Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

Sesuatu yang tampak seperti tiang hitam panjang perlahan muncul dari tengah pusaran air itu… dan kemudian Harry melihat tali-temalinya…

“Itu tiang kapal!” katanya kepada Ron dan Hermione.

Perlahan, dengan megah, kapal itu muncul dari dalam air, berkilauan tertimpa cahaya bulan.

Penampilannya menimbulkan kesan seperti kerangka, seakan itu kapal karam yang diangkat, dan sinar redup berkabut yang memancar dari lubang-lubang tingkapnya seperti mata-mata mengerikan. Akhirnya, dengan bunyi kecipak keras, seluruh kapal muncul, terapung di atas air yang bergolak, dan mulai meluncur ke pantai. Beberapa saat kemudian, mereka mendengar bunyi debur jangkar yang dilempar ke dalam air yang dangkal, dan debum papan yang diturunkan ke pantai..

Orang-orang turun dari kapal. Anak-anak bisa melihat siluet mereka melewati cahaya di lubang-lubang tingkap. Semuanya, Harry memperhatikan, potongannya seperti Crabbe dan Goyle… tetapi ketika mereka sudah semakin dekat, berjalan menyeberangi lapangan rumput memasuki cahaya yang menyorot dari Aula Depan, Harry melihat bahwa tubuh mereka tampak besar gara-gara mereka memakai mantel yang terbuat dari semacam bulu panjang tebal. Tetapi laki-laki yang memimpin mereka ke kastil memakai bulu jenis lain, licin mengilap dan keperakan, seperti rambutnya.

“Dumbledore!” serunya ramah sambil berjalan. “Apa kabar, Sobat, apa kabar?”

“Baik sekali, terima kasih, Profesor Karkaroff,” jawab Dumbledore.

Suara Karkaroff terdengar bermanis-manis, dan ketika dia melangkah ke dalam siraman cahaya dari pintu depan kastil, mereka melihat bahwa dia jangkung dan kurus seperti Dumbledore, tetapi rambut putihnya pendek, dan jenggot kambingnya (yang ujungnya melengkung dalam ikal kecil) tidak sepenuhnya menyembunyikan dagunya yang agak lemah. Setibanya di dekat Dumbledore, dia menjabat tangan Dumbledore dengan kedua tangannya.

“Hogwarts tersayang,” katanya, memandang kastil dan tersenyum. Giginya kekuningan dan Harry memperhatikan bahwa senyumnya tidak mencapai mata nya. Matanya tetap dingin dan licik. “Senang sekali berada di sini, senang sekali… Viktor, ayo, ke tempat yang hangat… kau tak keberatan, Dumbledore? Viktor agak pusing karena sedikit flu…”

Karkaroff melambai kepada salah seorang muridnya. Ketika anak itu lewat, sekilas Harry melihat hidung kuat yang bengkok dan alis tebal hitam. Dia tak memerlukan tinju Ron di lengannya, ataupun desisnya di telinganya, untuk mengenali profil itu.

 

Bab 16:

PIALA API

“AKU tak percaya!” kata Ron terpesona, sementara murid-murid Hogwarts kembali berderet setelah rombongan Durmstrang melewati undakan. “Krum, Harry! Viktor Krum!”

“Astaga, Ron, dia cuma pemain Quidditch,” kata Hermione.

“Cuma pemain Quidditch?” kata Ron, memandang Hermione, seakan tak mempercayai telinganya.

“Hermione… dia salah satu Seeker terbaik di dunia! Aku tak mengira dia masih sekolah!”

Sementara mereka memasuki Aula Depan bersama murid-murid Hogwarts lainnya, menuju Aula Besar, Harry melihat Lee Jordan melompat-lompat agar bisa lebih jelas melihat belakang kepala Krum. Beberapa anak perempuan kelas enam, sambil berjalan, mencari-cari di dalam saku mereka dengan panik….

“Aduh, sial benar, aku tidak bawa satu pena bulu Pun…”

“Menurutmu apakah dia akan mau menandatangani topiku dengan lipstik?”

“Astaga,” kata Hermione angkuh ketika mereka melewati gadis-gadis yang sekarang cekcok soal lipstik itu.

“Aku juga mau minta tanda tangannya,” kata Ron

“Kau bawa pena bulu tidak, Harry?” kata Ron.

“Tidak, semuanya di atas, dalam tasku” kata Harry.

