Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

Bukan, hal yang meresahkan Harry adalah bahwa terakhir kalinya bekas lukanya terasa sakit adalah karena Voldemort ada di dekatnya… Tetapi Voldemort tak mungkin ada di sini, sekarang… Masa Voldemort bersembunyi di Privet Drive. Mustahil, tak mungkin…

Harry mendengarkan dengan tajam keheningan di sekelilingnya. Apakah dia setengah berharap mendengar derit anak tangga atau kibasan jubah? Dan kemudian dia sedikit terlonjak ketika mendengar sepupunya, Dudley, mendengkur keras sekali dari kamar sebelah.

Harry menegur dirinya sendiri. Dia bodoh. Tak ada orang lain dalam rumah kecuali Paman Vernon, Bibi Petunia, dan Dudley, dan mereka jelas masih tidur, mimpi-mimpi mereka tidak mengerikan dan tidak membuat sakit.

Harry paling menyukai keluarga Dursley kalau mereka sedang tidur. Kalau bangun pun mereka tak akan membantunya. Hanya Paman Vernon, Bibi Petunia, dan Dudley-lah keluarga Harry yang masih hidup. Mereka Muggle (bukan penyihir) dan membenci serta memandang rendah sihir dalam segala bentuk, yang berarti di rumah mereka Harry hanya dianggap sebagai duri dalam daging. Selama Harry di Hogwarts, mereka menjelaskan kepada semua orang bahwa dia dikirjm ke Pusat Penampungan Anak-anak Kriminal yang Tak Bisa Disembuhkan St Brutus. Mereka tahu betul bahwa, sebagai penyihir di bawah umur, Harry tak diizinkan menyihir di luar Hogwarts, tetapi mereka tetap saja menyalahkan Harry jika ada apa saja yang tidak beres di rumah. Harry tak pernah bisa curhat kepada mereka ataupun menceritakan ten-tang kehidupannya di dunia sihir. Sungguh menggelikan memikirkan dia mendatangi mereka saat mereka sudah bangun, dan menceritakan kepada mereka tentang bekas lukanya yang sakit, dan tentang kecemasannya mengenai Voldemort.

Padahal, gara-gara Voldemort-lah Harry jadi tinggal bersama keluarga Dursley. Jika bukan karena ulah Voldemort, Harry tak akan punya bekas luka sambaran kilat di dahinya. Jika bukan karena ulah Voldemort, Harry masih akan punya orangtua….

Harry baru berusia satu tahun pada malam Voldemort—penyihir hitam paling berkuasa sepanjang abad, penyihir yang selama sebelas tahun semakin bertambah kuat—tiba dirumahnya dan membunuh ayah dan ibunya. Voldemort kemudian mengarahkan tongkat sihirnya kepada Harry, dia mengucapkan kutukan yang telah membuat banyak penyihir dewasa pria dan wanita meninggal dalam masa kekuasaannya yang makin lama makin besar—dan luar biasa sekali, kutukan itu tidak mempan. Alih-alih membunuh anak yang masih bisa dibilang bayi ini, kutukan itu malah berbalik menyerang Voldemort sendiri. Harry selamat dengan hanya luka berbentuk sambaran kilat di dahinya, dan Voldemort tinggal jadi sesuatu yang nyaris hidup. Kekuatannya lenyap, nyawanya hampir melayang, Voldemort kabur. Kengerian yang sudah begitu lama menyelimuti komunitas rahasia para penyihir telah sirna. Para pengikut Voldemort bubar, dan Harry Potter menjadi terkenal.

Harry kaget sekali ketika, pada hari ulang tahunnya yang kesebelas, dia tahu bahwa sesungguhnya dia penyihir. Lebih membingungkan lagi ketika ternyata semua orang dalam dunia sihir yang tersembunyi kenal namanya. Ketika Harry tiba di Hogwarts, dia disambut kepala-kepala yang menoleh dan bisikanbisikan yang mengikutinya ke mana pun dia pergi. Tetapi sekarang dia sudah terbiasa. Pada akhir musim panas ini, dia akan memasuki tahun keempatnya di Hogwarts, dan Harry sudah menghitung hari sampai tiba saatnya dia kembali berada di kastil lagi.

Tetapi masih dua minggu lagi sebelum dia kembali ke sekolah. Dia memandang berkeliling kamarnya dengan tak berdaya dan matanya berhenti pada dua kartu ulang tahun yang dikirim dua sahabatnya pada akhir Juli. Apa kata mereka jika Harry menulis surat dan memberitahu mereka bahwa bekas lukanya sakit?

