Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

Kandang Burung Hantu adalah ruangan batu berbentuk melingkar, agak dingin dan berangin, karena tak satu pun jendelanya berkaca. Lantainya sepenuhnya tertutup jerami, kotoran burung hantu, dan muntahan kerangka tikus. Beratus-ratus burung hantu dari berbagai jenis yang bisa dibayangkan bertengger pada lenggeran berjajar ke atas sampai ke puncak menara, hampir semuanya masih tidur, meskipun di sana-sini mata bundar kekuningan memandang Harry. Dilihatnya Hedwig bertengger di antara burung hantu serak dan burung hantu jingga-kecokelatan. Harry bergegas mendekatinya, terpeleset sedikit di lantai yang penuh lebaran kotoran.

Perlu beberapa waktu untuk membujuknya agar mau bangun dan kemudian memandang Harry, karena Hedwig berulang-ulang berbalik di atas tenggerannya, menghadapkan ekornya pada Harry Jelas Hedwig maisih marah atas sikap Harry yang kurang berterima kasih semalam. Akhirnya, ketika Harry mengatakan mungkin Hedwig masih kecapekan dan barangkali dia akan meminjam Pigwidgeon dari Ron, barulah Hedwig menjulurkan kakinya dan mengizinkan Harry mengikatkan suratnya ke situ.

“Cari dan temukan dia, ya,” kata Harry, membelai punggungnya seraya menggendongnya dan membawanya ke salah satu lubang di dinding. ” Sebelum para Dementor menemukannya’ Hedwig mematuk jari Harry, mungkin lebih keras daripada biasanya, namun tetap beruhu pelan menenteramkan Harry. Kemudian dia merentangkan sayapnya dan melayang menyongsong matahari terbit.

Harry mengawasinya terbang sampai lenyap dari pandangan, perasaan tak enak kembali memenuhi perutnya. Semula dia begitu yakin jawaban Sirius akan melenyapkan kekhawatirannya dan bukannya malah membuatnya semakin besar.

“Kau bohong, Harry’ kata Hermione tajam selagi mereka sarapan, ketika Harry menceritakan kepadanya dan Ron apa yang telah dilakukannya. “Kau tidak sekadar membayangkan bekas lukamu sakit dan kau tahu itu.”

“Jadi kenapa?” kata Harry. “Dia tak boleh kembali ke Azkaban gara-gara aku.”

“Sudahlah,” kata Ron tajam kepada Hermione yang sudah membuka mulut untuk berargumentasi lagi, dan sekali ini, Hermione menurutinya dan langsung diam.

Harry berusaha sebisa mungkin tidak mencemaskan Sirius selama dua minggu berikutnya. Betul, dia tidak bisa mencegah dirinya mencari-cari dengan penasaran setiap pagi ketika pos burung hantu tiba, ataupun pada larut malam ngeri membayangkan Sirius dikepung

Dementor di jalan gelap di kota London, tetapi di antara pagi dan malam, dia berusaha tidak memikirkan walinya. Sayang sekali tak ada Quidditch yang bisa mengalihkan perhatiannya. Tak ada yang lebih manjur menyembuhkan pikiran yang kalut daripada sesi latihan yang keras. Sebaliknya, pelajaran-pelajarannya semakin sulit dan menyita lebih banyak waktu daripada sebelumnya, terutama pelajaran Pertahanan terhadap Ilmu Hitam dari Moody.

Mereka terkejut sekali ketika Profesor Moody mengumumkan bahwa dia akan melancarkan Kutukan Imperius kepada mereka semua secara bergiliran, untuk mendemonstrasikan kekuatannya dan melihat apakah mereka bisa menahan efeknya.

“Tapi… tapi Anda mengatakan itu ilegal, Profesor,” kata Hermione bingung sementara Moody menyingkirkan meja-meja dengan sekali ayunan tongkat sihirnya, meninggalkan area kosong besar di tengah kelas. “Kata Anda… menggunakannya terhadap orang lain adalah…”

“Dumbledore menginginkan kalian merasakan seperti apa kutukan itu,” kata Moody, mata gaibnya berputar ke arah Hermione dan menatapnya dengan pandangan mengerikan tanpa kedip. “Kalau kau lebih suka mengalaminya langsung—waktu ada orang yang menyerangmu dengan kutukan itu agar bisa menguasaimu sepenuhnya—terserah. Aku tak melarangmu. Silakan pergi.”

