Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Bukan spew,” kata Hermione tak sabar. “Itu S-P-E-W Singkatan dari Society for the Promotion of Elfish Welfare—Perkumpulan untuk Peningkatan Kesejahteraan Peri-Rumah.”

“Belum pernah dengar,” kata Ron. “Tentu saja belum,” kata Hermione lugas. “Aku baru saja mendirikannya.” “Yeah?” tanya Ron pura-pura heran. “Sudah berapa anggotanya?”

“Yah… kalau kalian berdua ikut… jadi tiga,” kata Hermione. “Dan kaupikir kami mau berkeliaran memakai lencana bertulisan ‘spew’, begitu?” kata Ron.

“S-P-E-W!” kata Hermione panas. “Tadinya malah mau kunamakan Hentikan Penyiksaan terhadap Sesama Makhluk Gaib dan Kampanyekan Perubahan Status Legal Mereka—tapi tempatnya tidak cukup. Jadi akhirnya SPEW-lah judul gerakan kita.”

Dia melambaikan tumpukan perkamen kepada mereka.

“Aku sudah melakukan riset di perpustakaan. Perbudakan peri-rumah sudah berlangsung berabad-abad. Aku heran tak ada yang melakukan tindakan apa pun sebelum ini.”

“Hermione… buka telingamu,” kata Ron keras-keras. “Mereka. Menyukainya. Mereka suka diperbudak!”

“Tujuan jangka pendek kita,” kata Hermione, bicara bahkan lebih keras daripada Ron, dan bersikap seakan tidak mendengar sepatah kata pun, “adalah untuk mengupayakan gaji dan kondisi kerja memadai untuk peri-rumah. Tujuan jangka panjang kita termasuk mengubah undang-undang tentang larangan penggunaan tongkat sihir, dan mengusahakan ada perirumah yang duduk di Departemen Pengaturan dan Pengawasan Makhluk Gaib, karena mereka sangat kurang terwakili.”

“Dan bagaimana kita melakukan semua itu?” tanya Harry.

“Kita mulai dengan merekrut anggota,” kata Hermione riang. “Kupikir dua Sickle untuk bergabung—sebagian untuk biaya lencana—dan sisanya untuk selebaran kampanye. Kau bendahara, Ron— aku sudah menyiapkan kaleng untuk mengumpulkan uang di atas—dan Harry, kau sekretaris, jadi sebaiknya kautulis segala sesuatu yang kuucapkan sekarang, sebagai notulen rapat pertama kita.”

Diam sejenak, sementara Hermione tersenyum kepada keduanya, dan Harry duduk, tercabik antara putus asa terhadap Hermione dan geli melihat tam-pang Ron. Keheningan dipecahkan, bukan oleh Ron, yang memang tampaknya sementara tak bisa bicara saking kagetnya, melainkan oleh bunyi tok, tok pelan di jendela. Harry memandang ke seberang ruang rekreasi yang sekarang kosong, dan melihat, diterangi cahaya bulan, burung hantu seputih salju hinggap di ambang jendela.

“Hedwig!” teriaknya. Serentak dia berdiri dari kursinya dan berlari ke seberang untuk membuka jendela.

Hedwig terbang masuk, melayang mengelilingi ruangan, dan mendarat di meja, di atas perkamen ramalan Harry.

“Sudah waktunya!” kata Harry, bergegas mengejarnya.

“Dia membawa jawaban!” kata Ron bersemangat, menunjuk secarik perkamen lusuh yang terikat di kaki Hedwig.

Harry buru-buru melepasnya dan duduk membacanya, sementara itu Hedwig hinggap di atas lututnya, beruhu-uhu pelan.

“Apa katanya?” tanya Hermione menahan napas.

Surat itu pendek sekali, dan tampaknya ditulis sangat terburu-buru. Harry membacanya cepat-cepat:

Harry…

Aku akan segera terbang ke utara. Berita tentang bekas lukamu ini adalah yang terakhir dalam rentetan desas-desus aneh yang kudengar. Kalau sakit lagi, langsung temui Dumbledore—mereka bilang dia berhasil membujuk Mad-Eye meninggalkan masa pensiunnya, itu berarti dia membaca pertanda, meskipun orang lain tidak.

Aku akan segera menghubungimu lagi. Salamku untuk Ron dan Hermione. Bukalah matamu lebar-lebar, Harry.

Sirius

Harry mendongak memandang Ron dan Hermione, yang balas memandangnya. “Dia terbang ke utara?” bisik Hermione. “Dia kembali ke sini?”

“Dumbledore membaca pertanda apa?” tanya Ron, kebingungan. “Harry… kau kenapa?” Harry baru saja memukul dahinya sendiri, membuat Hedwig terlonjak dari lututnya. “Harusnya aku jangan bilang kepadanya!” kata Harry jengkel.