Segera saja suara Hermione Granger memenuhi kepalanya, nyaring dan panik.

“Bekas lukamu sakit? Harry, ini benar-benar serius… Tulislah surat kepada Profesor Dumbledore! Dan aku akan mengecek Penyakit Ringan dan Keluhan Sihir Umum… Mungkin dalam buku itu ada bahasan tentang bekas luka kutukan…”

Ya, pasti begitulah nasihat Hermione. Pergilah ke Kepala Sekolah Hogwarts, dan sementara itu konsultasi pada buku. Harry menatap langit biru-kelam di luar jendela. Dia sungguh meragukan apakah buku bisa membantunya saat ini. Sejauh yang dia tahu, dia satu-satunya orang yang berhasil selamat dari kutukan seperri kutukan Voldemort itu. Karena itu nyaris tak ada kemungkinan dia akan bisa menemukan gejalagejalanya dalam buku Penyakit Ringan dan Keluhan Sihir Umum. Sedangkan mengenai memberitahu Kepala Sekolah, Harry sama sekali tak tahu ke mana Dumbledore pergi selama liburan musim panas. Sesaat dia geli sendiri membayangkan Dumbledore, dengan jenggot panjang keperakan, jubah sihir panjang, dan topi kerucutnya, berbaring di suatu pantai, menggosokkan cairan pelindung sinar matahari pada hi-dung bengkoknya. Tetapi di mana pun Dumbledore berada, Harry yakin Hedwig akan bisa menemukannya. Burung hantu Harry belum pernah gagal mengantar surat kepada siapa pun, bahkan tanpa alamat sekalipun. Tetapi apa yang akan ditulisnya?

Profesor Dumbledore yang terhormat,

Maaf mengganggu Anda, tetapi bekas luka saya sakit.

Hormat saya,

Harry Potter

Bahkan di dalam kepalanya pun kata-katanya terdengar bodoh.

Maka dia berusaha membayangkan reaksi sahabatnya yang satu lagi, Ron Weasley, dan dalam sekejap saja rambut merah Ron, hidungnya yang panjang, serta wajahnya yang berbintik-bintik, langsung terbayang di depannya, tampangnya geli.

“Bekas lukamu sakit? Tapi… tapi Kau-Tahu-Siapa tak mungkin ada di dekatmu sekarang, kan? Maksudku… kau akan tahu, kan? Dia akan berusaha menghahisimu lagi, kan? Entahlah, Harry, mungkin bekas luka kutukan selalu sakit sedikit… Aku akan tanya Dad….”

Mr Weasley adalah penyihir sangat cakap yang bekerja di Kantor Penyalahgunaan Barang-barang Muggle di Kementerian Sihir, tetapi dia tak punya keahlian khusus dalam hal kutukan, sejauh yang Harry tahu. Lagi pula, Harry tak ingin seluruh keluarga Weasley tahu bahwa dia sudah panik hanya gara-gara sakit sebentar saja. Mrs Weasley akan lebih repot daripada Hermione, sedangkan Fred dan George, kakak kembar Ron yang berusia enam belas tahun, mungkin mengira Harry jadi penakut. Keluarga Weasley adalah keluarga yang paling disukai Harry di seluruh dunia. Dia berharap ajakan mereka untuk menginap bisa datang setiap waktu (Ron telah menyebut-nyebut Piala Dunia Quidditch), dan Harry tak ingin kunjungannya terganggu oleh pertanyaanpertanyaan ingin tahu tentang bekas lukanya.

Harry memijat-mijat bekas lukanya dengan bukubuku jarinya. Yang betul-betul diinginkannya (dan dia agak malu mengakuinya sendiri) adalah orang yang bisa dianggapnya sebagai—sebagai orangtuanya; penyihir dewasa yang bisa dimintai nasihat tanpa Harry merasa tolol, orang yang peduli kepadanya, yang puny a pengalaman dengan Sihir Hitam…

Dan kemudian solusinya muncul begitu saja. Sederhana sekali, dan amat jelas, sehingga Harry heran sendiri kenapa perlu begitu lama dia baru sadar— Sirius.

Harry melompat bangun dari tempat tidurnya, bergegas ke mejanya, dan duduk. Dia menarik sehelai perkamen ke dekatnya, mencelupkan pena bulu-elangnya ke tinta, menulis Dear Sirius, kemudian berhenti, merenung bagaimana sebaiknya memaparkan masalahnya, seraya masih takjub kenapa Sirius tidak langsung terpikir olehnya. Tetapi, mungkin tidaklah begitu mengherankan—kan baru dua bulan lalu dia tahu bahwa Sirius walinya.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.