai tindakan pengamanan ekstra. Dan karena namanya keluar dari dalam piala… maksudku, kurasa tak bisa mengundurkan diri lagi pada tahap ini… Sudah tercantum dalam peraturan, kalian wajib… Harry harus berusaha sebaik dia…”

Pintu di belakang mereka terbuka lagi, dan serombongan besar orang masuk: Profesor Dumbledore, diikuti Mr Crouch, Profesor Karkaroff, Madame Maxime, Profesor McGonagall, dan Profesor Snape. Harry mendengar dengung ratusan anak di balik dinding, sebelum Profesor McGonagall menutup pintu.

“Madame Maxime!” Fleur langsung berseru, mendekati kepala sekolahnya, “Mereka mengatakan anak kecil ini akan ikut bertanding!”

Di bawah perasaan kebas karena ketidakpercayaannya, Harry merasakan riak kemarahan. Anak kecil?

Madame Maxime berdiri tegak. Puncak kepalanya menyapu kandil yang penuh berisi lilin, dan dadanya yang besar tertutup jubah satin seakan menggelembung.

“Apa artinya ini, Dumbly-dorr?” kata Madame Maxime angkuh.

“Aku juga ingin tahu, Dumbledore,” Profesor Karkaroff menimpali. Senyumnya tajam dan mata birunya seperti serpihan es. “Dua juara Hogwarts? Aku tak ingat ada yang memberitahu bahwa sekolah tuan rumah boleh mengajukan dua juara apa aku kurang teliti membaca peraturannya?”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.