Mereka berjalan ke meja Gryffindor dan duduk. Ron memilih tempat duduk yang menghadap ke pintu, karena Krum dan teman-temannya dari Durmstrang masih bergerombol di depan pintu, rupanya bingung mau duduk di mana. Murid-murid Beauxbatons telah memilih duduk di meja Ravenclaw. Mereka

memandang berkeliling Aula Besar dengan muram. Tiga di antara mereka masih memegang scraf dan syal yang mengerudungi kepala mereka.

“Kan tidak dingin-dingin amat,” kata Hermione sebal, “Kenapa mereka tidak membawa mantel?”

“Ke sini! Sini, duduk sini!” desis Ron. “Ke sini! Hermione, minggir, sisakan tempat…”

“Apa?”

“Terlambat,” kata Ron getir.

Viktor Krum dan teman-temannya telah duduk di meja Slytherin. Harry bisa melihat Malfoy, Crabbe, dan Goyle sangat puas. Sementara Harry memandang, Malfoy membungkuk untuk bicara kepada Krum.

“Yeah, betul, bermanis-manislah kepadanya, Malfoy,” kata Ron pedas. “Pasti Krum bisa melihat orang seperti apa dia sebetulnya… pasti dia sudah biasa dengan orang-orang yang biasa menjilat… Di mana mereka tidur ya? Kita bisa menawari mereka tidur di kamar kita, Harry… aku tak keberatan menyerahkan tempat tidurku, aku bisa tidur di dipan.”

Hermione mendengus.

“Mereka tampak lebih riang daripada anak-anak Beauxbatons,” komentar Harry.

Anak-anak Durmstrang melepas mantel bulu mereka yang berat dan mendongak menatap langit-langit hitam bertabur bintang dengan ekspresi penuh minat. Dua orang di antara mereka mengangkat piring dan piala emas dan menelitinya, tampak terkesan sekali.

Di meja guru, Filch si penjaga sekolah menambah kursi-kursi. Dia memakai jas-buntut tuanya yang berjamur untuk menghormati pesta ini. Harry heran melihatnya menambahkan empat kursi, masing-masing dua di kanan-kiri Dumbledore.

“Kan cuma ada tambahan dua orang,” kata Harry. “Kenapa Filch menaruh empat kursi? Siapa lagi yang akan datang?”

“Eh?” kata Ron tak paham. Dia masih menatap Krum dengan penuh minat.

Setelah semua anak memasuki Aula Besar dan duduk di meja masing-masing, para guru masuk, berjalan ke meja guru dan duduk. Yang berjalan paling belakang adalah Profesor Dumbledore, Profesor Karkaroff, dan Madame Maxime. Ketika kepala sekolahh mereka muncul, murid-murid Beauxbatons langsung

melompat berdiri. Beberapa anak Hogwarts tertawa. Meskipun demikian rombongan Beauxbatons tidak tampak malu, dan belum duduk lagi sebelum Madame Maxime duduk di sebelah kiri Dumbledore.

Dumbledore tetap berdiri, dan Aula Besar menjadi sunyi senyap.

“Selamat malam, anak-anak, para guru, para hantu… dan terutama para tamu,” kata Dumbledore, tersenyum kepada murid-murid dari luar negeri. “Dengan sukacita besar aku menyambut kedatagan kalian semua di Hogwarts. Aku berharap dan percaya selama kalian tinggal di sini, kalian akan nyaman dan senang.”

Salah seorang anak Beauxbatons, yang masih memegangi selendang yang mengerudungi tertawa, yang kentara sekali mengejek.

“Tak ada yang menyuruhmu tinggal!” bisik Hermione, siap berperang dengannya.

“Turnamen akan dibuka resmi seusai pesta ini,” kata Dumbledore. “Sekarang aku mengundang kalian semua untuk makan, minum, dan anggap saja di rumah sendiri!”

Dia duduk, dan Harry melihat Karkaroff langsung membungkuk mengajaknya bicara.

Piring-piring di depan mereka dipenuhi makanan seperti biasanya. Para peri-rumah di dapur rupanya mengeluarkan seluruh kepiawaian mereka. Di depan mereka tersaji lebih banyak jenis masakan daripada yang pernah dilihat Harry, termasuk beberapa yang jelas sekali asing.

“Apa itu?” tanya Ron, menunjuk sepiring besar kerang bersaus di sebelah piring daging panggang.

“Bouillabaisse” kata Hermione.

“Buset,” kata Ron.

“Masakan Prancis,” kata Hermione. “Aku pernah makan waktu liburan musim panas dua tahun lalu. Enak sekali.”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.