Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Iya deh,” kata Ron, mengambil puding.

Aula Besar rasanya jauh lebih penuh daripada biasanya, walaupun cuma ketambahan dua puluh anak.

Mungkin karena seragam mereka yang berwarna lain kelihatan mencolok sekali di tengah jubah hitam

Hogwarts. Sekarang setelah membuka mantel mereka, tampak anak-anak Durmstrang memakai jubah merah darah.

Hagrid memasuki aula melalui pintu di belakang meja guru dua puluh menit setelah pesta dimulai. Dia menyelinap ke tempat duduknya di ujung meja dan melambai kepada Harry, Ron, dan Hermione dengan tangan yang terbebat tebal.

“Skrewt-nya oke-oke saja, Hagrid?” seru Harry.

“Sehat semua,” balas Hagrid riang.

“Yeah, aku yakin begitu,” kata Ron santai. “Rupanya mereka akhirnya menemukan makanan yang mereka suka, iya, kan? Jari-jari Hagrid.”

Pada saat itu terdengar suara berkata, “Maaf, kalian mau bouillabaisse itu?”

Rupanya si gadis Beauxbatons yang tertawa waktu Dumbledore berpidato. Dia akhirnya melepas selendangnya. Rambutnya yang panjang keperakan menjuntai sampai hampir mencapai pinggangnya.

Matanya besar, dalam, berwarna biru tua, dan giginya sangat rata dan putih.

Wajah Ron langsung ungu. Dia menatap si gadis, membuka mulut untuk menjawab, tapi tak ada suara yang keluar kecuali seperti bunyi kumur samar-samar.

“Tidak, silakan,” kata Harry, mendorong piringnya ke arah si gadis.

“Kalian sudah tidak mau tambah lagi?”

“Tidak,” jawab Ron menahan napas. “Yeah, enak sekali.”

Si gadis mengangkat piring itu dan membawa hati-hati ke meja Ravenclaw. Ron masih terbelalak menatapnya, seakan dia belum pernah melihat anak perempuan. Harry tertawa. Suara tawanya rupanya menyadarkan Ron.

“Dia Veela!” katanya parau kepada Harry. “Tentu saja bukan!” tukas Hermione masam. “Orang lain tak ada yang melongo seperti orang idiot melihatnya!”

Tetapi Hermione tidak sepenuhnya benar. Ketika si gadis menyeberangi aula, banyak kepala anak laki-laki yang menoleh dan beberapa di antaranya mendadak untuk sementara tak bisa bicara, persis seperti Ron.

“Percaya deh, dia bukan cewek normal!” kata Ron, mencondongkan dirinya supaya bisa melihatnya lebih jelas. “Tidak ada yang seperti itu di Hogwarts!”

“Cewek Hogwarts oke juga,” kata Harry tanpa berpikir. Cho kebetulan duduk hanya beberapa kursi jauhnya dari si gadis berambut perak.

“Kalau mata kalian berdua sudah balik ke tempatnya,” kata Hermione tegas, “kalian akan bisa melihat siapa yang baru saja datang.”

Dia menunjuk ke meja guru. Kedua kursi yang kosong baru saja terisi. Ludo Bagman duduk di sebelah Profesor Karkaroff, sementara Mr Crouch, bos Percy, di sebelah Madame Maxime.

“Mau apa mereka di sini?” tanya Harry keheranan.

“Mereka mengorganisir Turnamen Triwizard, kan?” kata Hermione. “Kurasa mereka ingin berada di sini untuk menyaksikan pembukaannya.”

Ketika makanan penutup disajikan, mereka melihat beberapa jenis makanan asing juga. Ron meneliti sepiring blancmange pucat, lalu dengan hati-hati menggesernya beberapa senti ke sebelah kanannya, supaya terlihat jelas dari meja Ravenclaw. Tetapi rupanya si gadis yang secantik Veela sudah kenyang dan tidak datang mengambilnya.

Begitu piring-piring emas telah dibersihkan, Dumbledore berdiri lagi. Ketegangan yang menyenangkan memenuhi aula. Harry bergairah, ingin tahu apa yang akan terjadi. Beberapa kursi dari mereka, Fred dan George mencondongkan tubuh ke depan, menatap Dumbledore penuh konsentrasi.

“Saatnya telah tiba,” kata Dumbledore, tersenyum berkeliling ke arah lautan wajah yang mendongak.

“Turnamen Triwizard akan segera dimulai. Aku ingin menyampaikan beberapa patah kata sebelum petinya dibawa masuk…”

“Apa?” gumam Harry.

Ron mengangkat bahu.