“Kau ngomong apa sih?” tanya Ron keheranan.

“Itu membuatnya berpikir dia harus kembali!” kata Harry, sekarang meninju meja, sehingga Hedwig mendarat di punggung kursi Ron, berteriak-teriak marah.

“Dia kembali karena mengira aku dalam bahaya! Padahal aku tak apa-apa! Dan aku tak punya apa-apa untukmu,” Harry membentak Hedwig, yang mengatup-ngatupkan paruhnya penuh harap, “kau harus pergi ke Kandang Burung Hantu kalau mau makan.”

Hedwig melempar pandang sangat tersinggung dan terbang ke arah jendela yang terbuka, menampar kepala Harry dengan sayapnya yang terentang lebar ketika melewatinya.

“Harry,” kata Hermione dengan suara menenteramkan. “Aku mau tidur,” kata Harry pendek. “Sampai besok.”

Di atas dalam kamarnya Harry memakai piamanya dan naik ke atas tempat tidurnya, tetapi dia sama sekali tidak lelah.

Jika Sirius kembali dan tertangkap, itu adalah ke-salahannya, kesalahan Harry. Kenapa dia tidak bisa tutup mulut? Sakit cuma beberapa detik saja, dan dia sudah mengadu… kalau saja dia lebih bijaksana dan menyimpannya sendiri….

Didengarnya Ron naik ke kamar beberapa saat kemudian, tetapi tidak bicara kepadanya. Lama sekali Harry hanya berbaring menatap langit-langit kelambu tempat tidurnya yang gelap. Kamarnya sunyi senyap, dan kalau saja pikirannya tidak sesibuk itu, Harry akan menyadari bahwa absennya dengkur Neville berarti bukan dia satu-satunya yang belum tidur.

 

Bab 15.

Beauxbatons dan Durmstrang

ESOKNYA pagi-pagi sekali Harry terjaga dengan rencana matang dalam pikirannya, seakan otaknya yang tidur telah bekerja semalaman. Dia bangun, berpakaian dalam cahaya redup fajar, meninggalkan kamar tanpa membangunkan Ron, dan turun ke ruang rekreasi yang masih kosong. Dia mengambil sehelai perkamen dari meja tempat PR Ramalan-nya masih tergeletak dan menulis surat berikut:

Dear Sirius,

Kurasa aku cuma ingin membayangkan bekas lukaku sakit. Aku setengah tertidur ketika menulis surat kepadamu yang terakhir itu. Tak Perlu kembali, segalanya baik-baik saja disini. Jangan mengkhawatirkan aku, kepalaku sama sekali normal.

Harry

Harry kemudian memanjat keluar dari lubang lukisan, naik ke kastil yang masih sepi (hanya tertahan sebentar oleh Peeves, yang berusaha menggulingkan vas besar ke arahnya di tengah koridor di lantai empat), akhirnya tiba di Kandang Burung Hantu, yang terletak di puncak Menara Barat.

Kandang Burung Hantu adalah ruangan batu berbentuk melingkar, agak dingin dan berangin, karena tak satu pun jendelanya berkaca. Lantainya sepenuhnya tertutup jerami, kotoran burung hantu, dan muntahan kerangka tikus. Beratus-ratus burung hantu dari berbagai jenis yang bisa dibayangkan bertengger pada lenggeran berjajar ke atas sampai ke puncak menara, hampir semuanya masih tidur, meskipun di sana-sini mata bundar kekuningan memandang Harry. Dilihatnya Hedwig bertengger di antara burung hantu serak dan burung hantu jingga-kecokelatan. Harry bergegas mendekatinya, terpeleset sedikit di lantai yang penuh lebaran kotoran.

Perlu beberapa waktu untuk membujuknya agar mau bangun dan kemudian memandang Harry, karena Hedwig berulang-ulang berbalik di atas tenggerannya, menghadapkan ekornya pada Harry Jelas Hedwig masih marah atas sikap Harry yang kurang berterima kasih semalam. Akhirnya, ketika Harry mengatakan mungkin Hedwig masih kecapekan dan barangkali dia akan meminjam Pigwidgeon dari Ron, barulah Hedwig menjulurkan kakinya dan mengizinkan Harry mengikatkan suratnya ke situ.

Harry kemudian memanjat keluar dari lubang lukisan, naik ke kastil yang masih sepi (hanya tertahan sebentar oleh Peeves, yang berusaha menggulingkan vas besar ke arahnya di tengah koridor di lantai empat), akhirnya tiba di Kandang Burung Hantu, yang terletak di puncak Menara Barat.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.