Baca Novel Online

Harry Potter Dan Piala Api

“Kesakitan,” kata Moody pelan. “Kau tak memerlukan obeng atau pisau untuk menyiksa orang kalau kau bisa melakukan Kutukan Cruciatus… Kutukan itu juga sangat populer.

“Baik… ada yang tahu kutukan lain lagi?”

Harry memandang berkeliling. Dari ekspresi di wajah semua anak, dia menduga mereka semua bertanyatanya apa yang akan terjadi pada labah-labah terakhir. Tangan Hermione sedikit bergetar ketika, untuk ketiga kalinya, dia mengangkatnya.

“Ya?” kata Moody, memandangnya.

“Avada Kedavra,” bisik Hermione.

Beberapa anak memandangnya dengan cemas, termasuk Ron.

“Ah,” kata Moody, senyum samar kembali tersungging di bibirnya yang miring. “Ya, yang paling akhir dan paling mengerikan. Avada Kedavra… Kutukan Kematian.”

Dia memasukkan tangannya ke dalam tabung gelas, dan seakan tahu apa yang akan terjadi, labah-labah ketiga berlarian panik di dasar tabung, berusaha menghindari jari-jari Moody, tetapi Moody menangkapnya dan menempatkannya di atas meja. Labah-labah itu merayap panik di atas permukaan papan itu.

Moody menangkap tongkatnya, dan Harry tiba-tiba saja mendapat firasat tak enak.

“Avada Kedavra!” seru Moody.

Ada kilatan cahaya hijau menyilaukan dan bunyi menderu, seakan ada sesuatu yang cepat dan tak kelihatan meluncur di udara—saat itu juga si labahlabah terguling, menelentang, tak ada lukanya, tapi jelas sudah mati. Beberapa anak menjerit tertahan. Ron melempar dirinya ke belakang dan nyaris terjatuh dari kursinya ketika si labah-labah menggelincir ke arahnya.

Moody menyapu bangkai labah-labah itu dari meja ke lantai.

“Tidak menyenangkan,” katanya tenang. “Tidak enak. Dan tak ada kontra-kutukannya. Tak bisa dihalangi. Hanya ada satu orang yang bertahan hidup dari kutukan itu, dan dia duduk persis di depanku.”

Harry merasa wajahnya merah padam ketika mata Moody, dua-duanya, menatap matanya. Dia bisa merasakan semua anak memandangnya juga. Harry memandang papan tulis kosong seakan terpesona, tetapi sebetulnya tak melihatnya sama sekali….

Jadi, begitulah cara orangtuanya meninggal… persis seperti labah-labah tadi. Apakah mereka juga utuh tanpa luka? Apakah mereka cuma melihat kilatan cahaya hijau dan mendengar deru kematian sebelum nyawa mereka direnggutkan dari tubuh mereka?

Harry sudah berulang-ulang membayangkan kematian orangtuanya selama tiga tahun ini, sejak dia tahu mereka dibunuh. Sejak dia tahu apa yang terjadi malam itu: Wormtail telah mengkhianati orangtuanya dengan memberitahu Voldemort di mana orangtuanya berada, dan Voldemort mendatangi mereka di pondok mereka. Harry membayangkan bagaimana Voldemort membunuh ayahnya lebih dulu. Bagaimana James Potter berusaha menahannya, sambil berteriak kepada istrinya untuk membawa lari Harry… Voldemort mendatangi Lily Potter, menyuruhnya menyingkir supaya dia bisa membunuh Harry… bagaimana ibunya memohon-mohon agar Voldemort membunuhnya saja, tak mau berhenti melindungi anaknya… maka Voldemort membunuhnya juga, sebelum mengarahkan tongkatnya kepada Harry…

Harry tahu detail ini karena dia telah mendengar suara orangtuanya ketika dia melawan para Dementor tahun lalu—karena begitulah kekuatan mengerikan Dementor: memaksa korban mereka menghidupkan kembali kenangan paring mengerikan dalam hidup mereka, membuat mereka tenggelam tak berdaya dalam keputusasaan mereka sendiri….

Moody bicara lagi, serasa dari kejauhan bagi Harry.

Dengan sekuat tenaga, Harry memaksa diri kembali ke keadaan sekarang dan mendengarkan apa yang dikatakan Moody.

“Avada Kedavra adalah kutukan yang membutuhkan kekuatan sihir yang besar—kalian semua boleh menge-luarkan tongkat kalian sekarang dan mengarahkannya kepadaku dan mengucapkan kata-kata kutukan itu, dan aku yakin mimisan pun aku tidak. Tapi tak apaapa. Aku tidak berada di sini untuk mengajari kalian bagaimana melakukannya.