Dia mengacungkan jarinya yang berbonggol ke arah pintu. Wajah Hermione merah padam dan dia menggumamkan sesuatu tentang tidak bermaksud ingin meninggalkan kelas. Harry dan Ron saling pandang dan nyengir. Mereka tahu Hermione lebih memilih nakan nanah Bubotuber daripada tidak mengikuti pelajaran sepenting ini.

Moody mulai memberi isyarat kepada anak-anak supaya maju bergiliran dan melancarkan Kutukan Imperius kepada mereka. Harry menonton sementara satu demi satu temannya melakukan hal-hal luar biasa di bawah pengaruhnya. Dean Thomas melompat tiga kali mengelilingi ruangan, menyanyikan lagu ke-bangsaan Inggris. Lavender Brown menirukan bajing. Neville melakukan rangkaian gerakan gimnastik yang jelas tak akan sanggup dilakukannya dalam keadaan normal. Tak seorang pun dari mereka berhasil melawan kutukan, dan masing-masing baru kembali ke keadaan semula setelah Moody menarik kutukannya. “Potter,” Moody menggeram, “giliranmu.” Harry maju ke tengah ruangan, yang telah dikosongkan Moody. Moody mengangkat tongkatnya, mengacungkannya kepada Harry, dan berkata, “Impe-riol”

Rasanya luar biasa menyenangkan. Harry seakan melayang ketika segala beban pikiran dan kecemasan disapu pelan sampai habis, tak meninggalkan apa pun kecuali kebahagiaan yang tak jelas. Dia berdiri di sana, merasa amat rileks, hanya samar-samar sadar bahwa semua orang mengawasinya.

Dan kemudian didengarnya suara Mad-Eye Moody, bergaung dalam ruang yang jauh dalam otaknya yang kosong: Lompat ke atas meja… lompat ke atas meja…

Harry menekuk lututnya dengan patuh, siap melompat. Lompat ke atas meja… Tapi kenapa? Ada suara lain yang terbangun di bagian belakang otaknya.

Konyol sekali, kan, kalau melompat ke atas meja. Lompat ke atas meja…

Tidak, aku tak akan melompat, terima kasih, kata suara yang lain itu, sedikit lebih tegas… tidak, aku tak mau…

Lompat! SEKARANG!

Berikutnya Harry merasakan sakit yang luar biasa. Dia melompat dan sekaligus berusaha mencegah dirinya melompat—hasilnya dia menabrak meja sampai terguling, dan kalau dilihat dari rasa sakit di kakinya, kedua tempurung lututnya pastilah retak.

“Nah, itu baru bagus!” gerung Moody, dan mendadak Harry merasakan gaung kekosongan di dalam kepalanya lenyap. Dia ingat persis apa yang terjadi, dan rasa sakit di lututnya menjadi berlipat ganda.

“Lihat itu, kalian semua… Potter melawan! Dia melawannya, dan dia nyaris berhasil! Kita akan mencobanya lagi, Potter, dan kalian semua, perhatikan baik-baik—lihat matanya, di situlah kalian bisa melihatnya—bagus sekali, Potter, sungguh sangat bagus!

Mereka akan mendapat kesulitan menguasaimu!” Laranya bicara itu,” gumam Harry dengan ter-pincangpincang meninggalkan kelas Pertahanan terhadap Ilmu Hitam satu jam kemudian (Moody memaksa mencoba batas kemampuan Harry empat kali berturut-turut sampai akhirnya Harry berhasil menolak kutukan itu sepenuhnya), “seolah kita semua akan diserang kapan saja.”

‘Yeah, aku tahu,” kata Ron, yang melompat setiap dua langkah. Dia mengalami kesulitan jauh lebih besar daripada Harry menghadapi kutukan itu, walaupun Moody meyakinkannya bahwa efeknya sudah akan hilang ketika mereka makan siang. “Ngomong-ngomong soal paranoid… ketakutannya memang berlebihan” Ron menoleh dengan cemas untuk memastikan Moody tidak mendengarnya dan meneruskan, “Pantas saja orang-orang Kementerian senang dia pensiun. Kau dengar tidak waktu dia memberitahu Seamus apa yang dilakukannya kepada penyihir wanita yang berteriak ‘Boo’ di belakangnya waktu April Mop? Dan kapan kita sempat membaca tentang bagaimana menangkal Kutukan Imperius dengan tugas-tugas kita yang sebanyak ini?”

Semua anak kelas empat telah menyadari bertambah banyaknya tugas yang harus mereka kerjakan semester ini. Profesor McGonagall menjelaskan kenapa, ketika murid-muridnya menyerukan keluhan yang ekstra keras, memprotes banyaknya PR Transfigurasi yang diberikannya.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.