“… sekadar memperjelas prosedur yang akan kita ikuti tahun ini. Tetapi pertama-tama, izinkan aku memperkenalkan, bagi yang belum mengenal mereka, Mr Bartemius Crouch, Kepala Departemen

Kerjasama Sihir Internasional” di sana-sini terdengar tepukan sopandan Mr Ludo Bagman, Kepala Departemen Permainan dan Olahraga Sihir.”

Terdengar tepukan yang lebih keras untuk Bagman mungkin karena ketenarannya sebagai Beater, atau sederhana saja, karena dia tampak jauh lebih menyenangkan. Dia menyambutnya dengan lambaian riang Bartemius Crouch tidak tersenyum ataupun melambai ketika namanya disebut. Mengingat dia dalam setelan jasnya yang rapi waktu Piala Dunia Quidditch, Harry berpendapat dia malah tampak ganjil memakai jubah penyihir. Kumis sikat-giginya dan belahan rambutnya yang super-rapi tampak aneh sekali di sebelah rambut dan jenggot panjang Dumbledore.

“Mr Bagman dan Mr Crouch telah bekerja tak kenal lelah selama beberapa bulan terakhir ini mempersiapkan penyelenggaraan Turnamen Triwizard,” Dumbledore meneruskan, “dan mereka akan bergabung denganku, Profesor Karkaroff, dan Madame Maxime dalam dewan juri yang akan menilai usaha para juara.”

Begitu kata “juara” disebut, perhatian anak-anak yang mendengarkan semakin tajam. Mungkin Dumbledore memperhatikan keheningan yang mendadak melanda, karena dia tersenyum ketika berkata,

“Petinya, tolong, Mr Filch.”

Filch, yang sejak tadi bersembunyi tanpa ada yang memperhatikan di sudut aula yang jauh, sekarang mendekati Dumbledore dengan menggotong peti kayu besar bertatahkan permata. Peti itu tampak sudah sangat tua. Gumam ketertarikan terdengar di antara anak-anak. Dennis Creevey malah sampai berdiri di atas kursi supaya bisa melihatnya dengan jelas, tetapi, karena dia kecil mungil, kepalanya hampir tidak lebih tinggi dari kepala teman-temannya.

“Instruksi pelaksanaan tugas-tugas yang akan dihadapi para juara tahun ini sudah diperiksa oleh Mr Crouch dan Mr Bagman,” kata Dumbledore ketika Filch meletakkan peti itu dengan hati-hati di atas meja di depannya, “dan mereka sudah menyelesaikan persiapan yang dibutuhkan untuk masing-masing tantangan. Akan ada tiga tugas, dilaksanakan dalam rentang waktu sepanjang tahun ajaran, dan ketiga tugas ini akan mengetes para juara dalam berbagai hal kecakapan sihir mereka, keberanian mereka, kelihaian mereka, menarik kesimpulan dan, tentu saja kemampuan mereka dalam menghadapi bahaya.”

Mendengar kata terakhir Dumbledore, aula total sunyi senyap, seakan tak seorang pun bernapas.

“Seperti yang telah kalian ketahui, tiga juara akan bersaing dalam turnamen,” Dumbledore meneruskan dengan tenang, “satu juara dari masing-masing sekolah yang berpartisipasi. Mereka akan dinilai berdasarkan bagaimana prestasi mereka dalam masing-masing tugas, dan juara yang mengumpulkan jumlah nilai terbanyak setelah pelaksanaan ketiga tugas akan memenangkan Piala Triwizard. Ketiga juara akann dipilih oleh penyeleksi yang tidak berpihak: Piala Api.”

Dumbledore sekarang mengeluarkan tongkat sihirnya dan mengetuk bagian atas peti tiga kali. Tutup peti perlahan membuka. Dumbledore menjangkau ke dalamnya dan mengeluarkan piala kayu besar yang kasar buatannya. Piala itu sama sekali tak akan menarik perhatian kalau saja tidak dipenuhi nyala api biru yang menari-nari sampai ke tepiannya.

Dumbledore menutup peti dan meletakkan piala dengan hati-hati di atasnya, sehingga bisa dilihat jelas oleh semua orang di Aula Besar.

“Siapa saja yang berminat mendaftarkan diri sebagai juara harus menuliskan nama dan sekolahnya dengan jelas di atas secarik perkamen dan memasukkannya ke dalam piala,” kata Dumbledore. “Para peminat punya waktu dua puluh empat jam untuk memasukkan nama mereka. Besok malam, Halloween, si piala akan mengembalikan tiga nama yang dinilainya paling layak mewakili sekolah masing-masing.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.