“Nah, kalau tak ada kontra-kutukannya, buat apa aku menunjukkannya kepada kalian? Karena kalian harus tahu. Kalian harus bisa menghargai yang terburuk. Jangan sampai kalian berada dalam situasi di mana kalian harus menghadapinya. WASPADA SETIAP SAAT!” dia meraung, dan seluruh kelas terlonjak lagi.

“Nah… ketiga kutukan tadi—Avada Kedavra, Imperius, dan Cruciatus—dikenal sebagai Kutukan Tak Termaafkan. Penggunaan salah satu darinya pada sesama manusia cukup untuk diberi hukuman seumur hidup di Azkaban. Inilah yang harus kalian hadapi. Bagaimana menghadapi kutukan-kutukan tersebut, itulah yang harus kuajarkan kepada kalian. Kalian butuh persiapan. Kalian butuh senjata. Tetapi yang paling penting, kalian harus berlatih waspada setiap saat, jangan pernah lengah. Keluarkan pena bulu kalian… catat ini…”

Mereka melewatkan sisa jam pelajaran dengan mencatat tentang ketiga Kutukan Tak Termaafkan itu. Tak seorang pun bicara sampai bel berbunyi… tetapi sesudah mereka meninggalkan kelas, celoteh ramai langsung terdengar. Kebanyakan anak membicarakan kutukan-kutukan tadi dengan nada kagum…

“Kau tadi melihatnya menggelepar?” “… dan waktu dia membunuhnya… begitu saja!”

Mereka membicarakannya, pikir Harry, seakan itu pertunjukan spektakuler, tetapi bagi Harry pelajaran itu tidak menyenangkan—dan tampaknya bagi Hermione pun tidak.

“Ayo cepat,” kata Hermione tegang kepada Harry dan Ron.

“Tidak ke perpustakaan lagi, kan?” kata Ron.

“Tidak,” jawab Hermione singkat, menunjuk ke lorong sebelah. “Neville.”

Neville berdiri sendirian, di tengah lorong, menatap tembok batu di depannya dengan mata lebar penuh kengerian seperti ketika Moody mendemonstrasikan Kutukan Cruciatus tadi.

“Neville?” panggil Hermione lembut.

Neville menoleh.

“Oh, halo,” katanya, suaranya lebih melengking daripada biasanya. “Pelajaran yang menarik, ya? Apa ya menu makan malam kita, aku… aku lapar sekali. Bagaimana kalian?”

“Neville, kau tak apa-apa?” tanya Hermione.

“Oh ya, aku baik-baik saja,” Neville mengoceh dengan suara melengking tak wajar. “Makan malam yang sangat menyenangkan… maksudku pelajaran… makan apa, ya?”

Ron melempar pandang heran kepada Harry.

Tetapi bunyi tak-tok ganjil terdengar di belakang mereka, dan ketika berpaling mereka melihat Profesor Moody terpincang-pincang mendekati mereka. Keempatnya langsung terdiam, memandang Moody dengan ketakutan. Tetapi ketika Moody bicara, suaranya yang seperti geraman lebih pelan dan lebih lembut daripada yang pernah mereka dengar.

“Tak apa-apa, Nak,” katanya kepada Neville. “Kenapa kau tidak ikut ke kantorku? Ayo… kita bisa minum teh…”

Neville tampak bertambah ketakutan diajak minum teh oleh Moody. Dia tak bergerak maupun bicara. Moody ganti mengarahkan mata gaibnya kepada Harry.

“Kau baik-baik saja, kan, Potter?”

“Ya,” kata Harry, nadanya sedikit menantang.

Mata biru Moody bergerak sedikit di dalam rongganya ketika memandang Harry. Kemudian dia berkata, “Kau harus tahu. Kelihatannya kejam, mungkin, tapi kau harus tahu. Tak ada gunanya berpura-pura… nah… ayo, Longbottom, aku punya beberapa buku yang mungkin menarik bagimu.”

Neville menatap Harry, Ron, dan Hermione dengan pandangan memohon, tetapi mereka tidak berkata apa-apa, maka Neville tak punya pilihan lain kecuali membiarkan dirinya dibawa pergi, salah satu tangan Moody yang berbonggol di atas bahunya.

“Apa maunya?” tanya Ron, memandang Neville dan Moody membelok di sudut.

“Entahlah,” kata Hermione, tercenung.

“Tapi memang pelajaran seru, ya?” kata Ron kepada Harry sementara mereka berjalan menuju Aula Besar. “Fred dan George benar, kan? Moody betul-betul menguasai bidangnya. Waktu dia melakukan Avada Kedavra, labah-labah itu langsung mati begitu saja…”

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 28, 2018 02:37

    Nur Iman Fathi bin Md. Faizam

    ilike this story

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.